Lily adalah gadis biasa yang suka makan kue dan membaca novel, tiba-tiba masuk ke dalam dunia buku yang baru saja ia baca! Dan yang lebih parah—ia bukan menjadi tokoh utama, melainkan penjahat sampingan yang nasibnya berakhir sangat menyedihkan di akhir cerita.
Dengan wajah imut, sifat polos, dan hobi makan kue, Lily bertekad mengubah takdirnya. Tapi siapa sangka, rencana hidup tenangnya malah berubah jadi rumit—karena siswa paling dingin di sekolah, ketua OSIS yang tegas, dan bahkan pewaris perusahaan besar… semuanya jadi terpesona padanya!
"Kau ini sebenarnya makhluk apa?" tanya siswa dingin itu dengan wajah datar, tapi tangannya tak melepaskan pinggangnya.
Lily tersenyum polos sambil memegang kue: "Aku cuma gadis yang suka makan, Mas~"
Apakah Lily bisa selamat dari akhir cerita yang tragis? Atau malah menemukan kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia Utari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 22: Surat dari Masa Lalu dan Harapan untuk Masa Depan
Beberapa hari kemudian, saat aku sedang merapikan barang-barang di kamar Lily, aku menemukan sebuah amplop putih bersih yang terselip di antara halaman-halaman tebal buku harian tua miliknya. Amplop itu terlihat sangat tua, kertasnya sudah sedikit menguning di bagian pinggir, seolah sudah lama tersembunyi dan menunggu waktu yang tepat untuk ditemukan. Tidak ada nama pengirim atau penerima yang tertulis di bagian depan—hanya satu kalimat pendek dengan tulisan tangan yang rapi namun sedikit bergetar, persis sama dengan tulisan di buku catatan yang pernah kubaca sebelumnya: "Untuk siapa pun yang hidup di tubuhku nanti."
Jantungku berdegup pelan saat melihat tulisan itu. Tanganku gemetar sedikit saat meraih amplop itu, merasakan ada sesuatu yang berat dan sekaligus penuh makna tersimpan di dalamnya. Aku duduk perlahan di tepi tempat tidur, menarik napas panjang, lalu dengan hati-hati membuka lipatan amplop itu. Di dalamnya terlipat selembar kertas surat yang lembut, dan saat aku mulai membaca isinya, rasanya seolah waktu berhenti berputar di sekelilingku.
"Halo. Kalau kau membaca ini, berarti aku sudah pergi, dan kau yang menggantikan posisiku. Aku tidak tahu siapa kau, dan aku tidak tahu dari mana kau berasal—entah dari dunia lain, entah dari masa depan, atau entah dari mana pun itu. Tapi aku tahu satu hal dengan pasti: kau pasti jauh lebih baik dariku. Selama ini aku hidup dalam kegelapan yang kubuat sendiri. Aku kesepian, aku sakit hati, dan karena aku tidak tahu cara mengatasi rasa sakit itu, aku justru menyakiti orang-orang di sekitarku. Aku jahat, aku kasar, aku sombong… tapi itu semua hanya topeng untuk menutupi betapa hancurnya hatiku yang sebenarnya. Tidak ada yang pernah mengajariku cara dicintai, dan tidak ada yang pernah mengajariku cara mencintai dengan tulus. Aku selalu berpikir bahwa dengan memiliki segalanya—uang, kekuasaan, perhatian—aku akan merasa bahagia. Tapi ternyata tidak. Semakin aku punya, semakin aku merasa kosong di dalam."
"Aku minta maaf. Maaf pada semua orang yang pernah aku sakiti, maaf pada Ayah dan Ibu yang selalu aku kecewakan, dan maaf padamu yang harus menanggung semua kekacauan yang kutinggalkan. Aku tahu aku tidak berhak meminta apa pun darimu, tapi ada satu hal yang sangat aku harapkan dari lubuk hatiku yang paling dalam: tolong… jadilah orang yang baik. Jadilah dirimu yang sebenarnya, bukan orang yang orang lain ingin kau jadi. Tersenyumlah lebih sering, katakanlah hal-hal yang baik kepada orang-orang di sekitarmu, dan jangan pernah takut untuk mencintai. Cintailah orang-orang yang menyayangimu, dan biarkan mereka mencintaimu dengan cara mereka sendiri. Hiduplah dengan bahagia, karena aku tidak pernah sempat melakukannya. Jadilah bahagia untukku juga. Terima kasih sudah datang. Terima kasih sudah memberikan kesempatan yang tidak pernah kuterima. — Lily."
Air mata jatuh perlahan, membasahi kertas surat itu yang sudah mulai kusam. Aku menekan surat itu ke dadaku, merasakan setiap kata yang tertulis di dalamnya seolah bisikan dari gadis yang dulu pernah menghuni tubuh ini. Dia bukan orang jahat seperti yang dikatakan semua orang. Dia hanya gadis yang terluka, gadis yang kesepian, gadis yang tidak pernah diajarkan cara menjadi bahagia. Dan sekarang, berkat kesempatan yang kuterima, aku bisa mewujudkan harapan terakhirnya. Aku bisa hidup dengan cara yang tidak sempat ia jalani. Aku bisa menjadi baik, dicintai, dan bahagia—bukan hanya untuk diriku sendiri, tapi juga untuknya.
"Kau menangis?"
Suara lembut terdengar dari arah pintu kamar yang sedikit terbuka. Aku mendongak dengan cepat, menyeka air mataku dengan punggung tangan, dan melihat Ethan berdiri di sana sambil memegang nampan berisi cangkir teh hangat dan sepotong kue cokelat buatan Tante Lisa. Begitu melihat wajahku yang basah oleh air mata, ia segera meletakkan nampan itu di meja samping pintu dan berjalan mendekat dengan langkah pelan, seolah takut mengganggu kesunyian yang sedang menyelimuti hatiku. Ia duduk di sampingku di tepi tempat tidur, tidak langsung bertanya, hanya menatapku dengan tatapan penuh pengertian dan kelembutan yang selalu membuatku merasa aman.
"Ini… surat dari Lily yang dulu," ucapku dengan suara yang sedikit bergetar, lalu menyerahkan kertas itu ke tangannya. "Dia menulis ini sebelum semuanya berakhir. Dia… dia tidak pernah jahat, Ethan. Dia hanya tidak pernah punya kesempatan untuk menjadi baik."
Ethan membaca surat itu perlahan, dengan sangat hati-hati seolah takut merobek kertas rapuh itu. Semakin lama ia membaca, semakin dalam tatapannya jatuh ke bawah, dan saat selesai, ia menghela napas panjang yang penuh dengan perasaan sulit dijelaskan. Ia meletakkan surat itu perlahan di atas meja di samping tempat tidur, lalu berbalik ke arahku dan menggenggam kedua tanganku dengan erat.
"Kau tahu apa yang paling menyentuh hatiku dari surat ini?" tanyanya lembut, suaranya penuh kekaguman yang tulus. "Dia berharap kau bahagia. Dan kau tahu apa yang paling indahnya? Kau tidak hanya membuat dirimu bahagia—kau juga membuat dia bahagia dari tempatnya sekarang. Kau mengubah akhir ceritanya. Kau mengubah namanya dari nama yang selalu disebut dengan kebencian menjadi nama yang diingat dengan kasih sayang dan kebaikan. Itu hal yang paling mulia yang bisa dilakukan seseorang."
"Tapi kadang aku ragu, Ethan," akuku pelan, menunduk menatap genggaman tangannya yang hangat. "Aku bukan dia, dan aku bukan siapa-siapa. Aku hanya orang asing yang tiba-tiba datang ke sini. Apakah aku pantas mendapatkan semua kebahagiaan ini? Apakah aku pantas mendapatkan cintamu, kasih sayang keluarganya, dan semua hal indah yang ada di depanku sekarang?"
Ethan mengangkat daguku perlahan dengan jari telunjuknya, memaksaku menatap matanya yang jernih dan penuh keyakinan. "Kau pantas mendapatkannya lebih dari siapa pun, Lily. Bukan karena siapa kau sebelumnya, tapi karena siapa kau sekarang. Kau datang ke sini dengan hati yang tulus, kau menyembuhkan luka yang pernah ada, kau menyatukan orang-orang yang terpisah, dan kau mengajarkan kami semua arti kasih sayang yang sebenarnya. Jangan pernah meragukan dirimu. Karena bagi kami semua, kau adalah rumah tempat kami pulang. Dan tidak ada yang lebih pantas untuk dicintai selain dirimu."
Kata-katanya meresap jauh ke dalam hatiku, menghapus setiap keraguan dan ketakutan yang sempat bersembunyi di sana. Aku tersenyum di antara sisa air mataku, lalu bersandar pelan ke dadanya, merasakan detak jantungnya yang tenang dan kuat di bawah telingaku. Di dalam kamar itu, di antara sisa-sisa masa lalu dan harapan masa depan, aku merasa utuh. Lily yang dulu mungkin pergi, tapi dia meninggalkan pesan yang berharga: bahwa tidak ada kata terlambat untuk berubah, untuk memaafkan, dan untuk mencintai. Dan aku akan menjaga pesan itu selamanya.
Malam itu, setelah Ethan pulang, aku melipat surat itu dengan sangat rapi dan hati-hati, lalu menyimpannya di dalam kotak perhiasan kecil yang terbuat dari kayu jati di atas meja belajarku—bersama dengan pita sutra pertama yang pernah kuberikan Ethan, dan foto kami berempat yang diambil saat Festival Musim Gugur. Bukan sebagai kenangan masa lalu, melainkan sebagai pengingat. Pengingat bahwa setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua, dan bahwa kebaikan sekecil apa pun bisa menumbuhkan kebahagiaan yang jauh lebih besar dari yang bisa kita bayangkan. Lalu aku menatap ke luar jendela, ke arah bulan purnama yang bersinar terang di langit malam, dan berbisik pelan ke angin malam yang sejuk: "Terima kasih, Lily. Kita akhirnya bahagia."