Kiamat zombie mungkin itu hanya cerita film dan dalam buku. Tapi bagaimana jadinya jika itu terjadi?
Itu yang dirasakan oleh Hayden Vihaan pria berusia dua puluh lima tahun yang terjebak dalam kiamat zombie. Dia yang dari dulu di rawat oleh kakeknya seorang ilmuan sudah memang mempersiapkan semuanya. Kendaraan yang bisa di tumpangi enam orang di sulap menjadi mobil ajaib yang memiliki sistem pertahanan yang kuat. Tidak hanya mobilnya tapi villa yang memiliki bangker dan pertahanan sama kuatnya.
Bagaimana cerita selanjutnya yuk simak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Hayden memancarkan sinar senter taktisnya ke kegelapan lorong. Bau lembap dan besi berkarat menyeruak menembus udara dingin bawah tanah. Di dinding beton yang terkelupas, terpasang denah evakuasi pudar bertuliskan *Jalur Utilitas Bawah Tanah - Menuju Stasiun Pusat*.
"Jalur ini menembus bagian bawah kota," ujar Hayden seraya memeriksa sisa amunisi di magazinnya. "Kalau kita ikuti lorong utilitas ini ke arah utara, kita bisa keluar di pinggiran Sektor Sembilan, melewati perimeter kota zombie tanpa harus bertarung di jalanan terbuka."
Fiora menurunkan Leo perlahan, memeriksa kondisi kaki bocah itu. "Tapi kita kehilangan *Armored Rover*. Semua perbekalan berat dan jeriken bahan bakar tersisa di dalam mobil."
"Yang terpenting kaset catatan ayahmu, sampel darah, dan peta digital Oase ada di tas punggung kita," sahut Hayden mantap, menatap mata Fiora untuk menyuntikkan keyakinan. "Kendaraan bisa kita cari lagi begitu kita keluar dari kota ini."
Ia menyerahkan satu pistol berperedam suara kepada Fiora. "Tetap di belakangku. Lorong bawah tanah seperti ini bergema hebat. Satu suara keras bisa memancing apa pun yang merayap di dalam kegelapan ini."
Mereka mulai melangkah menelusuri lorong beton yang panjang. Suara tetesan air dan cicitan tikus mengiringi tiap pijakan kaki mereka. Leo berjalan di tengah, menggenggam erat jemari Fiora, sementara matanya yang polos terus menatap punggung tegap Hayden yang memimpin jalan di depan.
Setelah berjalan hampir satu jam menembus keheningan mencekam, Hayden mendadak menghentikan langkahnya dan mengangkat satu tangan—sinyal bahaya.
Di ujung lorong, tepat di area persimpangan rel kereta bawah tanah yang remang-remang, terlihat beberapa sosok bersenjata dengan pakaian pelindung Hazmat bersimbol serigala hitam. Mereka bukan zombie, melainkan regu pembersih *Aegis Corporation* yang sedang melakukan pemindaian area.
Hayden menarik Fiora dan Leo mundur ke balik pilar beton tebal. Aegis ternyata sudah mendirikan pos perimeter di bawah kota Sektor Sembilan untuk memburu siapa pun yang lolos dari pembantaian atas.
Hayden mengisyaratkan Fiora dan Leo untuk merapatkan tubuh ke balik pilar beton. Napas mereka tertahan di tengah kegelapan, hanya terbias oleh pendar redup dari lampu helm empat prajurit Aegis Corporation di persimpangan rel.
"Sektor sembilan bersih di permukaan," terdengar suara berat dari radio komunikasi salah satu prajurit Aegis. "Target dipastikan terjebak di lorong utilitas. Sisir setiap meter jalan."
Fiora menatap Hayden dengan mata membelalak pelan. Aegis tidak cuma berjaga—mereka tahu keberadaan mereka di bawah tanah.
"Mereka memasang pemindai gerakan di saluran udara," bisik Hayden sangat pelan di telinga Fiora. "Kita nggak bisa bersembunyi lama di sini."
Hayden melirik ke langit-langit lorong. Sebuah pipa uap tekanan tinggi berkarat membentang tepat di atas posisi berdiri dua prajurit Aegis. Jarinya perlahan mengait ke pemicu pistol berperedam suara.
"Begitu pipa itu kuledakkan, lari menyeberangi jalur rel ke lorong perawatan sebelah kanan," bisik Hayden menyusun taktik kilat. "Jangan berhenti sampai ketemu tangga darurat."
Fiora mengangguk cepat, menarik Leo lebih dekat dalam posisinya.
*STAT!*
Hayden melepas dua tembakan presisi menembus katup pipa tua itu. Uap panas menyembur deras dengan suara raungan nyaring, langsung membutakan penglihatan dan merusak sensor helm prajurit Aegis. Jeritan kesakitan bergema di ruangan remang-remang tersebut.
"Bergerak!" perintah Hayden.
Fiora menarik Leo, berlari secepat mungkin menyeberangi bantalan rel kereta yang berantakan. Hayden memberikan tembakan perlindungan, menumbangkan satu prajurit yang berusaha mengarahkan senjatanya ke arah Fiora, sebelum ia menyusul melompat ke dalam lorong perawatan di sebelah kanan.
Mereka menaiki tangga besi berkarat dengan tergesa-gesa, menembus pintu palka atas yang membawa mereka keluar ke area pembuangan sampah industri di batas luar kota.
Di luar, angin malam menyapa wajah mereka. Jalur utama Sektor Sembilan telah tertinggal di belakang, namun pepohonan gelap menuju wilayah utara kini membentang luas di hadapan mereka. Tempat Oase berada makin dekat, tapi berkejaran dengan waktu sebelum pasukan pemburu Aegis menyadari rute pelarian mereka.
Hayden langsung membanting pintu palka besi itu rapat-rapat dan menguncinya dari luar menggunakan balok kayu tebal yang tergeletak di tanah. Suara gedoran dan teriakan prajurit Aegis dari dalam lorong terdengar teredam, memberi mereka jeda beberapa menit sebelum musuh menemukan jalur memutar.
"Mereka nggak akan tertahan lama," ujar Hayden seraya mengatur napasnya yang memburu. Matanya menyapu kegelapan area pembuangan sampah industri.
Di tengah tumpukan peti kemas tua dan rongsokan mesin, berdiri sebuah gubuk bengkel tua yang tampak lama ditinggalkan. Namun, di bawah atap sengnya, terlihat bayangan sebuah truk bak terbuka tua—sebuah kendaraan logistik sipil yang masih utuh.
"Fiora, periksa tangki truk itu. Aku jaga perimeter," perintah Hayden mantap seraya berlindung di balik peti kemas, senapannya terarah penuh kewaspadaan ke arah lorong keluar.
Fiora berlari mendekati truk, menuntun Leo yang tampak kelelahan. Dengan sigap, ia membuka kap mesin dan memeriksa jalur bahan bakar. "Mesinnya masih bagus! Tapi akinya lemah dan tangkinya hampir kosong!"
"Pakai jeriken cadangan yang kita bawa di tas," sahut Hayden tanpa mengalihkan pandangannya dari kegelapan.
Dengan jemari yang cekatan, Fiora menuangkan sisa bahan bakar dari botol-botol darurat ke dalam tangki, sementara Leo memegangi lampu senter untuk membantunya. Di saat bersamaan, suara dengung mesin helikopter dan sorot lampu tembak dari kejauhan mulai terlihat di atas langit Sektor Sembilan. Pasukan utama Aegis Corp bergerak cepat menutup seluruh sektor perbatasan.
"Hayden, mesin siap!" teriak Fiora seraya melompat ke kursi pengemudi dan memutar kunci kontak.
*Ngekk... ngekk... BRUMM!*
Mesin truk tua itu menderu keras, mengepulkan asap hitam ke udara.
Pintu palka besi di ujung area mendadak meledak hancur ditendang prajurit Aegis. Tembakan otomatis langsung memondong kegelapan malam, memantul di dinding besi bengkel.
"Masuk!" raung Hayden seraya melompat ke bak belakang truk, memberikan tembakan balasan presisi yang memaksa para prajurit Aegis berlindung di balik tumpukan sampah.
Fiora menginjak pedal gas dalam-dalam. Truk tua itu menerjang barikade gerbang seng bengkel, meluncur deras menembus kegelapan jalanan tanah menuju Ngarai Kelam.
Di bak belakang, Hayden terduduk menyandar pada dinding kayu truk yang berlubang kena tembakan, matanya menatap siluet helikopter Aegis yang makin menjauh di belakang. Mereka berhasil lolos dari kepungan kota zombie dan jebakan Aegis, melaju penuh kecepatan menuju titik akhir perjalanan mereka: Oase.