Sekte kuno Pedang Langit yang berjaya selama seribu tahun, dalam lima ratus tahun terakhir mengalami kemunduran akibat seluruh guru besar dan murid sekte bahkan sesepuh serta ketua sekte tewas dalam perang melawan Klan Iblis. Hanya tersisa, seorang murid luar Li Tianchen dan mendapatkan warisan dari guru besar. li Tianchen menjadi ketua sekte Pedang Langit.
Hidup damai dan nyamannya mulai terusik, saat Sekte -sekte baru menyerang dan ingin menguasai wilayah sekte Pedang Langit.
Mampukah Li Tianchen mempertahankan sekte pedang Langit? Dapatkah Tianchen mendapatkan murid untuk membantu sekte meraih puncak tertinggi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEKTE KUNO 4
Tiba-tiba, rintik hujan yang membasahi kepalanya mendadak berhenti.
Su Ziyan mendongak perlahan. Di atas kepalanya, sebuah payung kain minyak berwarna putih telah terbentang, melindunginya dari rintik air. Sesosok pemuda tampan dengan jubah putih bersulam perak sedang berdiri di sampingnya, memegang payung tersebut dengan ekspresi wajah yang sangat tenang, namun matanya memancarkan kehangatan yang asing bagi Ziyan.
Tianchen menatap gadis di bawahnya. Ketika ia menggunakan Indra Ilahi tingkat Maharaja Agung-nya untuk memeriksa tubuh Ziyan, jantung Tianchen sempat berdetak lebih cepat.
Akar roh yang rusak? Benar... tapi itu bukan akar roh biasa. Ini adalah... Tubuh Sakti Abadi yang tertidur! Kerusakan luar ini justru meretakkan segel kuno di dalam tubuhnya. Jika dibimbing dengan benar, bakat kultivasinya akan melampaui siapa pun di era ini! Leluhur... petunjukmu benar-benar cepat datang.
"Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Tianchen dengan nada suara yang lembut penuh perhatian, memecah keheningan di antara mereka.
Ziyan menyeka air matanya dengan canggung, merasa malu dilihat dalam keadaan seterpuruk ini oleh seorang asing yang tampak begitu agung. Ia menggelengkan kepalanya lemah, mencoba menahan rasa sakit di dadanya. "Saya... saya tidak apa-apa, Tuan. Terima kasih atas kebaikan Anda."
"Kamu akan kemana setelah ini?" tanya Tianchen lagi, matanya tetap tertuju pada wajah Ziyan yang pucat.
Ziyan menatap jalanan kota yang sepi dan diguyur hujan. Tatapannya kosong, dipenuhi keputusasaan. "Aku... aku tidak tahu. Aku tidak punya tempat tinggal lagi. Dunia ini sangat luas, tapi tidak ada satu jengkal tanah pun yang menginginkan seorang sampah cacat seperti diriku."
Tianchen tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membawa rasa aman yang aneh ke dalam hati Ziyan. Ia melangkah satu babak lebih dekat, lalu berjongkok di depan gadis itu agar tinggi mereka sejajar.
"Jika dunia ini tidak menginginkanmu, bagaimana kalau ikut denganku?" ucap Tianchen perlahan. "Apakah kamu mau menjadi murid di Sekte Pedang Langit?"
Ziyan tertegun. Ia mengerutkan dahi kecilnya yang indah, berpikir keras. Sekte Pedang Langit? Nama itu terasa sangat asing di telinganya. Di wilayah ini, ia hanya tahu tentang Sekte Gunung Barat, Sekte Tiga Naga, dan beberapa aliansi besar lainnya. Ia belum pernah mendengar nama sekte yang disebutkan pemuda ini.
Ziyan menatap pakaian mewah Tianchen dan wajahnya yang terlalu menawan untuk ukuran seorang ahli tua. Dengan ragu dan takut menyinggung, ia berbisik, "Maaf sebelumnya... Tuan ini, sebenarnya siapa?"
"Aku Li Tianchen," Tianchen menegakkan tubuhnya kembali, tersenyum bangga. "Ketua Sekte dari Sekte Pedang Langit."
Ziyan membelalakkan mata indahnya, menatap Tianchen dari atas sampai bawah dengan pandangan penuh skeptisisme. Ketua Sekte?! Orang ini bercanda ya? Penampilannya bahkan terlihat tidak jauh berbeda dengan usiaku, paling banyak dua puluh tahun! Mana ada ketua sekte semuda dan setampan ini? Biasanya ketua sekte adalah orang tua berjanggut putih yang berwibawa... Apakah dia orang gila yang sedang mencari pelayan?
Tianchen tiba-tiba terkekeh keras, suara tawanya memecah keheningan jalanan. Sebagai seorang Maharaja Agung, membaca riak pikiran seorang gadis biasa yang tidak memiliki benteng mental Qi adalah hal yang teramat mudah baginya.
"Meskipun penampilanku seperti pemuda berusia dua puluh tahun, tapi sebenarnya aku sudah berusia lebih dari lima ratus tahun, tahu!" Tianchen mengedipkan sebelah matanya dengan nada jenaka. "Hahaha! Jangan menilai buku dari sampulnya, Gadis Kecil."
Wajah Ziyan mendadak memerah karena ketahuan memikirkan hal yang tidak sopan tentang penyelamatnya.
Namun, ekspresi Tianchen mendadak berubah menjadi sangat serius dan penuh wibawa. Tekanan spiritual tingkat Maharaja Agung-nya sengaja dilepaskan sedikit, hanya setitik kecil namun cukup untuk membuat ruang di sekitar mereka bergetar dan menghentikan rintik hujan di udara selama satu detik.
"Jadi bagaimana, Su Ziyan?" tanya Tianchen, suaranya kini terdengar menggelegar langsung di dalam jiwa gadis itu. "Apakah kamu mau menjadi murid langsung, murid pertama dari Ketua Sekte Pedang Langit? Aku tidak hanya bisa mengembalikan akar rohmu yang rusak itu... tetapi aku juga bersumpah, di bawah bimbinganku, aku akan membuatmu menjadi Maharaja Agung termuda di seluruh daratan ini! Membuat mereka yang membuangmu hari ini, merangkak di bawah kakimu untuk memohon ampunan!"
Mendengar kata-kata itu, seolah-olah ada petir yang menyambar jiwa Su Ziyan. Janji itu... aura itu... getaran spiritual yang begitu agung dan murni yang belum pernah ia rasakan bahkan dari Kepala Keluarga Su sekalipun! Pemuda di depannya ini bukan orang gila, dia adalah seorang ahli kultivasi sejati yang tak terbayangkan kekuatannya!
Ini adalah satu-satunya kesempatan dalam hidupnya untuk bangkit dari kubur keputusasaan.
Tanpa ragu-ragu lagi, Ziyan mengabaikan rasa sakit di tubuhnya. Ia langsung bergeser dari posisinya, berlutut dengan kedua lutut menyentuh tanah basah, dan membungkukkan tubuhnya dalam-dalam hingga dahinya menyentuh lantai jalanan di depan kaki Tianchen.
"Hamba, Su Ziyan... hormat kepada Guru Besar Li!" seru Ziyan dengan suara yang lantang dan penuh dengan tekad yang membara. Air matanya kembali menetes, namun kali ini bukan karena kesedihan, melainkan harapan. "Mulai hari ini, hamba akan menjadi murid yang teladan dan berbakti. Hamba bersumpah akan setia sehidup semati kepada Sekte Pedang Langit! Jika hamba berkhianat, biarlah langit dan bumi menghancurkan jiwa hamba hingga musnah!"
Tianchen tersenyum puas melihat keteguhan hati murid pertamanya. Ia mengulurkan tangan, membantu Ziyan berdiri dari tanah yang basah.
"Bagus. Berdiri. Mulai hari ini, kau adalah murid nomor satu di bawah atap Pedang Langit," ucap Tianchen sambil menepuk pundak Ziyan. "Ayo kita pulang ke gunung. Tiga bulan dari sekarang, kita punya banyak kepala sekte tiruan yang harus kita beri pelajaran."
...****************...
Kabut perak Perbukitan Wuji terbelah perlahan saat Li Tianchen menuntun Su Ziyan melewati gerbang batu utama yang megah. Ziyan berjalan dengan langkah ragu, jemari kecilnya mencengkeram ujung gaunnya yang kotor. Namun, begitu sepasang matanya menangkap pemandangan di balik kabut, napasnya tertahan di tenggorokan.
Di hadapannya, empat puncak gunung berdiri kokoh bagaikan pilar-pilar raksasa yang memeluk langit. Istana-istana kuno dengan arsitektur megah dari batu giok hitam dan atap emas bertingkat berdiri kokoh di setiap tebing. Jembatan pelangi yang terbentuk dari kepadatan energi spiritual menghubungkan satu puncak ke puncak lainnya. Udara di tempat ini begitu bersih, dan setiap embusan napas yang dihirup Ziyan terasa seperti air segar yang membasahi meridian tubuhnya yang kering.
"I-ini..." Ziyan terbata-bata, matanya berbinar tak percaya. "Bagaimana mungkin ada tempat seperti ini tersembunyi dari dunia? Energi murni di sini... bahkan berkali-kali lipat lebih pekat daripada area suci milik sekte terbesar di wilayah luar!"
Tianchen tersenyum bangga, melirik murid pertamanya dengan tatapan jenaka. "Tentu saja. Sekte Pedang Langit adalah penguasa sejati tanah ini sebelum tikus-tikus serakah di luar sana lahir. Nah, karena kau adalah murid pertamaku sekaligus satu-satunya murid untuk saat ini kau bebas memilih puncak mana pun untuk tempat tinggalmu."
Ziyan melihat sekeliling, lalu pandangannya tertuju pada sebuah puncak yang dipenuhi pohon bambu spiritual berwarna biru muda, letaknya paling dekat dengan pondok bambu milik Tianchen. "Guru, jika diperbolehkan... saya ingin tinggal di Puncak Biru."
"Puncak Biru? Pilihan yang bagus. Tempat itu tenang dan memiliki kolam mata air spiritual alami di bagian belakangnya," Tianchen mengangguk setuju. "Pergilah ke paviliun di sana. Di dalam lemari sudah kusiapkan jubah resmi sekte untukmu. Gantilah pakaianmu, lalu temui aku di aula utama puncak tersebut."
"Baik, Guru." Ziyan membungkuk hormat, lalu bergegas menuju paviliun dengan hati yang dipenuhi rasa syukur. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak lagi merasa seperti sampah yang dibuang.
Beberapa saat kemudian, Ziyan keluar dengan mengenakan jubah putih salju khas Sekte Pedang Langit. Rambutnya yang panjang diikat sederhana, memancarkan pesona alami yang anggun. Kulitnya yang pucat akibat luka dalam justru memberikan kesan suci, bak seorang dewi yang baru turun dari langit.
Tianchen yang sudah menunggu di aula utama Puncak Biru membalikkan tubuhnya. Tanpa membuang waktu, ia membuka telapak tangannya. Sebuah kotak kayu cendana kuno muncul secara magis, dan ketika dibuka, sebutir pil berwarna putih keperakan dengan tujuh guratan cahaya mistis melayang di udara, menyebarkan aroma wangi yang seketika meremajakan sel-sel tubuh.
"Ini... Pil Tujuh Putaran?" Ziyan membelalakkan mata, tubuhnya bergetar. Sebagai anak dari keluarga kultivator, ia tahu betul nilai benda ini. "Guru! Ini terlalu berharga! Pil ini adalah harta legendaris yang nilainya melampaui satu juta batu roh tingkat tinggi! Bahkan sekte besar pun akan berperang demi mendapatkan sebutir pil ini. Bagaimana mungkin murid yang tidak berguna ini menerimanya?"
"Satu juta batu roh?" Tianchen terkekeh, menggelengkan kepalanya perlahan. "Di mataku, itu hanyalah permen biasa. Ambil dan makanlah. Ini adalah kunci utama untuk menyatukan dan memperbaiki akar rohmu yang rusak."
tenann yunnn... tuan Tian sangat tampan kokk JD nikmatin aja🤭
murid yg pintar langsung bisa tepat sasaran 🤣🤣🤣
ziyan ayo pasti bisa kamu ngelewatin ini 🤣
udah pada datang sendiri..
hanya tinggal bersatuu dan bangkit