VOLUME 1 : KUTUKAN DEVIAN (SUDAH TERBIT!)
Billie, gadis 17 tahun cucu dari seorang detektif terkenal, nekat menyamar menjadi murid laki-laki di sekolah asrama khusus pria. Dia mengemban misi untuk memecahkan kasus bunuh diri beruntun yang menggemparkan disana.
Desas-desus yang ada mengatakan bahwa semua kejadian ini adalah kutukan Devian, seorang murid yang pertama kali memulai percobaan bunuh diri. Dengan ditemani Ken, Detektif yang sedikit mesum, di sekolah barunya ini Billie menemukan banyak hal mencurigakan dan juga mendebarkan. Dari mulai teman sekamarnya yang bernama Ice; senior misterius yang dikenal sebagai Pangeran Es karena sikap dinginnya, Joshua; senior playboy yang blak-blakan mengaku gay dan jatuh cinta pada Billie di pandangan pertama, dan terakhir Godfrey; senior sok berkuasa yang disegani semua murid.
Satu hal yang harus Billie pecahkan, apakah semua korban memang benar-benar bunuh diri atau justru ini adalah sebuah kasus pembunuhan berantai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Robin.Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
File 13 : Ciuman Pertama
"Hah... hah... Hah..."
Nafas Billie terengah-engah saking lelahnya, langkah kakinya terasa berat. Dia adalah gadis yang bisa dibilang hiperaktif, tapi staminanya juga bisa habis jika harus berlarian keliling sekolah seharian seperti ini.
Hampir sepuluh menit berlalu sejak mereka kabur dari kejaran para siswa tukang bully, ternyata Ice membawanya ke taman labirin sekolah, tempat mereka dulu sempat bertemu. Matahari berwarna jingga menandakan hari sudah sore. Cahayanya tampak begitu indah diantara pepohonan rindang dan dedaunan hijau, memberikan nuansa yang romantis. Bayangkan saja mereka berdua berlari sambil berpegangan tangan, jika ini adegan dalam film mungkin akan ditambah dengan soundtrack lagu romantis.
"Hei, pendek! Apa kau bisa lari lebih cepat?!"
Panggil Ice dengan nada meledek. Cara bicaranya membuat suasana romantis yang dirasakan Billie hilang seketika.
"Sebentar, kakiku sakit, Kak!"
Keluh Billie dengan sambil langkah yang tertatih. Karena terburu-buru, setelah berganti baju Billie lupa tidak memakai sepatu. Dia hanya memakai kaos kaki saja dan akibatnya telapak kakinya tanpa sengaja menginjak kerikil yang tajam.
"Ck... ayo naiklah!" Ucap Ice sambil tiba-tiba saja berjongkok di depannya. Noda darah di ujung kaos kaki Billie membuat dia memutuskan terpaksa untuk menggendongnya. Dia menoleh ke arah Billie dan diam menunggu.
"DEG!" Jantung Billie tiba-tiba berdebar kencang, dirinya gelagapan dan salah tingkah.
"Ada angin apa si cowok gondrong menyebalkan ini jadi bersikap baik padaku?" Hatinya bertanta. Awalnya Billie ragu tapi saat melihat tatapan Ice yang tajam, akhirnya dia menurut juga untuk menaiki punggungnya. Anehnya debaran di jantungnya itu tak kunjung hilang malah semakin kencang.
"Tuhan, apa sepertinya aku akan sakit?" Batin Billie sambil menggigit bibirnya gelisah dan khawatir. Kedekatan ini membuatnya bingung dan serba salah. Apa pemuda ini tulus menolongnya atau dis hanya sedang bersandiwara saja?
Dalam suasana yang canggung itu Ice meneruskan langkahnya sambil menggendong Billie. Angin semilir menerbangkan rambut panjangnya ke wajah Billie. Meskipun sikapnya dingin tapi punggungnya terasa hangat dan nyaman sama seperti saat dia digendong Ken. Namun sikap diamnya itu membuat Billie gelisah tak karuan.
"Umm... kenapa Kak Ice menolongku?" Tanya Billie yang awalnya ragu sambil menempelkan dagunya di bahu pria itu. Sial! Dari sisi samping dia tampan juga! Batin Billie.
"Kau salah, aku sama sekali tidak bermaksud menolongmu..."
Lagi-lagi hanya jawaban yang ketus dari mulut Ice. Billie memutar bola matanya sebal. Ternyata pemuda ini memang belum berubah.
"Lalu kenapa Kakak menggendongku? Aku kan tidak cacat! Aku masih bisa jalan sendiri..." Ucap Billie sambil sengaja menendangkan kakinya ke udara.
"Hhh... Kau ini sudah bodoh, ceroboh, cerewet lagi.." Komentar pedas Ice membuat Billie spontan naik darah.
"Hey! Aku memang ceroboh dan aku juga suka bicara tapi aku tidak terima dipanggil bodoh! Aku ini seorang jenius!!!" Suara teriakan Billie yang tepat ditelinga Ice membuatnya bergidik geli dan tanpa diduga dia menjatuhkan Billie begitu saja dari gendongannya.
"BLUGH!" Suara tubuh Billie menghantam tanah tepat di bokongnya.
"AOUCHH! Brengsek! Sialan! Kau ini kasar sekali!" Umpat Billie sambil mengaduh kesakitan, mengusap bokongnya yang terkena batu kerikil. Salah satu kerugian memakai rok adalah kulitmu dan kakimu mudah terekspose. Tanpa Billie sadari karena posisi dia mendarat, roknya terangkat hingga memperlihatkan kakinya yang mulus.
"EEEH?!! Apa yang akan kau lakukan?! Kau mau mengintip? Dasar otak jorok!" Bentak Billie lagi yang panik saat Ice tiba-tiba malah berjongkok di depannya. Mata Ice menatap kedua kaki polos Billie dan terdiam, dari sekilas saja sudah terlihat sepasang kaki indah dengan lekuk begitu feminim. Keningnya berkerut seolah tengah memikirkan sesuatu sebelum dia kembali menatap wajah Billie.
"Sejak pertama kali melihatmu, wajahmu, ekspresimu, tingkah lakumu, semuanya sangat menggangguku..." Cetus Ice. Nada bicaranya dingin dan monoton, tapi Billie bisa merasakan emosi yang tersembunyi di sana dan juga aura berbahaya yang terpancar kuat. Terutama saat jari tangan Ice tiba-tiba saja menarik dagu Billie hingga kedua mata mereka bertemu.
'DEG' Lagi, debaran jantung yang aneh terasa lagi di dada Billie. Jarak diantara wajah mereka hanya beberapa senti. Dua pasang mata saling beradu mencoba membaca ekspresi dan pikiran masing-masing. Tapi nihil bagi Billie saat ini dia tak bisa menebak sedikitpun apa yang pemuda ini pikirkan. Entah kenapa ketajaman instingnya seolah tumpul di depan pemuda ini. Apa karena dia sangat tampan? Atau karena dia sangat misterius dan penuh teka-teki. Billie tidak mengerti dan sebelum dia sempat mengucapkan sepatah kalimat untuk membalas Ice sudah mendahuluinya.
"Kau tahu? Aku ini sangat membencimu!" Ucap Ice dengan nada penuh kebencian. Kalimat yang membuat hati Billie serasa ditusuk ribuan pisau. Kenapa pria ini membencinya? Alasannya juga Billie pikir hanya mengada-ada.
"Dengar ya brengsek! Aku merasa tak punya masalah denganmu! Justru yang harusnya mengatakan kalimat itu adalah aku! Kau super menyebalkan dan aku juga membencimu! Jadi kita impas sekarang!" Balas Billie sengit, api kemarahan berkobar dimatanya.
"Benarkah!" Ice tersenyum simpul seolah senang mendengar kalimat itu, namun detik kemudian sesuatu yang tak pernah Billie bayangkan malah terjadi padanya.
'Chu~' Billie merasakan sesuatu yang kenyal mendarat di bibirnya. Desah nafas hangat menerpa wajahnya, aroma alkohol yang sudah pasti bukan aroma mulutnya. Detik itu juga Billie merasa dunianya runtuh.
"Astaga! Apa lelaki ini baru saja menciumku?! Dia barusan bilang membenciku tapi mencuri ciuman pertamaku! Apa dia sudah gila!" Billie begitu terpaku, diam membeku seolah waktu berhenti di depan mata. Wajahnya begitu pucat. Belum sempat Billie bereaksi tiba-tiba.
"ICE KAU KEPARAT! BRENGSEK! BAJINGAN! SIALAN! APA YANG KAU LAKUKAN PADA BILLIE KU!?!"
Teriakan menggelegar datang dari arah semak-semak. Seorang pria berkulit coklat dan bertubuh tinggi besar seperti beruang tiba-tiba datang menyerang Ice hingga mereka berdua berguling ditanah. Baku hantam tak terelakkan tanpa Billie belum sempat mencegahnya.
...----------------...
Sementara itu di tempat lain
"Heh, dasar bodoh!"
Godfrey memperhatikan pemandangan unik dari balkon ruang belajar pribadinya dengan seksama. Secangkir teh di tangannya sudah dingin karena perhatiannya sejak tadi teralihkan pada sesuatu. Dua sosok murid pria yang tengah berkelahi di tengah taman labirin sekolah seperti sedang saling ingin mrmbunuh.
Joshua dan Ice. Mereka berdua seperti predator liar yang sedang saling memperebutkan mangsa. Sosok mungil berkostum ballet warna hitam tampak sedang sibuk memisahkan mereka. Tidak perlu jenius untuk menebak jika sosok itulah yang menjadi mangsa rebutan.
"SUDAH! SUDAH! HENTIKAN! KAK ICEEE KAK JOOOSSHH!!! SUDAHLAH! SEBENTAR LAGI MALAM!!!" Teriak Billie putus asa. Perasaannya yang semula emosi ingin menghajar Ice berubah menjadi rasa khawatir saat melihat pemuda itu dan juga Josh tampak babak belur. Darah merah tampak mengalir di hidung Ice yang patah, sedangkan Joshua mendapat warna biru keunguan di area matanya karena bogem mentah.
"Han Billie, siapa kau sebenarnya?" Tanya Godfrey dalam hati.
Berdasarkan data yang dia miliki dari hasil laporan anak buahnya, murid baru itu sama sekali tak punya bakat di bidang seni. Baik akting, musik, tari ataupun modelling semuanya nol. Bagaimana dia bisa bersekolah disini adalah karena koneksi dengan kepala sekolah. Sesuatu hal yang sebebarnya sudah menjadi wajar di sekolah ini.
Mungkinkah orang tuanya kaya dan berkuasa? Tapi Godrey tak habis pikir, kenapa Kepala Sekolah sampai merahasiakan identitas orang tuanya? Tidak biasanya pria tua itu bermain rahasia padanya. Apa mungkin karena Billie anak tidak sah seorang pejabat atau milyuner, sama seperti halnya Devian?Pikiran Godfrey menjadi liar.
Tapi siapapun Billie, Godfrey pikir murid itu tidak penting di sekolah ini. Walaupun kehadirannya trrus terang membuat Godfrey merasa terbantu. Siapa sangka pemuda banci itu membuat dua murid yang cukup berpengaruh di sekolah ini setelah dirinya jadi saling baku hantam. Salah satunya adalah murid yang Godfrey ingin lenyapkan. Ya, siapa lagi jika bukan Ezra alias Ice, yang ironisnya adalah mantan sahabatnya sendiri selain Joshua.
Tapi Godfrey akui murid baru bernama Billie itu terlihat begitu meyakinkan saat memakai baju perempuan. Dia lebih terlihat seperti gadis tomboy dengan rambut pendeknya daripada pemuda banci yang lemah gemulai. Hanya saja walaupun wajahnya manis, gadis tomboy yang kasar dan berangasan bukanlah selera Godfrey.
Senyuman licik terukir di sudut bibir Godfrey saat memikirkan rencananya yang sempurna. Di tengah keasyikannya melamun ponsel Godfrey tiba-tiba bergetar, sebuah pesan LINE masuk dari username yang tidak dikenal. Saat membaca isinya wajah Godfrey sontak memucat. Keringat dingin mulai mengucur di pelipisnya dan senyuman penuh percaya diri langsung hilang di wajah tampannya. Sebuah video menunggu untuk diputar dengan kalimat yang membuat tangan Godfrey gemetar dan geram.
"Aku tahu rahasiamu... Godfrey💋."
Pengirim : The Devil
TBC
karyamu bagus sekali, sangat epic...
ku tunggu lanjutannya yahh