"Aku menikah dengan pria yang belum pernah aku kenal sama sekali. Meskipun begitu, aku berusaha mencoba untuk menerimanya sebagai suamiku."
Almaira Syafira—seorang dokter cantik yang taat pada agama, di sandingkan dengan seorang laki-laki yang tidak pernah menganggapnya sebagai seorang istri.
***
Karena sebuah kejadian naas yang menimpa Alvian dan ibunya, membuat seorang Alvian Alvaro harus menikahi wanita yang sama sekali bukan tipe-nya.
"Aku tidak akan pernah mencintaimu sampai kapanpun itu!" ucap Alvian dengan penuh penegasan.
Sakit pasti, itulah yang dirasakan Almaira sekarang.
Baca kelanjutannya di sebuah novel karya aku yang berjudul, "Menikahi Wanita Muslimah" ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lina Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Mulai Penasaran
Alvian berjalan memasuki kamar dengan tubuh yang sangat lelah. Namun, ia memberanikan diri untuk tetap mandi. Setelah Alvian masuk kamar mandi, Almaira segera menyiapkan baju tidur untuk suaminya, kemudian Almaira segera pergi ke bawah untuk mengambil segelas susu hangat yang selalu menjadi kebiasaan Alvian sebelum tidur.
Alvian keluar dari kamar mandi, diherankan dengan adanya sebuah baju tidur yang telah disiapkan.
"Apa ini perbuatan Almaira? Ahh sudahlah, mungkin memang dia yang melakukannya." Dengan segera Alvian memakai baju tidur yang di siapkan oleh Almaira serta mendudukkan diri, di tempat tidur yang selama dua hari ini belum Alvian tempati lagi.
Untuk menghilangkan rasa kantuknya, Alvian mengambil handphone dan memainkannya. Tidak lama dari itu, terdengar suara pintu yang di buka, membuat Alvian beralih melihatnya. Ternyata Almaira yang datang membawa segelas susu untuknya.
"Mas, ini Almaira bawakan segelas susu hangat untuk Mas," ucap Almaira sembari mendekati suaminya.
"Iya. Simpan saja di atas meja sana," ucap Alvian yang masih memainkan handphonenya.
Almaira menyimpan segelas susu hangatnya di meja sesuai yang Alvian katakan. Perlahan Almaira melangkah pergi meninggalkan Alvian, masuk ke dalam kamar mandi hanya untuk mengambil air wudhu.
Tanpa di sadari, Alvian melihat semua gerak gerik Almaira. Almaira ke luar kamar mandi dengan masih menggunakan gamis dan hijabnya. Wajah Almaira juga terlihat basah oleh air wudhu.
Alvian terus memperhatikan Almaira dengan heran, kemudian Almaira mulai membentangkan sajadahnya untuk melaksanakan salat magrib.
Dengan begitu, Alvian pun mulai memperhatikan gerakan salat yang Almaira selalu lakukan.
Sampai terdengar lentunan-lentunan ayat suci al-qur'an yang Almaira bacakan, itu dilakukan setelah selesai melaksanakan salatnya. Suara Almaira terdengar sangat merdu di telinga, membuat Alvian merasa tenang mendengarnya.
Suara azan isya, menghentikan Almaira yang sedang membaca al-qur'an. Almaira mulai melaksanakan salat isya yang masih di lihat oleh suaminya. Almaira mulai mengangkat kedua tangannya untuk berdo'a, setelah selesai melaksanakan salat isyanya.
Suasana yang sangat indah yang di lihat oleh Alvian. Semua itu, Alvian hanya bisa melihatnya dari almarhumah ibunya yang selalu melakukan salat dan mengajarkannya kepada Alvian. Namun, setelah Alvian dewasa, ia sudah lupa dengan gerakan salat karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
Dilihat dari kejauhan, Almaira tengah membereskan peralatan salatnya, setelah itu Almaira menghampiri sofa sambil membaca sebuah buku. Alvian yang melihatnya, mulai merasa penasaran dengan sosok Almaira—istrinya itu.
"Kenapa Almaira selalu menggunakan baju yang seperti itu, ya? Apa dia tidak gerah?Hijabnya juga kenapa selalu Almaira gunakan di kepalanya? Kenapa juga aku mulai merasa penasaran, ya dengan Almaira?" Alvian mulai bertanya-tanya dengan kepribadian istrinya.
Tampa di sadari Almaira malah tertidur di sofa dengan masih memegang bukunya.
Alvian yang melihat Almaira tertidur di sofa merasa kasihan dengannya. Ia pun memberanikan diri untuk melangkahkan kakinya menghampiri istrinya yang tertidur di sofa.
Dengan ragu, Alvian menggendong istrinya guna memindahkannya ke tempat tidur, dengan perlahan Alvian membaringkan tubuh Almaira di sana.
Tidak ada sedikit pun pergerakan dari tubuh Almaira di saat tubuhnya di gendong oleh Alvian. Alvian mulai merasa tenang melihat istrinya yang tengah tidur nyaman dari sebelumnya.
"Almaira maafkan Aku ... Aku telah lancang menyentuh kamu dalam keadaan kamu yang tidak sadar. Hanya itu satu-satunya yang bisa aku lakukan untuk membuatmu, bisa tertidur dengan nyaman," ucap Alvian lirih.
Smoga mereka bahagia selalu dan cepat dapat momongan biar tambah lengkap kebahagiaan mereka.
Atau ndak ngembaliinnya sekalian ngelamar..... maunya sih!