Kirana hanyalah sebatas gadis muda yang baru mengenal mimpi dan cinta. Dia sedang bahagia merangkai satu demi satu kuncup cintanya bersama seorang pemuda bernama Keenan.
Namun, bunga yang baru akan mekar itu segera layu karena satu kejadian naas yang merenggut hampir seluruh akal sehatnya hingga keluarganya menerima lamaran Raihan begitu saja. Lalu, bagaimana kisah cinta Kirana dan Keenan? Haruskah dia merelakan egonya dan menatap masa depannya dengan laki-laki lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jia.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Kedatangan Raihan
Selepas acara ulang tahun Kirana, Bang Raihan semakin terang-terangan pdkt ke Kirana. Bang Raihan bahkan tidak sungkan lagi menawarkan pada Kirana untuk mengantarnya pulang selesai bekerja. Tadinya Kirana ragu, bayang-bayang masa lalunya membuat Kirana ragu menerima uluran tangan Bang Raihan. Tapi Bang Adnan bilang Kirana tidak boleh menolak maksud baik seseorang jadi Kirana memilih untuk menerima tawaran Bang Raihan.
“Abang…,” panggil Kirana sambil mengetuk kamar abangnya.
“Ada apa dek? Masuk aja,” kata Adnan dari dalam.
Kirana membuka kamar abangnya perlahan. Dia menemukan abangnya tengah duduk di meja kerjanya sambil mengerjakan pekerjaannya. Sepertinya Abangnya sedang sibuk, Kirana akhirnya mengurungkan niatnya dan melangkah mundur tapi Bang Adnan meminta Kirana untuk mengatakan apa maksudnya.
“Galau mulu perasaan, kenapa sih?” tanya Adnan.
“Nggak galau kok, siapa pula yang galau.”
“Kelihatan dari mukamu itu. Sepet banget nggak enak dilihatnya, udah jelek makin jelek aja kamu,” kata Bang Adnan. Dia membiarkan Kirana merebahkan diri di atas kasur single bednya. Dia juga membiarkan adiknya itu memasang selimut dan memeluk guling yang biasa dia pakai untuk tidur. Kebiasaan baru ini muncul pasca kejadian mengerikan itu. Setiap kali adiknya ketakutan dia pasti akan memaksa tidur di kamar Abangnya dan berakhirlah Adnan akan tidur dengan kasur lipat di bawah.
“Abang…,” panggil Kirana.
“Hmm?”
“Besok Bang Raihan ngajak Kirana jalan. Abang diem aja gitu?” tanya Kirana.
“Lha terus Abang harus apa?”
“Ya apa kek, biasanya kalau aku pergi sama Keenan abang suka cerewet,” kata Kirana keceplosan.
Adnan bangkit berdiri dari atas kursi kemudian duduk di pinggiran bed. Dia menatap sendu wajah adiknya yang cukup kelabakan setelah tanpa sengaja menyebutkan satu nama.
“Dek, Keenan sudah pergi. Nggak ada salahnya kan kamu menatap ke depan. Lupakan saja masa lalumu,” kata Bang Adnan.
“Tapi susah Bang. Aku sama Keenan kenal nggak sebentar,” kata Kirana yang kembali duduk.
“Kirana, nggak peduli selama apa kamu berhubungan dengan dia kalau kalian nggak jodoh ya Allah akan pisahkan kalian. Perpisahan kalian mungkin sedikit menyakitkan. Nggak sedikit sih menyakitkan banget malah. Bukan cuma kamu tapi buat abang juga. Terus mau sampai kapan kamu akan begini?” tanya Adnan.
“Terus menurut Abang aku harus terima Bang Raihan?” tanya Kirana.
“Abang nggak akan minta begitu. Keputusan itu ada padamu. Kalau memang kamu mau kamu boleh menerima Bang Raihan, tapi kalau tidak ya jangan dipaksa. Kamu adiknya Abang, kebahagiaanmu itu yang utama buat Abang,” kata Adnan.
“Bang, tapi apa Bang Raihan mau nerima Kirana yang udah cacat begini?” kata Kirana.
“Dek jangan pakai ungkapan itu buat menggambarkan dirimu sendiri. Rasanya kepala Abang seperti dihantam batu dengar kamu bilang begitu. Kamu itu nggak cacat Kirana, kamu normal. Secara fisik kamu juga sehat nggak ada kurangnya," kata Adnan yang selama ini selalu mencoba mengembalikan kepercayaan diri adiknya.
“Kirana kan udah kotor Bang,” katanya lagi.
“Kirana…, kata siapa sih kamu kotor?”
“Nggak peduli sebanyak apapun Kirana mandi, Kirana masih merasa kotor Bang,” kata Kirana sambil meneteskan air matanya.
“Shtt…, jangan ngomong gitu. Udah cukup kamu menyiksa dirimu sendiri dengan ungkapan-ungkapan nggak bener begitu.”
“Dek…, Raihan paham posisimu. Dia tahu kondisimu, tapi dia masih tetap memperjuangkanmu itu sudah cukup membuktikan kalau kamu berharga di mata dia. Kamu yang dia inginkan. Abang berani jamin, dengan Raihan kamu akan baik-baik saja,” kata Adnan.
“Abang beneran?”
“Beneran. Kalau sampai Raihan menyakiti hatimu, kamu boleh hukum Abang,” kata Adnan lagi.
...***...
Raihan jadi mengajak Kirana jalan-jalan hari ini. Mumpung dia sedang cuti jadi dia meminta izin pada orang tua Kirana untuk mengajaknya jalan-jalan ke Breksi. Selesai sarapan, Kirana sudah siap dan segera turun dari kamarnya untuk menemui Bang Raihan. Kirana tampak cantik mengenakan kemeja oversize berwarna biru dengan kaos putih sebagai inner. Selesai memakai sepatu putihnya, Kirana pamit pada Mama.
“Hati-hati di jalan, pulangnya jangan kemalaman ya,” kata Mama.
“Iya Ma,” kata Kirana.
“Izin pergi dulu tante, assalamualaikum,” kata Bang Raihan.
“Waalaikumsalam,” kata Mama.
Raihan mulai menjalankan mobilnya pelan. Dia juga meminta Kirana memutar musik apapun yang dia suka agar gadis itu bisa rileks selama perjalanan. Sekitar menempuh perjalanan sekitar 40 menit lamanya, Kirana dan Raihan sampai ke tempat tujuan mereka. Kirana yang pada dasarnya sudah lama tidak jalan-jalan langsung exited dan tidak sabar untuk segera turun.
“Sabar dulu Dek, Abang cari tempat parkir dulu,” kata Raihan.
“Salah siapa Abang pakai mobil, biasanya pakai motor juga,” protes Kirana.
“Eh biasanya kan yang Abang bawa hanya nyawa sendiri, mau kepanasan mau kehujanan bodo amat Abang rasain sendiri. Tapi kalau sekarang kan Abang bawa anak gadis orang mana mungkin Abang biarin kepanasan sih,” kata Bang Raihan.
“Yaudah cepetan cari tempat parkirnya,” kata Kirana.
“Iya sabar Dek,” jawab Raihan.
Begitu mobil Raihan sempurna terparkir, kirana langsung berlari keluar. Tapi belum jauh dia pergi ada segerombolan laki-laki yang berjalan di dekatnya membuat Kirana terdiam di tempat dan tidak berani kemana-mana. Raihan yang melihatnya langsung mengambil inisiatif, dia genggam tangan Kirana dan terus dia gandeng tanpa dilepas.
“Kalau takut kamu boleh pegangan ke Abang,” kata Raihan sambil tersenyum.
Kirana mengangguk, dia bisa segera kembali tersenyum dan mulai menarik tangan Raihan agar segera mengikuti langkahnya. Begitu sampai di atas, Kirana dan Raihan memutuskan untuk duduk di salah satu bangku yang menyuguhkan pemandangan langsung ke bawah. Pemandangan yang begitu hijau didukung dengan matahari yang tidak begitu terik membuat suasananya menjadi begitu syahdu. Beberapa kali Raihan memergoki Kirana sibuk mengabadikan pemandangan hijau nan cantik di hadapannya.
“Bang lihat sini dong,” kata Kirana mengajaknya selfie.
“Kupikir cewek tomboy kaya kamu nggak akan doyan selfie,” kata Bang Raihan.
“Emang nggak doyan Bang, tapi sekali-kali lah apa salahnya. Baru pertama kali ini juga aku main sama Abang,” kata Kirana.
“Suka-suka kamu lah,” kata Raihan.
“Dek, Abang mau beli minum dulu di bawah. Kamu tinggal di sini atau ikut?” tanya Raihan.
“Mau ikut, eh tapi nanti tempat ini diduduki orang Bang. Dari tadi saja sudah ada yang menatap ke arah sini terus kaya nunggu kita buat berdiri terus pergi,” kata Kirana.
“Terus mau tinggal aja?” tanya Raihan memastikan.
“Nggak tahu bingung,” kata Kirana.
“Kalau kamu nggak berani sendiri ya sudah ayo ikut saja, nanti kita bisa cari tempat duduk yang lainnya,” kata Bang Raihan.
“Tapi di sini view-nya bagus Bang,” kata Kirana.
“Terus maumu bagaimana sekarang?”
“Aku di sini saja deh Bang, tapi Abang perginya jangan kelamaan ya,” kata Kirana.
Raihan bergegas menuju ke warung terdekat yang letaknya ada di bawah tebing. Setelah membeli dua botol air mineral, dia segera kembali. Dia ingat pesan Adnan untuk jangan pernah meninggalkan Kirana seorang diri, makanya dia bisa begitu khawatir.
Begitu kembali dan mendekati Kirana, Raihan melihat gadis itu memasang headset di kedua telinganya. Untuk membunuh rasa takutnya, Kirana menonton video dari handphonenya. Gadis itu berusaha mengabaikan apapun yang terjadi di sekitarnya.
“Kamu benar-benar gadis yang tangguh Kirana,” batin Raihan.
semangat buat karya² baru nya kak💪
jngan marah yaa klo ada saran dan kritik dri readers mu😁
bantu dukung karyaku juga iya
simpanan brondong tampan
lebih banyak upnya thor