Kana Bintang Artana.
Laki-laki dingin yang mampu membuat hati siapapun menjerit melihatnya.
Bukan karena seram. Tetapi karena ketampanannya yang dapat membuat para gadis jatuh cinta padanya.
Begitupun Kaila. Gadis pemalu yang ikut andil menyukainya. Namun rasa sukanya memudar saat mengetahui betapa menyebalkannya seorang Kana.
Dan tanpa Kaila sadari, perlahan namun pasti, Kana mulai menunjukkan rasa sukanya pada Kaila.
Akankah keduanya berakhir bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prepti ayu maharani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 13
Part 13
"Kenapa sih harus beli helm segala?" tanya Kaila saat keduanya sudah berada di atas motor setelah membeli helm.
"Kalau gak beli helm, terus gimana lo mau pulang bareng gue?"
"'Kan gue gak minta pulang bareng lo!"
"Terus gue juga gak nyuruh lo bayar helm-nya 'kan?" tanya Kana balik membuat Kaila diam.
"Terserah! Salah mulu gue!" teriak Kaila kesal membuat Kana tersenyum puas.
Kana menggelengkan kepala dan fokus dengan kemudinya. Sedangkan Kaila, Kaila diam dalam lamunannya. Entah apa yang di pikirkan gadis itu.
Keduanya hanya diam dan tak ada lagi yang memulai bicara.
'Drrrt!'
Kaila meraih ponselnya dari dalam saku. Di sana terlihat notifikasi pesan masuk dari nomor baru.
"Siapa sih?" lirih Kaila saat nomor baru mengiriminya pesan.
Kaila mengerutkan dahinya dan melihat foto profil yang terpasang di sana.
"Bima?" Kaila melebarkan mata dan tertawa. "Lucu banget dia."
Kaila menggelengkan kepala lalu menyimpan nomor laki-laki itu. Ia tersenyum tipis dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku.
Kini matanya tertuju pada kaca spion yang memperlihatkan wajah Kana di sana.
Namun detik setelahnya, mata keduanya bertemu. Dengan segera Kaila mengalihkan pandangannya. Ia tak ingin laki-laki itu semakin kegeeran padanya.
"Kenapa lo liat-liat?" tanya Kana pada gadis itu.
Kaila melebarkan mata. "Siapa yang liatin lo?"
"Itu, tadi."
Kaila berdecak. "Ih, gak usah kegeeran ya!"
Kana menghentikan lajunya dan menoleh ke belakang. "Loh, siapa yang kegeeran? 'Kan gue tanya, kenapa lo liat-liat?"
"Ya gue gak liatin lo kok," ucap Kaila membela diri.
Kana memutar bola matanya. "Terus tadi apa?"
"Ya gue gak sengaja kok."
"Tapi liat 'kan?" tanya Kana membuat Kaila semakin kesal.
"Udah deh, lo kalau ngajak ribut mending turunin gue disini aja."
Kana membulatkan bibirnya. "Yaudah, turun."
Kaila menoleh ke sekeliling. Namun saat ia lihat, terdapat beberapa preman di sana.
"Katanya mau turun," ucap Kana dengan senyum miringnya.
Kaila menghela napas. "Gak jadi!" ucapnya membuat Kana tertawa.
-o0o-
"Thanks ya," ucap Bima seraya menyerahkan sebuah ponsel pada pemiliknya.
Elsa mengangguk dengan senyuman. "Lo serius suka sama Kaila?" tanyanya pada laki-laki tersebut.
Bima mengangguk mantap. "Kalau gue gak suka, ngapain gue minta nomor dia ke elo."
Elsa tersenyum lalu mengangguk. "Tapi- kenapa lo gak minta langsung sama orangnya?"
"Gak keburu."
Elsa menaikkan kedua alisnya. "Gak keburu?"
Bima mengangguk. "Orangnya udah di bawa Kana."
Elsa tertawa mendengar hal tersebut. "Jadi maksudnya lo udah keduluan Kana?"
"Ya gak gitu. Gue cuma keduluan start aja. Kita liat aja nanti, siapa yang sampai finish duluan," ucapnya terkekeh.
"Bim, lo serius gak sih sama Kaila?" ucap Elsa sekali lagi.
"Ya seriuslah!" Bima menaikkan kepalanya.
"Ya abisnya lo ketawa mulu."
Bima berdecak. "Ya lo kaya gak tahu gue orangnya gimana. Kalau gak ketawa, ya bukan Bima."
Elsa tersenyum. "Bye the way, gimana perasaan lo ke Adinda? Masih?"
Bima menggeleng. "Sebenarnya sejak awal gue gak suka sama dia."
"Hah?" Elsa menaikkan kedua alisnya.
"Lo ini dikit-dikit hah, dikit-dikit heh!" kesal Bima.
"Terus kalau lo gak suka Adinda, ngapain dulu lo ngejar-ngejar dia?" tanya Elsa masih tak mengerti.
"Ya, gue ngejar popularitas aja waktu itu."
Elsa melebarkan mata dan memukul laki-laki itu.
"Aw! Sakit, Elsa!" pekik Bima membuat beberapa pengunjung menoleh ke arah keduanya.
"Lo gila! Terus lo deketin Kaila juga buat popularitasan lo?" tanya Elsa dengan wajah kesalnya.
Bima menghela napas. "Gak gitu, Elsa Frozen!" pekik Bima.
Elsa mengerucutkan bibir seraya mengaduk minumannya. "Terus apa?"
Bima menghela napas dan mengelus dada. "Lo kira karena apa gue deketin Kaila? Ya karena cinta lah!"
Elsa membulatka bibirnya. "Gue kira lo mau ngejar popularitasan juga."
"Ya enggaklah. Gue 'kan udah berubah. Ya kali gue gitu mulu."
"Serius lo udah berubah?" tanya Elsa lagi.
Kali ini Bima tak tahan lagi. Ia menghela napas panjang dan mencoba tersenyum. "Iya, Elsa."
"Bagus deh."
Bima menggelengkan kepala menghadapi gadis di hadapannya tersebut.
-o0o-
"Kok ke sini?" tanya Kaila saat menyadari keduanya berhenti di sebuah swalayan.
"Gue mau beliin lo bahan makanan untuk besok," ucap Kana seraya melepas helm-nya.
Kaila melebarkan mata. "Apa?"
Kana menghela napas lalu menatap gadis di hadapannya.
Matanya keduanya bertemu. Bahkan, Kana dapat merasakan deru napas gadis itu.
Senyum Kaila sedikit mengembang, namun tak berlangsung lama. Kaila mengalihkan pandangannya ke arah lain berusaha menghindari sorotan mata Kana.
Kana tersenyum tipis. Tangannya melepas pengait di leher Kaila dan melepaskan helm tersebut dari kepala gadis itu. "Makanya di lepas dulu, supaya gak budek!"
Kaila mendengus kesal, lalu berjalan lebih dulu.
Kana menggelengkan kepala. Ia menyentuh dadanya yang terasa berdetak. "Baru kali ini gue kaya gini," ucapnya lalu mengikuti langkah Kaila yang sudah lebih dulu meninggalkannya.
Kaila merasa pipinya terasa panas. Ia menyentuh kedua pipinya. "Lo kenapa sih? Lo 'kan gak suka lagi sama dia," ucapnya pada diri sendiri.
Kaila menggeleng. "Gak! Gak! Lo gak boleh suka lagi sama dia! Dia 'kan nyebelin." Kaila mengangguk mantap.
"Kak Kaila!" teriak seorang gadis kecil membuat Kaila menoleh.
Kaila tersenyum. "Kiara?" ucapnya saat gadis kecil itu berjalan menghampiri dan memeluknya.
"Kakak ngapain kesini?" tanya Kiara.
Kaila tersenyum. "Kakak nemenin temen kakak kesini."
"Oh ya? Mana temen kakak?"
Kaila menoleh ke belakang, dan tepat- Kana sudah berada di belakang dan menghampirinya.
"Ini temen kakak?" tanya Kiara menunjuk Kana.
Kaila mengangguk. "Kenalin, ini namanya Kak Kana," ucap Kaila mengenalkan Kana pada gadis kecil itu.
Kana tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Kiara.
"Halo, Kak. Namaku Kiara."
Kana tersenyum. "Nama Kakak, Kana."
Kiara membulatkan bibirnya. "Kakak pacarnya Kak Kaila?" tanya Kiara dengan polosnya.
"Bukan!" ucap Kaila membuat Kana menoleh ke arahnya. "Bukan, kakak ini bukan pacar Kak Kaila."
"Terus Kak Bima pacar Kak Kaila?" tanya Kiara lagi.
"Bukan, sayang," ucap Kaila lalu berjongkok mengimbangi tinggi badan Kiara. "Kamu gak boleh bahas pacar-pacaran ya. Kamu masih kecil. Okay?"
Kiara mengangguk dengan senyuman.
"Nah, bagus." Kaila mengusap lembut kepala Kiara. "Oh ya, Kiara kesini sama siapa?"
"KIARA!"
Kaila menoleh saat mendengar seseorang memanggil nama Kiara.
"Kaya ada yang manggil kamu," ucap Kaila.
"Mama aku nyariin, Kak. Aku ke sana dulu ya?" ucap Kiara.
Kana dan Kaila mengangguk.
"Dadah Kak Kaila! Dadah Kak Kana!" teriak gadis itu dan berlari pergi.
"Dadah!" jawab Kaila dengan senyuman.
"Dia siapa?" tanya Kana pada gadis di sampingnya.
"Adik Bima."
Kana melebarkan mata. "Adik Bima?"
Kaila mengangguk membenarkan.
Kana menghela napas. "Lo sedekat apa sih sama Bima? Sampai-sampai seluruh keluarganya lo kenal semua."
Kaila berdecak. "Seluruh keluarga apa sih? Orang gue cuma kenal sama adiknya doang."
Kana membulatkan bibirnya. "Kirain. Kirain lo kenal sampai sekakek neneknya."
Kaila menatap laki-laki di sampingnya dengan tatapan kesal. "Nyebelin emang lo itu!" ucapnya dan berjalan pergi.
Kana mengedikkan bahunya dan kembali mengimbangi langkah Kaila. "Maaf deh kalau bikin lo kesel," ucapnya.
Kaila hanya melirik lalu melipat kedua lengannya.
"Kaila, maaf."
Kaila tak merespon, ia terus saja melangkah.
"Kaila, maafin gue."
Kaila hanya menghela napas. Ia terus melangkah.
"Kaila, maafin gue. Kaila. Kaila. KAILA!"
"APA?" teriak Kaila kesal.
"Maaf," pinta Kana dengan wajah memohon.
Kaila terkekeh. Baru kali ini ia melihat raut wajah Kana seperti ini.
Kaila mengangguk dengan senyuman. "Iya."
"Yes!" ucap Kana seraya mengepalkan kedua tangannya.
Kaila terkekeh. "Tapi ada syaratnya."
"Apa?" tanya Kana.
"Lo gak boleh jadi laki-laki sombong. Lo harus ramah."
"Sama?" tanya Kana.
"Semua oranglah!"
Kana menghela napas mendengar jawaban Kaila. Ia tak bisa membayangkan bagaimana Kana yang Kaila inginkan.
Ramah?
Mudah tersenyum?
Kana saja tak tahu bagaimana harus tersenyum kalau bukan pada Kaila. "Gak! Gue senyum sama cewek ini juga karena terpaksa."
"Apa?" tanya Kaila menatapnya.
"Enggak, enggak," ucap Kana membuat Kaila diam.
Kaila menghela napas kesal dan melanjutkan langkahnya.
"Permisi Bu. Permisi Pak," ucap Kana pada orang yang hendak ia lewati.
Kaila berusaha menahan tawanya.
"Kenapa?" tanya Kana yang melihat raut wajah Kaila.
Kaila menggeleng. "Enggak kok. Bagus! Kerja bagus!"
Kana tersenyum. Ia memandang gadis di sebelahnya. "Jadi gini cara bikin lo seneng?"
"Hmm?" Kaila menoleh dan menaikkan kedua alisnya.
-o0o-
tapi Lo biarin dia, ngizinin dia.
tolol.
seharusnya Kaila tegas dgn perasaannya kalau ga suka bilang jgn PHP anak org kan pada ujungnya sakitkan kayak Adinda dong tegas dia langsung blg ke Aji dia ga bisa