TAMAT
Kisah ini bercerita tentang seorang wanita yang ditinggal pergi oleh kekasihnya untuk selama-lamanya tepat seminggu sebelum pernikahan mereka.
5 tahun berlalu, seorang pria datang kedalam hidupnya.
Mampukah pria itu membuatnya melupakan kekasih masa lalunya?
Karena nyatanya bersaing dengan orang yang masih hidup terasa lebih gampang daripada bersaing dengan kenangan indah yang ditinggalkan oleh orang yang telah tiada.
Pict from pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gresyst_lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 15
‘’Pak Rayn akan menikah?’’ tanya Karin menatap ponselnya sekilas lalu menatap Rayn, penasaran dengan jawaban pria itu.
‘’Apa yang kamu katakan?’’ Rayn malah balik bertanya.
Karin mengangkat ponselnya, membawanya pada Rayn.
‘’Apa-apaan ini?’’ geram Rayn melihat wawancara Febby dengan sebuah majalah Fashion. Wanita itu dengan tidak tau malu mengatakan Rayn sebagai calon suaminya. Bahkan dengan pedenya mengatakan bahwa mereka akan segera menikah serta meminta masyarakat untuk memberikan doa padanya dan Rayn.
Tidak tanggung-tanggung bahkan Febby mengucapkan beberapa ucapan cinta untuk Rayn membuat pria itu terbakar emosi.
‘’Ada apa sih?’’ Vio mengambil ponsel dari tangan Rayn dan ikut melihatnya. Vio menyengir meminta Rayn untuk memaklumi sikap kakaknya tapi tidak berhasil. Dengan wajah marahnya Rayn keluar dari ruangan, berniat menyusul Febby ke kantornya. Sudah berapa kali pria itu mengatakan tidak mau menikahi Febby tapi entah kenapa wanita itu begitu keras kepala.
Apa Rayn harus memberinya pelajaran agar bisa sedikit sadar dan bangun dari mimpi panjangnya?
‘’Apa yang akan dilakukannya?’’ Vio berlari menyusul Rayn, tidak ingin pria itu melakukan hal kasar pada kakaknya. Bagi Vio itu hanya sebagai ungkapan cinta kakaknya pada Rayn hanya saja caranya yang salah, harusnya Febby mengambil hati Rayn dengan perlahan bukan membuatnya marah, yang ada pria itu akan semakin membenci Febby.
*****
‘’Ada apa sayang? Tumben ke kantorku kangen ya?’’ Febby tersenyum berdiri dari kursinya menghampiri Rayn berniat memeluk pria itu tapi dengan kasarnya Rayn menghempas tubuh Febby.
‘’Klarifikasi sekarang juga atau kau akan tau akibatnya.’’ Ancam Rayn dan dengan sombongnya duduk di sofa ruangan Febby. Pria itu bahkan tidak mau menatap wajah Febby. Baginya Febby semacam mahluk yang harus dijauhinya. Kehadiran wanita itu seakan berdampak buruk bagi hidupnya.
‘’Apa yang harus diklarifikasi? Toh sebentar lagi semuanya akan terjadi, kau memang akan menjadi suamiku, aku tidak sabar menunggu hari itu tiba,’’ ucap Febby dengan begitu senangnya sedang Rayn melihatnya dengan tatapan jijik seolah Febby adalah hama dalam hidupnya.
‘’Bagaimana bisa ada wanita nggak tau diri sepertimu!’’ Rayn meremehkan.
Seolah tidak peduli Febby terus tersenyum padanya. Penolakan Rayn sama sekali tidak berarti. Baginya apapun yang terjadi Rayn tetaplah harus menjadi miliknya walaupun dengan menyingkirkan Vio sekalipun.
‘Sayang apa kau sudah makan siang, kebetulan aku belum bisakah kau menemaniku?’’ ucap Febby dengan suara manjanya membuat Rayn ingin muntah.
‘’Berhentilah memanggilku dengan sebutan itu dan bangunlah dari mimpimu, aku sama sekali tidak menyukaimu dan tidak akan pernah menikah denganmu.’’ Rayn memberikan tatapan tak sukanya pada Febby.
‘’Kau tau dalam hidupku aku hanya ingin menikah dengan satu wanita dan itu adalah Vio, Viona Angelica Mahesa bukan wanita lain ataupun wanita sepertimu.’’ Tekan Rayn lalu berjalan meninggalkan ruangan Febby.
Tentu saja Febby geram mendengar ucapan Rayn. Dia mengepalkan kedua tangannya, keinginannya untuk menghancurkan Vio semakin besar bahkan timbul rasa untuk menyingkirkan Vio selamanya.
Buru-buru Febby mengejar Rayn. Wanita itu tersenyum licik saat melihat beberapa orang berdiri tidak jauh dari ruangannya. Febby menghalau Rayn, berdiri tepat di depan pria itu, menjinjitkan kakinya dan dengan cepat menyambar bibir Rayn.
Tentu saja Rayn keberatan dengan tindakan Febby. Dengan kasar pria itu mendorong tubuh Febby hingga wanita itu terjatuh dilantai, bahkan Rayn sama sekali tidak peduli saat Febby meringis kesakitan dan buru-buru meninggalkan wanita itu.
‘’Kita lihat saja apa yang akan terjadi.’’ Febby tersenyum, berdiri, menepuk beberapa kali bokongnya untuk membersihkan pakaiannya lalu berjalan mendekat pada beberapa orang yang sedang mengobrol santai di dekat ruangannya. Febby sangat yakin tadi mereka mengambil foto saat Febby sedang mencium Rayn, dan benar saja dugaannya bahkan dalam foto itu terlihat jelas wajah Rayn.
‘’Tunggu kejutanku sayang.’’ Febby tersenyum lagi lalu mengirim foto itu pada salah satu wartawan yang dikenalnya. Sebelumnya setelah melakukan interview dengan sebuah majalah Febby memang sengaja meminta nomor salah satu wartawan disana.
Febby yakin dengan foto itu dia akan bisa memiliki Rayn, Orang tua Rayn pasti akan memaksa pria itu untuk menikahinya secepatnya. Febby juga akan mendesak orang tuanya agar menikahkannya dengan Rayn, bahkan Febby sudah memiliki banyak rencana di kepalanya.
‘’Rayn.’’ teriak Vio menghampiri saat melihat Rayn keluar dari perusahan tempat kakaknya bekerja. Tadi Vio menyusul Rayn dengan menggunakan Taxi tapi apesnya taxi itu mogok ditengah jalan.
‘’Kamu nggak menyakiti kakakku kan?’’ tanya Vio dengan cemas. Rayn tidak menjawab, pria itu malah menarik Vio dalam pelukannya untuk sekedar meredakan emosinya.
‘’Rayn lepaskan.’’ Vio risih karena beberapa orang melihatnya dengan tatapan tak suka, bahkan Vio melihat beberapa diantara mereka mengeluarkan ponsel, Vio yakin pasti mereka sedang mengambil foto dan Videonya dengan Rayn.
‘’Biarkan seperti ini sebentar saja, aku sangat kesal sekarang,’’ ucap Rayn tak peduli dengan keadaan sekitar.
‘’Rayn lepaskan, aku nggak mau ada gosip tentang kita nantinya.’’
Rayn mengerti, melepaskan pelukannya, tersenyum pada Vio lalu dengan lembutnya Rayn mengusap kepala Vio. Rasa kesalnya hilang seketika hanya dengan kehadiran wanita itu, Rayn semakin yakin untuk menjadikan Vio miliknya.
‘’Pulang yuk.’’ Rayn menarik tangan Vio menuju mobilnya. Kali ini sama sekali tidak ada protes dari bibir Vio. Wanita itu dengan patuh mengikuti langkah kaki Rayn, bahkan Vio membiarkan Rayn memasang safety belt untuknya.
Ditengah perjalan ponsel Rayn beberapa kali berdering, bukan dari para wanita seperti yang dulu pernah terjadi, kali ini yang menelponnya adalah Anastasya mamanya, Rayn yakin mamanya pasti ingin menanyakan tentang interview yang dilakukan Febby.
‘’Mama tunggu di rumah om Ardy sekarang juga.’’ Setelah berucap Anastasya langsung mematikan ponselnya. Rayn menatap bingung pada Vio, kenapa harus kerumah om Ardy? Itulah yang mengganjal dalam pikirannya.
Vio membuang nafas kasar begitu mobil Rayn terparkir sempurna di depan rumah keluarganya. Awalnya Vio tidak ingin ikut dan meminta Rayn menurunkannya ditengah jalan saja, tapi pria itu terus memohon padanya untuk menemaninya dan mau tidak mau Vio akhirnya mengikuti semua kemauan Rayn dan disinilah dia sekarang berdiri tepat di depan rumahnya.
Vio bahkan tidak tau apa yang akan terjadi nanti. Dalam hatinya dia memutuskan untuk tak ikut campur tentang hubungan Rayn dan Febby apapun yang akan terjadi nanti.
Para orang tua dan febby terkejut melihat Rayn yang datang bersama Vio. Febby menatap tak suka pada Vio, kenapa wanita itu harus hadir disaat penting seperti ini, pikir Febby.
Vio yang mendapat tatapan seperti itu sama sekali tak peduli, wanita itu terus melangkah mendekat, memeluk dan mencium kedua orang tuanya lalu dengan santainya Vio duduk disamping Ardy tak lupa Vio menyapa Anastasya dan Al juga.
Bersambung.....
Cinta harus diperjuangkan & diperjelas 😎😎