NovelToon NovelToon
A Saintess From The Flower Street

A Saintess From The Flower Street

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:198
Nilai: 5
Nama Author: flowy_

Dibesarkan di sebuah rumah bordil, ia tak pernah membayangkan dirinya akan terpilih sebagai Saintess yang ditakdirkan menyelamatkan dunia. Baginya, takdir itu terasa mustahil. Ia lahir sebagai rakyat jelata yang selalu dipandang rendah, tetapi setelah menjadi Saintess, orang-orang mulai memujanya tanpa benar-benar mengenalnya.

Di tengah kehidupan yang penuh pertentangan itu, ia bertemu seorang ksatria yang tidak menghakimi masa lalunya maupun memuja statusnya. Pria itu tidak pernah menjanjikan keselamatan, tetapi selalu berada di sisinya, menghadapi setiap cobaan bersama, bahkan rela mempertaruhkan nyawanya.

Di balik sikapnya yang dingin, tersembunyi ketulusan yang perlahan mengubah hidupnya. Bersama ksatria itu, ia belajar menerima dirinya sendiri dan menemukan harapan di dunia yang selama ini hanya memberinya penghinaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon flowy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hukum Alam

Setelah pelajaran selesai, Violet meminta izin kepada Meirra untuk berjalan-jalan.

Ia pun kemudian menuju taman.

Dalam perjalanan, ia berpapasan dengan beberapa pelayan. Namun, kali ini ia tidak lagi merasakan tatapan merendahkan seperti sebelumnya. Mereka justru membungkuk memberi salam kepadanya, dan Violet merasa sedikit heran melihat perubahan itu.

Meski musim dingin begitu dingin, bunga-bunga di taman tetap bermekaran dengan segar.

Melihatnya, Violet akhirnya benar-benar menyadari kekuatannya. Bunga-bunga yang seharusnya mekar di musim semi, musim panas, musim gugur, dan musim dingin seolah berkumpul tanpa mengenal musim.

Ia terpaku cukup lama pada bunga bakung berwarna kuning cerah, setengah takjub dan setengah bahagia melihat taman yang tercipta berkat kekuatannya sendiri.

“Mulai sekarang, jangan membuat bunga sebanyak ini bermekaran lagi.”

Mendengar suara itu, Violet mengangkat kepala dan menoleh ke belakang.

Seorang pria sedang memandangnya sambil tersenyum.

Kemarin ia bertemu orang asing di taman belakang. Hari ini, ia kembali berhadapan dengan seseorang yang belum pernah dikenalnya. Pria itu cukup tinggi dan sedang tersenyum kepadanya, seolah Violet adalah sesuatu yang begitu berharga.

Wajahnya begitu ramah, sama seperti pendeta muda yang ditemuinya kemarin. Justru karena itu, Violet semakin bingung.

“Siapa Anda?”

“Entahlah. Saya hanya seorang pendeta rendahan yang kebetulan lewat.”

Pendeta yang kebetulan lewat?

Ucapan itu terdengar mirip dengan perkataan pendeta muda yang ditemuinya kemarin.

Violet memiringkan kepala. Bagaimanapun, penampilan pria ini sama sekali tidak terlihat seperti seorang pendeta.

Pria muda yang tampaknya berusia sekitar dua puluhan itu memiliki rambut merah yang diikat rapi ke belakang. Ia mengenakan mantel panjang berwarna biru tua dengan hiasan emas yang pas di tubuh.

Kalaupun hanya bercanda, rasanya sulit menganggap pria itu sebagai pendeta rendahan yang kebetulan lewat.

Selain itu, wajah pria tersebut terasa tidak asing.

Di mana aku pernah melihatnya?

Setelah dipikir-pikir, Violet menyadari penyebabnya ada pada mata pria itu.

Mata Raja berwarna emas. Mata pria ini pun berwarna emas. Begitu pula mata indah milik pendeta muda yang ditemuinya kemarin.

Ketiganya memiliki warna mata emas yang indah.

Rupanya, ada banyak orang bermata emas di dunia ini.

Violet mengangguk sendiri, seolah telah menemukan jawabannya.

Namun, bukan hanya warna matanya yang terasa familiar. Aura yang dipancarkan pria itu juga sama seperti aura pendeta muda berjubah putih yang ditemuinya kemarin. Mungkin itu sebabnya Violet merasa tidak perlu melarikan diri.

“Saya melihat sendiri keajaiban indah yang terjadi kemarin. Apakah Anda tidak kelelahan?”

Violet menatapnya dengan tubuh yang menegang. Pria itu benar-benar asing baginya. Entah mengapa, ia merasa takut pada pria ini.

"Anda takut pada saya.”

Sikap waspada gadis itu terlihat jelas di mata orang dewasa. Pria tersebut hanya tersenyum getir.

Violet sempat berpikir bahwa senyum yang menghiasi wajah tampannya itu terlihat begitu memikat.

“Apakah Anda datang ke sini atas izin Marquis? Kak Ledian sedang ada di kediaman. Apa beliau tahu Anda datang ke sini?”

Mendengar pertanyaan Violet yang terdengar kaku, pria itu tersenyum.

“Tentu saja. Tuan Muda Ledian sudah mengetahui kedatangan saya. Hanya saja, dia mungkin tidak menyangka saya akan bertemu dengan Saintess. Dia mungkin mengira saya sudah pergi.”

Sambil berkata begitu, pria tersebut memetik setangkai mawar kecil yang mulai layu. Ia mengernyit dengan wajah sedih, seolah-olah menganggap layunya mawar itu sebagai penderitaannya sendiri.

Melihat ekspresi itu, rasa penasaran Violet justru mengalahkan rasa takutnya.

Siapa sebenarnya pria ini?

“Siapa Anda?”

Pria itu tersenyum mendengar pertanyaannya.

“Saya Haiden.”

Di luar dugaan, ia dengan mudah menyebutkan namanya.

Violet mengulang nama itu dalam hati.

Haiden.

Namun, bagaimana mungkin seorang “pendeta yang kebetulan lewat” bisa begitu saja berada di kediaman keluarga Marquis?

Violet teringat ucapan Carlisle ketika melihatnya berbicara seperti itu.

“Apakah Anda ke sini untuk membawa saya pergi?”

Mendengar pertanyaan itu, Haiden tersenyum.

“Jika itu yang Saintess inginkan, saya akan membawa Anda pergi. Namun, jika Anda tidak menginginkannya, tetaplah di sini.”

Sambil berkata demikian, ia mengulurkan tangan dan mengusap kepala Violet dengan begitu lembut.

Violet terkejut saat pria itu menyentuh kepalanya dengan lembut. Sebelum sempat menghindar, telapak tangannya sudah berada di atas kepala Violet, membuat tubuhnya seketika menegang. Aroma parfum yang pekat tercium dari tubuh pria itu.

“Seharusnya sejak awal saya menjadikan Anda putri angkat saya. Namun, semua sudah terlambat.”

Ucapannya terdengar getir.

Ia kemudian menggenggam mawar putih yang tadi dipetiknya. Cahaya keperakan merembes dari sela-sela jemarinya, dan bunga yang semula layu itu kembali segar.

“Wah…”

Violet tak dapat menahan kekagumannya.

Haiden tersenyum.

“Bukankah kemampuan yang Anda miliki jauh lebih besar daripada milik saya, Saintess?”

Ia menyerahkan mawar itu kepada Violet.

“Anda boleh menggunakan kekuatan Anda. Namun, jangan menghidupkan kembali tanaman seperti ini.”

Violet menatap mawar yang kini kembali segar dan indah. Mendengar perkataan Haiden, ia pun bertanya, "Kenapa Anda berkata begitu?"

Meski pertanyaan itu mungkin terdengar membantah, Haiden tetap menjawab dengan lembut.

“Segala sesuatu memiliki hukum yang mengaturnya. Apakah Anda tahu hukum alam?”

"....."

“Tanaman akan tertidur ketika musim dingin tiba, lalu terbangun dan kembali hidup saat musim semi datang. Itu adalah salah satu hukum alam.”

"....."

“Saintess, Anda telah membangunkan tanaman yang seharusnya masih tertidur. Sekarang, mereka harus kembali tidur. Dengan kata lain, mereka harus mengalami kematian sekali lagi.”

"....."

“Anda mungkin belum tahu betapa menyakitkannya proses itu.”

Violet menatap bunga-bunga itu dengan wajah terkejut. Kelopak bunga sudah mulai berguguran satu demi satu di seluruh taman.

Barulah ia tersadar.

Bunga-bunga yang seharusnya tumbuh di tengah cuaca hangat tidak mungkin bertahan menghadapi musim dingin. Bunga-bunga itu bukan sedang bernyanyi.

Mereka sedang menjerit kesakitan karena kedinginan.

Menganggap kelopak-kelopak itu indah hanyalah pandangan manusia semata.

Wajah Violet seketika memucat.

Apa yang sudah kulakukan?

Rasanya ia bahkan bisa mendengar jeritan bunga-bunga itu.

“Tapi saya… saya tidak bermaksud melakukan semua itu. Saya sungguh tidak sengaja… Air mata saya jatuh, lalu tanah menyerapnya…”

Matanya mulai berkaca-kaca.

Pria itu memandangi wajah Violet dengan lembut, sama seperti pendeta muda yang ditemuinya kemarin. Namun, begitu mendengar kata air mata, sorot matanya seketika berubah dingin.

"Jadi Anda menangis kemarin?"

Violet langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

Takut air matanya kembali membuat tanaman tumbuh, ia buru-buru mengusap matanya dengan ujung pakaian. Meskipun gerakan itu tidak sesuai dengan tata krama, sang pendeta tampan justru memandanginya seolah tingkah tersebut begitu menggemaskan.

“Siapa yang membuat Saintess menangis?”

"....."

“Katakan padaku. Siapa yang melakukannya?”

Violet sempat goyah mendengar pertanyaan lembut itu.

Pria ini begitu mirip dengan pendeta muda yang ditemuinya kemarin. Entah mengapa, nalurinya mengatakan bahwa ia bisa menceritakan semuanya kepada pria ini.

Pria itu tetap memandanginya dengan penuh kelembutan.

“Saya mendengar percakapan para wanita bangsawan yang datang kemarin. Mereka bilang, saya berasal dari kalangan rendah, tidak akan ada seorang pun yang mau merayakan ulang tahun saya. Mereka juga bilang tidak ada seorang pun yang ingin datang ke tempat seperti ini.”

Pria itu menatap wajahnya dalam diam. Begitu selesai berbicara, air mata kembali menggenang dan mengalir di pipinya.

Violet bisa merasakan amarah yang terpancar dari tatapan pria itu. Ia sempat tersentak, tetapi pria tersebut segera menenangkan emosinya dengan memejamkan mata sejenak.

“Siapa yang berani berkata seperti itu kepada Saintess?”

Ia kembali mengulurkan tangan dan mengusap kepala Violet dengan lembut.

Pria ini sungguh aneh. Ia memperlakukannya dengan penuh hormat sebagai seorang Saintess, tetapi di saat yang sama bersikap begitu akrab.

Sikapnya bahkan seperti seorang ayah yang sedang berbicara kepada putrinya sendiri.

Untuk pertama kalinya, Violet merasa tenang di dekat seseorang. Ada keyakinan dalam hatinya bahwa pria ini tidak akan pernah menyakitinya.

“Jangan menangis.”

Dengan lembut, ia mengeluarkan saputangan dari saku dan mengusap air mata Violet. Aroma musk yang elegan segera memenuhi penciumannya.

Sayang sekali saputangan sutra selembut ini dipakai untuk mengusap air mata.

Violet bahkan sempat berpikir begitu.

“Jangan terlalu sedih, Saintess. Mereka hanyalah orang-orang bodoh yang tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri mereka.”

Ia menghiburnya dengan suara lembut.

Haiden, kalau tidak salah namanya.

Pria dengan penampilan menawan itu menenangkan Violet dengan begitu akrab, seolah sudah mengenalnya sejak lama. Ketenangan dan kelembutannya membuat Violet hampir percaya bahwa ia benar-benar seorang pendeta. Pendeta yang ditemuinya kemarin juga bersikap begitu lembut.

“Sudah merasa lebih baik?”

Setelah air mata Violet berhenti mengalir, Haiden bertanya dengan hati-hati.

Violet mengangguk, dan pria itu terkekeh pelan.

“Bahkan setetes air mata pun begitu berharga dari diri Anda.”

Mendengar ucapan itu, Violet merasa dirinya benar-benar menjadi orang paling berharga di dunia.

“Setetes darah, bahkan setetes air mata pun merupakan keajaiban Tuhan yang mengalir melalui diri Anda. Sekarang, lihatlah, Saintess."

Violet menoleh ke samping.

Bunga-bunga yang tadi mulai layu kini kembali bermekaran dengan segar.

Ah, aku melakukannya lagi. Aku menghidupkan mereka lagi.

Percuma bunga-bunga itu kembali hidup jika sekarang belum waktunya mereka bermekaran. Bunga yang dipaksa mekar sebelum waktunya harus kembali terpapar dinginnya musim dingin dan menanggung penderitaan.

Violet menggigit bibir, diliputi rasa bersalah.

“Tidak apa-apa, Saintess. Bukankah itu sebabnya saya ada di sini?”

Seolah dapat membaca pikirannya, pria itu tersenyum lembut lalu mengulurkan tangan.

Sesaat kemudian, Violet merasakan gelombang kekuatan yang begitu besar. Bersamaan dengan itu, cahaya biru suci mengalir samar dari tubuhnya, membuat bunga-bunga yang bermekaran kembali layu.

Ah, begitu.

Perasaan yang sebelumnya ia rasakan dari pria ini ternyata berasal dari kekuatan tersebut.

Jadi, inilah kekuatan suci.

Sekarang Violet mengerti. Pria ini benar-benar seorang pendeta. Ia bahkan terkejut melihat betapa murni dan bersihnya kekuatan yang dimilikinya.

Namun, yang lebih mengejutkan adalah apa yang terjadi setelahnya.

Hanya dengan satu gerakan tangannya, seluruh bunga dan pepohonan di taman kembali layu. Pemandangan itu terasa aneh dan sedikit mengerikan. Sama sekali tidak indah.

Kelopak-kelopak yang kehilangan warnanya berguguran ke tanah. Di tengah bunga-bunga yang telah layu, dan langit kelabu yang semakin suram, pria itu berdiri seorang diri.

Di antara segala sesuatu yang kehilangan warna, hanya dirinya yang tampak begitu mencolok dengan rambut merahnya yang terang.

“Bunga akan menderita jika dipaksa mekar sebelum waktunya.”

Senyum lembut di wajah pria itu justru membuat Violet merasa sedikit takut.

Ia mundur beberapa langkah.

Pria itu hanya terus tersenyum, seolah sudah tahu Violet akan melakukan hal itu.

“Bunga-bunga itu tidak mati. Mereka hanya tertidur. Kita bisa bertemu lagi saat musim semi tiba.”

Ia menenangkannya dengan lembut.

“Saya sudah mengembalikan semuanya sesuai dengan hukum alam. Sekarang, mereka tidak akan menderita lagi.”

Violet yang sempat mundur perlahan memberanikan diri untuk mendekat lagi setelah mendengar ucapannya yang begitu tenang.

“Apakah saya sudah melakukan kesalahan besar?”

“Tidak.”

Jawabannya tegas.

“Air mata Saintess-lah yang membangunkan bunga-bunga ini. Namun, bunga-bunga itu sendiri yang mengenali Anda melalui air mata tersebut. Mereka terbangun karena ingin melihat Anda. Jadi, ini bukan sepenuhnya kesalahan Anda.”

Ia menunjuk tempat di mana mawar putih tadi berada.

“Saya yakin, ketika waktunya tiba dan mereka terbangun kembali, mereka akan senang mengetahui bahwa Saintess masih ada di sini. Mereka pasti akan tidur dengan tenang sambil menantikan hari ketika kalian bisa bertemu lagi.”

Mendengar perkataannya, perasaan Violet sedikit membaik.

Ketika ia tersenyum, Haiden membalas tatapannya dengan wajah hangat. Meski penampilannya memberikan kesan yang kuat, cara bicaranya benar-benar seperti seorang pendeta.

Dan kali ini, sebutan pendeta itu memiliki arti yang sangat positif.

“Baiklah. Putra kedua Marquis mungkin akan mengkhawatirkan Anda. Sebaiknya Anda masuk.”

“Itu… bisakah kita bertemu lagi?”

Violet merasa nyaman berada di dekat pria ini.

Mendengar pertanyaan yang disampaikan dengan ragu, Haiden sempat membuka mata lebar-lebar karena terkejut sebelum akhirnya tersenyum.

Senyumnya begitu cerah, seolah pertanyaan Violet benar-benar membuatnya bahagia.

“Tentu saja, jika itu yang Anda inginkan. Saya akan datang menemui Anda lagi, Saintess.”

Ia membungkuk dan mengecup kening Violet.

Kehangatan lembut menyentuh dahinya. Entah mengapa, kehangatan yang dipenuhi kasih sayang itu membuat hati Violet terasa begitu bahagia.

......................

Begitu masuk ke kediaman, Meirra langsung menyambut Violet dengan panik.

“Anda dari mana saja, Nona?”

Ketika Violet menjawab bahwa ia baru saja pergi ke taman, Meirra mengangguk lega dan mengembuskan napas panjang. Namun, sesaat kemudian, ia melihat bunga-bunga layu di belakang Violet dan menjerit kaget.

Mendengar jeritan itu, beberapa pelayan bergegas datang dan melihat ke arah taman. Pepohonan yang tinggal menyisakan ranting-ranting kering serta kelopak bunga hitam yang berguguran membuat suasana terasa mencekam. Para pelayan pun tampak ketakutan.

Violet bahkan mendengar seseorang berbisik, “Seperti yang diharapkan dari seorang Duke…”

Apa maksudnya?

Sore harinya, Violet kembali dikejutkan oleh kedatangan Marquis yang tiba-tiba. Ia tampak seperti seseorang yang sedang terburu-buru mengejar sesuatu. Namun, begitu melihat Violet, ia menghela napas lega.

Di belakangnya berdiri Carlisle dan Ledian, sementara Cedric tidak terlihat. Keduanya menatap Violet dengan ekspresi serius.

Apa terjadi sesuatu?

Violet menatap mereka dengan bingung.

“Ayah, sudah kubilang, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”

Ledian berkata dengan wajah tidak senang. Ekspresi kesalnya terasa begitu asing bagi Violet.

Violet menatapnya dengan terkejut. Menyadari tatapan itu, Ledian segera menghampirinya.

“Lihat? Violet baik-baik saja.”

Nada suara Ledian terdengar sedikit tajam. Violet mendongak menatapnya, tetapi ketika Ledian tersenyum kepadanya, barulah ia merasa tenang.

“Begitu rupanya.”

Marquis mengembuskan napas panjang.

Mendengar itu, Violet merasa mungkin dirinya telah melakukan sesuatu yang salah.

“Apakah hari ini Anda bertemu dengan seseorang yang tidak dikenal?”

Violet hendak menceritakan tentang pendeta berambut merah yang ditemuinya tadi. Namun, begitu melihat Carlisle yang berdiri di belakang Marquis, ia langsung mengurungkan niat.

Ia teringat bagaimana Carlise menghunuskan pedangnya dan mengarahkannya kepada pendeta muda itu dengan tatapan penuh ancaman.

Kalau mengatakan yang sebenarnya, apakah sesuatu akan terjadi padanya?

Violet takut pria yang telah bersikap begitu baik kepadanya akan mendapat masalah.

“Tidak.”

Violet menggeleng.

“Bunga-bunga yang sudah layu... bukan aku yang membuatnya seperti itu.”

Violet menjawab tanpa menatap Marquis.

Untuk beberapa saat, ia merasa semua orang di ruangan itu sedang memandanginya.

Tatapan mereka membuatnya semakin gelisah, meskipun ia benar-benar tidak melakukan apa pun.

“Begitu rupanya.”

Marquis menjawab dengan tenang dan tanpa ragu. Anehnya, ia tampak langsung menerima jawaban itu tanpa banyak bertanya.

Tatapan Carlise kepadanya juga terasa aneh. Tanpa sadar, Violet memeluk erat boneka beruang di sampingnya.

Marquis tampak sedang memikirkan sesuatu dengan serius.

Merasa suasana di sekelilingnya semakin tidak nyaman, Violet meraih ujung pakaian Ledian yang berdiri di hadapannya.

Ada apa?

Melihat ekspresi Violet yang seolah bertanya demikian, Ledian berkata, “Violet, apa ada orang yang menakutkan datang tadi.”

“Orang yang menakutkan?”

Ledian mengangguk.

Saat hendak menjelaskan lebih lanjut, Carlisle menyela.

“Jangan mengatakan hal yang tidak perlu, Ledian. Violet masih terlalu dini untuk memahami banyak hal.”

“Itu hanya menurut Kakak. Aku yakin Violet bisa memahaminya.”

“Kurasa kau tidak seharusnya mengatakan itu. Bukankah kau sendiri yang menolak kunjungan Duke Caldeor hanya dengan alasan Saintess sedang sakit?”

“Itu yang terbaik yang bisa kulakukan untuk Violet. Memang Violet perlu mengetahui siapa Duke Caldeor, tetapi bertemu langsung dengannya terlalu berbahaya.”

Duke. Kata itu kembali muncul.

Yang Violet pahami adalah bahwa kemarin Duke yang menakutkan itu datang, dan ia tidak boleh bertemu dengannya. Namun, siapa yang datang kemarin?

Violet teringat pada pendeta berambut merah yang ditemuinya hari ini. Tetapi tidak mungkin seorang pendeta menjadi Duke. Begitu seseorang bergabung dengan kuil, kedudukan duniawinya akan gugur berdasarkan hukum kerajaan. Terlebih lagi, pendeta itu bahkan telah menunjukkan kekuatan sucinya.

Violet sama sekali tidak mengerti situasinya.

Berarti aku beruntung. Aku pasti bertemu dengan pendeta itu tepat ketika Duke sudah pergi.

“Kalau begitu, menurutmu apa yang seharusnya kulakukan? Apa yang salah dari tindakanku tadi?”

“Sikapmu terlalu tunduk di hadapan Duke.”

Wajah Ledian langsung menegang.

“Jadi, menurutmu aku seharusnya mengusir Duke?”

“Ayah tidak akan membiarkan Duke masuk ke rumah sejak awal.”

Mendengar itu, Ledian menoleh kepada Marquis seolah meminta jawaban. Namun, Marquis tidak berkata apa-apa. Rupanya, ia juga sependapat dengan Carlisle.

Violet tidak sepenuhnya memahami situasinya.

Dari sudut pandangnya, Carlisle terus menyalahkan Ledian sementara Marquis hanya membiarkannya. Violet ingin membela Ledian.

“Jangan memarahi Kak Ledian.”

Dengan sedikit keberanian, Violet akhirnya angkat bicara. Seketika, tatapan Marquis dan Carlisle tertuju kepadanya.

“Kalau Kak Ledian sudah melakukan yang terbaik, bukankah itu sudah cukup? Kenapa Kak Ledian masih dimarahi?”

“Violet.”

Ledian memanggil namanya dengan nada canggung. Namun, Violet tidak berniat mundur.

“Apa sekarang Anda juga akan mengambil Ledian dariku?”

Jika Ledian juga direnggut darinya seperti Seina, Violet merasa ia benar-benar tidak akan sanggup menanggungnya.

“Bukan begitu. Jangan salah paham, Saintess.”

Marquis berusaha menenangkannya dengan suara yang lebih lembut.

Namun, Violet menggenggam erat tangan Ledian dan menatap Marquis dengan waspada.

Carlisle juga memandang Violet dan Ledian secara bergantian sebelum akhirnya pergi tanpa berkata apa-apa.

“Sepertinya suasana hati saintess sedang buruk. Tenangkan dia baik-baik.”

Marquis meninggalkan pesan itu sebelum membuka pintu dan pergi.

Kini hanya Violet dan Ledian yang tersisa di dalam kamar.

Setelah beberapa saat dalam keheningan, Ledian menatap Violet. Ekspresinya tampak berbeda dari biasanya, seolah sedang mengamati orang lain.

Tatapan itu membuat Violet sedikit gugup. Saat itulah Ledian bertanya dengan suara lembut, “Bukankah selama ini kau selalu bilang Ayah dan Kakak menakutkan?”

Mendengar nada suaranya yang lembut, Violet perlahan merasa tenang dan mengangguk. Memang, Marquis dan Carlisle menakutkan baginya. Ledian tahu betul akan hal itu.

“Kenapa kau mengatakan hal seperti itu, Violet?”

Violet menatap wajahnya lekat-lekat sebelum menjawab, “Kak Ledian bilang sudah melakukan yang terbaik, tapi tetap dimarahi. Aku tidak suka melihat kakak dimarahi. Itu sebabnya aku berkata begitu.”

Ledian terdiam cukup lama.

Entah kenapa, keheningan itu membuat Violet gelisah. Ia mengulurkan tangan kepadanya, tetapi Ledian tidak menyambutnya. Dengan suara datar, ia berkata, “Kamu baik sekali, Violet.”

Violet menggeleng pelan.

“Itu bukan karena aku baik."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!