Seorang wanita jenius dari masa depan secara tak terduga mengalami reinkarnasi ke dalam tubuh seorang putri kerajaan. Dengan rasa penasaran yang membara, ia terobsesi mengungkap kebenaran di balik rumor gelap tentang "Istana Kematian"—sebuah istana yang disebut terkutuk dalam legenda dan buku-buku tua.
Alih-alih merasa menyesal, ia justru melihat ini sebagai awal baru. Dengan kecerdasannya, ia bertekad menaklukkan dunia, menggenggam kekuasaan di kedua tangannya, dan mengubah takdir kelam Istana Kematian. Ia bersumpah, tragedi yang pernah menghantui istana ini akan ia ubah menjadi kisah kejayaan. Suatu hari, istana ini tak lagi disebut "Istana Kematian" melainkan "Istana Emas."
Namun, apa ia mampu melakukannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwika Suci Tifani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 (4)
" Tuan putri kita sudah sampai " ujar kusir itu dengan ke ragukan.
" Hoam... "
Aku merentangkan tanganku lalu mengecek mataku, aku sangat bosan dan lelah, walaupun aku sudah mengunakan sihir, tetap saja kereta kuda ini lamban, karena macet lah, ataupun hal - hal lainnya.
" Huh... "
" Tuan putri ayo kita keluar, lihatin kesemua orang kecantikan surgawi putri " ujar Naya bersemangat, lalu merentangkan tangannya untuk mempermudah ku turun.
Aku hanya memutar bola mata jengah. Aku turun dari kereta kuda dengan hati - hati karena gaun yang ku kenakan sangatlah merepotkan.
Saat ku turun, semua padang mata, menatap ku dengan takjub ataupun dengan muka tanda tanya, aku bodo amat tentang itu, karena di duniaku dulu, hal seperti ini sudah sangat sering terjadi.
" Siapa gadis cantik itu, dia seperti bidadari "
" Aku juga punya anak secantik itu "
" Sepertinya itu keluarga kerajaan deh"
" Iya lihat lambangnya itu, seperti lambang istana emas "
" Apa dia anak yang terabaikan itu, yang di bicarakan itu ?"
" Anak itu sangat imut "
" Aku ingin punya adik seperti itu "
" Lihatin tuan putri " ucap Naya dengan senyum bangganya.
Ingin sekaliku pukul wajah Naya dengan sepatuku sekarang, aku sudah sangat lelah dengan sifatnya yang terlalu lebay itu.
Aku melangkahkan kaki menuju aula akademik, dengan menuliskan pendengaran ku, tentang pendapat semua orang yang ada di sini.
" Krek..." ( Suara pintu terbuka ).
Aku masuk ke dalam dan memandangi aula yang teryata sudah banyak orang yang hadir, lalu pandangan mataku, jatuh pada sosok lelaki tampan dengan mata merah nan dingin, dan akhirnya pandangan mata kita bertemu, refleks aku mengalihkan tatapanku, ketempat lain, setelah itu aku lanjut berjalan melewati Ayah dan Kakakku yang menatapku dengan tajam, tampa aku memberikan hormat pada meraka, aku berperan menjadi anak yang tidak tahu sosok ayahnya sendiri.
Sedangkan Naya sudah sangat takut, karena Jean tidak memberikan hormat pada kaisar tapi juga senang karena bisa mempermalukannya, pokoknya perasaannya sedang bercampur aduk antara takut, gelisah dan senang.
" Dari mana asal anak itu !, dia sangat berani "
" Ia, dia bahkan melewati kaisar "
" Anak itu sangat cantik "
" Aku ingin punya anak seperti dia juga "
" Aku iri dengannya "
Selang beberapa waktu akhirnya acara di mulai dengan pembukaan. Setelah itu berlanjut ke acara inti, yaitu pengujian bakat.
" Saya mau nanya sama anda, apa anda sendiri saja datang ke sini? " tanya salah satu tamu yang berada di depan Jean dengan wajah penuh dengan keberanian.
" Saya " tunjuk ku pada diriku sendiri.
" Yah siapa lagi " jawab orang itu.
" Saya tidak sendiri, apa mata anda buta?, lihat di samping kiri kanan saya ada siapa " sindir ku dengan halus, dengan wajah acuh.
" Apa hubungannya sama meraka?, meraka cuma pelayan " ujarnya dengan wajah penuh penghinaan.
" Mereka kan manusia juga, apa mungkin kau bukan manusia? " tanya ku dengan menaikan alisnya.
" Kau.. "
Bentaknya dengan marah, dia adalah Heri yang merupakan perdana menteri istana, yang memiliki sifat sombong yang terkenal di seluruh istana, meraka semua ingin mencaci maki Heri, namun karena kuasanya yang besar membuat semua orang berpikir - pikir untuk menghina Heri.
" Apa kau tidak tahu siapa saya? " tanya Heri dengan wajah memerah, menahan amarah.
" Anda perdana menteri. Oh.. teryata anda orang yang suka memusuhi anak kecilnya , apa mungkin anda tidak sanggup lagi melawan orang sepadan dengan anda jadinya memusuhi orang yang berada di bawahmu. " sindir ku dengan terang - terangan masih menampilkan wajah tenangnya tampa rasa takut saat berbicara. Hal itu mengundang perhatian para tamu yang ada di aula meraka menatap tak percaya dan juga mengagumi atas keberaniannya.