Evan Bramasta, cowok berbadan tinggi, kulit putih dan hidung bangir. Berusia 30 tahun yang berprofesi sebagai guru olahraga di sebuah Sekolah Menengah Atas dan sudah mempunyai seorang istri atas perjodohan dari orang tuanya. Istrinya bernama Sabina Elliana yang bekerja di sekolah yang sama dengan suaminya.
Beberapa bulan belakangan ini, Evan selalu memperhatikan seorang murid perempuan yang selalu membuatnya sakit di bagian bawah. Ia menginginkan gadis itu menjadi miliknya dengan cara apapun.
Namanya Ziyara Liffyani, gadis yatim piatu berparas cantik di usianya yang baru 17 tahun. Dia harus bekerja paruh waktu di toko buku untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.
Ziyara juga diam-diam sangat menyukai guru olahraganya itu. Apa pun akan Ziyara lakukan untuk menggapai cita-citanya dan mendapatkan keinginannya, termasuk menjadi istri simpanan guru olahraga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bill si Anak Nakal
“Aku sama mama habis bikin pizza di belakang," jawab Millea.
“Tuh kan mama, orang Ziya mau bantu tadi," rajuk Ziyara.
“Buset, buk ibuk stop deh ya, lebih baik disiniin makan dan minumnya ... perkara beginian selaluuu ribut, heran," ucap Evan.
“Aku gak ikutan ya, mama sama kakak tuh," balas Millea sambil meletakkan minuman di atas meja.
Ziyara yang hendak mengucapkan kata langsung kaget ketika melihat seseorang muncul di depan pintu dengan mengucap salam.
“Assalamualaikum."
“Ambar," pekik Ziyara.
Sang empu nama langsung melihat ke arah seseorang yang memanggil namanya dan sontak kaget melihat sahabatnya yang tiba-tiba ada di depan matanya.
“Ziyara," pekik wanita yang bernama Ambar itu.
Ziyara langsung berlari menghampiri sahabatnya dan langsung memeluk Ambar dengan erat sambil menangis.
“Lo kemana aja Ziya?" tanya Ambar sembari menangis.
Ziyara melepaskan peluk kannya pada Ambar dan menghapus air matanya.
“Gue gak kemana mana Ambar," jawab Ziyara.
“Lo ngilang ya jenglot! Pas kita kelas 3 ... gak kemana-mana mata Lo," ucap Ambar yang kesal mendengar jawaban dari sahabatnya
“Gue nyariin Lo kemana mana, gue nangisin Lo karena gue pikir Lo udah ninggal” sambung Ambar.
“Amit-amit mulut Lo Ambar!"
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, seseorang berdehem dengan keras agar menyadarkan dua perempuan yang di depan itu sadar jika mereka sedang berada di mana.
Ziyara menolehkan wajahnya ke arah Evan dan tersenyum dengan manis.
“Ayok masuk Mbar," ajak Ziyara.
“Rumah Lo ini? Main hayuk masuk aja," ucap Ambar.
Ziyara tak menjawab pertanyaan Ambar lagi, bisa-bisa dia kena semprot sama Evan.
Ziyara mengajak Ambar bergabung dengan keluarganya.
“Kamu udah datang?" tanya seorang lelaki yang baru turun dari lantai atas.
Willy berjalan menuju ke arah Ziyara dan menyalami tangan Ziyara kemudian ia menyalami tangan Abangnya lalu duduk di samping sang pacar, Ambar.
“Pak Evan?" tanya Ambar yang baru ngeh jika di depannya ini adalah guru olahraganya dulu.
Evan hanya menaikan satu alisnya pertanda ia bertanya, kenapa?
“Kok bapak ada di sini?" tanya Ambar.
“Harusnya saya yang nanya, ngapain kamu di rumah orang tua saya?" Evan balik bertanya.
“Mas," tegur Ziyara.
Ambar langsung menolehkan kepalanya ke arah Ziyara.
“Mas?" tanya Ambar.
Ambar sangat sangat di Landa kebingungan.
“Nanti gue ceritain," jawab Ziyara dengan berbisik di telinga Ambar.
Setelah acara minum dan makan camilan, kini Ambar menagih cerita sahabatnya.
“Buruan Lo cerita," tagih Ambar.
Mengalir lah dengan jujur semua cerita dari awal sampai sekarang ini.
“Buset, jadi pelakor Lo?" tanya Ambar tanpa menyaring kata katanya.
“Gue pengen marah tapi kenyataannya begitu."
“Becanda elah, baperan banget semenjak jadi bini orang ... Eh tapi ngomong ngomong pak Evan makin hot ye," ucap Ambar.
“Mau retak ginjal Lo?" tanya Ziyara.
“Hahaha Ziya gue gak berubah, gue kangen banget sama Lo sialan," ucap Ambar yang tiba-tiba menangis.
“Gue juga kangen sama Lo Mbar, udah jangan nangis ... semoga nanti kita gak jadi ipar ya," balas Ziyara.
“Jahat Lo," ucap Ambar yang masih menangis.
“Becandaa Ambar."
“Mom, Daddy ngajakin pergi sekarang," ucap Bill yang menghampiri ibunya.
“Iya sayang, bentar lagi Mommy nyusul ya." jawab Ziyara.
“Okay mom, bye aunty Ambar," ucap Bill.
“Jadi Lo semalem sama Willy yang ngajakin anak gue ke time zone," tanya Ziyara.
“Iya, tapi gue gak tahu kalau dia anaknya pak Evan sama Lo."
“Sayaaaang," teriak Evan dari ruang tamu.
“Laki gue dah manggil, nanti gue telfon ya Mbar ... gue pergi dulu," ucap Ziyara.
“Oke, hati hati Lo."
“Oke , bye."
Sebelum menuju ke arah ruang tamu Dimana suaminya berada, Ziyara ke kamar mertuanya dulu untuk berpamitan lalu langsung berjalan ke tempat suaminya untuk berpamitan kepada yang lain.
“Lama banget sih ngobrol nya," omel Evan.
“Gak usah ngomel, mau pergi gak?" tanya Ziyara.
Evan langsung berdiri dan merengkuh pinggang istrinya lalu pergi setelah berpamitan.
────୨ৎ────
Di dalam perjalanan menuju ke rumah komplek mereka dulu, Bill yang tadinya sangat antusias sekarang sudah tertidur di pangkuan sang ibu.
“Pantes sepi, udah tidur ternyata," ucap Evan yang melihat anaknya sudah tertidur.
“Mirip banget sama kamu mas kalo lagi tidur gini."
“Tapi kalo udah marah sama ngambek, miriiiip banget sama kamu sayang," balas Evan.
“Iya iyaa, aku cuma kebagian jeleknya aja mas," jawab Ziyara.
“Hahaha."
Setelah 30 menit di perjalanan, kini keluarga kecil itu sudah tiba di kediaman lama mereka yang sekarang masih terawat rapi dan bersih, karena Ziyara tidak mengizinkan Evan untuk menjual rumah mereka.
“Sayang, anak ganteng Mommy, kita udah sampe nak," Ziyara membangunkan anaknya.
Bill membuka matanya dan melihat sekelilingnya.
“Ayo turun," ajak Evan.
Evan dan Ziyara membuka pintu mobil lalu turun dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam rumah.
“Waah, enak banget di sini mom, banyak pohonnya," ucap Bill.
“Bill suka?" tanya Ziyara.
“Suka mom."
Bill berjalan masuk ke dalam rumah dan mengeksplor semua bagian rumah.
“Mommy, Bill mau keluar ya, mau lihat om om yang di luar itu main basket."
“Jangan kelayapan ke mana mana, liat orang main basket aja," peringat Ziyara.
“Okay mom."
Bill keluar dan berjalan menuju lapangan basket yang berada di depan komplek mereka, saat tengah berjalan ada seorang anak perempuan berusia 5 tahun yang menabrak dirinya lalu terjatuh dan menangis.
Bill hanya memandang anak perempuan itu tanpa ada niat untuk membantu.
“Hwaaa, cakit."
Tampak seorang lelaki berlari ke arah anak perempuan tersebut lalu membangunkannya dan membersihkan bokong anak tersebut dari pasir.
“Cakit Pi," adu anak itu.
Ziyara dan Evan yang mendengar suara tangisan anak perempuan segera keluar dari rumah mereka dan melihat apa yang terjadi.
“Bill, kenapa?" tanya Ziyara.
Bill melihat ibu dan ayahnya berjalan ke arahnya lalu ia hanya mengangkat bahunya saja.
“Adi abet atuh Pi, Aban Ndak au olong," adu anak perempuan itu lagi.
Ziyara yang mengerti apa yang dikatakan anak perempuan itu pun langsung menegur anaknya.
“Kok ada temennya yang jatuh gak di tolongin Bill?" tanya Ziyara.
“Bukan Bill yang bikin dia jatuh," jawab Bill.
“Walaupun bukan Bill tapi kita harus tolong menolong sayang, apa lagi dia perempuan."
“Perempuan yang harus Bill tolong cuma Mommy," balas anaknya.
Ziyara memejamkan matanya sejenak dan langsung tersenyum kepada suaminya lalu berkata.
“Urus anak kamu," ucap Ziyara.
Belum Evan berkata apa apa, ayah dari anak perempuan itu menyebut namanya.
“Pak Evan?"
Evan menoleh dan mengerutkan keningnya.
“Bapak, pak Evan kan? Saya Taufan pak."
“Taufan?" tanya Evan.
“Iya, saya sama temen temen saya dulu yang sering main basket sama bapak sore sore," ucap Taufan.
“Ohh kamu kan, ya ampun."
Evan langsung menyalim tangan Taufan.
“Bapak sama ibuk apa kabar?" tanya Taufan pada Evan.
“Baik, kamu gimana kabarnya, ini anak kamu?" ucap Evan.
“Saya baik kok pak, iya ini anak saya," jawab Taufan.
“Ke rumah saya yuk pak, buk. Kangen saya sama bapak hehe," ajak Taufan.
“Boleh, yuk sayang," ucap Evan.
Taufan, Evan dan Ziyara berjalan menuju ke rumah Taufan, sedangkan Bill telah pergi ke lapangan tanpa pamit dan diikuti anak perempuan Taufan tadi yang bernama Elisabeth.
“Ini rumah kamu?" tanya Evan setelah mereka sampai di depan rumah Taufan.
“Iya pak, ayok masuk," ajak Taufan.
Setelah masuk kedalam rumah, Taufan mempersilakan Evan dan Ziyara untuk duduk.
“Bentar ya pak, saya panggil istri saya dulu."
Evan mengangguk dan memandang wajah istrinya.
“Kenapa sayang?" tanya Evan.
“Gak apa apa mas."
Taufan kembali dengan istrinya yang membawa nampan berisi air.
“Mas Evan? Ziyara?"
Evan dan Ziyara melebarkan mata mereka ketika melihat istri Taufan.
“Buk Sabina," ucap Ziyara.