Tim gabut generasi delapan dan tim gabut generasi sembilan
Sambungan GD 2, GD 3 dan The Buwono Family.
Tiga sepupu yang satu sekolah dan satu kelas di SMP PRC, dikenal memiliki jiwa kepo tinggi. Seperti hal para ayah mereka, Sheva Sasono, Kenzie Buwono dan Zane Sihasale, sering tidak sengaja terlibat ( melibatkan diri ) dalam kasus kriminal. Bersama tim ayah mereka, ketiganya saling bahu membahu memecahkan misteri.
Generasi ke delapan klan Pratomo
Generasi ke sembilan klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Ganggu Banci
Jakarta
"Jadi saya harus menyamarkan diri?" tanya AKP Ghafar.
"Iyalah! Pan elu yang ngajuin kasus ini," sahut AKBP Rosita sementara Iptu Casey dan Kombes Steven cekikikan.
"Yang benar saja, Bang!" protes AKP Ghafar.
"Justru karena kamu menyamar jadi banci, malah bisa cari tahu. Yakin, komunitas mereka pasti punya cerita. Cuma karena takut sama polisi dan satpol PP saja jadi tidak kebongkar kasusnya," senyum Kombes Arief.
AKP Ghafar cemberut. "Dimana aku harus mulai?"
"Di club tempat terakhir Nimas alias Thomas terlihat. Club g@y dan banci itu masih ada di sana." Kombes Steven menoleh ke arah dua polwan yang ada di meja masing-masing. "Kalian bisa dandanin Gaban?"
AKBP Rosita dan Iptu Casey langsung tersenyum lebar. AKP Ghafar auto bergidik.
"Perasaan aku tidak enak," gumamnya. "Jangan sampai Juleha tahu deh!"
***
Universitas Brawijaya Malang
Kombes Fariz dan AKBP Teguh mendatangi dekan fakultas arkeologi sementara AKP Samsudin dan Iptu Cristiano mewawancarai para mahasiswa yang terlibat proyek arkeologi di Gunung Kawi.
"Kami merasa dikhianati, Pak Fariz, Pak Teguh. Kami benar-benar ingin melindungi cagar budaya bangsa ini tapi ternyata masih ada sisa-sisa orang-orang SDM rendah dan memakai kuasanya. Lupa apa dulu Presiden Konoha sudah menghukum mati satu juta koruptor di seluruh Konoha," omel dosen arkeologi yang didampingi dekannya.
"Jadi Anda belum sempat membuat inventaris?" tanya Kombes Fariz.
"Sudah Pak, tapi diambil semua! Untungnya proyek kami yang tiga bulan sebelumnya, bisa kami selamatkan dan sekarang berada di balai budaya Malang sedang diteliti," jawab sang dekan.
"Berapa yang berhasil kalian selamatkan?" tanya AKBP Teguh.
"Ada lima tembikar, dua mangkuk perunggu, dan beberapa keping uang perak."
"Apa Anda masih punya salinannya?" tanya Kombes Fariz.
"Masih Pak."
***
"Kami dan tim Unair sudah sesuai prosedur, Pak. Bahkan pihak cagar budaya Malang dan Jatim serta perkumpulan arkeologi Jawa Timur juga setuju jika diteliti di Surabaya. Namun baru separuh misi dan penelitian, datang orang itu membawa tentara. Padahal kita semua tahu, setelah revolusi, wercok dan kacang ijo tidak boleh jadi beking sipil berkuasa tapi ya ... tetap saja masih ada anomali," adu Raka, ketua tim penelitian dari mahasiswa.
"Jadi kalian baru separuh membongkar situs Gunung Kawi?" tanya Iptu Cristiano.
"Benar Pak. Kami itu senang bisa meneliti budaya sendiri. Eh, malah ada anomali seperti itu!" timpal Dewi, mahasiswi program S2 yang ikut dalam penelitian.
"Apa kalian hapal wajah-wajahnya?" tanya AKP Samsudin.
"Kami bahkan punya videonya!" jawab Raka.
"Kirimkan ke kami," pinta Iptu Cristiano sambil mengambil tab kantor.
Divisi kasus dingin memang punya inventaris gadget yang khusus untuk kerja. Gadget mereka setiap lima tahun diperbaharui dan setelah pemindahan data, gadget lama dibersihkan semua ke settingan pabrik. Tetap disimpan jika butuh sewaktu-waktu.
"Semua orang ada di sini?" tanya Iptu Cristiano sambil melihat video yang dikirim oleh Raka.
"Ada semua Pak. Bahkan terakhir kami masih di sana pun ada. Kami melihat ada orang datang sambil memeriksa semua artifak yang ada. Sepertinya dia kurator," jawab Raka.
Iptu Cristiano memperlihatkan video itu ke AKP Samsudin. Mata suami Patty itu terbelalak.
"Akbar Maulana!"
***
Dojo Milik Keluarga Pratomo
"Mama ditaksir siapa?" seru Kenzie sambil ninju samsak.
"Kepala ME yang baru. Si Adiwilaga bin Jelaga!" jawab dokter Lucky kesal.
"Kok bisa? Kan Mama sudah tua ... Meskipun nggak setua Papa sih," gumam Kenzie membuat dokter Lucky menyipitkan matanya.
"Papa tua-tua begini masih keren tahu! Lihat saja body Papa! Gara-gara ini, Mamamu itu tidak bakalan melirik pria lain!" cebik dokter Lucky.
"Pa, Mama itu terpaksa sama Papa. Soalnya sudah kena pelet Papa yang absurd!" balas Kenzie. "Lagipula, Mama itu kasihan sama Papa ... bisa stress kuadrat pangkat sinus, cos dan tangen!"
"Heh! Dengar sachet nya Papa. Itu rumus, hanya punya Papa. Sudah dikasih hak paten! Oom Leksi kamu saja bingung! Cuma Papa yang paham! Kalau kamu mau pakai, kamu harus bayar royalti ke Papa!" Dokter Lucky menatap tajam ke putra sulungnya.
"Pak Lucky, apakah Bapak tidak malu memalak anak sendiri?" Kenzie memegang samsak sambil menatap gemas ke ayahnya.
Beruntung mereka hanya berdua, tidak ada Daisy. Karena biasanya, kalau mereka sudah ribut, endingnya bakalan gelut di ring Dojo ala MMA. Kalau ada Daisy, keduanya bakalan harus push up seratus kali. Bagi Daisy, keduanya pantas mendapatkan hukuman.
"Justru karena malak anak sendiri, maka pahala Papa banyak! Rejeki mengalir," eyel dokter Lucky.
Kenzie menggelengkan kepalanya. "Konsep apa itu Pak Lucky!"
"Konsep dokter Lucky Buwono."
"Haaaiiissshhh! Kenapa juga aku punya bokap macam gini ya?" keluh Kenzie.
"Dengar Mini Me. Kamu tuh harusnya bersyukur lahir di keluarga Buwono dan Mancini. Bukan apa-apa ... Seru tahu!"
"Karepmu Pa ... Pusing aku!" Kenzie kembali memukul samsaknya.
***
Setelah mandi dan segar, ayah dan anak itu pun menuju mobil BMW milik Daisy. Well, dulunya milik dokter Lucky tapi jadi mas kawin saat menikah dengan Daisy. Meskipun sudah masuk motuba ( mobil tua Bangka, dan sering diledek Kenzie mirip ayahnya ), tapi Daisy tidak mau menggantinya dengan yang baru.
Selama rajin diservis dan diganti sparepart yang original —dimana soal uang bukan masalah bagi keluarga Buwono —mereka tetap memakai mobil BMW X1 itu. Daisy selalu bilang mobil itu saksi perjalanan kehidupan rumah tangga mereka yang penuh warna.
"Pa, Zane dan Sheva kaget lho Papa bisa dapat tarif ke Gunung Kawi," celetuk Kenzie saat mereka berada di dalam mobil.
"Lha habis Papa penasaran Kenz. Cari apa sih di sana? Kan musyrik itu!" Dokter Lucky melihat warung soto Betawi masih buka. "Kenz, mau makan dulu nggak?"
"Mau Pa! Aku juga lapar."
"Biar Papa bilang sama Mamamu supaya makan dulu sama Elina." Dokter Lucky memarkirkan mobilnya ke area parkir yang berada di seberangnya.
Keduanya pun turun dan jalan dari parkiran ke soto Betawi. Tiba-tiba ada seorang banci yang berlari mengejar mereka. Dia melambaikan tangannya ke arah ayah dan anak itu.
"Lho kok ada banci?" tanya dokter Lucky.
"Pa, kok ngejar kita?" seru Kenzie.
"Kenz, kabur Kenz!" Keduanya pun berlari meninggalkan banci itu.
"Kok Papa jadi ingat lagunya Project Pop ya?" gumam dokter Lucky.
"Pa! Ini bukan waktu yang tepat!" hardik Kenzie.
Keduanya segera menyeberang ke arah warung soto Betawi. Namun banci itu tetap mengejar dokter Lucky dan Kenzie.
"Kita nggak ganggu banci kok!" seru keduanya saat masuk ke dalam warung dan para pengunjung menatap mereka.
Tiba-tiba banci itu segera memegang tangan dokter Lucky yang auto jerit kaget.
"Dok Lucky! Ini aku! Gaban!"
"Haaaahhh?"
***
Yuhuuuu up Pagi Yaaaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
semangat berkarya mbak Hana...jangan lupa istirahat dan healing..
Hajar aja lah Dok Lucky 😄😄
udh kthuan aibnya,msih usaha buat jd pebinor.....cckkk....ga tau malu....🙄🙄🙄
blm tau dia kl mslh aib mh urusn gmpang,tnggal mnta tlong sm kluarganya....wasalam dehhh.....😛😛😛