Penuh dengan Misteri. 👺👺
Vivana Gadis desa berusia 21 tahun di paksa menikah dengan seorang pria kota yang baru saja bertemu dengan Ayahnya.
Hanya karena pria tersebut memberikan sebuah perkebunan yang cukup luas, Ayahnya rela menjadikan Vivana syarat pembayaran buat menikah.
Bukannya kebahagiaan di dapatkan Vivana setelah menikah. Pria yang menikahi Vivana adalah seorang Psikopat dan MAHAR MEWAH bernilai fantastis pemberian pria tersebut malah menjadi TEROR yang merenggut beberapa orang tercinta dan terdekat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Tidak punya tempat.
"Daaa! Terimakasih Fanny dan Baskara.” Aku melambaikan tangan kananku, menatap mobil Baskara dan Fanny melaju meninggalkan kediaman rumah Ayahku.
“Sampai jumpa nanti malam Vivana.” Teriak Fanny yang sudah jauh dari ku, mengeluarkan sedikit kepalanya dari jendela kaca mobil yang di buka, tangan kanan melambai.
Aku mengulas senyum tipis dan mengangguk, tangan kanan melambai ke mobil Fanny dan Baskara sudah sangat jauh dari diriku. Aku berdiri di luar pagar rumah Ayah, tangan kiri memegang gagang koper, kepala aku dongakkan menatap rumah menjulang tinggi dari balik gerbang.
“Apakah Ayah akan marah jika aku pulang tanpa di temani Barra, dan aku akan tinggal beberapa hari di sini?” Tanya ku sendiri. “Akh! Sudahlah, mana mungkin Ayah marah pada putrinya.” Sambungku menyakinkan diri kalau Ayah tidak akan marah padaku.
Kaki kanan ku langkahkan memasuki gerbang yang terbuka sedikit, aku melangkah dan terus melangkah. Sampai di depan pintu rumah, aku menarik nafas dalam-dalam, tangan kanan mengepal mendekati daun pintu, dan mengetuk.
Tok!Tok.
“Ayah.”
Karena tidak ada jawaban, aku mengetuk daun pintu sekali lagi.
Tok!Tok.
“Ayah.” Panggilku lembut.
Pintu rumah terbuka, terlihat Ayah berdiri di pintu yang terbuka lembar, kedua tangan di lipat di depan dada, tatapan suram menatap diriku.
“Ada apa?”
“Ayah. Izinkan aku tinggal beberapa hari atau 1 minggu di sini sampai tuan Barra kembali pulang, Ayah.” Ucapku sopan, kedua mata sendu menatap wajah Ayah yang terlihat tak bersahabat.
“Kemana Barra, dan kenapa dia tak terlihat bersama kamu?” Tanya Ayah bernada tinggi.
“Tu-tuan Barra.” Sahutku gugup.
“Yang jelas kalau berbicara.” Sentak Ayah membuat ku terkejut.
“Ayah. Tuan Barra lagi tak ingin melihatku beberapa hari ini, jadi dirinya meninggalkan diriku pergi.” Ucapku berkata benar jika Barra meninggalkan aku pergi karena Barra muak mendengar keluhanku yang selalu di teror hantu wanita yang sangat menyeramkan.
“Dasar anak tidak berguna. Kamu tinggal duduk dan hidup mewah dengan semua harta yang Barra miliki saja kamu tidak bisa. Percuma aku menikahkan kamu dengan dirinya yang memiliki banyak harta, toh! Kamu hanya bisa membuat dirinya kecewa dan kini meninggalkan diri kamu sendirian.” Sahut Ayah terdengar kesal, tatapan tajam dan sepele terus menatap diriku dari atas sampai bawah.
Aku menundukkan pandanganku, kedua tangan menggenggam erat baju gaun bagian depan. “Aku tidak melakukan kesalahan apa pun Ayah.”
“Kalau kamu tidak melakukan kesalahan apa pun, bagaimana bisa Barra meninggalkan kamu begitu saja saat kalian masih suasana pengantin baru. Pasti kamu sudah tidak perawan lagi kan? apa pria pecel keliling itu sudah merenggutnya.” Sambung Ayah memutus ucapanku dan menuduh Mas Valdi yang tidak-tidak, tanpa mendengar penjelasan ku.
Aku semakin mengeratkan kedua tanganku, air mata mulai memenuhi kedua bola mataku. “Tdak Ayah. Aku masih perawan dan sudah di buktikan sendiri padanya malam setelah kami menikah. Masalah kepergian tuan Barra bukan karena itu, Ayah.” Ucapku berusaha tenang dan sopan.
“Jadi apa?” Tanya Ayah sedikit menekan.
“Ka-karena…” Sahutku gugup, jari-jemari tangan kanan melilit di rok baju gaun yang aku kenakan.
“Apa!” Bentak Ayah menarik lengan kiriku, tatapan tajam menatap diriku yang tertunduk sedih.
“Karena aku selalu di teror hantu wanita, Ayah. Ayah tidak tahu selama aku tinggal di sana, aku sering di teror hantu wanita yang cukup menyeramkan, bukan hanya di teror secara langsung, tapi wanita itu datang melalui mimpiku. Jadi aku menceritakan semua hal itu kepada tuan Barra, tapi tuan Barra tidak memperdulikan ucapanku.” Sahutku dengan nada sedih, kedua mata seketika mengalir deras membasahi kedua pipiku.
Ayah melambaikan tangan kanannya. “Hari gini di Teror hantu! Emangnya 'TEROR MAHAR MEWAH'.” Jari telunjuk tangan kanan Ayah mengarah ke wajahku. “Sudah gila kamu.”
“Tidak Ayah. Aku tidak berbohong, aku beneran merasakan dan mengalami hal itu semua.” Sahutku serius, tangan kanan menggenggam erat baju gaun bagian dada. Aku mengambil tangan kanan Ayah, meletakkan telapak tangan kanannya di atas puncak kepalaku. “Aku bersumpah.”
“Omong kosong.” Sambung Ayah menarik tangannya. Ayah mengarahkan kepala dan bibirnya ke dalam rumah. “Sudah sana masuk, daripada aku ketularan gila mendengar ucapan mu.”
“Baik Ayah.” Sahutku sedih.
Aku menatap punggung kekar Ayah yang sudah beranjak pergi dari hadapanku tanpa memberi aku sedikit peluang berbicara. Rasanya hatiku sedikit hancur dan kecewa dengan reaksi Ayah kepadaku. Kemana aku harus mengadu dan berlindung jika Ayah saja tidak mempercayai aku. Untung aku masih memiliki teman sekaligus sahabat seperti Fanny dan Baskara, jika tidak mungkin aku akan benar-benar sendirian di dunia ini.
Aku berjalan masuk sambil menggeret koper besar menuju kamarku yang berada di lantai dua. Wajah lesu, sedih, kecewa, menjadi satu tersirat di raut wajahku yang tertunduk. Pikiran terasa kosong mengingat semua kejadian dan sikap Ayah yang tidak berpihak kepadaku, kedua kaki melangkah pelan menaiki anak tangga.
“Nona muda.” Panggil suara wanita paruh baya dari bawah tangga.
Aku tak menggubris panggilan suara dari bibi, aku terus melangkah dan melangkah sampai kedua kakiku terhenti di depan pintu kamarku. Aku membuka pintu kamar yang sudah lama tidak aku tempat, terlihat semua barang milikku masih tersusun rapih, serta seprai yang masih baru. Saat kaki kanan hendak melangkah masuk ke dalam kamar, aku di kejutkan dengan suara.
“Nona muda.”
Tubuhku spontan berbalik arah, tangan kanan mengelus bagian dada. “Uh. Bibi. Aku pikir siapa.”
“Nona muda sedang memikirkan apa sehingga panggilan bibi dari tadi tidak di jawab?” Tanya bibi mengulas senyum di bibirnya.
“Tidak ada. Aku masuk ke dalam dulu ya, bi. Mau istirahat.” Sahutku mengulas senyum manis, tangan kanan membelai lembut bahu kiri bibi.
“Kalau begitu bibi akan memasak makanan kesukaan nona muda saja.”
“Baik.” Sahutku mengangguk.
“Bibi permisi pamit dulu non.” Ucap bibi sebelum pamit pergi meninggalkan aku.
Aku mengangguk, kedua mata menatap kepergian bibi. Melihat bibi sudah tak terlihat di anak tangga, aku berbalik badan.
“Eh! Nona muda.”
Aku mengerutkan dahi, kedua alis menyatu, kedua mata membesar menatap lurus ke arah jendela kamar.
‘Kenapa aku mendengar suara bibi lagi, bukannya tadi bibi sudah turun.’ Batinku merasa ngeri.
“Nona muda.” Panggil wanita paruh baya itu kembali dari belakang ku.
Aku berbalik badan secara perlahan, kedua mata aku pejamkan.
“Nona muda, kenapa nona memejamkan kedua mata nona?”
“Bibi! Bukannya tadi bibi baru saja turun, dan katanya bibi akan memasak makanan kesukaanku.” Putusku mengingat ucapan Bibi sebelum turun.
“Tidak ada. Bibi baru saja membersihkan ruang tamu, tadi saat nona muda naik memang bibi ada memanggil nona muda. Cuman karena bibi lihat nona sedang letih, bibi menuntaskan pekerjaan bibi dulu baru menemui nona muda.” Sahut bibi terdengar serius.
Aku mengarahkan jari telunjuk ke arah anak tangga. “Ja-jadi siapa yang baru saja berbicara kepada ku Bi?” Tanyaku gugup.
Bibi melambaikan tangan kanannya. “Mungkin perasaan nona muda saja, kalau begitu bibi siap-siap masak buat makan malam dulu ya Non.” Sambung bibi berpamitan kepadaku.
Aku mengangguk, kedua mata ketakutan ku arahkan ke sekeliling lantai dua, menatap koridor. Aku segera menutup pintu dan mengunci pintu kamarku, menyandarkan tubuh di daun pintu. Wajah panik, ketakutan dan cemas menjadi satu, nafas memburu terlihat dari baju gaun yang aku kenakan naik turun sangat cepat.
“Tidak mungkin hantu wanita itu mengikuti ku sampai ke sini.”
...Bersambung.......
makanya datang terus meneror
sereeeemmm