NovelToon NovelToon
DEKEKOUI

DEKEKOUI

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Matabatin / Vampir
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Muka Kanvas

Ketika penyihir dan Pemburu Penyihir bertemu dalam satu wilayah yang tak pernah mereka sangka. Satu berburu dan yang lain diburu, bagaimana jika akhirnya mereka jatuh cinta?

Dua makhluk Kekal bertikai sejak berabad-abad silam dan tak pernah mampu berdamai, berperang, bersembunyi dan akhirnya tertangkap, berulang tanpa pernah istirahat.

Apakah pada akhirnya mereka mampu bersatu? atau malah menjadi alasan peperangan terjadi lagi, seperti dulu Dekekuoi hancur lebur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muka Kanvas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 14 : Lira Yang Cantik

“Ingat ya, jangan tunjukan sihirmu sama sekali, kalau marah ....”

“Pergi saja yang jauh, pokoknya tidak perlu melawan karena mereka pasti kalah, jangan menyakiti karena mereka manusia biasa, jangan sampai ketahuan karena nanti Jagabaya Kasipin akan mengejar kita.”

“Anak pintar!” Yelak mengusap kepala anaknya, ini hari pertam Lira masuk sekolah SD, langsung kelas 5, meski rapot kelas 4 tidak kada, tapi di zaman ini, tahun 1965, semua hal bisa diusahakan dengan bantuan uang. Meski tidak mengaku kaya, tapi Yelak berkilah kalau di kampung dia baru saja menjual sawahnya.

Maka dari itu dia ingin agar anaknya sekolah di ibukota, tempat yang semua orang kira adalah tempat terbaik untuk sekolah.

Sekolah tak banyak tanya, semua sekolah negeri sedang merintis, kucuran dana dari pemerintah juga tersendat karena urusan PKI yang belum selesai di basmi zaman itu, maka tawaran uang dari siapa pun tidak membuat mereka rewel, asal ada uang semua bisa dimuluskan.

“Papa antar aku ke sekolah kan? Naik becak.”

“Iya dong, mama di rumah masak buat kita, setelah itu papa akan cari kerja.”

“Cari kerja? Memang bisa pa? Katanya sekarang lagi sulit cari kerja, orang-orang pada bilang sih pas kemarin aku dan mama ke pasar itu, mereka bilang sekarang lagi serba sulit.”

“Lira, kita nggak mesti selalu percaya yang orang lain bilang, karena bisa jadi mereka salah, jadi kita nggak perlu selalu percaya, karena kalau kita langsung percaya, nanti semesta mengaminkan, maka terjadilah kesulitan itu.”

“Oh begitu papa. Jadi, papa mau kerja apa?” Lira bertanya lagi, mereka berdua sudah keluar dari rumah dan sedang menunggu becak yang lewat.

“Apa saja, yang penting halal, yang penting juga tidak pakai ini ....” Yelak menunjukkan tangannya tapi tak ada apa-apa di sana, setidaknya itu yang kalian orang biasa lihat, tapi Lira bisa melihat kalau tongkat sihir menyembul keluar sebagian, hanya untuk lelucon, tentu itu dilakukan dengan cepat.

Becak datang, ternyata orang yang sama dengan yang kemarin mengantar mereka juga ke sekolah.

“Bapak lagi, terima kasih ya pak sudah lewat jalan ini, jadi kita tak lama nunggunya.” Lira kali ini duduknya senditi, tidak dipangku, karena mama tidak ikut.

Papanya menengok ke abang becak dan saling menyembunyikan tawa, karena sebenarnya papanya Lira sudah meminta abang becak untuk datang setiap sebelum jam 7 pagi untuk bisa mengantar Lora sekolah, sudah janjian dan abang becak sudah dibayar di muka, jadi dia pasti datang, tapi Lira menyangka itu kebetulan.

Tak lama kemudian mereka sampai, Lira masuk ke dalam sekolah dilihat oleh Yelak terlebih dahulu, memastikan kalau baik-baik saja, setelah itu Yelak naik becak kembali untuk ke jalan besar, dia perlu mengunjungi seseorang.

...

“Tadi ada yang susah nggak?” Rani teman sebangku Lira bertanya, mereka sudah akrab sejak pertemuan pertama.

“Nggak, lumayan gampang, makasih Rani sudah perhatian.”

“Lira, kamu pintar sekali, ini rumusnya susah loh, kamu di tempat dulu itu pasti ranking ya?”

“Ranking itu apa Rani?”

“Loh, di sekolah dulu nggak ada ranking, Lira?”

“Aku tidak sekolah, aku belajar di rumah.”

“Oh begitu, pasti ayah ibumu kaya ya, makanya bisa panggil guru ke sekolah.”

“Oh enggak-enggak Rani, kami tidak kaya, kami hanya keluarga sederhana saja, aku belajar di rumah sama mamaku, tidak memanggil guru ke rumah.”

“Oh, berarti mamamu itu yang pintar, andai mamaku kayak mamamu ya, bisa nemenin terus.”

“Loh memang mamamu kemana? Kok nggak bisa nemenin terus?” Lira bertanya.

“Mamaku …”

Rani tiba-tiba diam. Senyum yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan menghilang. Tangannya yang sedang memegang pensil berhenti bergerak, lalu ia menundukkan kepala seolah pertanyaan sederhana dari Lira telah membuka sesuatu yang tidak ingin dibicarakannya.

“Kenapa?” Lira bertanya pelan.

“Mamaku kerja.”

“Kerja di mana?”

“Di pasar.”

“Oh, jadi setiap hari ke pasar?”

Rani mengangguk. “Iya. Berangkat pagi sekali, pulangnya sore. Kadang kalau dagangannya belum habis, bisa sampai malam.”

Lira mengangguk-angguk. Ia tidak menganggap jawaban itu aneh. Baginya, semua keluarga memiliki kesibukan masing-masing.

“Kalau begitu, nanti kalau aku sudah besar aku mau bantu mamamu.”

Rani langsung tertawa kecil.

“Bantu apa?”

“Ya bantu jualan.”

“Kamu bisa?”

“Bisa belajar.”

Rani tersenyum. “Kamu lucu.”

Bel masuk berbunyi, tanda kalau istirahat sudah selesai, sebelum percakapan mereka berlanjut. Guru masuk membawa beberapa buku, lalu meminta semua murid duduk dengan rapi. Lira segera menghadap ke depan.

Hari pertamanya ternyata tidak semenakutkan yang ia bayangkan.

Tidak ada yang mencurigainya.

Tidak ada yang tahu bahwa sebelum datang ke sekolah, ia sudah menghabiskan bertahun-tahun belajar bersama kedua orang tuanya. Tidak ada yang tahu bahwa kemampuan berhitungnya jauh di atas anak-anak seusianya. Tidak ada yang tahu bahwa beberapa buku yang diberikan guru sebenarnya terlalu sederhana untuknya, dia bukan anak 10 tahun, itu yang mereka tahu, meski tampilannya sunggu seperti seumuran dengan semua teman sekelasnya, paling hanya perbedaan tinggi badan saja. Meski Lira lebih tinggi dari teman lain, tapi tetap masih pantas dibilang anak 10 tahun.

Dan yang paling penting, tidak ada yang tahu tentang sihirnya.

Saat guru menuliskan sebuah soal di papan tulis, beberapa murid mulai mengerutkan kening. Ada yang menghapus jawabannya berkali-kali, ada yang saling bertanya, sementara Lira hanya memperhatikan.

“Siapa yang mau mengerjakan?”

Tidak ada tangan yang terangkat dan guru menunggu beberapa saat.

“Tidak ada?”

Lira sebenarnya tahu jawabannya.

Tangannya hampir terangkat, tetapi ia teringat perkataan Yelak pagi tadi.

Pergi saja yang jauh, tidak perlu melawan, jangan menyakiti, dan jangan sampai ketahuan. Lira akhirnya menurunkan tangannya, namun guru melihat gerakannya.

“Kamu, Lira.”

Lira terkejut.

“Iya, Bu?”

“Coba maju.”

Beberapa murid langsung menoleh.

Lira berjalan ke depan kelas. Ia mengambil kapur, lalu menuliskan jawaban dengan hati-hati. Tidak terlalu cepat, supaya tidak terlihat mencurigakan.

Selesai.

Guru memeriksa jawabannya.

“Benar.”

Beberapa murid berseru kagum, Rani tersenyum lebar dari bangkunya, dan Lira kembali duduk.

“Sudah kubilang kamu pintar meski tidak pernah sekolah,” bisik Rani.

“Belajar di rumah juga belajar, kan?”

Rani terdiam, lalu mengangguk.

Hari terus berjalan.

Menjelang pulang, Lira mulai merasa lapar. Ia membuka bekal yang dibuat ibunya, sudah habis tadi saat istirahat, tersisa jeruk saja, dia membuka jeruk itu.

Rani melirik, "masih lapar? Aku punya singkong.”

Lira tersenyum.

“Terima kasih Rani.”

Mereka berdua makan singkong di kelas, beberapa anak mulai pulang sekolah, Lira menunggu ibunya menjemput, karena dia belum diperbolehkan pulang sendiri.

Lira baru saja menggigit singkong ketika seorang anak laki-laki dari bangku belakang datang menghampiri.

“Kamu anak baru?”

Lira mengangguk.

“Namamu Lira?”

“Iya.”

“Kamu pindahan dari mana?”

Lira terdiam.

Ia sudah diberi tahu orang tuanya bahwa mereka tidak boleh terlalu banyak bercerita tentang masa lalu.

“Dari jauh.”

“Jauh di mana?”

“Jauh.”

Anak itu mengerutkan dahi.

“Jawabanmu aneh.”

Rani langsung menyela.

“Sudah, jangan ganggu. Dia baru masuk.”

Anak itu akhirnya pergi.

Lira memperhatikannya sampai kembali ke tempat duduk.

“Kenapa kamu jawab begitu?” Rani bertanya.

“Aku tidak tahu harus jawab apa.”

“Kalau aku sih bilang saja dari desa.”

“Memangnya aku dari desa?”

Rani mengangkat bahu.

“Ya, wajahmu seperti anak desa.”

Lira tertawa kecil, ia tidak tersinggung. Justru ada sesuatu yang membuatnya lega.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia bisa duduk bersama anak-anak lain tanpa harus menjelaskan siapa dirinya.

...

Yelak sudah berada di sebuah warung kecil dekat jalan besar, ia duduk sendirian, di hadapannya terdapat secangkir kopi yang belum disentuh.

Seorang lelaki berusia sekitar lima puluh tahun datang dan duduk di sebelahnya.

“Kau jadi datang.”

Yelak menoleh.

“Bukankah aku sudah bilang akan datang?”

Lelaki itu tidak menjawab. Ia hanya memperhatikan sekitar, memastikan tidak ada orang yang mendengarkan.

“Anakmu sudah masuk sekolah?”

“Sudah.”

“Di sekolah negeri?”

“Ya.”

“Langsung kelas lima?”

Yelak tersenyum tipis.

“Kau terlalu banyak bertanya.”

“Aku hanya heran. Anak seusianya biasanya tidak bisa langsung masuk begitu saja.”

“Zaman sedang kacau. Orang-orang punya banyak urusan lain untuk dipikirkan.”

Lelaki itu menatap Yelak cukup lama.

“Kau masih membawa benda itu?”

Yelak tidak langsung menjawab, dia hanya membuka telapak tangan yang kosong.

“Tidak.”

“Kau hanya menyembunyikannya, dasar pembohong.” Lelaki itu tertawa kecut, benda yang dia maksud adalah tongkat sihir milik para Dekekuoi yang sangat khas.

“Kalau aku membawanya, menurutmu akan kutunjukan?”

Lelaki itu terkekeh.

“Masih saja seperti dulu.”

Yelak menatap jalan.

“Apa kau mendapatkan informasinya?”

“Tidak banyak, tapi sepertinya mereka sedang membangun tempat yang aneh di suatu pulau, aku tidak bisa mendekat, terlalu berbahaya.”

“Ya, jangan bahayakan dirimu, satu ketahuan bisa jadi yang lain juga.”

“Baiklah, kita semua mesti hati-hati, janji ya.” Lelaki tua itu lalu bangkit dan pergi.

Itu adalah kali terakhir Yelak bakal melihatnya, pria berumur lima putuh tahun yang tentu saja terlihatnya begitu, umur siapa yang tahu?

Kelak Lira yang akan bertemu dengan lelaki awet tua itu dengan wajah yang sama, tapi kubu yang berbeda, kelak dia akan jadi Dekekuoi yang jahat, menjadi antek Kasipin untuk menyerap Sila milik para Dekekuoi.

Tapi di saat ini, dia masih jadi lelaki tua yang bijak dan sangat menjaga kelompoknya, kelak kita juga akan tahu kenapa dia bisa berubah menjadi antek Jagabaya Kasipin.

“Tadi di sekolah gimana Lira?” Papa bertanya, mereka sedang makan malam.

“Senang, Rani ternyata teman sekelasku dan kita duduk sebangku, dia sangat perhatian, dia juga yang bantu aku menjawab anak rese yang bertanya tentang asalku. Pokoknya aku senang, terima kasih papa, sudah menyekolahkan Lira di tempat bagus.”

“Sama-sama anak baik.” Yelak dan keluarganya makan malam dengan hangat dan senang.

Sementara jauh dari rumah mereka, seorang anak lelaki menatap malam dari kamarnya, ibunya masuk dan bertanya apakah dia sudah mengerjakan PRnya, anak lelaki itu hanya mengangguk.

“Dia hanya murid baru biasa, aku sudah mengkonfirmasinya, hanya anak yang … biasa saja dan ….”

“Dan apa, Dani?” Mamanya bertanya, Dani selalu penasaran dengan anak itu sejak melihatnya, aneh dan cantik, selalu memakai syal yang terlihat kuno, mungkin peninggalan neneknya, setidaknya dia tidak curiga apapun lagi, karena pada waktu itu seorang  cucu memakai barang dari neneknya itu hal biasa.

“Tidak, tidak apa-apa.”

“Ayolah, kenapa nak?” Nyonya Huron bertanya, dia sungguh sangat penasaran, bukan curiga, hanya ingin tahu saja.

“Dia sangat cantik, ma.”

“Oh Tuhan, kau sudah besar sekarang!”

1
Vie Vie Sue
/Good/
Betri kardina
berarti jagabaya kasipin jahat ya
Muka Kanvas: nah, akhirnya ada yang ngeh
total 1 replies
Tini Nurhenti
alurnya maju mundur ea thor,😁🤭💪💪💪
Muka Kanvas: Iya nih, stuck di 1965 dulu yaaaa
total 1 replies
Tini Nurhenti
penuh misteri 👍💪💪💪
Tini Nurhenti
hadir thor, cepy story lanjutane to ??
Tini Nurhenti: ok kk
total 2 replies
Arla
mungkin Dani atau orangtuanya
Muka Kanvas: bukan kok, bukan.
total 1 replies
Dea Suci
zombie ya kak
Muka Kanvas: Hampir
total 1 replies
Dea Suci
mei
Dea Suci
wadidaw,,, ternyata ohhh ternyata,, Dani pun sama.
Zakia
sambil nunggu PKJ3 baca ini dulu, sebenarnya heran kok eps beda karena sebelumnya sudah aku baca semua thor
Muka Kanvas: Sudah ganti judul, setelah melalui pertimbangan yang cukup berat, akhirnya aku memutuskan membawa kisah Dekekuoi jadi novel yang panjang.
total 1 replies
Arla
kenapa dihapus kak thor,, pantesan error tadi pas aku mau like🤭
Yosh Pontoh: Pantesan barusan aku cari di rak buku gak ada.
total 2 replies
Damn Nwtch
curiga sama pamannya,Napa Dani g boleh ikut
Muka Kanvas: Lanjt ya, udah ada part selanjutnya
total 1 replies
Tini Nurhenti
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
Arla
kasihannya dokter itu
Arla
ngeri jiwa psikonya...
Ayuk Witanto
hiii serem
Ayuk Witanto
gila dia
Ayuk Witanto
bagus
Ayuk Witanto
seru sih...tapi gantung🤭
Wahyu ningsing: lha yaitu...gak enak digantung....pastinya sakit
total 3 replies
Tini Nurhenti
kek cerpen kk👍💪💪
Muka Kanvas: Iya betul, tapi lebih tepatnya antologi horor
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!