NovelToon NovelToon
KAKAK TIRIKU JODOHKU

KAKAK TIRIKU JODOHKU

Status: tamat
Genre:Teen / Action / Romantis / Tamat
Popularitas:718.3k
Nilai: 4.8
Nama Author: Lusica Jung 2

Aster Jung adalah gadis cantik dan satu-satunya putri dalam keluarga Jung. Aster memiliki teman masa kecil bernama Zian Rey. Awalnya semua baik-baik saja tapi persahabatan mereka perlahan merenggang saat keduanya beranjak remaja hingga Rey dan Aster menjadi musuh bebuyutan.

"Zian Rey, aku tidak akan pernah kalah darimu. Akan ku buktikan pada dunia jika aku lebih baik darimu."

Banyak yang menyayangkan renggangnya persahabatan mereka termasuk keluarga besar Rey dan Aster. Mereka ingin mereka bisa bersatu. Hingga sebuah keputusan besar pun diambil, Aster dan Rey menjadi saudara tiri.

Dan seiring berjalannya waktu benih-benih cinta tumbuh di hati mereka berdua. Rey dan Aster saling mencintai namun sama-sama tidak ada yang menyadari perasaan masing-masing. Dan Rey baru menyadari betapa besar arti kehadiran Aster setelah wanita itu pergi dari hidupnya.

Enam tahun kemudian Aster kembali dengan seorang gadis kecil bernama Hanyeon.

"Sebenarnya dia adalah Putri kandungmu. Benih yang malam itu kau tanam di dalam rahimku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 "Aster Hampir Membakar Dapur "

Sang penguasa malam telah mengakhiri tugasnya dan posisinya telah digantikan oleh mentari. Di sebuah ruangan yang didominasi warna putih terlihat seorang gadis baru saja membuka matanya.

Aroma lezat yang berasal dari lantai satu membuat cacing dalam perutnya menggeliat-ngeliat minta segera di isi. Lalu pandangannya bergulir pada jam yang menggantung di dinding

"Aahh! Sudah pagi rupanya." Gadis itu beranjak dari posisi berbaringnya kemudian turun dan pergi ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket semua oleh keringat.

Setelah mandi dan berpakaian lengkap. Gadis itu 'Aster' bergegas turun dan mendapati seorang pemuda tengah berkutat dengan spatula dan penggorengan di depan sebuah kompor yang menyala. Aster tersenyum kemudian menghampiri pemuda itu yang pastinya adalah Rey.

"Pagi." Sapa Aster sambil menunjukkan wajah cantiknya di depan Rey. "Apa yang sedang kau masak? Boleh aku membantunya?" Tany Aster memastikan.

"Potong dadu nanas yang baru saja aku kupas kemudian letakkan di wadah ini." Aster tersenyum kemudian mengngguk.

Dengan pelan dan hati-hati Aster memotong nanas tersebut. Bibirnya tak henti-hentinya berceloteh mulai dari hal yang menarik sampai tidak sama sekali. Sedangkan Rey memilih untuk diam dan hanya menjadi pendengar yang setia

"Aaahhh..!"

TRANGG!!

Pisau dalam genggaman Aster jatuh begitu saja setelah tanpa sengaja menggores ujung jarinya. Seketika darah segar pun keluar dari lukanya yang terbuka. "Ceroboh, seharusnya kau lebih berhati-hati. Dasar payah." Dan selanjutnya, Aster merasakan bila jarinya sudah berada dalam kul*man mulut Rey.

Pemuda itu menghiap darahnya lalu meludahkannya. "Tunggulah di sini, aku ambilkan dulu plaster luka." Ucap Rey namun segera dihentikan oleh Aster.

"Tidak usah, biar aku sendiri saja. Lanjutkan saja memasakmu." Ucapnya dan pergi begitu saja.

Setelah satu jam berlalu. Sedikitnya lima menu berbeda telah tersusun dengan rapi di atas meja, dan semua makana-makanan itu menggugah selera Aster untuk segera melahapnya.

"Rey, aku datang."

Suasana hati Aster yang semula sangat baik seketika memburuk karna kedatangan seorang tamu tak di undang. Lia datang sambil membawa dua bingkisan berisi makanan. "Aster Jung, apa-apaan kau ini? Sedang apa kau di sini?" Tanya Lia yang begitu tidak suka dengan kehadiran Aster di rumah Rey. "Keluarlah, keberadaanmu di sini membuat moodku memburuk saja. Bukankah kau memiliki rumah, jadi pulang saja kerumahmu." Sepertinya Lia masih tidak tau bila Aster dan Rey sekarang menjadi satu keluarga.

"Kenapa harus aku yang pergi. Kau saja yang pergi, karna kedatanganmu sama sekali tak diharapkan di sini."

"Kauu..!!"

Plakk!

Aster menahan lengan Lia yang hendak menamparnya lalu menghempaskannya. "Lagi pula aku memiliki sebuah hal untuk tetap berada di sini. Jadi kau tidak berhak untuk mengusirku dari rumah ini." Tegas Aster. Dan bibirnya mengurai senyum penuh kemenangan melihat wajah marah Lia.

"Ada apa ini?" Tegur Rey menengahi perdebatan mereka.

Lia langsung menghampiri Rey kemudian memeluk lengan terbukanya. "Rey, gadis ini mengusirku. Masa iya dia mengatakan jika aku tidak berhak ada di sini. Usir dia untukku, bisakan?" Wanita itu mengangkat wajahnya dan menatap Rey dengan tatapan memohon. Tubuh Lia terhuyung karna sentakan Rey pada lengannya.

"Seharuanya yang pergi dari sini bukan dia, tapi kau. Justru kedatanganmulah yang tidak diharapkan di rumah ini. Pergilah, aku benar-benar muak melihat mukamu."

"REY!"

Karna Lia tidak mau pergi, jadi Rey yang mengalah. "Aster, kita pergi sekarang. Kau tidak ingin terlambat bukan?" Aster mengangguk. Gadis itu menoleh pada Lia kemudian menjuluskan lidahnya dan menatapnya dengan senyum mengejek. Lia terlihat begitu marah dan menghancurkan dua vas bunga di rumah Rey sebelum akhirnya pergi begitu saja dari sana.

🌹🌹🌹

"Uhhhggg..!! Aaahhh...!!"

Aster merinding sendiri mendengar desahan-desahan mengerikan dari salah satu bilik toilet wanita. Di dalam sana seseorang tengah melakukan permainan solo untuk menuntaskan hasrat bercintanya yang terpendam. Aster mengenali betul siapa pemilik suara itu dan Aster berani bersumpah jika dia menggunakan mentimun lagi sebagai objek asing yang kemudian ia masukkan ke dalam vaginanya.

"Aster apa apa?" Heran Choa melihat Aster keluar dari toilet wanita dengan wajah pucat "Seperti di kejar hantu saja."

"Bahkan ini lebih mengerikan dari pada hantu." Jawabnya. "Dia kumat lagi penyakitnya dan sedang bermain solo di dalam." Tutur Aster mata Choa membulat.

"Benarkah?" Aster mengangguk. Choa yang merasa penasaran segera pergi ke toilet sementara Aster tidak.

Aster pergi ke perpustakaan, dan setibanya di sana ia melihat Rey yang begitu serius membaca buku dihadapannya. Aster mendekati pemuda itu tanpa suara, iris hazelnya terus menatap pemuda itu tanpa berkedip, "Dia begitu tampan ketika sedang serius." Ucap Aster yang tanpa sadar baru saja memuji Rey.

Kemudian gadis itu duduk di meja yang tak terlalu jauh dari Rey dengan sebuah rak buku yang menjadi penyekat hingga Aster bisa lebih leluasa menatapnya secara diam-diam.

"Aster, sebenarnya siapa yang sedang kau perhatikan?"

"Omo?" Nyaris saja Aster terkena serangan jantung dadakan karna kemunculan Choa yang sangat tiba-tiba. Choa yang merasa penasaran segera mengikuti arah pandang Aster.

"Rey?" Dan gadis itu berseru tak percaya, tak percaya jika sahabatnya itu tengah memperhatikan Rey.

"Apa maksudmu? Memangnya siapa yang memperhatikannya, jangan ngaco deh." Aster kemudian fokus pada buku didepannya, ia sungguh merutuki dirinya. Dan bagaimana bisa dia memperhatikan Rey yang jelas-jelas adalah musuh bebuyutannya "Pasti kau mulai tidak waras, Aster Jung." Ucap Aster membatin.

"Yakk, Aster Jung! Kau mau kemana?" Seru Choa melihat Aster bangkit dari duduknya.

"Kantin, aku lapar." Jawab Aster tanpa menghentikan langkahnya.

Rey menoleh dan menatap punggung Aster yang semakin menjauh dengan tatapan tak terbaca. Diam-diam Rey menarik sudut bibirnya dan menggelengkan kepala. Pemuda itu kembali fokus pada buku didepannya. Rey belajar dengan sungguh-sungguh karna tidak ingin sampai kalah dari Aster. Rey ingin mempertahankan posisinya sebagai yang terbaik dikampusnya.

"HYUNGGG..!"

BRAKKK..!

Perhatian semua orang yang berada di perpustakaan teralihkan karna teriakan panik Jimin. Pemuda itu datang dengan nafas naik-turun tak beraturan, saking paniknya dia sampai terjatuh dan nyungsep di bawah kaki Rey karna tersandung kakinya sendiri.

"Ada apa, Park Jimin? Kenapa kau terlihat panik?" tanya Rey. "Gawat, Hyung gawat. Aster Nunna, Aster, Nunna. Aku melihat penyihir itu dan teman-temannya menarik Aster Nunna ke arah kolam, aku cemas jika penyihir-penyihir itu sampai mencelakainya apalagi mereka tau kalau, Aster, Nunna tidak bisa berenang." tutur Jimin panjang lebar.

Tanpa menghiraukan Jimin yang sedang meringis kesakitan sambil memegangi lututnya, pemuda itu bergegas ke kolam renang dan memastikan jika Lia dan teman-temannya tidak melakukan hal buruk pada Aster. Dan Rey bersumpah tidak akan mengampuni mereka jika hal buruk sampai menimpa adik tirinya tersebut.

Namun setibanya di sana bukan Aster yang berada dalam bahaya melainkan Lia sendiri, Rey tidak tau dari mana datangnya V dan Felix. Dua bocah itu tiba-tiba ada di sana. Mengerjai Lia dan teman-temannya sampai mereka bertiga berteriak tak karuan.

"Aster." Seru Rey seraya menghampiri gadis itu. Sontak Aster menoleh.

"Rey."

Tubuh Aster tertarik ke depan dan menubruk dada bidang Rey yang tersembunyi apik di balik kemejanya. Rey meletakkan dagunya di atas kepala coklat terang Aster. "Aku lega kau baik-baik saja, aku sangat takut ketika mendengar kau berada dalam bahaya." Ujar Rey sambil mengeratkan pelukkannya. Aster tersenyum tipis, mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukkan Rey.

"Rey, tolong aku. Selamatkan aku dari dua bocah setan ini." Teriak Lia yang terlihat begitu tersiksa karna ulah V dan Felix. V dan Felix adalah Junior Rey dan Aster

Mereka berdua adalah pengagum berat Aster jadi tidak salah jika mereka bertindak ketika melihat gadis itu berada dalam bahaya. "Yakk! Bocah setan, lepaskan. Jangan lakukan ini padaku. Lepaklan sialan, kau membuatku kesakitan, lepaskan ikatanmu ini." Teriak Lia menuntut.

"Tidak mau." Jawab keduanya dengan kompak. "Enak saja minta melepaskan setelah menempatkan, Aster, sunbae dalam bahaya. Kami tidak akan memaafkan siapa pun yang berani mengganggu, Aster, Sunbae." Ujar V yang segera dibalas anggukan oleh Felix

"Hyung, kalian pergi saja. Tiga penyihir ini serahkan pada kami." Rey mengangguk, keduanya pun berjalan beriringan meninggalkan kolam renang.

Di sini mereka sekarang. Rey membawa Aster pergi ke atap kampus. Di sana sudah ada Rio dan Aria yang sedang bermain kartu, wajah mereka berdua mirip tuyul karna tepung di wajah masing-masing.

Sementara Jimin menyendiri dipojokkan sambil melihat video laknat diponselnya, Ren pergi untuk menjahili para seniornya. Aster merasa geli sendiri melihat Aria dan Rio, mereka terlihat begitu menggemaskan. Tak ingin kehilangan moment langkah, segera Aster memotret mereka berdua dan mengabadikannya dalam sebuah foto.

"Yakk! Aster Jung, apa yang kau lakukan? Hapus foto itu." teriak Aria yang merasa tak terima karna Aster seenaknya memotret dirinya yang sedang berantakkan. Aster menggeleng.

"Tidak mau. Bagaimana mungkin aku menghapus foto yang lucu dan menggemaskan ini. Hahahaha..!"

"Yakk! Aster Jung, jangan lari kau. Cepat hapus foto itu." Teriak Aria sambil terus mengejarAster.

Mereka berdua terlihat seperti bocah yang saling kejar-kejaran memperebutkan sesuatu. Sementara Rey dan Rio hanya bisa mendengus geli melihat tingkah mereka berdua.

"Aku perhatikan akhir-akhir ini kau dan dia semakin dekat saja, bahkan kau selalu sigap setiap kali dia berada dalam bahaya. Mungkinkah kau mulai tertarik padanya?" Tebak Rio dan membuat Rey menoleh seketika.

"Itu hanya ada dalam mimpimu, Kim Rio." balas Rey menimpali, Rio tersenyum tipis.

"Mau bertaruh? Dan biarkan hanya waktu yang menjawabnya." Rio bangkit dari posisinya dan pergi begitu saja. Meninggalkan Rey yang menatap kepergiannya dengan tatapan tak terbaca.

🌹🌹🌹

Pagi hari yang awalnya tenang seketika menjadi gaduh karna kelakuan seorang gadis. Aster yang berusaha menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Rey malah membuat dapur hampir terbakar.

Bukan hanya dapur saja yang bermasalah tapi juga masakannya, tak ada satu pun masakan Aster yang bisa dimakan. Telor ceplok yang tak ubahnya seperti arang dan nasi goreng super asin. Jangankan rasanya, bahkan tampilannya saja tidak meyakinkan sama sekali.

"KYYYAAAA!! API, API." teriak Aster panik.

"Ck, jangan hanya berteriak saja. Bantu aku memadamkan apinya." Omel Rey ditengah-tengah kesibukknnya memadamkan api.

Aster mencerutkan bibirnya, mulutnya terus saja berkomat-kami tidak jelas. Gadis itu segera mengambil ember yang ada di lantai lalu membawanya ke kamar mandi

'Byurrr..!'

Seember air yang dia bawa bukannya memadamkan api malah membuat Rey basah kuyub. Aster tidak sengaja menyiramnya. "Aster Jung." Geram Rey dengan nada rendah tapi penuh penekanan.

"Sorry, aku tidak sengaja." Ucap Aster penuh sesal.

"Lupakan." Ketus Rey dan berlalu dari hadapan Aster.

Setelah hampir tiga puluh menit bekerja keras, api berhasil dipadamkan dan dapur sudah kembali seperti sedia kala. Beruntung apinya tidak merembet kemana-mana jadi lebih mudah bagi mereka berdua untuk memadamkannya. Saat ini Rey masih berada dikamarnya untuk mengganti pakaiannya yang basah karna ulah Aster.

"Rey, boleh aku masuk." Seru keras seseorang dari luar kamar Rey.

"Pergilah, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu." Sahut Rey menimpali

"Ck, memangnya siapa yang ingin mengajakmu berdebat. Dasar rusa kutub menyebalkan, jelek. Kau menyebalkan, aku membencimu." Aster menghentakkan kakinya di depan kamar Rey dan pergi begitu saja.

Padahal Aster datang untuk minta maaf padanya tapi kedatangannya tidak diterima oleh Rey.

Ocehan dan gerutuan Aster masih terus berlanjut bahkan sampai tiga puluh menit kemudian. Entah sudah berapa banyak sumpah serapah yang keluar dari bibir Aster yang ditunjukkan pada Rey. "Dasar manusia kutub menyebalkan, awas saja kau kalau butuh padaku. Zian Rey, kau memang jelek, jelek, jelek, jelek." Aster terus memukul bantal sofa yang ada dipangkuannya yang dia ibaratkan itu adalah Rey.

Dan ocehan Aster membuat Rey yang sedang menuruni tangga merasa geli sendiri. "Hei, Aster Jung. Kau terus saja mengoceh, apa mulutmu tidak berbusa?" Cibir Rey sambil melemparkan sebuah syal padanya

"Yakk!!" Pekik Aster tertahan, pandangannya kemudian melunak setelah melihat kain tipis yang berada dalam pangkuannya. "Syal ini..!" Ucapnya lirih

"Itu milikmu kan, lain kali kalau memiliki benda berharga jaga dengan baik. Jangan asal ditinggalkan begitu saja." Nasehat Rey setengah mencibir.

Brugg!!

Rey terkejut karna Aster tiba-tiba berdiri dan melompat kearahnya, kedua tangan gadis itu mengalung pada lehernya dan refleks kedua tangannya memegangi pantat Aster agar gadis itu tidak terjatuh. "Yakk! Apa-apaan kau ini?" Kesal Rey sambil menatap Aster tajam

"Terimakasih sudah menemukan syalku, aku fikir aku sudah kehilangan syal ini." Ujar Aster tanpa melepaskan kontak matanya.

"Iya, tapi turun sekarang, kau itu berat." Aster mencerutkan bibirnya dan mendumal kesal

"Iya-iya aku turun."

.

.

BERSAMBUNG.

1
Rohimatul Amanah
Luar biasa
EndRu
ada Luhan dan Jessika di sini .. hemmm
EndRu
Aster kok bermarga Xi
Dan typo lain . ada Jian juga. haduh
EndRu
Tiba tiba ada Jia. Jesica
typo Thor 🙏
EndRu
visual Rry pakai eyepact seperti apa ya
EndRu
Drakor nya keren banget
EndRu
sering banget typo Jessika.. terus siapa lagi.itu
EndRu
Rey kayak Ketua mafia ya
EndRu
dijadikan berkedel mereka nanti. beraninya mengusik Rey
EndRu
misal pakai pengawal mungkin lebih aman Rey
EndRu
mbayangin cantik dan nggemesinjya Hanyeon
EndRu
perjuangan Aster luar biasa.
Rey akan selalu merasa bersalah mengingat beratnya perjuangan Aster. berbahagialah sekarang
EndRu
haru begini...
rengekan sang putri akhirnya membuat Naluri seorang Ibu luluh..
keputusan yang tepat Aster.
putrimu berhak tahu siapa ayahnya
EndRu
Nyesek yak
EndRu
mewek aku Kak 😭😭😭
EndRu
baru NGEH..
Choa ternyata laki laki
Ellnara: Choa itu cewek kakak
total 1 replies
EndRu
ini kayaknya nih sengaja deh. ditinggal berdua di rumah biar akur gitu..
EndRu
aria6 mana tahu klo kamu sebenarnya memendam rasa kepada adik tiri mu sendiri Rey
EndRu
Rey ga ambil fotonya Aster nih. kan cakep tuh
EndRu
ini di negeri mana ya?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!