“Aku benci dosen perfeksionis.”
Itu kalimat pertama yang Rhea tulis di buku catatannya setelah bertemu Arga...dosen muda favorit kampus yang terkenal dingin, disiplin, dan sulit didekati.
Sayangnya, hidup Rhea perlahan mulai dipenuhi pria itu.
Dari kelas pagi yang melelahkan, bimbingan yang selalu berubah menjadi perdebatan, hingga tatapan-tatapan kecil yang mulai terasa berbeda.
Rhea tidak pernah berniat jatuh cinta pada dosennya sendiri.
Masalahnya…Arga sendiri juga mulai merasa sulit melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenapa Tidak Pesan Dua ?
Sore harinya, setelah semua kelas Rhea selesai, gadis itu segera berjalan menuju lantai tiga fakultas sambil membawa laptop dan map tebal berisi ratusan lembar hasil print tugas yang tadi diminta Arga.
Lorong fakultas kini jauh lebih sepi dibanding pagi tadi. Beberapa ruangan dosen sudah mulai tertutup, sementara suara obrolan mahasiswa hanya terdengar samar dari kejauhan. Cahaya matahari sore masuk melalui jendela panjang di ujung koridor, memantulkan warna jingga lembut di lantai keramik yang mulai lengang.
Rhea akhirnya berhenti di depan ruangan Arga.
Ia mengembuskan napas kecil sebelum mengetuk pintu pelan.
Tok… tok…
“Masuk.”
Rhea segera membuka pintu lalu melangkah masuk sambil membawa laptop dan tumpukan print tugas di tangannya.
Berbeda dari tadi pagi, kini Arga tidak duduk di kursi kerjanya. Pria itu justru duduk santai di sofa panjang dekat jendela sambil memangku laptop di atas pahanya. Kemeja hitamnya masih rapi meski bagian lengannya sudah sedikit kusut karena dipakai seharian.
“Duduk,” ucapnya singkat tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.
Rhea berjalan mendekat lalu meletakkan tumpukan print di meja kecil depan sofa sebelum akhirnya duduk di samping Arga dengan jarak normal. Ia segera membuka laptopnya sendiri sambil melirik sekilas ke arah pria di sebelahnya.
“Buatkan saya Powerpoint untuk presentasi saya besok.”
Arga mengambil sebuah flashdisk dari meja lalu mengulurkannya ke arah Rhea. “Materinya ada di flashdisk ini.”
Rhea langsung menerima flashdisk itu sambil mengangguk pelan.
“Baik, Pak…”
Ia segera membuka laptopnya lalu memasang flashdisk tersebut. Beberapa folder langsung muncul di layar, dipenuhi file jurnal, data penelitian, dan materi kuliah yang bahkan namanya saja sudah cukup membuat kepalanya pening.
Rhea melirik Arga sekilas.
“Pak… ini materinya banyak banget.”
“Makanya saya suruh kamu bantu.”
“Ini bantuan atau kerja rodi ya sebenarnya?”
Arga tidak menjawab. Pria itu justru kembali fokus pada laptopnya seolah keluhan Rhea tadi hanya angin lewat.
Rhea langsung mendecih pelan sebelum akhirnya mulai membuka satu per satu file presentasi yang harus ia susun sore itu.
Awalnya suasana ruangan terasa cukup canggung. Hanya suara ketikan keyboard dan dengungan pendingin ruangan yang terdengar samar memenuhi ruangan itu. Sesekali Arga membuka jurnal di laptopnya, sementara Rhea sibuk menyusun slide demi slide presentasi dengan wajah serius.
Hampir satu jam berlalu sampai akhirnya Rhea meregangkan tubuh pelan sambil mengembuskan napas kecil.
“Pak Arga, saya mau beli kopi. Bapak mau sekalian?”
“Ya, boleh.”
Arga tetap fokus pada laptopnya sebelum akhirnya mengulurkan ponselnya ke arah Rhea tanpa benar-benar menoleh.
“Pesan di sini saja.”
Rhea langsung menatap ponsel itu sebentar. Alisnya sedikit terangkat karena tidak menyangka Arga benar-benar memberikan ponselnya begitu saja.
“Di ponsel bapak?”
“Ya.”
“Saya boleh buka ponselnya?”
“Hanya untuk pesan, bukan yang lain.”
“Ah iya, iya…”
Rhea lalu mengambil ponsel itu dari tangan Arga. Ujung jarinya sempat bersentuhan sebentar dengan tangan pria itu sebelum ia buru-buru menarik ponselnya sendiri. Begitu layar menyala, Rhea langsung menoleh lagi dengan ekspresi polos.
“Passwordnya, Pak?”
“1234.”
Rhea langsung melotot kecil. “Ya ampun, gampang banget.”
Arga akhirnya mengangkat pandangannya dari laptop lalu menatap Rhea datar.
“Kenapa kalau gampang? Kamu mau membobol rekening saya?”
“Untuk sekarang belum. Mungkin ke depannya iya,” gumam Rhea pelan sambil mulai membuka ponselnya.
Arga hanya mendecih kecil sebelum kembali fokus
pada pekerjaannya.
Rhea membuka aplikasi layanan pesan antar berwarna hijau itu, lalu matanya langsung membesar begitu melihat jumlah saldo yang tertera di layar.
“Astaga…”
Arga menoleh sedikit.
“Apa?”
“Eh, nggak Pak. Gak apa-apa.”
Rhea langsung menutup mulutnya sendiri sambil menatap layar itu lagi.
Saldo sebanyak ini mau dibuat beli apaan coba?
Ia sampai berkedip beberapa kali memastikan dirinya tidak salah lihat. Jumlah angka di layar itu benar-benar jauh dari kehidupan mahasiswa biasa.
Rhea menggeleng pelan lalu mulai membuka riwayat pesanan.
“Oh… suka americano juga ternyata…”
“Kenapa kamu jadi buka riwayat pesanan saya?”
“Kan saya nyari kopi yang biasa bapak pesan.”
“Alasan.”
Rhea langsung tertawa kecil tanpa merasa bersalah sedikit pun. Sesekali ia melirik Arga yang kembali fokus mengetik di laptopnya. Wajah pria itu tetap terlihat datar seperti biasa, tetapi entah kenapa Rhea mulai sadar kalau dosennya itu ternyata cukup membiarkan dirinya bertingkah seenaknya di ruangan ini.
Beberapa detik kemudian ia mulai memilih menu.
“Hmm… dua americano ice ukuran large…”
Jarinya berhenti sebentar di layar.
"Hmm, sama kentang kali ya…" batin Rhea.
Perutnya memang mulai lapar sejak tadi, apalagi ia belum makan apa pun selain snack ringan dan susu kotak dari kantin siang tadi.
Ia menoleh ke arah Arga.
“Bapak mau makan sekalian?”
“Tidak. Kamu saja.”
“Oke…”
Arga hanya menghela napas kecil mendengar jawabannya.
“Pin pembayarannya berapa, Pak?”
“123456.”
Rhea langsung menatap Arga beberapa detik dengan ekspresi tidak percaya sebelum akhirnya kembali fokus pada layar ponsel di tangannya.
Setelah pembayaran selesai, Rhea berjalan mendekat lalu meletakkan kembali ponsel Arga di atas meja tepat di depan Arga.
“Sudah, Pak.”
Arga hanya mengangguk kecil tanpa banyak komentar.
Sementara itu Rhea kembali pada laptopnya lagi, lalu mulai mempersiapkan materi presentasi Arga sambil sesekali mencuri pandang ke arah dosennya yang masih sibuk bekerja di sebelahnya.
Suasana ruangan kembali tenang. Cahaya matahari sore perlahan mulai memudar dari balik jendela, membuat lampu ruangan terasa lebih hangat dibanding sebelumnya. Sesekali suara ketikan keyboard terdengar bersamaan, menciptakan suasana yang anehnya terasa nyaman meski tidak banyak percakapan terjadi di antara mereka.
****
Sekitar lima belas menit kemudian, suasana ruangan yang sejak tadi tenang mendadak terusik oleh suara ketukan pelan dari luar.
Tok… tok…
Rhea langsung menghentikan ketikannya lalu menoleh ke arah pintu. Sementara Arga masih sibuk menatap layar laptopnya tanpa bergerak sedikit pun.
“Saya buka ya, Pak.”
“Hmm.”
Rhea segera berdiri dari sofa lalu berjalan menuju pintu sebelum membukanya perlahan.
“Loh, Mbak Rhea kok di ruangannya Pak dosen?”
Rhea langsung tersenyum kecil begitu melihat Pak Safno, satpam fakultas yang berdiri sambil membawa kantong minuman dan makanan di tangannya.
“Oh, saya asdos nya Pak Arga sekarang, Pak Safno.”
“Oalah…” Pak Safno langsung mengangguk paham sambil tersenyum kecil. “Iya, iya. Ini pesanannya Pak dosen, Mbak.”
“Iya, Pak. Terima kasih ya, Pak.”
“Sama-sama, Mbak Rhea. Saya permisi dulu.”
“Iya, Pak…”
Rhea menerima kantong pesanan itu lalu menutup pintu kembali pelan. Aroma kopi langsung tercium samar begitu ia berjalan masuk ke dalam ruangan.
“Ini kopi Pak Arga,” ucapnya sambil meletakkan gelas kopi dan sedotan di depan pria itu.
“Hmm.”
Arga mengambil gelasnya pelan tanpa benar-benar mengalihkan fokus dari layar laptop. Jemarinya tetap sibuk mengetik beberapa hal di keyboard, sementara tatapannya tidak lepas sedikit pun dari dokumen yang terbuka di layar.
Sementara itu Rhea kembali duduk di sofa sambil membuka bungkus kentangnya sendiri dengan wajah puas. Aroma kentang hangat langsung menyebar samar di ruangan itu. Baru saja ia mengambil satu kentang, Arga tiba-tiba melirik ke arahnya.
“Kamu beli kentang juga?”
“Iya, Pak.”
“Kenapa tidak pesan dua?”
Rhea langsung menoleh bingung.
“Tadi katanya bapak nggak mau?”
“Kamu menawarkan saya makan tadi, bukan kentang.”
Rhea langsung menahan senyum. Sudut bibirnya mulai terangkat pelan begitu menyadari arah pembicaraan dosennya itu.
“Oh begitu ternyata…”
Ia lalu mengulurkan kotak kentangnya ke arah Arga sambil menahan tawanya sendiri.
“Ya sudah ini bapak aja yang makan, jangan marah-marah deh…”
“Tidak usah.”
Jawabannya cepat dan datar seperti biasa.
Namun justru itu yang membuat Rhea semakin ingin tertawa. Gadis itu buru-buru menunduk sambil menggigit bibirnya sendiri, berusaha menahan tawanya melihat ekspresi Arga yang entah kenapa sekarang terlihat seperti orang ngambek diam-diam.
Suasana ruangan yang tadinya sunyi perlahan terasa jauh lebih ringan dibanding sebelumnya. Bahkan Rhea mulai sadar kalau di balik wajah dingin dan nada bicara datarnya, Arga ternyata cukup mudah terpancing oleh hal-hal kecil.
Sementara Arga hanya menatapnya sekilas sebelum kembali meminum kopinya dengan wajah setenang biasanya, meski sudut rahangnya terlihat sedikit menegang menahan kesal.