NovelToon NovelToon
DENDAM

DENDAM

Status: tamat
Genre:Romantis / Patahhati / Balas Dendam / Chicklit / Tamat
Popularitas:270.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: nazwa talita

Setelah disiksa, dikhianati dan dibuang di suatu tempat dalam keadaan hampir tak bernyawa Gendis bertekad Mengubah takdir demi membalas dendam pada Arga Demian, pria tampan berhati iblis yang pernah menjadi kekasih rahasianya.

Akankah Gendis berhasil membalaskan dendam dan sakit hati pada pria yang selama ini terus bersemayam di hatinya? Ataukah dia justru kembali terjebak dan terjerat pada pesona Arga Demian dan kembali menjatuhkan hatinya pada pria itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazwa talita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 15 MEMBAWA KE RUMAH

"Di mana rumahmu?" Arga melirik Gendis dengan ekor matanya.

"Di depan sana ada perempatan, terus masuk sedikit," jelas Gendis sambil menunjuk jalan di depannya.

"Tapi letak rumah saya jauh dari jalan, jadi mobil Bapak tidak bisa masuk." Gendis menatap wajah tampan Arga yang sedang serius mengemudi.

"Rumah kontrakan saya masuk gang sempit, nanti Bapak tidak usah ikut masuk, saya bisa jalan sendiri sampai ke rumah kontrakan saya." Arga terdiam tak menjawab kata-kata Gendis.

Namun, dalam hati dia sedikit kesal. Kenapa orang secantik dia harus tinggal di tempat sempit seperti ini? Seharusnya perempuan seperti dia bisa punya kehidupan yang lebih baik.

Arga membelokkan mobilnya sesuai arah yang ditunjukkan oleh Gendis. Pria itu memarkirkan mobilnya ke pinggir jalan. Dia keluar dari mobil, kemudian membukakan pintu mobil untuk Gendis.

Pria itu membantu Gendis melepaskan seat belt. Netranya memindai wajah cantik Gendis yang kini berjarak cukup dekat dengannya.

Detak jantungnya tiba-tiba memompa lebih cepat. Arga buru-buru menjauhkan wajahnya.

"Bapak anterin saya sampai di sini saja, soalnya rumah kontrakan saya masuk gang sempit."

"Memangnya kamu bisa jalan sendiri dengan keadaan kamu seperti ini?"

Gendis mencoba bangun dan keluar dari mobil. Namun, baru bergerak sedikit, seluruh bagian tubuhnya yang terluka terasa sakit. Perempuan itu meringis kesakitan.

Arga menunduk, mengangkat tubuh Gendis. Pria itu menutup pintu mobil dengan kakinya. Gendis mau tidak mau menurut juga. Perempuan itu tersenyum tipis karena semuanya berjalan sesuai rencana.

"Maafkan saya, karena saya sudah merepotkan Bapak."

"Saya yang seharusnya minta maaf, karena gara-gara saya kamu jadi terluka seperti ini." Kedua netra hitam itu menatap wajah cantik Gendis yang saat ini berada dekat dengan wajahnya.

"Kalau saya tidak ceroboh Saya juga tidak akan tertabrak mobil Bapak."

"Kamu benar. Kamu memang sangat ceroboh. Di jalanan besar seperti itu kamu malah menyeberang sembarangan."

"Maaf." Gendis memberanikan diri menatap mantan pacar palsu di masa lalunya itu.

Arga menghela napas panjang, menatap wajah cantik gadis itu.

"Kunci mobilnya dulu, Pak." Arga mengangguk.

Laki-laki itu kemudian membawa Gendis masuk ke dalam gang menuju rumah kontrakannya.

"Berhenti di sini, Pak. Ini rumah kontrakan saya."

"Mana kuncinya?" Arga menurunkan Gendis karena gadis itu tampak kesulitan saat sedang mencari kunci rumahnya. Gendis mencari kunci itu dalam tasnya.

Saat dia ke rumah sakit tadi, tasnya tertinggal di mobil Arga. Saat membuka tasnya, perempuan itu sedikit terkejut saat tidak menemukan ponselnya.

Arga mengambil kunci di tangan Gendis. Pria itu kemudian membuka pintu, setelah itu kembali mengangkat tubuh Gendis masuk ke rumah.

Arga menatap ke sekeliling ruangan. Rumah ini begitu sempit, tetapi sangat rapi. Dalam ruangan itu hanya terdapat kasur, lemari, dan sebuah kipas angin.

Arga membaringkan tubuh Gendis ke atas kasur dengan pelan. Apalagi saat ia melihat wajah perempuan itu meringis menahan sakit.

"Harusnya tadi saya membawa kamu ke apartemen saya saja, biar lebih nyaman."

"Di sini juga nyaman, Pak. Saya sudah terbiasa."

"Masalahnya kamu sedang sakit Laura, buat jalan saja kamu susah." Arga menatap gadis itu dengan khawatir.

Entah apa yang dirasakan Arga saat ini, yang jelas, dia sangat khawatir melihat gadis itu terluka. Apalagi dia terluka karena dirinya.

"Siapa yang menemani kamu di sini? Apa kamu tidak punya teman satu kamar?" Gendis menggeleng.

"Saya tinggal sendirian, Pak."

"Kalau begitu, lebih baik saya bawa kamu ke apartemen, biar saya bisa merawat kamu."

"Semua yang terjadi sama kamu adalah kesalahan saya. Jadi saya harus bertanggung jawab," jelas Arga datar. Sementara Gendis menatap tidak percaya pada pria di depannya itu.

"Ti-tidak usah, Pak. Nanti saya telepon teman saya saja, biar dia datang ke sini."

"Tapi kamu belum sembuh benar. Kalau kamu tinggal di apartemen, saya bisa suruh dokter pribadi saya untuk memeriksakan kamu, karena kamu tidak mau di rawat di rumah sakit."

"Tidak, Pak. Terima kasih, biar saya di sini saja." Arga menarik napas panjang.

Kenapa perempuan ini keras kepala sekali?

"Kalau begitu, biar saya yang menemani kamu di sini."

"Hah? Apa maksud Bapak?" Kedua mata Gendis membola.

"Saya akan menemanimu di sini."

"Tapi, Pak, Bapak kan harus bekerja. Ini masih pagi loh, Pak. Pekerjaan Bapak pasti banyak, kan?"

"Biarkan saja. Biar asisten dan sekretaris saya yang menggantikan pekerjaan saya."

"Tapi, Pak-"

"Tidak ada bantahan, Laura!"

"Ta-tapi ...."

"Diamlah!"

Gendis mencebik kesal, sementara Arga tersenyum tipis.

Dalam hati Gendis, dia tertawa senang karena berhasil membuat Arga selangkah lebih dekat dengannya.

Gadis itu menatap luka-lukanya. Mulutnya meringis, merasakan perih. Namun, segaris senyum tipis terbentuk di wajahnya.

Seandainya semua ini bisa membuatmu melihat ke arahku, aku rela. Meski aku harus merasa kesakitan.

Rasa sakit ini bahkan belum seberapa dibandingkan rasa sakit yang kau berikan di masa lalu.

"Kenapa? Apa rasanya sangat sakit?" Wajah tampan Arga tiba-tiba sudah berada di depan Gendis. Pria itu menatap satu persatu luka-luka di lutut Gendis yang tertutup perban.

Wajah tampan Arga terlihat begitu khawatir.

"Ti-tidak apa-apa, Pak. Hanya sedikit perih." Gendis menatap pria itu dengan gugup.

Kamu harus bisa, Gendis. Saat ini kau adalah Laura, bukan Gendis!

Gendis menarik kepalanya, sedikit menjauh dari wajah Arga. Gadis itu mencoba menetralkan perasaannya. Dalam hati dia merasa sangat kesal. Kesal pada dirinya sendiri karena setelah beribu-ribu kesakitan yang dia rasakan, pria itu masih tetap saja membuat hatinya berdebar.

"Laura, bisakah kamu memesan makanan untukku? Aku sangat lapar."

"Bapak belum sarapan?"

"Tadinya aku mau sarapan nasi goreng buatan kamu di kantor, tapi-"

"Biar aku masakin sebentar buat Bapak."

"Jangan! Kamu sedang sakit. Bagaimana kamu mau masak?"

"Kalau begitu Bapak yang masak, nanti aku kasih tahu caranya. Bagaimana?"

"Boleh, siapa takut!"

"Memangnya Bapak bisa?"

"Kamu meragukan aku?"

Arga membuka jas dan kemeja yang dia pakai.

"A-apa yang-"

"Aku tidak mungkin memasak dengan memakai jas bukan?" Pria itu kini hanya memakai celana panjang dan kaos berlengan pendek yang melekat pas pada tubuh kekarnya.

Pria itu mendekati Gendis yang masih terpaku menatap wajah tampan Arga.

"Ayo, tunjukkan dapurnya!"

"Pak Arga!" pekik Gendis, merasa kaget saat pria itu tiba-tiba mengangkat tubuhnya.

.

Jangan lupa like, komen, hadiah, dan votenya ya, teman-teman 🙏

Dukung Author, biar makin semangat updatenya 🥰

1
Anneke28 Annetje
tdh seru ceritanya tamat begitu saja gantung
Sri Wahyuni
bagus lanjutkan
Floren Soria
gantung cerita
Nur Qalbi
lanjut
🍻
Penulisnya gak professional dalam berkarya !!!!
🌸 SoraMelody 🌸
kok udah tamat aja gimana dah
Shinta Nurfadillah
loh cerita kok gantung gini
angel
bikin karya kog Ngantung
Nazwatalita: Nanti lihat di season 2 nya Kak🙏
total 1 replies
Nur Mei
menguras emosi
SeoulganicId
eh apapun alasan lu arga gue tetep gak setuju gendis balik ama lu , ud jahat ternoda pula lagi 😩
SeoulganicId
sumpah yah arga jgn ampe akhirannya sama lu
Trihastuti Handayani
Kecewa
Ema Fitria
up
rorosableng
di gantung ya thor ?
R ADJENG MAIANA F D HJ SE MM
Akh .. Author mah ga puguh .. masa sih ceritanya ngegantung seperti ini? biasanya cerita dituntaskan selesai kalaupun mau disambung akur cerira nya ga ngacak .. kecewa lho .. jadi malas Novel karangan Author ... selamat membuat kami2 KECEWA ..
R ADJENG MAIANA F D HJ SE MM
Author yg bener saja .. apa ini ga akan diteruskan .. koq cerira masih gantung begini .
R ADJENG MAIANA F D HJ SE MM
Ha .. ha .. ha .. kena batunta Argha .. makanya jadi orang harus punya prinsip .. jangan mudah di setir sama orang Arabella ... huh .. kalau sudah gini NYESEL TUJUH KELILING selamat menikmati kehancursnMU
R ADJENG MAIANA F D HJ SE MM
Sudah saatnya Srikandi mengamuk di depan musuh2 nya .. hancurkan se-hancur2 nya .. apa yang di tanam itulah apa yang di petik .. ha ha ha ... rasakan Karina . Chandra .. begitu pula Argha .. yang telah membunuh keluarga Gendis ..
Lina aja
oooo jadi kekayaan keluarga gendis di kuasai m keluarga nya Arga....m
Lina aja
kasian banget itu gendis....ketemu sama pembunuh ortunya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!