NovelToon NovelToon
SUAMI PILIHAN PAPA

SUAMI PILIHAN PAPA

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Rahmania Hasan

Naura adalah putri semata wayang pak Malik, memiliki paras yang cantik, dia tumbuh tampa merasakan kasih sayang seorang ibu. Pak Malik yang khawatir dengan hidup putrinya kelak ketika dia sudah tiada lagi dunia ini, meminta teman lamanya ketika mereka menuntut ilmu di pesantren dulu.
Pilihannya jatuh pada sosok pria sederhana, namanya Hasan. Pria itu sebenarnya tidak pendiam tapi dunia mereka yang berbeda membuat mereka tidak mudah untuk saling dekat.
Perasaan itu mulai tumbuh diantara keduanya tapi tidak ada yang berani memulai. Sampai akhirnya Naura tak bisa lagi menahan perasaannya, dia mencoba mengambil inisiatif dan terus berupaya memberikan signal - signal cinta. Namun Hasan yang ragu dan takut salah mengartikan isyarat itu justru menghindar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmania Hasan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

CAPTER 14

UPAYA MENCIPTAKAN SUASANA ROMANTIS 2

Dipagi yang indah namun tidak demikian dengan Hasan, dia terbangun dengan pikiran mumet ditambah lagi rasa sakit dihatinya belum juga hilang. Setiap kali dia melihat kearah barang-barang miliknya dipojok kamar, sembilu dihatinya kembali terasa. Menjadi menantu orang berada tidaklah membuat dia bahagia apalagi puas diri, justru dia merasa tidak nyaman. Ditambah perlakuakn pak Malik yang terlalu baik membuatnya semakin merasa rendah diri.

“Ya Allah." Gumannya dengan mata berkaca-kaca.

Sambil melihat Naura yang masih tertidur pulas di ranjang empuknya, dia berjalan ke kamar mandi. dan tak lama kemudian dia keluar dari kamar mandi sudah dalam keadaan rapi, memakai baju koko lengkap dengan sarung juga.

Pagi ini dia berencana untuk jalan pagi disekitar komplek perumahan, mencari udara segar untuk mengusir kepenatan hati dan pikirannya. Dengan langkah pelan dia menuruni tangga dan berjalan melewati bik Siti yang sudah berada didapur.

“Pagi Den.” Sapanya dengan senyum cerah.

“Pagi juga Bik.” Balas Hasan.

“Mau kemana Den pagi-pagi gini?." tanya bik Siti

“Nggak ada Bik cuma mau keliling dekat sini."

“Non nggak diajak keliling juga Den?.” tanyanya sekai lagi.

“Adek masih tidur Bik....”

“Ohhh.. .”

“Saya tinggal dulu ya Bik.”

“Iya Den  entar kalau Non bangun saya kasih tahu.”

“Makasih Bik.” Ucap Hasan dan berlalu dari hadapan bik Siti.

Sementara itu dikamar lantai dua kediaman pak Malik, Naura sudah terbangun dari tidurnya. Melihat kearah sofa namun dia tidak bisa mendapati Hasan disana, dia berjalan ke kamar mandi untuk mengecek apakah Hasan sedang mandi tapi tidak ada suara dari dalam. Untuk memastikannya Naura mengetok pintu kamar mandi, namun tidak ada respon dari dalam.

Matanya mengitari semua sudut kamar dan langkahnya tanpa perintah berjalan menuju balkon kamar. Dia mendapati Hasan tengah berjalan kaki menuju pintu gerbang, menyapa pak satpam dan menghilang dari pandangannya.

“Mau kemana orang itu kok jalan kaki." Gumannya sementara hatinya merasa lega.

Setelah selesai mandi, godaan untuk membaca buku itu muncul lagi. Dia pun mengambilnya dan membacanya sambil duduk santai disofa.

“Masak iya sihh.” Gumannya tak percaya dengan apa yang dia baca.

Entah kenapa semua penjelasan yang ditulis didalamnya, membuat Nuara menvisualkan Hasan dikepalanya. Keinginan untuk membuktikan apakah teori yang dia baca benar adanya atau hanya sekedar bualan

belaka. Hasratnya semakin kuat ketika dia membaca sebuah baris yang menjelaskan jika ukuran laki-laki bisa dilihat dari jempol kakinya, bahkan dibuku itu juga ditulis beberapa bentuk jempol kaki seorang laki-laki. Senyumnya melebar ketika membaca semua itu dan dengan antusias Naura membaca halaman demi halaman.

Tiba-tiba suara gagang pintu diputar, kaget mendengar suara itu dia langsung panik. Bingung bagaimana menyembunyikan buku yang sedang dia pegang.

“Jangan masuk dulu!.” Teriaknya untuk menghentikan Hasan. Dan berlari kepojok kamar dimana barang-barang Hasan diletakkan. Detik berikutnya dia berlari ke kasur dan langsung membenamkan dirinya dibawah selimut.

“Mati aku.” Batinnya sambil memejamkan mata.

“Sudah belum?.” tanya Hasan dari luar.

“Emmm!.” Jawabnya.

“Aku masuk ya?!.” seru Hasan dan membuka pintuk kamar.

Dia melihat Naura yang bersembunyi dibalik selimut diatas kasurnya.

“Aneh nih cewek.” Gumannya.

Nauar yang mendengar Hasan berguman mengenai dirinya, langsung menarik selimut dari tubuhnya dan melemparkan tatapan tajam kearah Hasan.

“Apa...aku cewek aneh?!." ucapnya ketus.

“Siapa yang bilang gitu?.” Sangkal Hasan.

“Hehh...Wadimor kamu kira aku budek ya...barusan jelas kamu ngomong gitu!.” Naura bersilat lidah.

“Bisa nggak manggilnya nggak kayak gitu!.” Tidak terima.

“Emang aku salah...sarung yang kamu pakek kan wadimor kecuali kamu pakek atlas!.”

“Ya Allah pagi-pagi udah ngajak ribut...tersarah Nona!.” Sambil berjalan menuju pojok kamar untuk mengambil

pakaian kerja dan berganti di kamar mandi.

Naura terus mengamati tubuh Hasan yang sedang siap-siap untuk berangkat ke kampus. Mulai dari bibir sambil mengingat kembali keterangan yang ada dibuku dan tersenyum sendiri. Lalu berlanjut kebawah yaitu ke jempol kaki Hasan, dia terus menatap dan mencermati jempol itu, karena jaraknya agak jauh Naura tidak bisa melihatnya dengan jelas. Tanpa dia sadari kakinya menuruni kasur dan berjalan kearah Hasan, sementara tatapan matanya terkunci ke jempol kaki Hasan. Sambil menerka-nerka mulutnya tersenyum, tak disadari Hasan memperhatikan tingkah aneh Naura. Dia menjentikkan jari untuk menyadarkan Naura, untunglah usahanya berhasil. Dengan kikuk Naura tersadar kembali, wajahnya yang tadi imut seperti kelinci kecil berubah menjadi sangar seperti biasanya.

“da apa kok ngelihatin aku kayak gitu?!.”

“Yeee...kepedean banget!.”

“La terus ngelihatin siapa kalau bukan aku...ngeliahatin jin?!.”

“Mending lihat jin dari pada lihat kamu!.”

“Ohhh yakin...emang tau tampang jin kayak gimana?!."

“Emang tampangnya kayak apa?.” tanya balik.

“Ya...paling nggak jauh beda sama kuntilanak, gendruwo...biasanya mereka itu sukanya dipojok, ruangan sepi, lemari, tangga, kamar mandi sama kasur.”

“Udah udah jangan dilanjut!.” Pinta Naura yang sudah merinding.

Gara -gara merinding Naura berasa mau pipis, mendengar perkataan Hasan barusan dia menjadi takut untuk masuk kamar mandi. tapi juga malu untuk minta Hasan mengantarnya dan menunggunya. Hasan yang menyadari Naura tiba-tiba terdiam menjadi penasaran, dengan memberanikan diri dia bertanya pada Naura.

“Mba nya kenapa?.” tanya Hasan cemas.

Naura tidak menjawah dia hanya menggelengkan kepala dan tertunduk. Hasan yang tidak puas lanjut bertanya lagi.

“Ada apa?.” Sambil menatap wajah Naura yang tertunduk dengan memiringkan kepalanya.

“Mba nya kenapa...jangan diem?!.” ucap Hasan.

Tiba-tiba Naura meraih tangannya, tatapannya seperti kelinci kecil yang minta dikasihani.

“Anterin aku ke kamar mandi....” Ucapnya pelan dan nyaris tidak terdengar.

“Apa mba?.” Hasan memastikan.

Naura tidak bersuara lagi namun tangannya menggoyang tangan Hasan yang digenggamnya. Tingkah imut Naura

membuat Hasan tersenyum lebar, dia yang sebenarnya mendengar perkataan Naura langsung menuntunnya ke kamar mandi.

“Ternyata penakut juga ini kucing betina." Gumannya dalam hati.

“Tunggu sini...awas kalau aku ditinggal!." Ancam Naura.

“Ya Allah masih bisanya ngancem orang.” Ujar Hasan.

“Biarin!.”

“Jin itu adanya didalam mba bukan diluar.” Goda Hasan dari luar kamar mandi.

Naura yang parno mendengar ucapan Hasan langsung berlari keluar dan berhambur memeluk Hasan dengan erat.

“Ngapain lari?!.”

“Katanya kamu jin itu adanya didalam....” Ucap Naura yang masih memeluk Hasan.

“Ya emang adanya didalam kamar mandi juga.”

“Jangan ngomong kayak gitu...terus aku gimana pipisnya?!.”

Senyum lebar terlukis diwajah Hasan, sambil mengelus bahu Naura dia berkata,

“Jangan takut aku kan ada disini.”

“Tapi kamu kan diluar jinnya didalam....”

“Lahh...masak aku harus ikut ke dalam?!." Goda Hasan.

“Udah sana nanti keburu pipis disini.” Lanjut Hasan.

Naura bertindak penurut kali ini, tanpa protes dia masuk ke kamar mandi tapi membiarkan pintunya terbuka. Sebelum menghilang dari pandangan Hasan, dia menjulurkan kepalanya dari balik pintu.

“Tetap berdiri disana!.” perintah Naura.

“Siap Nona!.”

Naura tidak hanya meminta Hasan menunggunya didepan kamar mandi, dia juga meminta Hasan menunggunya

berdandan. Sambil memainkan telepon genggamnya, Hasan menunggu Naura yangsedang serius didepan meja riasnya. Hari ini Naura mengenakan setelan dengangaya celana high waist dan atasan crop top panjang warna milo dilengkapi dengan sepatu sneakers.

“Istriku emang pinter milih model baju.” Guman Hasan dalam hatinya.

“Aku udah siap...ayo turun." Ujar Naura.

Hasan segera bangkit darisofa dan berjalan menghampiri Naura yang sudah siap untuk berangkat ke butik.

“Mau pergi kemana?” tanya Hasan.

“Ya ke butik lah...masak cantik gini mau ke empang!.”

“Lohh katanya kemaren uda nggak mau ke butik lagi.”

“Ihhh...nyebelin banget sih kamu!.” Ujar Naura sambil memukul Hasan dengan tas selempangnya.

“Wooiii sakit!.”

“Siapa suruh...pokoknya anter aku sampek ke butik.”

“Katanya udah nggak mau dianter lagi sama aku.”

“Nyebelin banget sih lho wadimor." Sambil memukul hasan dengan tasnya sekali lagi.

Hasan terkekeh dan berjalan meninggalkan Naura yang masih berdiri di depan meja rias. Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari dalam kamar mandi,  seketika Naura menjerit dan bulu kuduknya merinding karena teringat akan ucapan Hasan mengenai jin, Naura langsung lari menyusul Hasan yang sudah menuruni tangga. Mendengar jeritan istrinya langkah Hasan terhenti, tidak hanya Hasan pak Malik dan bik Siti juga mendengarnya,

spontan mereka langsung berlari ketangga. Hasan hendak melangkah kembali ke atas sebelum mendapati Naura berlari kearahnya dengan raut wajah ketakukan.

“Kenapa aku ditinggal....” Gumannya ketika memeluk Hasan dan membenamkan wajahnya didada Hasan.

“Tadi ada suara dikamar mandi....” Lanjutnya mengadu ke Hasan.

Mendapati istrinya bersikap demikian membuat hati Hasan berbunga-bunga bahkan jantungnya berdetak dengan kencang.

“Udah nggak apa-apa...ayo turun, udah ditunggu sama Papa.” Ucap Hasan lembut sambil menyetuh kepala Naura bagian belakang dan tanpa sadar Hasan mengecup kepala Naura dengan lembut.

Pak Malik dan bik Siti yang menyaksikan adegan itu tersenyum bahagia, mereka segera berlalu dari sana agar keduanya tidak merasa canggung ataupun malu ketika menyadari keberadaan mereka.

“Pagi Sayang.” Sapa pak Malik begitu Naura dan Hasan datang.

“Pagi juga Pa.” Jawab Naura.

“Ayo Nak sarapan.” Ujar pak Malik ke Hasan.

Hasan tersenyum lembut sambil menarik kursi untuk Naura, lalu dia pun mengambil kursi dan duduk disamping Naura. Setelah selesai sarapan mereka pamit untuk berangkat, Naura memberikan kunci mobilnya pada Hasan.

“Kan udah janji nganter aku!.” Sambil memberikan kunci mobil

“Kapan aku janjinya?!.” tanya Hasan menggoda.

“Tadi dikamar itu!.”

“Aku nggak janji tapi mba nya yang minta!.”

“Minta?!.”

“Loh benar kan?!.”

“Aku nggak minta kamu yang menawarkan diri!.”

“Masak sihh perasaan tadi dikamar nggak gitu.”

“Ihh...Wadimor!.”

Hasan tertawa mendapati istrinya merengek, bahkan panggilan wadimor yang sebelumnya membuat dia kesal entah kenapa kali ini terdengar begitu manis dibibi Naura.

Pak Malik dan bik Siti yang menyaksikan tingkah manja Naura juga tertawa kecil. Bahkan timbul dipikiran pak Malik untuk mengirim keduanya berbulan madu. Dengan harapan mereka semakin akrab dan bisa memberikan cucu segera mungkin.

“Bik kira-kira enaknya mereka bulan madu kemana ya?!.” ucap pak Malik.

“Emmm...ke tempat yang dingin Tuan.” Jawab bik Siti sambil tersenyum.

“Yang dingin-dingin ya...ok habis ini aku telfon David ”

----

Di depan butik Naura.

Begitu tiba didepan butik Naura langsung turun dari mobil dan Hasan juga ikut turun. Baru berjalan beberapa langkah terdengar seorang pria memanggil Naura dan berlari kearahnya. Pria itu langsung memeluk Naura begitu berada dihadapannya.

“I miss you so much girl!." Ucapnya tidak melepaskan pelukan.

“I miss you too!.” Balas Naura.

“Thats your husband?.” tanya pria itu dengan berbisik ketelinga Naura.

Hasan yang menyaksikan pria itu bertindak terlalu intim dihadapannya, langsung diterpa kemarahan. Menatap pria itu dengan permusuhan bahkan seolah-olah menantangnya beradu fisik. Namun pria itu malah tersenyum kearah Hasan seolah tidak peduli dengan tatapan marahnya.

“Jangan menoleh kebelakang...aku sedang ngerjain suamimu dan berhasil.” Lanjutnya ditelinga Naura.

Naura yang mengerti maksud dari sepupunya itu langsung berakting juga untuk membuat Hasan marah.

“Kenapa nggak nelfon tau gitu aku jemput.” Ujarnya sedikit keras agar terdengar oleh Hasan.

Hasan yang sudah tidak bisa menahannya lagi langsung mendorong pria itu agar melepaskan pelukannya.

“Maaf anda siapa?.”

“Kamu yang siapa?.” memancing emosi.

Hasan mengerutkan alisnya, dia tidak menjawab pertanyaan pria itu, tangannya justru meraih Naura dan membawanya pergi dari hadapan pria itu menuju pintu butik. Tangan Hasan melingkar ketat dipinggang Nuara seolah mengumumkan atas kepemilikannya. Andy tidak tinggal diam dia berlari menghampiri keduanya dan bahkan menghadang mereka.

“Naura tell me who is he?!" lanjut berakting.

Sambil menghela nafas dalam-dalam dia menjawab pertanyaan Andy dengan nada datar.

“Dia Kakakku.” Sambil menahan tawa.

“What Kakak...sejak kapan kamu punya kakak?.”

“Itu saudara jauh.” Lanjut Naura.

Hasan semakin marah dibuatnya apalagi ketika Naura mengakui dirinya sebagai kakak laki-lakinya bukan sebagai suaminya.

“Ohhh...perkenalkan aku Andy.” Sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.

Namun Hasan mengabaikannya dia bahkan mengencangkan lengannya dipinggang Naura dan melanjutkan langkahnya memasuki butik. Semua karyawan menoleh kearah mereka dan Andy juga menyusul dari belakang. Lisa yang mengenal Andy dengan senyum cerah hendak menyapanya, tapi Andy memberi isyarat untuk diam begitu juga dengan Naura yang memberi isyarat sama. Lisa terdiam dalam kebingungannya sementara dikepalanya masih menyimpan sejuta pertanyaan. Tidak suka Andy mengikuti mereka berdua, Hasan pun segera menegurnya dengan nada ancaman.

“Mas Andy apakah anda seorang penguntit?!.”

“Hahhh!.”

“Kalau anda bukan penguntit sebaiknya segera menjauh sebelum saya hilang kesabaran!” Dengan wajah serius.

“Aku kan ngikuti Naura bukan kamu!.” Jawabnya santai.

“Dia adalah...,” Menghentikan ucapannya.

“Dia adalah adik perempuanmu maksudku saudara jauhmu kan!.”

“Suruh dia pergi sebelum aku tonjok mukanya." Bisik Hasan ke Naura.

Khawatir Hasan beneran akan menonjok sepupunya, akhirnya Naura menyuruh Andy untuk pergi.

“Udah sana nggak usah ganggu aku...ditonjok baru tau  rasa kamu.” Ujar Naura sambil mengedipkan mata.

“Berhubung kamu yang nyuruh ok aku pergi tapi jangan lupa telfon aku ya.” Ucap Andy lalu berbalik.

Hasan yang tidak suka perkataan Andy yang meminta Naura untuk menghubunginya menatap dengan tajam. Sampai – sampai Naura dibuat merinding.

“Duhhhh si wadimor ini kalau lagi marah nakutin juga.” Gumannya dihati.

Bahkan Lisa yang berada diantara mereka juga dibuat takut dengan tatapan kemarahan Hasan. Dengan diam dia melangkah pergi tak ingin terlibat konflik diantara mereka berdua.

“Udah dehh nggak usah ngelihatin aku kayak gitu!.” Sambil memegang lengan Hasan berharap pria didepannya ini akan melunak.

“Aku tidak suka ketika ada pria lain dengan seenaknya menyentuhmu dan kamu menerimanya.” Gaya bicara yang berbeda dari biasanya.

“Kamu nggak mau berangkat ke kampus...entar telat lho!." Mengalihkan pembicaraan.

“Nanti sore aku jemput, tungguin aku.”

“Tapi aku pulangnya agak telat soalnya ada janji sama orang...kalo nggak percaya coba aja tanya ke Lisa.” Sambil menunjuk kearah Lisa.

“Ohh....” Seru Hasan dan berlalu dari hadapan Naura.

Begitu Hasan tidak terlihat lagi Lisa langsung menghampiri Naura dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi barusan.

“Tadi itu sebenarnya kenapa sih mba?.” tanya Lisa.

“Nggak kenapa-napa...udah sana balik jangan ngegosip!.” Ujar Nuara.

“Tapi mba kemarin cowok itu bilang kalo dia suaminya mba Naura sekarang malah jadi kakaknya mba Naura...yang bener yang mana?.”

“Sana balik kerja!.” Tidak ingin menjawab.

“Tapi dari tingkah kayak bukan saudara...beneran Mba itu cowok suami Mba?!."

Naura tidak menjawab dia segera naik keatas agar Lisa tidak terus menghujaninya dengan pertanyaan. Begitu masuk ruangan telepon genggamnya berdering, segera Naura mengangkat pangglian masuk itu.

“Gimana suamimu...apa dia masih disana?.” tanya Andy diujung telepon.

“Uda nggak ada, kamu dimana sekarang?.”

“Aku lagi ketemuan ma temenku, nanti siang aku kesana ya!."

“Ok aku tunggu.”

“Kira-kira suamimu ada nggak?!.”

“Kenapa...kamu takut ma dia?.” sambil tertawa.

“Siapa yang takut toh nanti kalau ketauan juga nggak bakal marah.”

“Iya juga sih tapi lihat wajahnya yang merah tadi...beneran bikin aku takut." Ungkap Naura.

“Om pinter juga ya milihnya...cakep lagi, aku suka sama yang kulit coklat gitu.”

“Hssttt...dia itu suami sepupumu masak mau diembat!.” Sentak Naura.

“Aku masih waras kale!.”

“Terus kenapa kamu bilang suka sama dia tadi?!.”

“Nggak ada.” Sambil tertawa lepas.

-----

Di kampus X

Begitu mobil warna kuning terparkir dihalaman kampus, tidak sedikit mata yang menoleh kearahnya.

Wajah-wajah penasaran terlihat jelas, sadar akan jadi sorotan Hasan segera turun dan berjalan dengan cepat.

Begitu sang empunya mobil turun semua mata terkaget, dosen yang selama ini dikenal sederhana dan selalu

mengendarai sepeda motor, secara tiba-tiba mengendarai mobil mewah bahkan mobil itu berbeda dari yang kemaren dia bawa.

“Duhhh makin ganteng aja ya pak Hasan.” Ujar seorang mahasiswi yang tengah berkumpul dengan teman-temannya.

“Iya...semenjak ngasih pengumuman kalo udah ada yang punya.” Ujar yang lainnya.

“Bener juga...sebelum ngasih pengakuan kayak gitu pak Hasan nggak pernah bawa mobil sekarang malah ganti-ganti mobil...besok mobil apa lagi yang bakal dibawa.” Ucap yang berambut keriting.

“Ehhh...masak pak Hasan nikah sama janda kaya!.”

“Uhhhh...bisa jadi."

Beberapa mahasiswi mulai bergosip dihalaman kampus, bahkan kelompok yang lainnya juga ikutan bergosip. Alhasil gosip mengenai Hasan menikahi janda kaya mulai menyebar di kampus.

Hasan baru masuk diruangan dosen segera menjadi sortan teman kerjanya, Hasan berlagak tidak mengerti dia

dengan sigap duduk dimeja kerjanya dan mulai menyiapkan bahan materi.

“Duhh pak Hasan bawa mobil baru lagi ya?!.” Goda pak Supriyadi.

“Bukan punya saya pak.” Jawab Hasan asal.

“Lantas kalau bukan punya pak Hasan terus punya siapa?.” kembali bertanya.

“Iya pak Hasan ini kemaren hitam sekarang kuning.” Pak Tri ikutan godain Hasan.

“Beneran Pak bukan punya saya." Terang Hasan.

“Pak Hasan ini ngerendah terus” ujar pak Tri.

“Udah nikahnya diam-diam...kita nggak diundang." Ucap pak Gunawan ikutan.

“Iya Pak kita dilupain!.” Imbuh pak Tri.

Hasan tidak berani menjawab dia hanya tersenyum pada ketiganya yang masih berdiri didekat meja kerjanya. Dan pamit untuk mengisi kelas, lalu melangkah pergi meninggalkan mereka yang masih bergosip tentang dirinya.

Jam sudah menunjukkan 16.30WIB Hasan yang sudah tidak memiliki jam segera pergi meninggalkan kampus. Mengingat sore ini dia ada janji dengan mas Didik untuk mengambil barang yang dia pesan. Mobil menembus jalanan dengan kecepatan tinggi menuju toko mas Didik yang jaraknya tidak terlalu dekat. Begitu tiba ditoko dia langsung menemui mas Didik yang sedari tadi sudah menunggu.

“Wihhh...baru tau aku kalau kamu punya mobil.” Seru mas Didik yang melihatnya turun dari mobil.

“Nggak usah kaget mas...itu bukan punyaku.” Jawab Hasan.

“Masak sihhh...kalo itu punyamu aku kan juga seneng.”

“Beneran bukan punyaku Mas!.”

“Terus punya siapa...mobil rentalan gitu?!.”

“Ya bukan itu juga.”

“Lantas mobil curian?!.”

“Ya Allah mas...ya nggak lah, itu mobilnya istriku Mas.”

“Punya istrimu?!." mas Didik sedikit kaget.

“Iya beneran tadi pagi dia minta dianter ke aku.”

“Wiuhhh...pantes maharnya pakek standar gitu...beneran putri sultan kalau gitu!.”

“Ya nggak putri sultan juga kali!.”

“Beruntung banget kamu San.”

“Mana mas barangnya?" mengalihkan pembicaraan.

“Nyantai napah sihh jangan buru-buru.”

“Takutnya ditungguin Mas!.”

“Ohhh gitu ya...tunggu bentar aku ambil dulu.”

Tak lama kemudian mas Didik kembali dengan membawa barang yang dipesan Hasan. Setelah memeriksanya Hasan pamit untuk pulang dan segera meningglkan toko mas Didik.

1
F2h 29
Lumayan
Bungatiem
aku baca udah ke 4x. tapi pas cerita nya udah mulai melintir ga karuan aku ga lanjutin lagi.
Triwoel Andari
Hasan ngasih mahar ke Naura d episod ke brapa yah.. apa aku yg kelewatan ngebaca nya atau gimana yah...???
Hani P Hani
soweet jadi penggen jadi naura😍😍😍
Hani P Hani
ahirnya mereka bersatu semoga ini menjadi awal yang baik
Hani P Hani
alhamdulilah
Myra Azmoro
Si naura kelewatan ,, Hadeeww episode ini banyak mengadung bawang bikin hati sesak
Yuni
i
나의 햇살
gimana cowok suka sama kamu, orang kamu aja calon pelakor karena kalah saing sama Naura
Jusmiati
enaknya Naura, masak suaminya terus yg berjuang, kalau sy jadi Hasan, sdh sy tinggalin tuh nauranya, cari wanita yg lebih berfikir dewasa....😔😔😔
Yeni Rubianti
berbagi ilmu
Linda Erma
Busyetttt dch nih novel bikin begadang,dtambah nangis lagi gue bacanya 😭😭😭
Linda Erma
Busyetttt dch nih novel bikin begadang,dtambah nangis lagi gue bacanya 😭😭😭
Linda Erma
Bagus bgt critanya,dr tadi bikin mewek mulu 😭😭😭
Linda Erma
Critanya bikin aku mewek bgt 😭😭😭
Linda Erma
Sedih bgt ya 😭😭😭
Linda Erma
Yahhh aku nangis,Naura harusnya bersyukur punya suami yg sabar kyk hasan
Muda MACMUDAH
bagus thor cm sayang kurang lengkap klo g ada ilham jg
Muda MACMUDAH
yg cewek kurang cantik kak soalnya yg cowok tampan abis🤭
Heny Purwati
naura knp egomu tinggi...sampai" tak menyakini ketulusan suami sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!