" Ken, maaf kan aku ! " ucap Jonathan
Kendra tersenyum mencibir.
" Selama aku belum menikah, jangan mimpi kau mendapatkan maafku, dan asal kau tahu, aku tidak gampang menyukai seseorang dan selama aku belum memaafkanmu, kebahagiaan yang kau punya akan kosong dan rapuh seperti cangkang, camkan itu ! " pada kata terakhir, Kendra menunjuk dada Jonathan dengan ujung telunjuknya.
Ig.rii.ena
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Terkuaknya kebohongan.
Seminggu sejak Ken memukul Jo, hubungan keduanya menjadi dingin, Jo biasa saja kalau bertemu di meja makan, seringnya bertemu saat makan malam.
Jo lebih banyak berinteraksi dengan istrinya agar perang dingin keduanya tidak diketahui oleh Raisa dan ibu Lastri.
Ken sendiri lebih memilih ngobrol dengan ibunya, tetapi serapat rapatnya mereka menyembunyikan permasalahan yang ada, ibu Lastri dapat menciumnya, hanya karena kedua putranya sudah dewasa, ibu Lastri tidak mungkin mendamaikannya seperti anak kecil.
Tingkah laku Jo yang terlihat tenang, membuat Ken menjadi ada yang aneh dengan kehamilan Lisa, tapi Jo kemarin mengatakan akan bertanggung jawab atas anak yang ada didalam kandungan Lisa tetapi tidak dengan ibunya.
Kalau memang seperti itu, kenapa Jo tidak terlihat panik, cemas atau kasak kusuk ? minimal dia terlihat resah, Jo bukanlah seseorang yang mempunyai pengendalian diri yang bagus sekali sehingga masalah gawat seperti ini dia bisa santai.
Apa dia tidak takut jika Lisa datang lalu memberitahukan Ibu, Raisa dan orang tua Rai.
Dan Lisa kenapa dia tidak meminta pertanggung jawaban dari Jo ? alasan tidak ingin merusak kebahagiaan Jo ? cih, memang ada perempuan yang berhati malaikat seperti itu ? mungkin ada dibelahan bumi yang lainnya tetapi bukan Lisa.
Pasti ada yang disembunyikan oleh Lisa ? Kendra terus memikirkan itu hingga kepalanya sakit.
Kenapa harus aku aku yang memikirkan masalah Jo, persetan dengan dia, dia yang enak kenapa aku yang repot ?
Menyadari kebodohannya, Ken lebih memilih menjalankan motornya ke sebuah club malam, dimalam akhir pekan biasanya ada beberapa teman seprofesinya dan biasanya yang masih bujangan ke club, sekedang kongkow kongkow.
Setelah berada di dalam, Ken mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan yang terlihat gelap, hanya lampu di atas langit-langit yang berkelap Kerlip yang memperlihatkan banyaknya orang yang berlainan jenis bergoyang mengikuti irama musik yang di putar DJ, suara keras musik memekakkan gendang telinga.
Dalam keremangan, Ken mencari cari, apakah ada pengunjung club yang ada di kenalnya.
sesaat bola matanya hampir meloncat keluar saat melihat seseorang bergaun mini dress warna hitam yang di kenalnya ada disana, duduk di salah satu pojokan dengan dua perempuan, mungkin temannya.
Ken terus menatapnya tanpa berkedip, kembali meneliti menampilkan wanita itu, pakaian yang dipakainya tidak bisa dikatakan seksi, biasa saja hanya dressnya saja yang terlihat pendek, memperlihatkan pahanya setengah.
Ken menatap meja yang ada di depan mereka.
Ken hampir tertawa keras.
Untuk apa ke club kalau cuma minum minuman bersoda ? ngobrol dengan suara musik hingar bingar, sungguh menggelikan
Ken mencibir dalam hati.
Patah hati ? tanggung sekali, kenapa tidak mabuk sekalian ?
Ken kembali mengejek dari jauh.
Ken berjalan mendekati ke tiga gadis yang masih saja ngobrol.
" Ikut aku ! " tanpa meminta persetujuan dari perempuan itu, Ken menariknya keluar.
" Ken ? " gadis itu terkesiap begitu tahu siapa yang menyeretnya setelah sampai di luar.
" Apa yang kau lakukan disini ? " tanyanya dengan tatapan yang menajam.
" Bukan urusanmu, kau juga bukan siapa siapa bagiku, jadi kau tidak perlu tahu " jawabnya ketus.
Ken tersenyum sinis
" Oh, akhirnya kau membuka kedokmu sendiri, aku jadi ragu, benarkah kau hamil anak Jo ? atau anak pria lain ? atau kau pura pura hamil " Ken berputar mengelilingi tubuh Lisa, melihatnya dari ujung kepala sampai kebawah dengan tatapan intimidasi.
Mendengar tuduhan Ken, Lisa terjengkit kaget , wajahnya memucat.
" Benarkan tembakan ku, untung saja Jo tidak jadi menikah dengan mu, kalau jadi, ckckck....kasihan sekali saudaraku, harus mengakui anak orang lain sebagai anaknya sendiri, atau....sama sekali Jo tidak ada menyentuhmu ? makanya kau datang menemuiku dengan alasan anak yang kau kandung anak Jo, agar aku menikahi demi menyelamatkan bayimu dari tudingan anak diluar nikah ? bravo ..." Ken bertepuk tangan.
" Hei....kalau bermimpi itu jangan ketinggian ! kau lihat dirimu, apakah di rumahmu tidak ada cermin ? kau kira kau siapa ? " Ken terus memutari Lisa agar ia merasa tertekan dan mengatakan semuanya.
" Hentikan,Ken, berhenti berputar ! kepalaku pusing " Lisa berteriak marah.
Ken menarik kencang tangan Lisa, menyeretnya ke parkiran.
" Kau mau membawa ku kemana ? " Lisa berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Ken, tapi percuma, Ken mencekalnya begitu kuat sampai pergelangan tangannya sakit.
" Membawamu ke ibuku agar Jo mempertanggung jawabkan perbuatannya "
Mendengar itu, Lisa semakin ketakutan, tidak ini tidak boleh terjadi, itu akan membuatnya semakin kehilangan muka dihadapan Jo.
" Tidak Ken, aku mohon, lepaskan aku ! iya aku akui aku berbohong, ini bukan anak Jo, Jo bahkan belum pernah menyentuhku " Lisa menangis karena takut dan malu.
Mendengar kebohongan Lisa, Ken menyentak kuat tangan Lisa yang tadi dicekalnya.
" Lantas untuk apa kau menemuiku, dan memintaku untuk menikahi mu secara siri dan mengatakan jika anak yang kau kandung itu anaknya Jo, apa yang kau rencanakan ? "
Lisa hanya menangis tanpa menjawab pertanyaan Ken.
" Jawab ! kau ingin aku menggunakan kekerasan ? aku tidak perduli jika kau perempuan dan kenapa kau tetap merencanakan menikah dengan Jo " wajah Ken semakin terlihat menyeramkan.
" Kalau aku tetap menikah dengan Jo, anak siapa yang aku kandung, Jo tidak akan tahu, lagi pula saat tanggal pernikahan yang sudah ditetapkan, aku belum mengandung " jawab Lisa jujur
" Lis... Lis ....aku tidak tahu harus menangis atau tertawa dengan cerita dongeng yang baru kau ucapkan ? otakmu kau taruh dimana ? kau kira Jo tidak akan tahu, jika kau sudah tidak perawan lagi ? astaga ? kau....." Ken tidak sanggup meneruskan ucapannya, ia memutar kunci kontak pada motornya, meninggalkan Lisa yang masih menangis.
Ken memacu motornya dengan kecepatan kencang, membelah jalanan yang sudah sedikit tidak terlalu padat karena malam yang semakin larut.
Ken menghentikan motornya di lapangan sepak bola di dekat rumahnya, ada beberapa anak muda duduk berkelompok sedang bermain gitar sembari bernyanyi riang, ada juga kelompok yang lain hanya duduk duduk, entah apa yang diobrolkan, karena terdengar gelak tawa yang membahana memecah malam.
Sekilas mereka melirik ke arah Ken yang tetap bertahan di atas sepeda motornya, beberapa pemuda mengenal Ken, sebaliknya Ken juga mengenal mereka, karena tinggal di sekitar tempat Ken tinggal
melihat Ken yang tetap diam, mereka tidak mengusiknya, sepertinya Ken sedang banyak pikiran, mereka juga tahu profesi Ken apa, jadi mereka acuh saja.
Ken merasa menyesal, kenapa dia langsung memukul Jo tanpa bertanya terlebih dahulu, harusnya dia lebih mempercayai Jo, bukan justru menerima dan menelan bulat bulat berita yang dibawa Lisa.
Bukankah harusnya ia tidak gampang dibodohi oleh orang lain ? Ken menjadi malu dengan profesi yang di sandangnya sekarang, atau karena belum rela Raisa menikah dengan Jo ? sehingga ia menjadi gelap mata ?
Ken menyugar rambut di kepalanya dengan kasar, ia tidak tahu bagaimana bertemu dengan Jo besok hari, setelah tahu kebenarannya.
Harusnya Ken sadar jika Jo tidak sebejat itu, Ken masih belum berani pulang, di pelupuk matanya terbayang senyuman ejekan dari Jo yang mentertawakan kebodohannya.
*
*
*
🌾🌾🌾🌾🌾
baru awal bab aja udah terasa bedanya... 👍👍👍
terimakasih ya kak ❤️❤️❤️❤️
setelah baca mengejar cinta suamiku & menikah dengan sahabat