"Sakit, Mas! Apa yang kamu lakukan ke aku itu sangat menyakiti hatiku! Gimana bisa kamu ngelakuin ini ke aku, dan itu adalah adikku sendiri. Lalu kamu, kenapa kamu tega sama kakak mu ini haah!!"
Suara Swastamita bergetar hebat ketika berkata demikia kepada suaminya, Erdio Rasmaluyo.
Betapa tidak bergetar, rasa sakit di hatinya sangat nyata. Suami yang memintanya untuk melepaskan karinya demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya ternyata malah berselingkuh dengan adik tirinya.
Yang lebih mengejutkan adalah, perselingkuhan yang dilakukan Erdio dan Medini itu diketahui oleh sang ibu.
Sakit hati Swastamita ketika mengetahui bahwa di rumah itu hanya dirinya yang tak tahu apa-apa.
Adik tiri yang sangat ia sayangi melebihi dirinya sendiri tega menjadi duri dalam daging pada rumah tangganya. Dan suami yang ia jadikan imam, malah menorehkan luka yang begitu dalam.
Bagaimana Swastamita menghadapi rasa sakit yang dirasakannya tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
"Mit, tunggu Mit. Aku mohon, aku mohon jangan ceraikan aku. Aku mohon!"
Erdio menepuk-nepuk kaca mobil Mita yang sudah berjalan. Dia berusaha menahan Mita untuk tidak pergi ke pengadilan. Namun tentu itu tak berhasil. Mita sudah melaju cepat saat mobilnya keluar dari pekarangan. Meski ia melihat Erdio terjatuh ketika mengejarnya, wanita itu tak peduli.
"Bahkan kalau kamu mau nangis darah pun, aku nggak peduli lagi Erdio. Kisah kita telah usai."
Berakhirlah sudah semua kisah ini dan jangan kau tangisi lagi
Sekali pun aku takkan pernah mencoba kembali padamu
Sejuta kata maaf terasa 'kan percuma
S'bab rasaku t'lah mati untuk menyadarinya
Tapi bukan aku, uh-oh-uh
Semoga saja 'kan kau dapati
Hati yang tulus mencintaimu
Tapi bukan aku
Lagu yang diputar di mobil oleh Mita seolah relate dengan apa yang tengah dirasakannya. Lagu milik salah satu band yang terkenal pada masanya itu menjadi gambaran perasaan yang Mita rasakan saat ini.
Meski lagu tersebut rilis empat tahun yang lalu namun sampai sekarang masih sangat hits. Band Krispatih juga begitu populer di lingkungan para anak muda.
Tapi bukan aku, ya itulah yang saat ini dirasakannya kepada Erdio. Cinta yang dulu pernah ada atau bahkan masih ada sudah tak berarti lagi dengan semua pengkhianatan yang dilakukan oleh pria itu.
Setelah lagu 'Tapi Bukan Aku' milik Krispatih, muncul lagu 'Pengkhianat Cinta' ciptaan Maia Estianti. Sungguh terasa sangat pas sekali menggambarkan tentang apa yang Mita rasakan saat ini. Dirinya yang larut dalam lagu-lagu itu, tak menyadari bahwa lampu merah yang ada di depannya sudah hijau.
Suara klakson mobil belakang terdengar nyaring, yang kemudian menyadarkan Mita sehingga ia segera melajukan mobilnya lagi.
Haaah
Mita membuang nafasnya kasar saat dirinya sudah berada di parkiran pengadilan negeri agama Kota Magelang. Tempat yang dulu hanya pernah dilewatinya itu siapa sangka kini akan disambanginya.
Mita berdiam sejenak di dalam mobilnya. Seolah mengumpulkan semua daya, wanita itu kembali meyakinkan dirinya bahwa pilihan ini merupakan pilihan yang tepat.
"Bismillah,"ucapnya lirih sambil keluar dari mobil lalu melenggang masuk ke gedung PA Kota Magelang.
Di sana dia langsung disambut oleh petugas. Mita kemudian menjelaskan maksud dan tujuannya. Ia juga mengungkapkan keinginannya untuk bisa secepatnya berpisah.
"Baiklah, kami akan proses sesuai prosedur,"ucap sang petugas.
"Terimakasih, Pak,"jawab Mita. Ia kemudian pergi dari tempat tersebut dengan nafas yang jauh lebih ringan ketimbang tadi.
"Ternyata nggak sesulit itu. Aah semoga ini segera selesai. Aamin."
Mita tersenyum lebar. Dia kembali masuk ke mobil dan menjalankannya.
Tak ingin segera pulang, Mita memutuskan berkeliling kota lebih dulu. Karena tak punya tujuan, ia hanya berputar-putar di kota yang luasnya tak lebih dari 20 km² itu. Atau lebih tepatnya, luas Kota Magelang hanya 18,54 km². Meski kecil, Kota Magelang merupakan kota tertua tertua keempat yang berdiri pada tanggal 11 April tahun 904 Masehi.
Entah sudah berapa kali Mita berkeliling, akan tetapi dia tak kunjung ingin pulang ke rumah. Adzan zuhur yang berkumandang saat dirinya melalui alun-alun, membuat Mita memilih untuk memasuki wilayah masjid. Ia memutuskan untuk menjalankan kewajiban sholat zuhur di Masjid Agung Kauman, yang terletak di sekitar alun-alun.
"MasyaAllaah adem nya,"ucap Mita ketika dia menginjakkan kakinya di lantai masjid. Rasa tidak nyaman yang tadi bersemayam dalam hatinya mendadak runtuh ketika dia memasuki masjid.
Mita bergegas mengambil air wudhu. Sebentar lagi sholat berjamaah akan dilaksanakan, dan ia tak ingin ketinggalan.
Tapi sesampainya di tempat sholat khusus wanita, mukena yang ada di sana telah habis. Mita merutuki dirinya sendiri karena lupa membawa mukena yang biasa ada di dalam mobil.
Saat hendak mengambil mukena miliknya, Mita salah fokus dengan seorang wanita yang usianya mungkin tak jauh beda dengan Warsi tengah mencari-cari mukena juga. Namun ia tak ada waktu untuk bertanya, sehingga memilih untuk segera mengambil mukenanya di mobil.
Dengan sedikit berlari, karena suara takbiratul ikram sudah diucapkan oleh imam, Mita kembali ke tempat sholat.
"Ibu nyari mukena? Ini pakai punya saya, kebetulan saya punya dua,"ucap Mita kepada wanta paruh baya yang ia lihat tadi.
Rupanya Mita bukannya bersikap tak acuh, dia mempertimbangkan waktu dan juga mengambil dua mukena yang ada di dalam mobilnya untuk diberikan kepada wanita itu salah satunya.
"Makasih ya Nduk cah ayu."
Keduanya memakai bersamaan dan segera menyusul sholat zuhur berjamaah tersebut. Sholat dilakukan dengan begitu khusyu. Setelah salam, Mita juga masih terdiam dalam duduknya, memanjatkan doa kepada Sang Maha Kuasa atas apa yang terjadi dalam hidupnya.
Air mata Mita tak kuasa dibendung, namun dia dengan cepat menghapusnya.
"Terimakasih ya Nduk, sudah dipinjamkan. Saya beneran lupa bawa. Biasanya selalu ready di kendaraan tapi kok ini lupa banget. Untung ada sampeyan (kamu),"ucap wanita paruh baya tersebut sembari mengembalikan mukena milik Mita yang sudah dilipat dengan rapi.
"Sama-sama Ibu, dengan senang hati bisa membantu,"jawab Mita dengan tersenyum.
"Ah ya, kalau nggak keberatan boleh tahu nama kamu. Siapa tahu suatu hari nant kita bertemu, jadi lebih mudah menyapa,"ucap wanita itu lagi.
"Ah iya Bu, boleh. Nama saya Swastamita, ibu bisa memanggil saya Mita."
"Baiklah Nduk Mita, nama ku Asha. Sekali lagi terimakasih ya nduk cah ayu."
Mita terpaku melihat senyum wanita yang sudah tak muda lagi itu. Senyumnya sangat tulus, lembut dan mampu menggetarkan hati. Sepintas menjadikan Mita teringat oleh ibunya yang sudah tiada. Meski ibu dari Mita meninggal saat Mita masih kecil, namun Mita sangat ingat wajah sang ibu.
"Jadi kangen Ibu,"ucapnya lirih.
Ia menatap Asha yang sudah pergi hingga tak terlihat. Ternyata wanita paruh baya itu tak datang sendiri, seorang pria yang usianya tak jauh beda dari Asha langsung menghampiri. Entah apa yang dikatakan Asha, membuat pria yang disebelahnya menoleh ke arah Mita.
Pria tersebut menganggukkan kepalanya, seolah menyapanya. Mita pun membalas anggukan kepala tersebut dengan cara yang sama.
"Sungguh pasangan yang romantis. Entah berapa kali mereka saling memaafkan, tapi sungguh hebat karena bisa bersama hingga usa mereka tak lagi muda. Itu adalah cita-cita ku dulu, menua bersama Erdio. Tapi ternyata itu hanyalah mimpi yang tak akan pernah bisa aku capai. Haah, baru setahun aja hubungan kami udah kandas, ya kali bermimpi mau jadi kayak mereka. Nggak mungkin Mita, nggak akan mungkin bisa."
Mita tersenyum getir. Ia mengakui bahwa dirinya iri melihat pasangan yang awet itu. Namun percuma juga iri, karena yang namanya jodoh memang rahasia Tuhan yang tak diketahui oleh manusia.
TBC
stidak nya kasih epilog lh,spya tau lingga nnggu Mita menerima perasaannya brapa lama,,