Karena permintaan Dari ke dua orang tuanya, Marcel terpaksa menikahi perempuan yang bahkan belum dikenalnya sama sekali. sedangkan Syifa hanya menurut saja apa permintaan dari omanya untuk menikah. lantaran setelah kepergian dari kedua orang tuanya, hanya oma haidah lah satu-satunya keluarganya.
Marcel.
Kita lihat saja nanti, setelah menikah? aku akan buat hari-harimu seperti di neraka, dan kau sendiri. yang akan minta berpisah dariku. sehingga aku akan bebas dari belenggu pernikahan palsu ini.
Syifa
perasaan apa ini, akankah pria! yang akan kunikahi nanti bakal mencintaiku dengan sepenuh hati atau malah sebaliknya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sari Fernita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Marcell kini Duduk termenung di
sofa ruang tamu. pandangannya sama sekali tidak lepas dari pintu kamar Syifa. Berharap perempuan itu akan keluar dari kamarnya dan menyapanya.
Dan tidak butuh waktu lama. apa yang ia harapkan terwujud pasalnya perempuan itu keluar namun sudah berpakaian rapi.
Setelah mengunci pintu kamarnya ia langsung melangkah begitu sajah tampa menyapa Marcel lebih dulu. Namun Marcell tidak tinggal diam, ia justru mengejar dan menahan tangan Syifa. serentak Syifa menepis tangan Marcell dengan kasar.
"Jangan menyentuhku!!!!!." Bentak Syifa seraya menepis tangan Marcell dengan kasar.
"Oke...oke?? namun, jawab dulu pertanyaanku? kau mau pergi kemana." Tanya Marcell pada wanita yang kini melipat tangannya di dada.
"Kenapa?... kenapa aku harus memberitahumu." Celetuk Syifa sambil sesekali membuang muka.
Memicik, Marcell menahan emosinya. Namun sebisa mungkin ia tahan dan berusaha bersikap lembut pada perempuan yang kini ada dihadapannya. "Mulai hari ini? aku yang akan mengantarmu kemanapun kau ingin pergi." Ujar Marcell dengan tersenyum manis.
Tentu saja Syifa mengetahui alasan dari sikap manis Marcell padanya. ia begitu karena ingin menebus kesalahannya dan juga demi kata maaf darinya. Namun perempuan itu tetap bersikukuh. ia tidak akan semudah itu memaafkan Marcell hanya karena mengantarnya kemanapun ia ingin pergi. ia menginginkan pria yang ada dihadapannya ini mendapatkan pelajaran atas apa yang ia lakukan padanya.
"kau tidak perlu mengantarkan kemanapun aku ingin pergi, Aku?..... bisa pergi sendiri." Menolak mentah-mentah ajakan Marcell.
Merasa geram karena Syifa menolaknya, ia justru menarik paksa tangan Syifa." cell? lepaskan tanganku." berontak Syifa berusaha melepas cekalan tangan Marcell.
Marcell tak memperdulikan teriakan Syifa, yang terus meronta minta dilepaskan. ia justru menyeretnya kedalam mobil. setelah itu disusul oleh Marcell yang masuk.
Marcell menginjak pedal gas mobilnya lalu melesatkan kendaraan mewahnya kejalan menuju kampus.
"Mulai hari ini dan seterusnya? kau dan aku akan berangkat kekampus berbarengan." perintah Marcell menegaskan kata-katanya sambil terus fokus menyetir.
"kau gila celll? benar-benar gila." tandas Syifa menanggapi perkataan Marcell.
"terserah apa katamu tentangku? yang penting apapun yang aku perintahkan kau harus menurutinya."
Memicik, Syifa kemudian mendengkus tidak suka." kenapa seperti itu? bukannya diperjanjian kita kau menuliskan bahwa diantara kita tidak ada yang mengurusi urusan pribadi masin-masing? jadi kau tidak berhak mengatur ataupun memerintahku."
Marcell mengacak-mengacak rambutnya dengan kasar. kepalanya pening sekali. Baru kali ini ia merasa begitu sakit saat Syifa menolaknya. Terlebih Syifa adalah istrinya jadi ia berhak untuk berbuat apa saja.
"persetan dengan perjanjian." gumam Marcell dalam hati.
"rupanya kau menyukai cara kasar ya ketimbang cara lembut? aku sudah kehabisan akal menghadapimu Syifa? kau selalu sajah membangkang."
" Maksud kamu?."Kening Syifa berkerut.
"kali ini tolong patuhi aku." ujar Marcell memohon
" ok? kali ini aku akan menurutimu? tapi hanya sebatas mengantar kemanapun aku ingin pergi selebihnya tidak ok?." Ucap Syifa final.
Kini Mobil Marcell berhenti dihalte bis tidak jauh dari kampus? bukan tampa alasan Marcell berhenti disana. bila semua orang yang ada dikampus melihat mereka datang bersama maka otomatis status mereka akan terbongkar.
Dengan tergesa Syifa membuka seatbeltnya lalu keluar dari mobil sedan hitam mewah itu. namun langkahnya terhenti Saat Marcell mengatakan sesuatu.
"Nanti sepulang dari kampus? aku tunggu kamu disini." ujar Marcell dan langsung diangguki oleh Syifa.
**********
Sepulangnya dari kampus Syifa langsung menuju ketempat dimana Marcell menunggunya.
Dan benar sajah tampak mobil sedan hitam milik Marcell sudah berada di halte dimana ia menurunkan Syifa dahulu.
Dengan langkah terburu-buru Syifa langsung masuk kedalam mobil." Ayo jalan." ujar Syifa dingin.
dan tidak butuh waktu lama Marcell langsung menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya.
"Kita mampir makan dulu ya!! aku lapar." ucap Marcell memecah keheningan.
"aku gak lapar.?"
"Tapi aku lapar fa?."
Syifa membuang nafasnya dengan kasar. Berdebat dengan Marcell sungguh menguras tenaga pasalnya Marcell tipikal pria yang tidak bisa dibantah. oleh sebab itu Syifa menurutinya daripada harus berdebat lagi.
"yasudah? tapi jangan lama-lama." Pasrah Syifa.
"iya?..iya?? apa gak bosan berada di Apartemen terus. sekali-sekali keluar cari angin, olahraga kek. itukan baik untuk kebugaran tubuh." Celoteh Marcell memberi masukan namun yang ia dapat malah tatapan tajam dari Syifa. Seketika itu Marcell mengatupkan bibirnya tampa berani lagi bicara.
Marcell berhenti disebuah warteg dekat pinggir jalan. setelah itu Syifa dan Marcell turun dari mobil dan langsung memilih tempat untuk mereka duduki.
" yakin nih? kau tidak mau pesan." tanya Marcell memastikan.
" iyah? kamu ini cerewet ya? nanya mulu dari tadi." emosi Syifa sambil mengedarkan pandangan kesembarang arah tanpa Menoleh kearah Marcell."
" sinis banget sih?....kan cuman nanya." gerutu Marcell merasa kesall.
Setelah pesanan makanan sampai. tidak butuh waktu lama Marcell langsung melahap makanannya.
"Akhirnyaaaa???." ucap Marcell setelah menghabiskan makanannya."
"sekarang kau sudah selesai makan? jadi ayo cepat pulang?." perintah Syifa sambil melangkah menuju mobil meninggalkan Marcell yang masih duduk bersandar bersandar karena kekenyangan."
"kalau tidak untuk menebus kesalahanku? ogah banget aku melakukan hal ini." gerutu Marcell seraya berjalan untuk membayar tagihan makanannya. setelah itu ia menyusul Syifa kemobil.
Suasana hening didalam mobil, tanpa ada satupun suara dari keduanya yang berinisiatif membuka mulut untuk mencairkan suasana canggung yang melingkupi mobil saat ini.
Marcell yang fokus dengan kegiatan menyetirnya, sementara Syifa yang hanya diam saja sembari memandang kearah luar jendela mobil.
Bersambung...