NovelToon NovelToon
Jejak Bintang Di Ujung Mantra

Jejak Bintang Di Ujung Mantra

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Akademi Sihir / Fantasi
Popularitas:784
Nilai: 5
Nama Author: Kyushine / Widi Az Zahra

Aurelia hanyalah seorang anak yatim piatu yang diadopsi keluarga penyihir terpandang. Dibesarkan bersama tiga putra berbakat, ia tumbuh ditengah kasih sayang sekaligus harapan untuk menjadi bagian dari keluarga itu selamanya.

Namun takdir berkata lain.

Dibalik senyumnya, Aurelia menyimpan kekuatan langka yang mampu mengubah dunia. Saat masa lalunya perlahan terungkap, ia dipertemukan kembali dengan sosok yang pernah menyelamatkannya di masa kecil—seseorang yang tak pernah berhenti mencarinya, sementara ia telah melupakannya.

Di antara takdir, sihir, dan perasaan yang tak pernah terduga, siapa yang akan dipilih oleh hati seorang penyihir terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 - Pria Bermata Merah

Angin malam berhembus dingin di puncak menara tua. Aurelia masih berdiri di observatorium kuno itu dengan menatap tempat Orion menghilang beberapa menit yang lalu. Pertanyaan demi pertanyaan mulai memenuhi pikirannya. Mulai tentang wanita bermata emas, para penjaga bintang hingga simbol bintang berujung tujuh, dan tak luput juga tentang dirinya sendiri.

Aurelia menunduk seraya menatap telapak tangannya. Simbol bintang itu terlihat samar-samar kembali muncul di kulitnya sebelum akhirnya menghilang lagi.

“Apa sebenarnya yang kalian sembunyikan dariku?” Gumamnya meski tidak ada jawaban yang ia dapatkan, karena ia hanya ditemani oleh langit malam yang dipenuhi oleh rasi bintang.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, dan Aurelia baru kembali ke asrama. Ia beruntung karena seluruh penghuni asrama sudah tertidur, ia membuka pintu kamarnya dengan sangat hati-hati. Namun begitu masuk, ia langsung terkejut.

Disana ada Lyra yang tengah duduk ditempat tidurnya dengan memeluk bantal. Rambutnya terlihat berantakan dan matanya pun setengah terbuka saat menyadari pintu kamarnya terbuka.

“Akhirnya kau pulang juga.” Suara Lyra parau layaknya suara orang bangun tidur dan tentu saja kehadirannya membuat Aurelia membeku.

“Kau belum tidur?” Tanya Aurelia yang membuat Lyra menguap.

“Tadinya aku tidur, tapi saat bangun, kau sudah tidak ada dikamar ini.” Mendengar itu membuat Aurelia tertawa gugup, dan melihat tingkah Aurelia membuat Lyra menyipitkan matanya. “Kau pergi kemana?” Tanyanya penuh dengan selidik.

“Aku pergi ke taman.” Seolah tidak percaya dengan ucapan Aurelia, Lyra masih menatapnya dengan begitu lekat. “Baiklah aku pergi berjalan-jalan diluar.” Ucap Aurelia lagi.

“Tidak, kau masih tidak mengatakan yang sebenarnya.” Sahut Lyra yang tidak mempercayai ucapan sahabatnya itu.

Aurelia pun menyerah dan menganggap sepertinya ia memang tidak bisa membohonginya. Namun ia juga tidak mungkin menceritakan tentang menara tua dan para Penjaga Bintang, setidaknya belum sekarang.

“Baiklah. Setidaknya jangan membuatku khawatir.” Lyra menghela napasnya dan membuat Aurelia tersenyum kecil.

“Maaf.” Sesal Aurelia dan membuat Lyra kembali ke tempat tidurnya. Dalam hitungan menit, sahabatnya itu sudah kembali tertidur pulas, namun tidak dengan Aurelia. Ia terus memandangi langit dari jendela hingga menjelang fajar, dan tanpa ia sadari diluar perisai pelindung akademi ada seseorang yang masih mengawasinya.

Saat pagi telah tiba, Akademi Aetherion kembali ramai. Suasana disana tampak normal, para murid berjalan menuju kelas, ada yang terlihat sedang berlatih sihir di halaman, ada pula yang duduk di taman seraya membaca buku. Namun jauh dibawah ketenangan itu, ada sesuatu yang mulai bergerak secara perlahan.

Di ruang kerja Kepala Akademi, Professor Aldric berdiri didepan jendela dengan wajah yang tampak begitu serius. Dihadapannya kini ada professor Cedric dan juga beberapa professor senior lainnya.

“Perisai pelindung melemah tadi malam.” Suara Aldric terdengar berat dan membuat Cedric mengernyit.

“Seberapa parah?”

“Lapisan ketiga sempat terganggu selama tujuh menit.” Seluruh ruangan mendadak sunyi mendengar pernyataan Aldric. Menurut mereka, tujuh menit merupakan waktu yang cukup bagi penyihir kuat untuk menembus pertahanan akademi.

“Kau yakin ini bukan gangguan biasa?” Cedric bertanya dengan penasaran.

“Tidak. Ini di sengaja.” Aldric kemudian mengangkat sebuah kristal biru yang didalamnya terlihat seperti rekaman sihir.

Kristal biru itu menampilan sosok bayangan yang tengah berdiri diluar gerbang akademi. Wajah sosok itu tidak terlihat sama sekali, namun sepasang mata merah menyalanya terlihat sangat jelas didalam kegelapan dan itu membuat Cedric langsung menegang.

“Mustahil.” Ucap Cedric yang membuat professor lain juga ikut memucat melihat rekaman dalam bola kristal tersebut. Bagaimana tidak? Mereka mengenali simbol yang muncul di jubah sosok tersebut, sebuah lambang bulan sabit hitam, lambang organisasi yang telah lama menghilang dari sejarah.

Sementara itu, Aurelia yang tengah mengikuti pelajaran pengendalian Mana itu pun banyak murid yang masih mencuri pandang padanya. Aurelia berusaha mengabaikan mereka, namun itu tidak mudah, apalagi sejak Gedung Astralis terbuka, karena namanya semakin sering menjadi bahan pembicaraan para murid disana.

“Kalau terus begini, aku bisa gila.” Bisiknya frustasi dan Lyra yang mendengar itu pun langsung tertawa kecil.

“Anggap saja mereka itu penggemarmu.”

“Itu lebih mengerikan lagi.” Akhirnya mereka berdua tertawa kecil ditengah pelajaran dan semua terasa normal untuk beberapa saat, hingga pintu kelas tiba-tiba terbuka dan terlihat seorang murid laki-laki berlari masuk dengan wajah yang pucat serta napas yang memburu.

“Professor.” Ucapnya dengan napas yang memburu. Suara yang terdengar begitu panik itu membuat seluruh murid disana menoleh ke arahnya.

“Ada apa?”

“Seseorang telah menerobos area latihan timur.” Pungkasnya dan langsung membuat ruangan gaduh.

“Apa? Siapa? Monster?” Murid itu menggeleng seraya mengatur napasnya.

“Bukan, tapi seorang penyihir.” Ujarnya yang membuat professor terkejut mendengar hal tersebut.

Tak lama setelah itu, para professor langsung bergegas menuju area latihan timur. Aurelia dan murid lainnya hanya bisa menyaksikan dari kejauhan dengan puluhan siswa memenuhi balkon akademi untuk melihat apa yang sedang terjadi.

Di tengah lapangan latihan berdiri seorang pria muda, usianya mungkin sekitar dua puluh tahun dengan rambut putih keperakan, kulitnya terlihat pucat dan matanya merah menyala. Pria itu berdiri santai di sana, seolah tengah berada ditaman miliknya, padahal puluhan professor tengah mengepungnya.

“Menarik.” Gumam Lyra. “Aku belum pernah melihat pria setampan itu.” Mendengar penuturan Lyra benar-benar membuat Aurelia terkejut, ia bahkan sampai tersedak karena ulah temannya itu.

“Lyra.” Aurelia seakan tengah memperingkatkan sahabatnya.

“Kenapa? Aku hanya bicara apa adanya.” Timpal Lyra.

Jika Lyra menyebut pria muda itu tampan, berbeda dengan Aurelia, karena Aurelia sendiri tidak memperhatikan wajah pria itu. Ada sesuatu yang membuatnya sangat tidak nyaman, perasaan itu sama seperti ketika seseorang mengawasinya dari kejauhan.

Pria ditengah lapangan itu mengangkat kepalanya secara perlahan, lalu tatapan mata merahnya langsung mengarah ke balkon tempat Aurelia berdiri. Jantung Aurelia terasa ingin berhenti untuk sesaat, karena ia merasa sangat yakin bahwa pria itu tengah melihatnya, bukan ke arah murid lain maupun professor yang ada disana, dan anehnya pria itu menyunggingkan senyumannya.

“Siapa kau?” Aldric yang berada di bawah itu pun langsung maju selangkah mendekat ke arah pria muda itu. Pria berambut putih itu kemudian membungkuk sopan, gerakannya terlihat sangat elegan layaknya keturunan bangsawan.

“Maaf atas kedatanganku yang tiba-tiba, tapi saya hanya ingin mendaftar.” Semua orang terdiam mendengar pernyataannya.

“Mendaftar?” Cedric bertanya ulang.

“Tepat sekali. Saya ingin mendaftar sebagai murid baru.” Pungkasnya lagi dan keheningan langsung menyelimuti lapangan, bahkan angin terasa berhenti bertiup.

“Kau menerobos pertahanan akademi hanya untuk mendaftar?” Salah satu professor bertanya dengan nada yang sangat kesal, dan pria muda itu hanya mengangguk santai.

Melihat respon pria itu, amarah professor tadi hampir meledak, namun Aldric langsung mengangkat tangannya untuk menghentikan professor tersebut tanpa mengalihkan pandangannya dari mata merah yang dimiliki pria dihadapannya, karena Aldric tahu bahwa pria muda dihadapannya tengah berbohong dan itu sangat berbahaya.

Di balkon, Aurelia masih memperhatikannya dan semakin lama ia menatap pria itu, semakin kuat firasat buruk yang ia rasakan. Pria itu memang terlihat tampak tenang dan juga sopan, bahkan ia juga ramah, namun dibalik senyumannya itu terdapat sesuatu yang gelap, dan itu sangat sulit untuk dijelaskan.

Tiba-tiba, pria itu mengangkat salah satu tangannya, ia melambai ke arah balkon, tepatnya ke arah Aurelia dan hal itu membuat Aurelia langsung membeku, Lyra pun menoleh ke arahnya.

“Hah? Dia melambai padamu?” Tatapan Lyra penuh dengan selidik dan Aurelia langsung menggeleng cepat.

“Aku tidak tahu.” Jawabnya. Namun jauh didalam hatinya, Aurelia tahu, bahwa pria itu memang datang untuknya.

Sore telah menjelang, kejadian tersebut masih menjadi topik utama di seluruh akademi, tidak ada yang membicarakan hal lain, bahkan kantin yang biasanya ramai kini dipenuhi berbagai teori.

“Katanya dia itu penyihir jenius.”

“Aku dengar dia mengalahkan tiga professor saat masuk.”

“Benarkah dia kan menjadi murid baru disini?”

Aurelia yang mendengar gosip-gosip itu tidak ikut menanggapi, ia memilih untuk diam, karena pikirannya masih dipenuhi mata merah yang dimiliki pria tadi serta senyum aneh yang ditujukan kepadanya.

Ketika matahari mulai tenggelam, Aurelia memutuskan untuk berjalan sendiri ke taman belakang akademi. Saat ini, Aurelia tengah membutuhkan sebuah ketenangan, terdapat suara air mancur dan aroma bunga disana, biasanya semua itu cukup membuat pikirannya menjadi lebih tenang. Namun kali ini tidak, karena begitu ia tiba ditaman, ia menemukan seseorang yang telah berdiri disana lebih dulu.

Rambut putih dengan mata merah, dia adalah pria muda yang berada di lapangan tadi. Aurelia langsung berhenti, tubuhnya menegang seketika. Pria dihadapannya tersenyum puas seolah sudah menunggunya sejak lama.

“Akhirnya,” katanya pelan yang membuat Aurelia mundur selangkah.

“Siapa kau?” Pria itu meletakkan tangannya didada dan membungkuk sedikit. Gerakannya benar-benar terlihat begitu anggun.

“Perkenalkan. Saat ini kau boleh memanggil…” kalimat pria itu tiba-tiba menggantung dan ia juga langsung tersenyum lebar. “… Caelum.” Sambungnya. Nama itu terdengar asing baginya, namun entah kenapa, saat mendengar ia menyebutkan namanya, bulu kuduk Aurelia langsung meremang.

“Apa maumu?” Caelum menatap Aurelia cukup lama seolah sedang memastikan sesuatu.

“Aku hanya ingin melihat wajah Pewaris Astralis dari dekat.” Darah di tubuh Aurelia seakan membeku.

Untuk pertama kalinya seseorang secara langsung menyebut identitas yang selama ini disembunyikan para professor, dan saat itu juga Aurelia sadar bahwa kedatangan pria itu bukanlah kebetulan, melainkan ia datang karena dirinya. Namun apa pun tujuannya, itu tidak akan membawa sesuatu yang baik.

1
Diana Novitasari
rekomendasi dari kak Adib, aku baru baca sampai bab 5 🤭, sudah bagus👍
ujang casper
lanjut
ujang casper
ceritanya menarik, ada unsur harry potternya, keren min
Anonim
bagus ceritanya, kalimatnya tersusun rapi
Anonim
lanjut kak
kyu rin97
ceritanya sejauh bab 5 yg aku baca bagus, recommended, pertahanin kak
kyu rin97
seru kak, next
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!