Turnamen Peringkat Langit baru saja dimulai. Di hadapan para penguasa Alam Tiran, Arka Yudhistira melangkah ke arena bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai naga yang tengah terjaga.
Di antara bayang-bayang Ratna, Citra, dan kesetiaan Larasati, Arka siap mengguncang tatanan dunia. Panggung telah siap, pedang telah terhunus, dan sejarah baru akan segera ditulis.
Inilah awal dari...
LEGENDA ARKA YUDHISTIRA
Biarkan dunia bersujud pada sang naga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Arka tak menjawab. Ia melesat maju bagai badai. Sepuluh bola petir meluncur ke arahnya, namun dengan gerakan misterius, tubuh Arka seolah terbelah.
BOOM! BOOM!
Ledakan menelan sosok Arka, namun Miko terperanjat. Itu hanya bayangan! Seketika, Arka sudah berada di sampingnya. Miko yang panik langsung mengaktifkan senjata rahasia di bahunya—tiga anak panah api menyembur ke wajah Arka.
Larasati menjerit. Namun, Arka kembali menghilang.
“Tarian Sayap Phoenix!”
BOOM!!!
Arka menyambar turun dari langit seperti elang buas. Serangan api dahsyat menghantam punggung Miko. Ledakan api menjulang tinggi. Ini adalah pertama kalinya Arka menggunakan teknik api sejatinya dalam turnamen ini.
Di tengah kobaran api, pertahanan tenaga dalam Miko hancur berkeping-keping. Ia terlempar keras menabrak dinding pelindung arena. Namun, api itu tidak padam; ia terus membakar puluhan senjata tersembunyi yang dibawa Miko di balik bajunya.
BANG! BANG! BOOM!
Senjata-senjata itu meledak liar satu demi satu di tubuh Miko sendiri, merobek kulit dan dagingnya hingga ia tak lagi berbentuk manusia. Jeritannya memilukan, memenuhi seluruh penjuru arena.
Arka menarik pedang raksasanya dan menatap lawannya dengan tatapan dingin penuh iba.
“Senjata yang kau siapkan untukku… nikmati saja sendiri.”
"Miko!!"
Wajah Mardika seketika memucat pasi. Ia melesat turun menuju gelanggang utama tanpa ragu sedikit pun. Pada saat yang sama, Penatua Wayan segera maju dan dengan energi tenaga dalamnya memadamkan sisa-sisa kobaran api yang masih menjilat tubuh Miko.
Ketika api akhirnya padam, pemandangan tragis Miko tersaji jelas di hadapan semua orang. Seluruh tubuhnya hangus legam, dagingnya terkoyak dengan darah segar yang membasahi lantai arena. Tulang putih bahkan terlihat jelas di beberapa bagian bahu dan lututnya. Rambutnya musnah, dan wajahnya—tertutup darah serta luka bakar terbuka—nyaris tak dapat dikenali lagi. Kata "mengenaskan" terasa terlalu ringan untuk menggambarkan kondisinya.
Beruntung, senjata api tersembunyi di tubuh Miko meledak karena tersulut api, bukan akibat benturan energi murni, sehingga organ dalamnya masih relatif aman. Namun, luka luarnya begitu mengerikan hingga dipastikan ia akan memiliki bekas luka permanen yang buruk di sekujur tubuh, termasuk wajahnya.
Mardika tiba di sisi putranya, memeriksa kondisinya, lalu menghela napas lega yang sarat amarah. Ia menatap Arka dengan kebencian yang begitu pekat hingga seakan mampu membekukan udara di sekitarnya. Namun, ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Mengangkat tubuh Miko yang berlumuran darah, ia berjalan turun dari arena dengan niat membunuh yang tertancap dalam pada sosok Arka.
“Pemenang pertandingan ini adalah Arka Yudistira dari Kerajaan Surya Kencana! Ia melaju ke babak delapan besar besok!” seru Penatua Wayan dengan suara lantang.
Seluruh penonton masih terpaku. Pertarungan berakhir hampir seketika setelah dimulai—begitu cepat hingga mereka bahkan belum sempat bersorak. Arka baru saja mengalahkan praktisi tingkat delapan Alam Bumi hanya dalam hitungan napas.
“Tak kusangka di negeri kita terdapat sosok yang bahkan aku pun tak mampu mengukur batas kemampuannya,” ujar Luhur Pangestu sambil berdiri, wajah tenangnya kini dipenuhi keterkejutan. “Ia baru berada di tingkat sepuluh Alam Sejati, namun mampu melepaskan kekuatan seperti itu. Monster macam apa dia sebenarnya?”
Di sisi lain arena, Fikri—murid utama Perguruan Langit Membara—memutar pergelangan tangannya. Sebuah bola api menyala di telapak tangannya.
“Dia menang lagi… dan ternyata bisa bermain api juga. Kakak, kau lihat jenis api apa yang ia gunakan tadi?” tanya Fikri pada kakaknya, Juan.
“Hmph, hanya api tenaga dalam tingkat rendah. Berani bermain api di depan Perguruan Langit Membara kita? Sungguh meremehkan,” jawab Juan dengan wajah suram.
Fikri memadamkan apinya dengan tiupan ringan. “Kakak tak perlu marah. Justru ini kabar baik. Setelah ia menang hari ini, siapa lawannya besok?”
Mata Juan bergerak mengikuti bagan di prasasti batu, lalu ekspresinya berubah. “Itu… kau!”
“Benar! Hahaha!” Fikri tertawa keras. “Dunia ini benar-benar sempit. Ini seperti hadiah dari langit. Aku akan mengakhiri hidup si ‘jenius’ ini dengan tanganku sendiri. Akan kutinggalkan luka tenaga dalam yang takkan pernah sembuh pada siapa pun yang berani menyinggung kakakku.”
Sore harinya, babak delapan besar resmi ditentukan. Susunannya adalah:
Arka Yudistira (Kerajaan Surya Kencana) vs Fikri (Perguruan Langit Membara)
Yogi (Perguruan Pedang Surgawi) vs Umar (Perguruan Pedang Surgawi)
Yoga (Perguruan Pedang Surgawi) vs Ratih (Padepokan Awan Beku)
Ratna (Padepokan Awan Beku) vs Guntur (Perguruan Wijaya)
Arka menjadi satu-satunya peserta di luar Empat Perguruan Besar yang berhasil menembus delapan besar.
......................
Kembali ke penginapan, Satya Wibowo menatap langit dengan haru. “Masuk delapan besar berarti kita dipastikan mendapat kuota untuk memasuki Lembah Cakra Langit... Rasanya seperti mimpi.”
“Lembah Cakra Langit? Apa itu?” tanya Banu penasaran.
“Konon itu adalah dimensi tersembunyi peninggalan era kuno,” jelas Larasati dengan nada penuh harap. “Di dalamnya tersembunyi banyak pusaka dan energi murni. Siapa pun yang masuk selalu memperoleh kemajuan besar.”
Satya kemudian memandang Arka dengan serius. “Setelah turnamen ini, namamu akan mengguncang dunia. Tapi ingatlah, jangan mudah menyinggung orang seperti kemarin. Mardika pasti takkan tinggal diam melihat putranya cacat seperti itu.”
“Aku mengerti maksud Anda, Ketua,” jawab Arka tenang. “Aku tidak pernah mencari musuh tanpa alasan. Jika Mardika tidak menghina kita kemarin, aku pun takkan bertindak sejauh ini. Jika mereka ingin membalas dendam, aku akan menghadapinya sendiri.”
“Besok kau harus sangat berhati-hati,” lanjut Satya Wibowo. “Meski tingkat kekuatan Fikri sama dengan Miko, ia mewarisi teknik api Perguruan Langit Membara. Ia dikenal kejam, brutal, dan gemar mempermalukan lawan di atas panggung.”
Arka tersenyum tipis, sebuah senyum dingin yang berbahaya muncul di sudut bibirnya. Ia teringat betapa sombongnya keluarga dari Perguruan Langit Membara tersebut.
“Mempermalukan lawan, ya…” gumam Arka pelan, hampir tak terdengar.
“Aku juga ahli dalam urusan itu.”
......................
Hari ini, Arena diselimuti atmosfer yang terasa ganjil. Terutama di area tempat duduk Perguruan Langit Membara—raut wajah mereka tampak suram, seolah awan hitam tengah menggelayut di atas kepala mereka.
Pertandingan pertama babak perempat final telah ditentukan: Arka melawan Fikri.
Walaupun Arka telah berkali-kali mengejutkan publik, bagi sebagian besar penonton, pertandingan ini dianggap sudah jelas hasilnya. Bukan karena mereka masih meremehkan pemuda dari Akademi Pusat Surya Kencana itu, melainkan karena bayangan dominasi Empat Perguruan Besar telah mengakar terlalu kuat. Bagi mereka, keajaiban Arka seharusnya menemui dinding kokoh di sini.
“Kau harus menang apa pun yang terjadi!” ujar Tetua Agung, Faisal Surya dengan suara berat.