NovelToon NovelToon
VAELMOOR: Yang Cukup Tidak Selalu Cukup

VAELMOOR: Yang Cukup Tidak Selalu Cukup

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Sistem
Popularitas:763
Nilai: 5
Nama Author: SilentNovels

Arden Voss hanya menginginkan satu hal: kehidupan sederhana bersama dua belas anggota Jangkar Kelabu.
Ia tidak mengejar ketenaran, pangkat, ataupun kekuatan.
Sampai sebuah relik di Menara Verlanth menyala ketika disentuhnya.
Sejak saat itu, anomali dalam dirinya mulai terungkap dan kelompok kecilnya terseret ke dalam rahasia yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Mengapa Menara itu bereaksi kepada Arden?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilentNovels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14 Jubah Abu

Arden sudah berdiri sebelum dentang lonceng ketiga selesai bergema, pedangnya tersampir di punggung dalam sekejap, kakinya sudah bergerak menuju pintu kamar bahkan sebelum pikirannya sepenuhnya menyusul kepanikan yang mulai menjalar di dadanya.

Di lorong penginapan, ia bertemu Corym yang sudah keluar dari kamarnya sendiri, perisai bundar tergenggam erat, wajahnya tegang dengan kewaspadaan penuh.

"Dari arah timur," kata Corym, "sama seperti yang diceritakan Yuna."

"Kumpulkan semua orang," kata Arden, sudah bergerak menuruni tangga. "Kita perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi sebelum kita bertindak buta."

Mereka keluar ke jalan utama Hollowreach yang sudah dipenuhi kepanikan, penduduk desa berlarian ke arah rumah masing-masing, beberapa membawa anak-anak dalam gendongan, teriakan-teriakan panik bercampur dengan dentang lonceng yang masih terus berbunyi dari menara di tengah desa. Di kejauhan, dari arah perbatasan hutan timur, kobaran api mulai terlihat, kecil tapi jelas, disertai suara teriakan yang jauh lebih tajam dari sekadar kepanikan biasa.

Tomas dan Doran sudah lebih dulu berlari ke arah gerbang desa, mengambil posisi jaga sesuai giliran malam mereka, dan ketika Arden serta yang lain menyusul tiba di sana, pemandangan yang menyambut mereka membuat seluruh keraguan tentang keseriusan ancaman ini menguap seketika.

Sosok-sosok berjubah abu tua bergerak keluar dari kegelapan hutan, jumlahnya lebih dari dua puluh, bergerak dalam formasi yang jelas terlatih, bukan sekadar kerumunan bersenjata yang menyerang secara acak. Mereka menyebar dengan cepat begitu mencapai perbatasan desa, sebagian menuju gudang penyimpanan tempat barang dagangan karavan mereka baru saja diserahkan, sebagian lain bergerak menyusuri jalan-jalan sempit desa, jelas mencari sesuatu, atau seseorang.

"Ini bukan perampok," kata Halden, sudah mencabut pedangnya, berdiri di sisi Arden. "Perampok tidak bergerak seteratur ini."

"Tomas, Doran," kata Arden, cepat, "tahan gerbang ini. Jangan biarkan lebih banyak masuk dari arah sini."

Tomas sudah mengambil posisi di balik pagar kayu rendah, busurnya terangkat, anak panah pertama sudah terpasang. Doran memberi isyarat pada Ashe, familiarnya melesat ke udara meski masih dalam jarak pandang, siap membantu dari atas.

"Corym, Halden, ikut denganku," kata Arden. "Kita pastikan titik-titik lemah di desa terlindung. Ilsa, Petra, bantu evakuasi penduduk ke balai desa, itu bangunan paling kuat di sini."

"Kau yakin kita harus terpisah?" tanya Ilsa, matanya menyapu jumlah penyerang yang terus bertambah.

"Kita tidak punya pilihan," kata Arden. "Kalau kita semua bergerak bersama, kita hanya bisa melindungi satu titik sementara sisa desa dibiarkan tanpa perlindungan. Kita harus menyebar untuk menahan mereka di banyak titik sekaligus."

Ilsa mengangguk, meski jelas tidak sepenuhnya nyaman dengan keputusan itu, dan bergerak bersama Petra menuju arah balai desa, di mana beberapa keluarga sudah mulai berkumpul dalam kepanikan, mencari perlindungan di bawah atap yang lebih kokoh.

...----------------...

Tomas melepaskan panah pertamanya tepat ketika gelombang pertama penyerang mencapai jarak yang cukup dekat, anak panah itu menembus bahu salah satu sosok berjubah, membuatnya terhuyung mundur, tapi tidak jatuh, hanya melambat sesaat sebelum kembali maju dengan tekad yang tidak berkurang.

"Mereka kuat," seru Tomas, sudah melepaskan panah kedua, "lebih kuat dari perampok biasa."

Doran mengarahkan Ashe menukik dari udara, cakarnya mencabik salah satu penyerang yang mencoba mendekat dari sisi samping, memberi Tomas waktu untuk mundur mengatur ulang posisinya. Namun jumlah lawan terus bertambah, bergerak dengan disiplin yang membuat setiap serangan balik terasa seperti menghadapi dinding yang terus bergeser, bukan sekadar kerumunan yang bisa dipatahkan dengan mudah.

Di sisi lain desa, Arden, Corym, dan Halden bergerak cepat menyusuri jalan-jalan sempit, mencegat kelompok kecil penyerang yang mencoba menerobos ke arah rumah-rumah penduduk yang belum sempat dievakuasi.

Arden menghadapi dua penyerang sekaligus di persimpangan jalan, pedangnya bergerak dengan presisi yang sudah terlatih bertahun-tahun, menahan tebasan pertama sebelum membalas dengan gerakan cepat yang mengenai lengan lawannya, cukup untuk membuatnya melepaskan senjata. Namun lawan itu, alih-alih mundur seperti yang diharapkan dari perampok biasa yang terluka, justru terus maju, mencoba merebut kembali senjatanya dengan tangan kosong, sebuah keberanian yang lebih terasa seperti fanatisme daripada sekadar keserakahan atas barang jarahan.

"Mereka tidak takut mati," gumam Arden, terkejut oleh apa yang baru saja ia saksikan, sebelum akhirnya menjatuhkan lawan itu dengan pukulan gagang pedang yang cukup keras untuk membuatnya pingsan, bukan membunuhnya.

Corym menahan gelombang lain di sisi berbeda, perisainya menyerap benturan demi benturan dengan stabil, sementara Halden bergerak lincah di antara para penyerang, tebasannya presisi dan efisien, mengingatkan siapa pun yang menyaksikannya bahwa gelar veteran yang ia sandang bukan sekadar formalitas usia.

"Berapa banyak lagi yang tersisa?" seru Corym, napasnya mulai memburu.

"Terlalu banyak untuk dihitung sekarang," jawab Halden, menahan satu serangan lagi. "Kita hanya perlu bertahan sampai desa aman."

...----------------...

Di balai desa, Ilsa dan Petra bekerja cepat membantu penduduk masuk ke dalam bangunan batu yang lebih kokoh dibanding rumah-rumah kayu di sekitarnya, Sister Yuna sudah berada di dalam, membantu menenangkan anak-anak yang ketakutan sambil memeriksa beberapa warga yang terluka ringan akibat terjatuh dalam kepanikan.

"Berapa banyak lagi di luar sana?" tanya Yuna, ketika Ilsa masuk membawa dua keluarga terakhir.

"Cukup banyak," kata Ilsa, matanya masih waspada menatap ke arah jalan. "Tapi mereka sepertinya tidak menyasar warga secara langsung. Mereka lebih tertarik pada sesuatu di desa ini, entah apa."

Petra berdiri di ambang pintu balai desa, matanya menyapu pertempuran yang berlangsung di kejauhan, dadanya berdebar bukan hanya karena bahaya, tapi karena dorongan yang sudah lama ia rasakan namun belum pernah benar-benar ia lepaskan: keinginan untuk membuktikan dirinya lebih dari sekadar anggota termuda yang selalu dilindungi, selalu diminta menjaga jarak aman.

Ia melihat sosok yang berbeda dari yang lain di antara para penyerang, seorang pemimpin lapangan, mungkin, bergerak dengan cara yang lebih terkendali, memberi isyarat pada anak buahnya dengan gerakan tangan singkat, mengarahkan mereka menuju sudut desa yang belum banyak terjamah, dekat dengan area penyimpanan hasil panen di ujung barat.

"Petra," kata Ilsa, mendekat, "tetap di sini. Kita perlu menjaga posisi ini."

"Aku bisa melihat pemimpin mereka," kata Petra, suaranya tegang oleh kegugupan yang bercampur ambisi. "Kalau kita bisa menghentikannya, mungkin yang lain akan mundur."

"Itu asumsi yang berbahaya," kata Ilsa, tegas. "Kita tidak tahu apa-apa soal kekuatan mereka."

Tapi Petra sudah bergerak, langkahnya cepat menyusuri jalan sempit di samping balai desa, mengikuti arah sosok pemimpin lapangan itu yang mulai menjauh dari kerumunan utama pertempuran, menuju area penyimpanan hasil panen yang lebih sepi, lebih gelap, jauh dari pandangan siapa pun yang bisa membantunya kalau terjadi sesuatu.

"Petra!" seru Ilsa, suaranya tertelan riuh pertempuran di sekitarnya, tidak cukup keras untuk menjangkau Petra yang sudah menghilang di balik sudut jalan.

Ilsa mengumpat pelan, menoleh ke arah Yuna yang masih sibuk dengan penduduk yang terluka. "Aku harus mengejarnya," katanya, sudah bergerak menuju arah yang sama, meski jaraknya kini cukup jauh untuk membuat kekhawatiran mengambil alih setiap langkahnya.

...----------------...

Petra bergerak semakin dalam ke area penyimpanan hasil panen, gudang-gudang kayu berjajar dalam kegelapan yang hanya diterangi cahaya bulan dan pantulan jauh dari api yang membakar sebagian perbatasan hutan. Sosok pemimpin lapangan yang ia ikuti bergerak dengan tenang, seolah tidak menyadari kehadirannya, atau mungkin justru sengaja membiarkan dirinya diikuti.

Ketegangan mulai menggantikan keberanian yang tadi mendorongnya, tapi Petra menahan diri untuk tidak mundur, tangannya sudah menggenggam gagang pedangnya erat-erat, napasnya tertahan setiap kali ia melangkah lebih dekat.

Sosok itu akhirnya berhenti di sudut gudang terakhir, berbalik perlahan, dan untuk pertama kalinya, cahaya bulan menyingkap wajahnya dari balik tudung jubah abu tua yang menutupinya sepanjang malam ini: seorang pria dengan wajah tegas, matanya tenang dengan cara yang lebih mengerikan daripada kemarahan sekalipun, seolah tidak ada apa pun di dunia ini yang mampu menggoyahkannya.

"Kau mengikuti dengan cukup baik untuk seseorang seusiamu," katanya, suaranya rendah, hampir lembut, sebuah ironi yang membuat bulu kuduk Petra berdiri.

Petra mencabut pedangnya, mencoba menampilkan keberanian yang mulai goyah di dalam dadanya. "Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan di desa ini?"

Pria itu tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak menjawab apa pun, hanya memperlihatkan betapa jauh ia berada dari rasa takut yang seharusnya dirasakan siapa pun yang berhadapan dengan pedang terhunus.

"Kau akan segera tahu," katanya, dan tanpa peringatan lebih lanjut, ia bergerak maju dengan kecepatan yang jauh melampaui apa pun yang pernah dihadapi Petra sebelumnya, kekuatan yang jelas berada di atas level para penyerang biasa yang bertarung di jalan-jalan desa malam ini.

Petra mengangkat pedangnya untuk menahan serangan pertama, tapi benturan itu cukup kuat untuk membuat lengannya bergetar hebat, kesadaran mulai menyusup ke dalam dirinya bahwa ia baru saja membuat kesalahan besar, sendirian, jauh dari siapa pun yang bisa membantunya, berhadapan dengan seseorang yang jelas jauh lebih kuat dari yang pernah ia bayangkan akan ditemuinya malam ini.

1
San Sensei
semangat ya kak 👍
SilentNovels: makasih ya
total 1 replies
the virtuso
saling support thor 👍
SilentNovels: siap Abang thor kuh
total 1 replies
Fleuriaa
walaupun karya novel nya cuma ada satu, tapi alur ceritanya berkualitas dan novel nya punya potensi asalkan konsisten
SilentNovels: wah, makasih banyak ya kak
total 1 replies
@.me.⭐🌟
oooh jadi ini yang di baca oleh @ .ar. world hmm cukup menarik juga tapi jangan terlalu kebanyakan tulisan katanya nantinya pembaca bisa kewalahan tapi gpp cerita mu sudah cukup bagus
SilentNovels: Makasih banyak masukannya 😄 Untuk chapter-chapter berikutnya bakal aku usahakan konsisten di 1.500–2.000 kata, biar tetap nyaman dibaca dan nggak bikin kewalahan. Senang juga kalau sejauh ini ceritanya cukup menarik buat kamu. Makasih sudah baca dan kasih pendapat!
total 1 replies
#@.Ar.world(。・ω・。)
cerita nya bagus 👍 aku suka dan udah aku kasih like
SilentNovels: wah, ngk pp deh makasih ya
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!