NovelToon NovelToon
Hakim Dari Kegelapan

Hakim Dari Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / TKP
Popularitas:272
Nilai: 5
Nama Author: Hendry Octavian

Mahesa Bhumi Arka Denta Sikumbang Seorang pengusaha dan pengacara terkenal.Di malam hari dia menjadi Vigilante untuk membalaskan dendam kematian keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Terakhir Di Lereng Gunung Singgalang Bag 2

Minangkabau , Lereng Singgalang Pos Satu 2011

Waktu berjalan seolah tanpa henti, melesat begitu cepat bagaikan air sungai yang mengalir tak pernah berbalik arah. Tak terasa, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan pun berubah menjadi tahun. Tujuh belas tahun telah berlalu sejak Erwin Rasyad Chaniago, Bhumi, dan Bayu pertama kali tumbuh besar di lingkungan keluarga besar Sikumbang, di kaki Gunung Singgalang yang megah. Anak-anak yang dahulu bertubuh mungil, sering terengah hanya setelah berlari mengelilingi pekarangan, kini telah menjelma menjadi pemuda-pemuda gagah berpostur kokoh, memancarkan wibawa khas keturunan Minangkabau yang menjunjung tinggi adat dan ketangguhan.

Di tengah pertumbuhan mereka, sosok yang paling berpengaruh dan menjadi panutan adalah Arlan Rasyad Sikumbang. Ia adalah ayah kandung Erwin Rasyad Chaniago, sekaligus paman dan guru yang mengasuh serta mendidik Bhumi dan Bayu sejak kecil. Sebagai pewaris utama ilmu Silek Harimau yang dihormati di wilayah Pande Sikek, Arlan memegang teguh prinsip bahwa kekuatan sejati tidak hanya lahir dari keberanian, melainkan dibangun di atas dasar ketahanan fisik yang tak tergoyahkan, ketabahan mental, serta pengendalian diri yang sempurna. Ia tidak pernah melonggarkan aturan latihan, meskipun melihat tubuh ketiga pemuda itu semakin kuat dan matang dari hari ke hari. Setiap pagi sebelum matahari terbit menyentuh puncak gunung, dan setiap sore ketika langit berubah menjadi jingga kemerahan, pekarangan rumah itu selalu dipenuhi suara napas yang teratur, hentakan kaki di tanah, serta perintah tegas yang keluar dari mulut Arlan.

Selama bertahun-tahun, mereka telah melewati berbagai tahapan latihan fisik yang terasa mustahil bagi orang biasa. Mulai dari berlari menanjak jalan setapak berbatu hingga ke lereng tengah Gunung Singgalang sambil memikul beban berat, berendam di air sungai yang dingin menusuk tulang pada malam hari, hingga melatih keseimbangan di atas batang pohon yang licin. Semua itu mereka jalani dengan susah payah. Sering kali tubuh terasa nyeri tak tertahankan, otot terasa kaku seolah tertarik hingga robek, dan napas terasa sesak seakan kehabisan udara. Namun, sedikit demi sedikit, batas kemampuan mereka terdorong melampaui apa yang mereka kira sebagai batas maksimal. Apa yang terasa berat pada tahun sebelumnya, kini terasa menjadi rutinitas yang tetap membutuhkan konsentrasi penuh namun bisa dijalani.

Kini, mereka telah sampai pada tahap yang paling menantang sebelum masuk ke ranah penguasaan gerakan dan teknik inti Silek Harimau. Dua ujian fisik terakhir yang menjadi syarat mutlak telah menanti. Ujian ini dirancang sedemikian rupa untuk menguji bukan hanya kekuatan otot, tetapi juga ketahanan saraf, pemusatan tenaga dalam tubuh, serta kesabaran yang sesungguhnya.

Ujian pertama dimulai pada suatu pagi yang sejuk dan segar. Di atas tanah lapang yang dipadatkan, Arlan berdiri tegak sambil melipat kedua tangannya di dada, tatapannya tajam namun penuh perhatian menatap ketiga pemuda itu, terutama putranya sendiri, Erwin.

"Uda-uda, lah batahun-tahun uda-uda latih kuatan tangan jo tanago di paruik. Kini, kito buktikan barapo jauah tanago tu dapek dipusek an ka satu titik nan ketek bana(Kalian sudah bertahun-tahun melatih kekuatan lengan dan pusat tenaga di perut. Hari ini, kita buktikan seberapa jauh tenaga itu dapat dipusatkan pada satu titik yang sangat kecil),” ujarnya dengan suara berat namun tenang.

Perintah pun diberikan: melakukan gerakan tekan tubuh atau push up, namun bukan dengan telapak tangan yang menumpu penuh. Mereka harus melakukannya dengan hanya ditopang oleh satu jari kelingking di setiap tangan. Pada awalnya, tubuh mereka terasa goyah hebat. Jari-jari itu terasa ingin terlipat dan patah menahan beban seluruh tubuh. Erwin, sebagai anak sulung yang memiliki semangat membara namun juga paling cepat merasa kesal, langsung mengerutkan dahi. Namun, ia memaksakan diri mengikuti perintah ayahnya. Bhumi dan Bayu hanya mengatur napas perlahan, memusatkan seluruh tenaga dari pusar ke ujung jari, dan mengikuti hitungan yang dilantunkan Arlan. Satu, dua, tiga… hingga sepuluh kali gerakan berhasil diselesaikan meski dengan tubuh yang gemetar hebat dan keringat membasahi seluruh pakaian. Jari-jari kelingking mereka terasa panas, membiru, dan terasa nyeri hingga ke siku, namun mereka berhasil melewatinya.

Belum sempat napas mereka pulih sepenuhnya, ujian kedua yang jauh lebih berat segera diumumkan. Di sisi lain lapangan, telah dipasang dua tiang kayu yang kokoh dan cukup tinggi, dengan jarak sekitar dua meter di antaranya. Di sampingnya pula tersedia guci-guci tanah liat berukuran besar yang dinding bagian luarnya telah dilumuri minyak kelapa hingga licin sempurna, dan di dalamnya diisi air hingga hampir penuh.

"Iko menjelang ujian tarakhia. Ujian otot, kaimbangan, jo pangandalian diri(Ini adalah menjelang ujian terakhir bagi ketahanan otot, keseimbangan, dan pengendalian diri),” jelas Arlan.

"Partamo, uda-uda rentangan kaki luruih ka duo batang tu. Sanggah sado awak di tangah, jan sampai kanai tanah sadiakik, salamo tigo jam. Sasudah tu, uda tagak di ateh ciek batang kayu jo sakaki luruih, sakaki lai dilipak rapak ka batih paho. Duo tangan direntangkan ka samping, cakamkihar leher guci nan licin tu. Aia di dalamnyo jan tumpah banyak, tagak sampai ado parintah baranti(Pertama, kalian harus merentangkan kedua kaki lurus ke arah dua tiang itu, menopang seluruh berat tubuh di tengahnya tanpa menyentuh tanah sedikit pun, selama tiga jam penuh. Setelah itu, kalian akan berdiri di atas salah satu tiang kayu dengan satu kaki lurus sebagai tumpuan utama, sedangkan kaki yang lain dilipat rapat ke arah betis paha. Posisi kedua tangan harus direntangkan ke samping, masing-masing mencengkeram leher guci yang licin itu. Air di dalamnya tidak boleh tumpah terlalu banyak, dan posisi harus dijaga hingga perintah berhenti diberikan.)”

Mendengar penjelasan itu, wajah Erwin langsung berubah masam. Ia mendengus keras, napasnya memburu bukan hanya karena lelah, melainkan karena rasa kesal yang langsung meluap.

"Wah, talabiah bana ko, Pak! Tigo jam merentangan kaki sajo lah cukuik mambuek urat raso angek putuih, apolai ditambah tagak sambil mamanek guci baminyak. Kalau tagalincir jatuah, dapek-dapek tulang kito patah sadoalah!(Wah, ini keterlaluan sekali, Bapak! Tiga jam merentang kaki saja sudah cukup membuat urat terasa mau putus, apalagi ditambah berdiri sambil memegang guci berminyak. Kalau tergelincir jatuh, bisa-bisa tulang kita patah semua)!” sergah Erwin dengan nada mengeluh yang lantang, seolah ingin memprotes keputusan ayahnya sendiri.

Ia memang terkenal sebagai yang paling banyak bersuara, paling cepat merasa tidak nyaman, namun justru semangatnya yang membara itu sering kali menjadi pendorong dirinya sendiri meski dengan cara yang sangat berisik.Berbeda dengan Erwin, Bhumi dan Bayu hanya saling berpandangan sekilas. Tidak ada kata protes yang keluar dari mulut mereka. Bhumi mengangguk pelan, menundukkan kepala sebagai tanda siap menerima perintah.

“Baik, Paman Arlan,” jawabnya singkat dan tenang.

Bayu pun mengikuti, hanya menyesuaikan posisi tubuhnya tanpa banyak bicara. Bagi mereka, perintah Arlan adalah keharusan yang tidak perlu diperdebatkan lagi. Meskipun di dalam hati mereka pun merasakan kekhawatiran dan tahu betapa beratnya tantangan itu, mereka memilih untuk menelan rasa berat itu dan melaksanakannya dengan patuh.

Ujian pun dimulai. Pada tiga puluh menit pertama, posisi mereka masih terjaga cukup baik. Otot paha dan betis terasa tegang, namun masih sanggup menahan beban. Namun, seiring berjalannya waktu, rasanya berubah drastis. Satu jam berlalu, dan rasa nyeri mulai merayap naik dari ujung kaki hingga ke pinggang. Urat-urat di kedua kaki terasa seperti ditarik kencang hingga batas maksimal, terasa kaku dan panas seolah terbakar oleh api. Aliran darah terasa terhambat, membuat bagian kaki yang berada di posisi terentang mulai terasa kesemutan hingga mati rasa sesekali.

Setelah dua jam, siksaan itu semakin menjadi-jadi. Rasa lapar pun mulai menyerang, karena latihan dimulai sejak perut masih kosong sebelum waktu sarapan. Bhumi dan Bayu mulai mengerang pelan, mengatupkan bibir rapat-rapat sambil menahan rasa perih dan keroncongan yang semakin keras terdengar dari dalam perut.

"Aduh… paruik ko raso lah malapek ka tulang balakang(Aduh… perut ini rasanya sudah menempel ke tulang belakang,)” gumam Bayu dengan suara terputus-putus, napasnya terengah-engah.

Bhumi hanya bisa mengangguk setuju, matanya terpejam sesekali mencoba mengatur napas agar rasa lapar tidak mengganggu konsentrasi yang sedang dijaga.

Namun, yang paling mencolok adalah Erwin. Sebagai anak sulung yang memiliki tenaga besar namun juga memiliki ambang batas kesabaran yang paling pendek, ia mulai mengeluarkan kekesalannya secara terbuka.

"Lah cukuik, Pak!? Urat kaki ambo raso angek putuih bana! Kalau macam ko taruih, besok kito ndak dapek jalan lai(Sudah cukup belum ini, Bapak!? Urat kakiku rasanya mau putus benar-benar! Kalau begini terus, nanti kami tidak bisa berjalan lagi besok)!” teriaknya lagi, suaranya melengking memecah kesunyian Siang.

Ia terus mengomel, mengeluh, dan sesekali meneriaki ayahnya seolah meminta keringanan. Namun, makin ia menggerakkan tubuhnya karena kesal, makin tidak seimbang posisinya. Tenaga yang seharusnya dipusatkan ke otot justru terbuang lewat mulut dan emosi yang meluap.

Belum genap tiga jam, persis ketika rasa nyeri mencapai puncaknya, kejadian tak terhindarkan terjadi. Otot paha kanan Erwin yang sudah sangat tegang tiba-tiba terasa kejang hebat. Tubuhnya miring ke satu sisi, ia berusaha menyeimbangkan kembali namun tenaganya sudah habis terkuras. Dengan suara hentakan yang keras, tubuh Erwin pun terlepas dari posisi merentang dan jatuh ke bawah. Ia terjungkal beberapa kali berguling di atas tanah yang masih sedikit lembap, hingga akhirnya terbaring telentang sambil terengah-engah, wajahnya memerah bercampur rasa sakit, lelah, dan sedikit rasa malu.

Arlan Rasyad Sikumbang yang sejak tadi berdiri membelakangi mereka, seolah-olah tidak peduli dengan apa yang terjadi, justru saat itu bahunya terguncang-guncang. Suara tawa yang ditahan sedari tadi akhirnya meledak lepas. Ia berbalik perlahan, menampakkan senyum lebar yang jarang terlihat, lalu tertawa terbahak-bahak hingga suaranya menggema di sekitar pekarangan.

"Hahaha! Iko lah akibaiknyo kalau tanago labiah banyak dipakai untuak mangomeh dari pado mamusatkan pikiran! Tanago kalua lewat muluik, bukan disalurkan ka otot! Samo-samo anak ambo surang, ambo ndak bisa mambedakan kataguhan hati jo sakadar bariang!(Hahaha! Itulah akibatnya kalau tenaga lebih banyak dipakai untuk mengomel daripada memusatkan pikiran! Tenaga keluar lewat mulut, bukan disalurkan ke otot! Bahkan sebagai anakku sendiri, aku tidak bisa membedakan keteguhan hati dengan sekadar berisik!)” ejek Arlan sambil masih tergelak melihat Erwin yang terbaring terengah.

Melihat keadaan itu, Bhumi dan Bayu tetap bertahan meski tubuh mereka sudah gemetar hebat dan keringat mengalir deras membasahi seluruh tubuh. Mereka tahu, meski Arlan tertawa, itu bukan tanda kesenangan melihat mereka menderita, melainkan cara beliau menguji keteguhan hati dan melihat apakah mereka bisa tetap tenang dalam tekanan yang berat.

Akhirnya, ketika waktu yang ditentukan tiba, Arlan memberikan isyarat untuk berhenti. Bhumi dan Bayu perlahan meluruskan kembali tubuh mereka, lalu duduk di tanah sambil memijat-mijat kaki dan tangan yang terasa kaku serta nyeri luar biasa. Kedua lengan mereka terasa sangat berat, urat-uratnya menonjol jelas di bawah kulit, menjadi bukti nyata beban yang baru saja mereka tahan. Sementara itu, Erwin yang sudah bangun dengan wajah masih cemberut dan sedikit memerah, masih terus mengeluh meski nadanya sudah mulai melunak.

"Sakik bana raso… tapi kalau ndak macam ko, mungkin ambo ndak sadar kalau tanago sajo ndak cukuik, Pak. Ambo haruih labiah saba lai(Sakit sekali rasanya… tapi kalau tidak begini, mungkin aku tidak akan sadar bahwa tenaga saja tidak cukup,Pak. Aku harus lebih sabar lagi),” gumamnya pelan, akhirnya sedikit mengakui tujuan latihan yang keras itu.

Di bawah sinar matahari yang mulai terik menyinari puncak Gunung Singgalang, ketiga pemuda itu duduk berdampingan, napas mereka perlahan kembali teratur. Keringat yang membasahi tubuh mereka adalah bukti perjuangan yang nyata. Meskipun ada yang jatuh, ada yang mengeluh, dan ada yang hanya diam menahan rasa sakit, satu hal yang pasti: mereka telah melewati babak baru dalam perjalanan menjadi pewaris ilmu dan tradisi keluarga Sikumbang. Di depan mereka masih terbentang jalan panjang yang penuh tantangan, namun dengan tubuh yang semakin tangguh dan mental yang mulai ditempa dengan baik, mereka siap melangkah lebih jauh menuju jati diri sebagai pemuda Minangkabau yang menjunjung tinggi semboyan alek basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, serta kekuatan yang lahir dari ketekunan dan kesabaran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!