Dijebak oleh kakak tirinya Nadira, Kirana — anak luar keluarga Hendra yang tak pernah diakui seumur hidup — terbangun di kamar hotel bersama Raka, calon suami Nadira yang selama ini dipandang sebelah mata sebagai laki-laki tak berpunya.
Keluarga malah memaksa mereka menikah untuk menutupi aib, tanpa mau mendengar sisi kebenaran darinya. Tanpa gentar, Kirana membawa Raka keluar dari rumah mewah itu, memulai hidup susah di kontrakan kecil sambil bekerja sebagai koki di hotel bintang lima.
Namun siapa sangka, Raka menyimpan identitas rahasia yang jauh lebih besar. Saat Nadira terus berusaha menjatuhkannya, bisakah Kirana bangkit dari hinaan dan mengungkap semua permainan kotor keluarga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14
Kirana menandatangani perjanjian cicilan dengan tangan yang lebih tenang daripada hatinya.
Bima membawa dokumen itu ke ruang kecil dekat kantor administrasi hotel. Isinya sederhana: kerusakan kendaraan operasional, estimasi biaya delapan juta rupiah, pembayaran cicilan lima ratus ribu per bulan, tanpa bunga. Terlalu baik untuk ukuran mobil semahal itu, tapi Kirana tidak punya ruang untuk berdebat.
Ia membaca setiap kalimat.
Bima menunggunya tanpa mendesak.
"Kenapa tidak ada bunga?" tanya Kirana.
"Ini bukan pinjaman bank."
"Tapi tetap kerugian."
"Mahendra Group tidak hidup dari bunga lima ratus ribu staf hotel."
Kirana menatapnya.
Bima sadar kalimatnya terlalu terbuka. Ia menambahkan, "Maksud saya, biaya administrasi akan lebih merepotkan."
Kirana menandatangani.
"Terima kasih."
"Saya yang seharusnya berterima kasih. Menu Anda semalam disukai tamu."
"Tamu yang mobilnya saya rusakkan?"
"Yang merusakkan bukan Anda."
"Tapi masalahnya datang bersamaku."
Bima menatap perempuan di depannya. Ia mulai paham kenapa Raka memilih tinggal di kontrakan sempit itu lebih lama dari rencana. Kirana punya kebiasaan buruk: memikul beban seolah itu satu-satunya cara membuktikan diri masih layak berdiri.
"Bu Kirana," kata Bima lebih lembut, "tidak semua hal yang terjadi di dekat Anda adalah tanggung jawab Anda."
Kirana tersenyum kecil. "Kata-kata orang yang tidak pernah jadi kambing hitam."
Bima tidak menjawab.
Ia pernah melihat banyak orang kaya bicara soal harga diri. Tapi jarang melihat orang benar-benar membayarnya dengan gaji bulanan.
Setelah Kirana keluar, Bima langsung mengirim foto dokumen pada Raka.
Raka membalas dalam tiga detik.
Kenapa dia tetap tanda tangan?
Bima: Karena dia keras kepala, Pak.
Raka: Saya tahu.
Bima: Saya buat cicilan paling ringan.
Raka: Seharusnya nol.
Bima: Kalau nol, Bu Kirana akan curiga dan mungkin marah pada Anda.
Raka tidak membalas selama beberapa menit.
Lalu masuk satu pesan.
Awasi Danu.
Di dapur, berita tentang Kirana mencicil kerusakan mobil cepat menyebar. Bowo mendengarnya dan tentu saja tidak melewatkan kesempatan.
"Wah, baru kerja sudah punya cicilan delapan juta," katanya cukup keras saat Kirana menyiapkan bahan. "Hidup memang harus tahu batas. Jangan dekat-dekat dengan urusan orang kaya kalau tidak mampu bayar."
Kirana tidak menoleh. "Bapak sedang bicara dengan saya?"
"Saya bicara umum."
"Kalau begitu umum juga harus tahu kapan diam."
Lala yang sedang menimbang tepung hampir menjatuhkan sendok.
Bowo mendekat. "Kamu semakin kurang ajar."
Chef Arman muncul dari balik rak. "Bowo, kalau energimu masih banyak, bantu banquet. Jangan habiskan untuk komentar."
Bowo menelan marah. "Baik, Chef."
Hari itu Kirana bekerja lebih lama. Ia meminta shift tambahan di bagian persiapan banquet malam. Chef Arman awalnya menolak karena jamnya terlalu panjang, tapi Kirana memaksa dengan alasan ingin belajar.
Padahal semua orang tahu alasan sebenarnya uang.
Menjelang sore, Pak Dimas datang ke dapur.
"Kirana, restoran penuh malam ini. Ada tamu sosialita booking meja besar. Mereka minta menu lobster dan wellness drink. Kamu siap?"
Kirana mengangguk. "Siap, Pak."
Ia baru tahu siapa tamunya ketika melihat daftar reservasi.
Nadira Hendra.
Kirana menatap nama itu sebentar.
Lala yang berdiri di sampingnya berbisik, "Mbak, dia lagi?"
"Dia punya uang untuk makan."
"Dan tenaga untuk ganggu."
"Maka kita punya tenaga untuk bekerja benar."
Malamnya, Nadira datang dengan kelompok yang lebih besar. Kali ini bukan hanya Melisa dan Rani. Ada beberapa perempuan dari lingkaran arisan muda, dua pria, dan seorang influencer yang sering mengulas tempat makan mahal.
Nadira duduk di tengah seperti tuan rumah.
"Aku dengar menu wellness di sini sedang naik," katanya pada pelayan. "Katanya dibuat oleh adikku. Kami ingin coba."
Kata adikku ia ucapkan manis.
Pelayan mencatat pesanan. Di dapur, Kirana memimpin persiapan minuman kunyit asam sparkling dan sup rempah kecil sebagai pembuka. Chef Arman mengawasi dari jauh, membiarkannya bekerja.
Semua berjalan lancar sampai piring utama keluar.
Influencer itu mencicipi dan berkata, "Ini enak banget."
Nadira tersenyum, tapi matanya tidak ikut tersenyum.
Salah satu pria di meja berkata, "Kalau adikmu jago masak begini, kenapa dulu disembunyikan?"
Nadira tertawa lembut. "Kirana memang lebih nyaman di belakang dapur."
Kalimat itu terdengar ringan, tapi orang-orang di meja paham maksudnya.
Di belakang dapur.
Bukan di ruang utama.
Tidak lama kemudian, Nadira memanggil manager.
Pak Dimas datang.
"Boleh panggil Kirana? Kami ingin memberi pujian langsung."
Pak Dimas tampak ragu, tapi Chef Arman mengizinkan. Kirana keluar dengan seragam dapur bersih.
Nadira tersenyum lebar. "Kirana, masakanmu enak. Aku bangga."
"Terima kasih."
"Teman-temanku juga ingin kenal. Mereka penasaran, bagaimana rasanya dari tinggal di kontrakan kecil lalu masak untuk orang-orang seperti kami?"
Meja itu hening sesaat.
Salah satu perempuan menahan tawa.
Kirana menatap Nadira.
"Rasanya sama seperti masak untuk tamu lain."
"Benarkah? Aku kira kamu akan merasa gugup."
"Saya lebih gugup kalau tamu sengaja memasukkan rambut ke makanan."
Wajah Nadira langsung berubah.
Beberapa orang di meja saling pandang. Influencer itu mengangkat alis, jelas tertarik.
Nadira berbisik tajam, "Kirana."
Kirana tersenyum sopan. "Tapi tentu saja itu tidak terjadi malam ini. Semua sudah kami awasi."
Pak Dimas hampir batuk.
Nadira menggenggam sendok.
Salah satu pria bertanya, "Memasukkan rambut?"
Kirana menunduk sedikit. "Maaf, itu urusan internal hotel. Saya permisi kembali ke dapur."
Ia berbalik.
Nadira tidak bisa mengejarnya. Kalau ia marah, semua orang akan bertanya. Kalau ia diam, ia terlihat kalah.
Influencer di meja itu justru memotret minuman wellness dan mengunggah story.
Menu baru Hotel Wijaya surprisingly good. Chef mudanya punya karakter.
Kirana baru tahu story itu satu jam kemudian dari Lala. Ia hanya mengangguk, tapi di dalam hati ada rasa hangat kecil.
Nadira melihat story yang sama dari mejanya.
Kata chef muda membuatnya muak.
Kirana bukan chef.
Kirana bukan siapa-siapa.
Setelah makan malam selesai, Nadira sengaja menunggu di lorong menuju toilet staf. Saat Kirana lewat membawa dokumen bahan, ia menghadang.
"Kamu bangga mempermalukanku?"
Kirana berhenti. "Aku hanya menjawab pertanyaanmu."
"Kamu sengaja menyinggung kejadian rambut itu."
"Kamu juga sengaja menyinggung kontrakanku."
Nadira mendekat. "Sadar diri, Kirana. Kamu boleh dipuji karena masakanmu, tapi kamu tetap perempuan yang dibuang keluarga. Raka juga akan sadar suatu hari nanti."
"Kamu sering sekali menyebut Raka."
"Karena aku tahu laki-laki seperti dia tidak akan puas dengan perempuan sepertimu."
Kirana menatapnya. "Laki-laki seperti dia? Bukankah dulu kamu bilang dia tidak punya masa depan?"
Nadira tersentak.
Kirana melanjutkan, "Kamu berubah pikiran karena apa? Karena Bima? Karena Mahendra Group? Atau karena kamu tidak tahan melihat sesuatu yang kamu buang tidak hancur?"
Nadira mengangkat tangan.
Kirana tidak mundur.
Tangan Nadira berhenti di udara.
Karena dari ujung lorong, suara Raka terdengar.
"Coba saja."
Nadira menoleh.
Raka berdiri di sana, jaket hitam, wajah dingin. Entah sejak kapan ia datang.
Kirana juga terkejut. "Raka?"
"Saya menjemputmu."
"Aku belum selesai shift."
"Saya tunggu."
Nadira menurunkan tangan perlahan. "Kamu selalu muncul di waktu yang tepat."
"Karena kamu selalu melakukan hal buruk di waktu yang mudah ditebak."
Wajah Nadira memerah.
"Raka, aku hanya ingin bicara baik-baik."
"Tidak ada pembicaraan baik-baik yang dimulai dengan tangan terangkat."
Kirana menahan napas. Beberapa staf di ujung lorong mulai melihat. Nadira menyadari itu. Ia segera mengubah wajah.
"Kirana salah paham. Aku hanya..."
"Pergi," kata Raka.
Satu kata.
Nadira membeku.
Tidak ada laki-laki yang pernah berbicara seperti itu padanya di depan orang lain.
"Kamu akan menyesal," bisiknya.
Raka menatapnya tanpa berkedip. "Saya sudah menyesal pernah menganggapmu mungkin orang baik."
Nadira pergi dengan langkah cepat.
Kirana menatap Raka. "Kamu datang pakai apa?"
"Taksi."
"Benarkah?"
"Kali ini benar."
Kirana menghela napas. "Aku masih dua jam lagi."
"Saya tunggu."
"Di mana?"
"Di lobby."
"Kamu tidak punya kerja?"
"Saya sedang cuti dari kerja tidak jelas saya."
Kirana hampir tersenyum, tapi menahannya.
"Jangan bikin masalah."
"Saya hanya duduk."
Namun saat Raka duduk di lobby, beberapa staf senior dan security tampak terlalu sopan padanya. Mereka tidak tahu harus memanggilnya apa, tapi tubuh mereka mengenali status yang belum diucapkan.
Kirana melihat dari jauh.
Kecurigaannya tumbuh lagi.
Malam itu, ketika mereka berjalan keluar hotel bersama, Kirana berkata, "Raka, semakin lama kamu semakin terlihat tidak miskin."
Raka menatap jalan.
"Saya harus belajar terlihat lebih miskin?"
"Jangan bercanda."
"Saya tidak bisa mengubah wajah."
"Itu bukan masalahnya."
"Lalu?"
Kirana berhenti.
"Masalahnya, aku mulai takut saat tahu nanti, ternyata semua orang benar dan aku yang paling bodoh."
Raka menatapnya.
Kali ini ia tidak punya jawaban lucu.
Ia hanya berkata, "Kamu tidak bodoh."
"Belum tentu."
"Kirana."
"Apa?"
"Kalau suatu hari kamu marah karena tahu semuanya, marahlah. Tapi jangan pernah berpikir kamu bodoh karena percaya."
Kirana tidak menjawab.
Di dalam hotel, Bima menonton dari balik kaca lobby. Ia menerima pesan dari Raka.
Percepat pencarian asal gelang.
Bima membalas: Baik, Pak.
Lalu ia menambahkan sendiri, meski tidak dikirim.
Semoga saat semuanya terbuka, Bu Kirana tidak benar-benar pergi.