NovelToon NovelToon
Tahanan Sang Konglomerat

Tahanan Sang Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO / Obsesi
Popularitas:740
Nilai: 5
Nama Author: Buana

Monique "Momo" Salim — gadis Tionghoa dari gang sempit Pecinan Semarang, anak haram yang dijual ayahnya sendiri, tabungan Rp 300.000 — terbangun di sebuah pulau mewah yang tak pernah ada di peta mana pun.
Di hadapannya berdiri seorang pria yang menguasai separuh ekonomi Asia Tenggara.
Renard Aurelius Widjaja.
CEO Widjaja Group. Konglomerat paling berkuasa — dan paling berbahaya — di Indonesia. Matanya amber seperti matahari terbenam, tapi tatapannya lebih dingin dari es.
"Kamu milikku," katanya. Bukan pertanyaan. Bukan permintaan. Itu pernyataan.
Momo dikurung. Bajunya diganti. Ponselnya disita. Satu-satunya yang tersisa: setengah gelang sakura di pergelangan tangannya — dan ingatan samar tentang pil putih yang memulai segalanya.
Tapi Momo bukan gadis yang mudah tunduk.
Di balik tembok emas penjara Renard, ada rahasia yang lebih gelap dari obsesinya:
— Seorang hacker jenius yang menawarkan kebebasan... dengan harga yang tak terduga.
— Sebuah password sembilan huruf yang menyimpan cinta bertahun-tahun.
— Dan kebenaran tentang keluarga Widjaja yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta paksa berubah menjadi cinta sungguhan — siapa yang sebenarnya menjadi tahanan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13: Diselamatkan dari Kegelapan

Renard menarik Momo dari laut dengan wajah yang tidak lagi mirip manusia yang bisa berpura-pura tenang.

Ia naik ke batu karang dengan satu tangan mencengkeram tubuh Momo, tangan lain berdarah karena menahan tepi batu. Ombak memukul punggungnya, menarik mereka kembali ke air, tetapi Renard menggeram rendah dan mendorong tubuh Momo lebih dulu ke permukaan datar.

"Momo."

Tidak ada jawaban.

Tubuh Momo terbaring lemas. Rambutnya menempel di pipi. Bibirnya pucat kebiruan. Dadanya tidak bergerak.

Untuk satu detik, dunia Renard berhenti.

Lalu ia bergerak.

Tangannya menekan dada Momo. Satu. Dua. Tiga. Air menetes dari rambutnya ke wajah Momo. Di belakang, alarm masih meraung. Lampu sorot bergerak kacau. Albert berlari menuruni jalur batu bersama dua pengawal, tetapi semua suara itu jauh.

Yang ada hanya dada Momo yang tidak naik.

"Bernapas," kata Renard.

Tekanan lagi.

"Bernapas, gadis kecil."

Tidak ada.

Rahang Renard mengeras. Ia membuka jalan napas Momo, memberi napas buatan, lalu kembali menekan dadanya. Tangannya gemetar. Bukan karena dingin. Bukan karena lelah. Karena untuk pertama kalinya sejak ia menjadikan dunia sebagai sesuatu yang bisa ia beli, ancam, dan kunci, ada satu hal di depan matanya yang tidak mau tunduk.

Kematian.

"Jangan berani."

Tekanan.

"Jangan berani meninggalkanku."

Momo tersentak.

Air keluar dari mulutnya. Ia batuk keras, tubuhnya melengkung, lalu menarik napas kasar seperti seseorang yang kembali dari tempat terlalu gelap. Renard langsung mengangkatnya ke dalam pelukan. Terlalu erat. Hampir menyakitkan jika Momo sadar penuh.

Tetapi Momo hanya mendengar suara yang pecah di dekat telinganya.

Kalimat yang tidak jelas.

Mungkin namanya.

Mungkin permohonan.

Mungkin sesuatu yang Renard sendiri tidak ingin dunia dengar.

Ketika Albert tiba, Renard sudah berdiri dengan Momo di lengan. Kemejanya basah, tangan dan lututnya berdarah, tetapi ia berjalan tanpa melihat lukanya.

"Kamar medis," katanya.

"Tuan, luka Anda..."

"Kamar medis."

Albert tidak membantah lagi.

Anthony muncul lewat layar video di kamar medis dalam waktu kurang dari lima menit. Wajahnya yang biasanya santai berubah serius ketika melihat kondisi Momo.

"Suhu tubuh turun. Selimut pemanas. Cek napas. Jangan biarkan dia tidur terlalu dalam. Renard, dengar aku?"

Renard berdiri di sisi ranjang, memegang tangan Momo.

"Renard!"

"Aku dengar."

"Lepaskan tangannya sebentar. Albert perlu pasang infus."

"Tidak."

Anthony menutup mata sebentar. "Kau mau dia selamat atau mau menang lomba keras kepala?"

Renard menatap layar dengan mata merah. Selama satu detik, ruangan membeku. Lalu ia menggeser tangannya sedikit, cukup untuk Albert memasang infus, tetapi tidak benar-benar melepaskan jari Momo.

Momo setengah sadar saat jarum masuk. Ia merasakan dingin di punggung, panas di telapak tangan, dan sakit tumpul di tulang rusuk. Ada suara Anthony memberi instruksi. Ada Albert menjawab "Baik, Dok." Ada Renard yang tidak berkata apa-apa.

Keheningan Renard justru paling keras.

Momo membuka mata sedikit.

Wajah Renard berada di samping ranjang. Rambutnya masih basah. Ada goresan di pelipisnya. Matanya tidak seperti biasa. Tidak amber dingin. Tidak predator. Merah, tegang, dan penuh sesuatu yang terlalu mentah untuk disebut marah.

Ia memegang tangan Momo seolah jika genggamannya longgar sedikit saja, laut akan datang mengambilnya lagi.

Momo ingin bertanya tentang Sen.

Ingin berkata ia melihat wajah itu.

Ingin memaki Renard karena tetap mengurungnya.

Tetapi tenggorokannya sakit, dan tubuhnya terlalu lemah.

Yang keluar hanya bisikan pecah.

"Sen..."

Genggaman Renard mengeras.

Luka di matanya berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.

"Jangan sebut dia."

Momo tidak mampu membalas. Matanya kembali berat.

Sebelum gelap menariknya, ia melihat sesuatu jatuh dari bulu mata Renard ke punggung tangannya.

Air laut, pikirnya.

Tetapi Renard sudah kering di wajah bagian itu.

Monster itu...

Anthony mengutuk pelan dari layar tablet ketika koneksi menyala.

"Kalian semua punya bakat luar biasa untuk hampir mati pada jam yang tidak manusiawi," katanya. "Letakkan dia miring. Jangan biarkan dia menelan air lagi."

Renard melakukan semua perintah tanpa membantah. Itu saja sudah cukup membuat Albert terlihat khawatir. Pria yang biasanya menolak dokter kini mengikuti instruksi satu per satu, tangan basahnya menahan bahu Momo, jari-jarinya memeriksa denyut di lehernya seolah jika ia melepas sebentar, denyut itu akan kabur.

Momo batuk lagi. Air keluar dari mulut. Dadanya sakit. Setiap napas seperti merobek kain basah di dalam paru-paru.

"Momo," kata Renard.

Ia ingin menyuruh pria itu diam.

Ia ingin bertanya kenapa ia melompat.

Ia ingin mengatakan bahwa Sen melepaskannya.

Tetapi tubuhnya hanya bisa menggigil.

Renard menarik selimut tebal dari tangan pengawal dan membungkusnya. Kali ini tidak ada kemewahan sutra, tidak ada aturan, tidak ada kata milikku. Hanya selimut kasar, napas berat, dan dua tangan yang terlalu keras menahan dirinya agar tidak hancur.

Momo menatap wajah Renard dari sela bulu mata.

Air menetes dari rambut pria itu ke rahangnya. Bibirnya pucat. Ada luka baru di pelipis, mungkin terkena batu ketika melompat. Namun yang membuat Momo takut bukan luka itu.

Yang membuatnya takut adalah matanya.

Mata Renard tampak seperti seseorang yang baru melihat dunia mengulang kehilangan lama.

"Aku baik-baik saja," bisik Momo, meski jelas bohong.

Renard menunduk sampai dahinya hampir menyentuh dahinya. Ia berhenti tepat sebelum kulit bertemu kulit. Batas itu tipis sekali. Satu napas lebih dekat, dan Momo tidak tahu apakah ia akan mendorong atau diam.

"Jangan pernah lakukan itu lagi," katanya.

"Lari?"

"Jatuh."

Kalimat itu aneh. Bodoh. Hampir lembut.

Momo tertawa serak, lalu batuk lagi. "Itu bukan rencanaku."

Wajah Renard mengeras. "Sen."

Nama itu masuk seperti es.

Momo menutup mata. Ingatan tentang genggaman yang mengendur membuat seluruh tubuhnya dingin lebih dalam daripada air laut.

"Dia tidak..." Momo berhenti.

Ia belum sanggup mengatakannya.

Renard melihat terlalu banyak dari jeda itu.

Tangannya di selimut mengepal.

"Aku akan menemukannya."

Momo membuka mata. "Renard."

Ia tidak tahu kenapa memanggil nama itu. Mungkin untuk menghentikan pembunuhan. Mungkin untuk menahan pria itu tetap di sini. Mungkin karena saat tubuhnya masih setengah mati, nama itu terasa seperti tali yang sudah terlalu sering menyelamatkan dan mengikat sekaligus.

Renard menatapnya.

Dan di sana, tepat di bawah mata amber yang biasanya dingin, Momo melihat basah yang bukan air laut.

Albert berdiri di belakang Renard dengan handuk dan laporan yang tidak berani ia bacakan.

Tidak ada yang menyebut Sen.

Justru karena tidak disebut, nama itu memenuhi ruangan medis. Momo merasakan sakit di dadanya yang bukan hanya air laut. Ia belum siap mengucapkan bahwa orang yang menawarkan pulang telah membuka tangannya dan membiarkannya jatuh.

Renard tampaknya sudah tahu.

Atau ia selalu tahu lebih cepat daripada manusia biasa.

"Istirahat," katanya.

"Kamu juga."

Kalimat itu keluar sebelum Momo bisa menahannya.

Renard membeku sebentar.

Momo memejamkan mata, pura-pura tidak sadar bahwa ia baru saja peduli.

Saat ia membukanya lagi, di sana, tepat di bawah mata amber yang biasanya dingin, Momo melihat basah yang bukan air laut.

Menangis?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!