NovelToon NovelToon
Mahkota Mawar

Mahkota Mawar

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Louisa Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam terburuk dalam hidupnya akan menjadi awal dari segalanya.

Setelah sepuluh tahun mengejar cinta yang tidak pernah berbalas, dia mabuk — dan tanpa sadar melamar seorang pria yang bahkan tidak dia kenal dengan baik.

Nathanael Susanto. CEO muda dari keluarga konglomerat Susanto. Dingin, misterius, dan... langsung bilang "iya."

Mereka menikah dengan perjanjian: satu tahun, tanpa perasaan, bisa cerai kapan saja.

Tapi Nathanael selalu pulang tepat waktu. Selalu menyiapkan bunga di meja kerjanya. Selalu tahu makanan favoritnya tanpa pernah bertanya.

Dan Louisa mulai bertanya-tanya — apakah suami kontraknya ini... sudah mengenalnya jauh lebih lama dari yang dia kira?

Sementara itu, Kevin Tanuwijaya — pria yang Louisa kejar selama sepuluh tahun — akhirnya sadar bahwa dia sudah kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya.

Tapi sudah terlambat.

Karena Nathanael Susanto sudah menunggu sepuluh tahun untuk momen ini.

Dan dia tidak akan melepaskannya.

🌹 Nikah kontrak. Cinta rahasia sepuluh tahun. Mantan yang menyesal seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 014

Grup yang Tidak Mengundangnya

Meeting selesai pukul sebelas lewat dua puluh, tetapi rasa sesaknya mengikuti Louisa sampai kembali ke meja kerja.

Jessica berjalan di depannya dengan langkah ringan. Begitu sampai di area divisi, ia langsung disambut dua staf junior yang tadi ikut meeting.

"Jess, tadi presentasinya keren banget," kata salah satu dari mereka.

"Iya, slide-nya rapi," tambah yang lain.

Jessica tertawa kecil. "Biasa aja. Untung semalam sempat aku rapikan."

Louisa melewati mereka tanpa berhenti.

Di kursinya, ia membuka file original dan mulai menambahkan catatan risk mitigation yang tadi sengaja dihilangkan Jessica. Bukan karena ia ingin menyelamatkan Jessica. Ia hanya tidak ingin kontrak perusahaan punya celah yang kelak bisa meledak dan ditimpakan kepadanya.

Ponselnya menyala.

Raymond: Lo baik-baik aja?

Louisa menatap pesan itu.

Raymond jarang mengirim pesan pribadi kalau bukan soal pekerjaan. Ia mungkin melihat lebih banyak daripada Kevin. Namun melihat tidak sama dengan membela.

Louisa: Aku sedang revisi appendix.

Raymond: Soal tadi, gue akan bilang ke Kev kalau data itu dari lo.

Louisa: Tidak perlu.

Raymond: Lu yakin?

Louisa tidak langsung menjawab.

Di depan sana, Jessica tertawa lagi, kali ini lebih keras.

Louisa: Kalau dia peduli, tadi dia sudah tanya.

Pesan itu terkirim sebelum Louisa sempat menyesal.

Raymond tidak membalas.

Mungkin karena tidak tahu harus berkata apa. Mungkin karena kalimat itu terlalu benar.

Menjelang makan siang, notifikasi grup kantor berbunyi di ponsel hampir semua orang kecuali Louisa.

Satu per satu rekan tim berdiri.

"Makan ke bawah?" tanya seseorang.

"Iya, Jess udah booking meja."

Louisa tetap menatap layar komputernya.

Ia tidak lapar, tapi dikeluarkan dari ajakan makan siang tetap terasa seperti pintu yang ditutup tepat di depan hidungnya.

Jessica berhenti di samping mejanya. "Louisa, kamu ikut?"

Pertanyaan itu datang setelah semua orang sudah memegang tas.

Louisa mengangkat wajah. "Kalau memang diajak."

Senyum Jessica tidak berubah. "Aduh, jangan sensitif. Aku kira kamu masih nggak enak badan. Lagi pula kamu kan sibuk revisi."

Salah satu staf junior menunduk, pura-pura mengecek ponsel.

Louisa menatap Jessica beberapa detik. "Aku memang sibuk."

"Nah. Semangat, ya."

Mereka pergi.

Area divisi menjadi sepi.

AC kantor berembus dingin. Di layar komputer, angka-angka vendor tampak kabur sejenak. Louisa menyandarkan punggung ke kursi dan menutup mata.

Dulu, ia selalu berpikir kalau bekerja cukup baik, orang akan menghormati hasilnya. Kalau tidak membuat masalah, orang akan bersikap baik. Kalau membantu semua orang, setidaknya mereka tidak akan sengaja meninggalkannya.

Ternyata orang bisa mengambil bantuanmu, lalu tetap meninggalkanmu di meja kosong.

Ponselnya bergetar lagi.

Nathanael: Sudah makan?

Pertanyaan sederhana itu datang terlalu tepat.

Louisa membuka mata.

Louisa: Belum. Nanti.

Nathanael: Nanti jam berapa?

Louisa menatap layar.

Kata nanti terasa tidak bisa ia pakai sembarangan lagi.

Louisa: Setelah revisi selesai.

Nathanael: Aku kirim makanan ke lobby.

Louisa hampir mengetik tidak usah.

Namun perutnya berbunyi pelan, dan di kantor yang sepi itu suara kecil tersebut terdengar memalukan.

Louisa: Jangan yang mahal.

Nathanael: Baik.

Dua puluh menit kemudian, resepsionis menelepon mejanya. Ada paket makanan atas nama Louisa Hartono. Isinya nasi ayam hainan, sup hangat, dan teh tawar. Tidak mahal berlebihan. Tidak mencolok. Cukup untuk membuatnya makan tanpa menjadi bahan tontonan.

Louisa duduk sendirian di pantry kecil dan membuka kotak makan.

Di luar kaca pantry, dua staf lewat. Mereka tidak sadar suara mereka terdengar.

"Itu yang dikirimin makanan?"

"Iya. Katanya sekarang ada yang jemput pakai mobil hitam."

"Pantes cuti mendadak."

"Tapi Kevin belum tahu, ya?"

"Kalau Kevin tahu juga paling nggak peduli. Dia kan sibuk sama Yvonne."

Sendok Louisa berhenti di udara.

Ia tidak tahu bagian mana yang lebih sakit. Rumor tentang dirinya, atau fakta bahwa kalimat terakhir terdengar masuk akal.

Ia meletakkan sendok pelan.

Makanannya masih hangat.

Matanya juga.

Namun ia tidak menangis.

Ia menghabiskan setengah porsi, menutup kotak, lalu kembali ke meja.

Sore harinya, Jessica muncul dengan setumpuk print-out.

"Louisa, kamu bisa bantu final check kontrak vendor sebelum pulang?"

Louisa melihat jam di layar. 17.42.

"Hari ini?"

"Iya. Legal minta malam ini. Aku ada dinner dengan calon sponsor, jadi nggak bisa stay."

"Bukankah kamu yang koordinasi dengan legal?"

"Makanya aku minta kamu bantu." Jessica tersenyum, lalu menaruh print-out itu di meja Louisa tanpa menunggu jawaban. "Kamu kan detail. Kevin juga percaya kamu buat hal-hal begini."

Kevin percaya.

Kalimat itu dipakai seperti gula di atas obat pahit.

Louisa menatap tumpukan kertas itu. "Aku akan cek bagian yang terkait catatan risk tadi. Sisanya kamu kirim ke legal."

Jessica berhenti. "Maaf?"

"Aku tidak bisa mengambil semua pekerjaanmu."

Untuk pertama kalinya hari itu, senyum Jessica benar-benar retak.

"Kamu berubah, ya."

"Mungkin."

"Atau sekarang sudah ada yang back up?"

Area divisi sudah hampir kosong, tetapi kalimat itu tetap terdengar terlalu keras.

Louisa berdiri. "Jess, kalau ada yang ingin kamu tanyakan soal pekerjaanku, tanya langsung. Kalau soal hidup pribadiku, itu bukan urusan kantor."

Jessica menatapnya, lalu tersenyum lagi, lebih dingin. "Aku cuma bercanda. Jangan baper."

"Aku juga cuma menjelaskan."

Jessica mengambil sebagian print-out dengan gerakan lebih kasar. "Fine. Cek risk clause saja."

Louisa duduk kembali.

Ia mengerjakan bagian itu sampai lantai divisi hampir gelap. Saat selesai, ia mengirim email ke legal, cc Jessica, Raymond, dan Kevin. Kali ini, di kalimat pertama, ia menulis jelas: `Berdasarkan due diligence yang saya lakukan pada dokumen vendor...`

Namanya ada di sana.

Kecil. Formal.

Tapi ada.

Pukul 20.13, Kevin membalas email itu.

Kevin: Hard copy bawa ke lantai 28. Saya masih meeting.

Tidak ada terima kasih.

Tidak ada kenapa kamu masih di kantor.

Louisa mencetak dokumen, memasukkannya ke map, dan berjalan menuju lift eksekutif.

Koridor lantai dua belas sudah sepi. Lampu malam membuat dinding kaca terlihat lebih gelap dari biasanya. Saat ia menekan tombol lift, layar di atas pintu menunjukkan angka turun dari dua puluh delapan.

Dua puluh tujuh.

Dua puluh enam.

Louisa memeluk map di depan dada.

Di dalam lift yang turun, ia samar-samar mendengar suara Kevin.

Dan satu suara perempuan yang sangat ia kenal sebagai Yvonne Lim.

1
Rara Salsa
bagus bangettt ceritanya ngena bangetttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!