Ayunda Zhia Wijaya yang baru saja kehilangan calon suaminya, sedang mencoba untuk bangkit dari keterpurukan.
Kehilangan demi kehilangan yang dialami oleh Ayunda meninggalkan bekas trauma yang mendalam di diri gadis itu, hingga Ayunda selalu dilanda keraguan untuk menjalin sebuah hubungan.
Namun takdir malah mempertemukan Ayunda dengan Bennedic Rainer, seorang pemuda tanggung yang jiwa mudanya begitu berkobar.
Ben yang merupakan sepupu dari boss Ayunda di kantor, kerap menggoda Ayunda dan selalu kepo dengan hidup Ayunda.
Sekuat apapun Ayunda menghindari Ben, pemuda itu malah semakin mengejar Ayunda dengan gila.
Mampukah Ben yang juga masih labil menyembuhkan rasa trauma yang dialami oleh Ayunda dan memberikan kebahagiaan yang sesungguhnya untuk wanita yang usianya lebih tua dari Ben tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CERITA OPA
Ben datang lebih cepat ke panti asuhan bawa sekotak buku dan makan siang untuk anak-anak panti dari Rainer's Resto.
"Siang, Opa!" Sapa Ben yang langsung menghampiri Opa Ronny dan mencium punggung tangan Opanya Ayunda tersebut.
"Siang, Ben! Tumben datang jam segini? Ayunda belum pulang kerja," kekeh Opa Ronny yang seakan sudah hafal kalau tujuan Ben datang ke panti pastilah ingin menemui Ayunda atau sekedar mencari perhatian pada cucunya tersebut.
"Kebetulan tidak sedang mencari Ayunda, Pa! Tapi mau mengantar buku untuk anak-anak," Ben menunjukkan kotak yang tadi ia bawa pada Opa Ronny.
Dua pria berbeda umur tersebut langsung membuka kotak bersama dan memeriksa isinya.
"Wah, banyak juga, ya! Anak-anak pasti suka. Rak di perpustakaan mini juga akan semakin penuh koleksinya," opa Ronny tersenyum senang.
"Nanti biar Ben susun sekalian di rak perpustakaan, Pa!" ujar Ben menawarkan diri.
"Boleh. Nanti biar di bantu sama anak-anak." Jawab Opa Ronny yang sudah kembali melanjutkan pekerjaannya memangkas beberapa tanaman di halaman panti yang sudah tumbuh lebat.
Ben sendiri lanjut menurunkan kotak makan siang dari dalam mobil, lalu membawanya masuk ke dalam panti, bersama beberapa anak yang turut membantunya.
****
Ben sudah selesai menata buku-buku di rak, saat Opa Ronny masuk ke ruangan empat kali lima meter yang berfungsi sebagai perpustakaan mini di panti asuhan ini.
"Sudah selesai, Ben?" Tanya Opa Ronny seraya duduk di atas karpet yang ada di dalam ruang.
"Sudah, Pa. Opa sudah makan siang? Tadi Ben bawakan makanan untuk Opa dan anak-anak," Ben balik bertanya dan sedikit berbasa-basi.
"Sudah tadi bersama anak-anak."
"Kau tidak kembali ke resto lagi?" Tanya Opa Ronny selanjutnya.
"Kebetulan semua pekerjaan shdah beres, Pa. Ben bisa bersantai sampai sore," jawab Ben dengan nada santai.
Opa Ronny mengangguk paham.
Suasana hening sesaat.
"Ben boleh bertanya sesuatu, Opa?" Tanya Ben yang akhirnya kembali menemukan bahan obrolan.
"Tanya saja!"
"Gabrian Ferdinan itu siapa, Opa? Apa dia-" Ben merasa ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
Baru semalam Ben ingat dengan cerita Opa Ronny tempo hari tentang Ayunda yang sudah punya calon suami.
Dan Ben juga ingat nama Gabrian Ferdinan yang tertulis di batu nisan makam yang dikunjungi oleh Ayunda waktu itu.
Belum lagi sikap Ayunda yang mendadak berubah ketus saat Ben bertanya tentang Gabrian Ferdinan secara gamblang.
Ya, ya, ya!
Kadang Ben juga benci dengan mulutnya yang selalu ceplas-ceplos saat bertanya dan tak pernah berpikir panjang. Bukan sekali dua kali Ben menyinggung perasaan orang saat ia mengajukan pertanyaan secara gamblang dan blak-blakan.
Dasar Ben!
"Itu adalah mendiang calon suami Ayunda. Darimana kau tahu nama itu? Apa Ayunda menceritakannya kepadamu?" Cecar Opa Ronny merasa penasaran.
Ben langsung menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Kalau Ben bicara jujur, pasti Opa Ronny akan langsung menilai Ben sebagai pemuda kepo yang gemar menguntit cucunya.
Namun nyatanya Ben memang seperti itu.
"Ben tak sengaja melihat Ayunda menangis di kompleks pemakaman, Opa. Dan karena Ben penasaran, Ben mencari tahu makam yang ditangisi oleh Ayunda. Di batu nisan tertera Gabrian Ferdinan," jelas Ben panjang lebar dengan sedikit karangan indah di depannya.
"Jadi Gabrian itu, calon suami Ayunda, ya?" Lanjut Ben bertanya sekali lagi pada Opa Ronny.
"Ya. Itu benar. Sayang sekali Gabrian meninggal satu hari sebelum hari pernikahannya dan Ayunda," jawab Opa Ronny yang raut wajahnya sudah berubah sedih.
Ben sontak terbelalak mendengar cerita Opa Ronny.
"Meninggal kenapa, Opa?" Tanya Ben yang semakin penasaran.
"Kecelakaan," Jawab Opa Ronny singkat yang langsung bisa membuat Ben menarik benang merah dari semuanya.
Wajar Ayunda marah pada Ben karena Ben bertanya tentang Gabrian tempo hari. Ayunda pasti sedih sekali saat mengingat tentang Gabrian.
"Ayunda sangat terpukul dengan kejadian itu."
"Apalagi dua tahun sebelum Gabrian meninggal, Ayunda juga sudah kehilangan Mama, Papa, Oma serta Opanya secara bersamaan," cerita Opa Ronny lagi yang raut wajahnya terlihat semakin sedih.
Kalau soal keluarga besar Ayunda ini, Ben tahu ceritanya dari Abang Liam.
Ya,
Mereka semua meninggal dalam sebuah bencana alam saat sedang liburan keluarga.
Ayunda yang malang!
"Ayunda selalu merasa kalau dirinya adalah gadis pembawa sial, karena semua orang terdekatnya pergi meninggalkannya satu persatu. Itu juga yang akhirnya membuat Ayunda seolah menutup hati dan enggan menjalin hubungan lagi bersama pria lain," tutur Opa Ronny yang masih membuat Ben membisu.
"Padahal, Opa sangat berharap Ayunda bisa bertemu pria baik yang akan menjaganya, sebelum Opa pergi meninggalkan dunia ini." Ungkap Opa Ronny lagj yang langsung membuat Ben mendekatkan duduknya ke arah pria tua tersebut.
"Opa kenapa bicara seperti itu?" Tanya Ben sedih.
"Opa sudah tua, Ben! Opa tak bia selamanya menemani Ayunda. Dan jika sampai Opa berpulang nanti, Ayunda belum juga menikah itu benar-benar akan menjadi sebuah beban untuk Opa."
"Opa tak bisa melihat Ayunda hidup sendirian, kesepian, meratap dan menangis sendiri." Suara Opa Ronny kian terdengar lirih.
"Opa hanya ingin melihat Ayunda bahagia bersama pria yang benar-benar tulus menyayangi dan mencintainya, sebelum Opa menutup mata untuk selamanya," ujar Opa Ronny mengungkapkan keinginan terakhirnya.
Ben merasa tertegun dengan ungkapan hati Opa Ronny tersebut.
Apakah Ben adalah pria yang pantas untuk Ayunda?
Apakah Ben benar-benar tulus mencintai dan menyayangi Ayunda?
Atau selama ini, upaya Ben untuk mendekati Ayunda hanyalah sebuah keisengan ala anak muda labil?
Kenapa hati Ben malah menjadi bimbang begini?
.
.
.
Aku yang lebay atau part ini memang melow, sih?
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
Kali aja besok langsung kasih crazy up kalo likenya tembus 500 😄😄
biar agak hangat, suhu AC dinaikkan.