Tinggal di kota besar yang padat penduduk, membuat kelima orang anak manusia ini menjalin persahabatan sejak kecil, walau keadaan status sosial dan suku berbeda, tapi mereka tetap bersama.
Kelucuan, kepolosan, dan kebahagiaan persahabatan mereka mulai memudar seiring usia yang beranjak remaja. Benih benih cinta muncul di antara persahabatn mereka.
Perbedaan di mulai, ketika mereka duduk di bangku SMA.
Bagaimana akhir persahabatan kelima anak manusia ini? Bagaimana kisah cinta mereka? akankah cita-cita kecil mereka menjadi kenyataan?
baca sampai end ya guys
Terima kasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
gosip ayah Angga
Nisa dan Angga pulang dalam keadaaan canggung. Setelah Angga menciumnya tadi, Nisa tak lagi banyak bicara, begitu pun Angga. Sunggu ia menyesali sikap frontalnya pada Nisa. Entah mengapa melihat Nisa yang tersenyum manis padanya tadi, membuat jiwa brutalnya tergerak untuk mencium gadis pujaannya sejak kecil itu.
Bip.
Angga memberhentikan motornya tepat di depan gang rumah Nisa, seperti biasa. Tidak ada percakapan sepanjang perjalanan mereka, tidak seperti biasanya Nisa yang selalu berceloteh atau bertanya pada Angga, ketika ia berada di belakang tubuh Angga saat berkendara.
“Nis, maaf atas kelancangan gue tadi.” Angga mengeluarkan suara.
Ini yang ingin Nisa dengar dari tadi. Walau sesungguhnya dalam hati kecilnya, ia senang karena mendapatkan first kiss dari pria yang ia suka sejak kecil, tapi tetap Nisa ingin Angga minta maaf karena sudah berlaku kurang ajar, mengingat mereka hanya berstatus teman dna tidak ada belum ada ungkapan kepastian dari Angga bahwa Nisa adalah pacarnya.
Nisa terdiam, tapi tetap menganggukkan kepalanya.
Lalu, ia membalikkan tubuhnya dan berjalan memasuki gang itu. Ia masih memegang bibir bawahnya dengan sedikit senyuman yang menyungging. Sementara Angga masih khawatir, ia takut Nisa akan membenci dan menjauhinya.
****
Hari ini adalah hari Ujian Nasional kelas dua belas. Nisa libur karena ia masih duduk di bangku kelas sebelas.
“Ummi, Nisa ada?” Tanya Lena yang datang ke rumah Nisa.
“Ada tuh di dalam, mauk aja!” Jawab Ummi Nisa yang sedang berdiri di etalase warung miliknya bersama denga dua orang ibu-ibu sebagai pelanggannya berdiri di luar etalase itu.
Lena melangkahkan kakinya untuk masuk ke rumah Nisa. Sesampainya di dalam. Ia langsung menepuk pundak sahabatnya itu dari belakang.
“Hei.”
“Ah.. rese lo, ngagetin aja.”
“Makanya jangan bengong! Ntar ke sambet.”
Nisa hanya nyengir. Kedua telinga tengah lebar mendengar obrolan emak-emak di depannya itu.
“Iya loh, Ummi Nisa. Saya tuh liat Pak Wijaya di mall xx sama perempuan.” Ucap salah satu ibu yang membeli di warung Nisa.
“Iya, saya juga lihat lo, Ummi. Perempuannya cantik banget, pake jilbab juga, kelihatannya lebih muda dari ibu Wijaya.” Sahut Ibu di sebelahnya.
Ummi Nisa hanya tersenyum. “Masa sih, Bu. Pak Wijaya itu sosok pria yang sayang istri dan anak. Udah gitu soleh banget lagi.”
“Justru, Ummi, kalau laki-laki kalem itu lebih bahaya dari yang begajulan.” Sahut salah satu ibu yang lain yang berdiri di sana.
Lena dan Nisa mendengar ketiga percakapan ibu-ibu itu, termasuk ibunya Nisa yang berdiri di sana.
“Mereka lagi pada ngegosipin bokap nyokapnya Angga?” Tanya Lena keypo.
Nisa mengangguk.
“Aku udah beberapa kali denger sih, tapi aku masih ngga percaya.” Jawab Nisa.
“Iya lah, gue juga engga percaya. Bokap Nyokap nya Angga kan selalu mesra. Ngga percaya gue.”
“Yah, namanya juga emak-emak emang suka gosip.” Ucap Nisa.
“Makanya gue engga mau jadi emak-emak.” Sanggah Lena.
“Lah kamu kan cita-citanya mau nikah muda, berarti cepet jadi emak-emak.” Ledek Nisa.
“Ya, tapi emak-emak Funky ya.” Jawab Lena lagi.
Lalu, mereka tertawa. Tak lama kemudian, Nisa terdiam.
“Tapi, Len kalau gosip itu bener, aku ngga bisa bayangin gimana Angga, secara dia kan sayang banget sama ibunya.” Kata Nisa.
“Iya sih, semoga itu cuma gosip aja.” Jawab Lenna.
“Aamiin.”
“Eh iya, terus kabarnya Kokom gimana? Aku hampir ngga pernah ketemu lagi sama dia.” Tanya Nisa pada Lena, yang memang satu sekolah dengan Kokom.
“Gue juga jarang banget ketemu dia, walalupun satu sekolah.”
“Tapi dia udah engga..”
“Lebih parah sekarang, Nis.” Lena memotong perkataan Nisa.
“Parah gimana?”
“Lebih parah dari sebelumnya malah, Nis. Dia udah jadi hmm..”
“Jadi apaan, Len?” Nisa semakin penasaran.
“Di booking om-om, Nis.” Ucap Lena pelan.
“Astaghfirulloh. Serius, Len?”
“Sepertinya, Nis. Soalnya gue pernah liat dia berangkat ke sekolah naik mobil gitu, di anter sama om-om.”
“Ya, Allah. Temen kita, Len.” Nisa seperti ingin menangis mendengarnya.
Ia merasa tak rela teman semasa kecilnya menjadi seperti ini.
“Kokom udah di usir dari rumah, Nis. Makanya ngga pernah keliatan. Gue ngga tau dia tinggal di mana dan sama siapa. Tapi dia masih sekolah sih.”
“Apa dia jadi simpenan om-om?” Tanya Nisa yang sudah meneteskan air mata.
“Mungkin.”
Nisa semakin terisak dan memeluk Lena.
“Maaf, Len. Aku ngga tau kabar ini.”
“Iya, lo asyik pacaran sama Angga sih.”
“Akc engga pacaran sama Angga, cuma suka bareng aja.”
Lena melepaskan pelukannya. “Masa? Tapi kok gue lihatnya kalian berdua tuh bukan sekedar temenan ya.”
“Sumpah, Len. Aku sama Angga cuma temenan.”
“Ngga juga ngga apa-apa, Nis. Lo sama Angga bukan saudara kandung, kalian nikah juga sah-sah aja kan?”
“Apaan sih.” Wajah Nisa tiba-tiba merona.
Memang ia tak menyangkal bahawa ia menyukai Angga. Namun sikap Angga yang berubah-ubah membuat Nisa tidak yakin bahwa Angga pun menyukainya. Ia lebih memilih menutup rapat perasaannya, hingga nanti Angga yang lebih dulu mengungkapkan perasaaannya.