Halo semuanya...
Ini karya novel pertamaku.
Isekai biasanya tertabrak mobil atau truk sedangkan aku cuma ketiduran. Aku Lisa Aspasa harus mengalami isekai. Aku terbangun dalam sebuah novel dimana tubuh inilah tokoh villiannya. Seorang villian dipastikan akan berakhir kematian. Kematian yang mengerikan bagi siapapun yang melihatnya.
Akankah aku bisa menghindari takdir kematian?
Akankah aku mendapatkan kebahagiaan?
Pada pertengahan perjalan jiwa pemilik asli tubuh ini datang.. apa yang ia inginkan? akankah dia mau membantuku atau sebaliknya?
Berlahan tapi pasti sesuatu yang tidak terungkap dalam novel mulai muncul kepermukaan...
Apakah itu?
Penasaran... langsung baca saja
27 Oktober 2020
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Miring Petagon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
WARNING TYPO BERTEBARAN
***
Melisa POV
Cahaya mentari mulai memasuk ke dalam rumah melalui jendela yang terpasang. Sinarnya yang terang membawa cahaya menerangi bumi. Sinarnya hangat mampu menghidupkan makluk hidup. Seperti halnya api yang mampu memanaskan nasi. Memasukkan berbagai bumbu kedalam nasi yang sudah panas. Mengaduknya bersama bahan pelengkap lainnya. kemudian mengangkanya saat sudah matang. Menaruhnya dipiring jadilah seporsi nasi goreng panas. Tinggal menambahkan hiasan pada nasi goreng untuk mempercantik tampilan.
Aku tidak sabar untuk menikmati hasil karya masakan sendiri. Belum ada satu suapan mendarat dimulutku bunyi bel pintu terdengar. Aku membuka pintu tanpa melihat siapa tamunya.
Aku melihat maklus es berada didepan rumahku. Seragam sekolah yang melekat sempurna pada badan atlentisnya. Ditunjang dengan tatapan tajam memberikan kesan misterius. Aku menghelan nafas kasar “ Kenapa kau datang kemari?” tanyaku tanpa ekpresi.
“ Menjemputmu” kata Elgartara santai dengan salah satu tangan dimasukkan dalam saku celananya. ‘tampan abis’ kata hatiku bersorak. Aku memasang wajah bertanya “ Perintah Ibu” kata Elgartara enteng.
‘Itukan ibumu bukan ibuku’ kata hatiku yang tidak dapat keluar. Melisa menyayangi ibunya Elgartara begitu pula sebaliknya. Aku menghelan nafas dengan sebuah ide bersarang diotakku “ Pergilah” kataku dengan nada tanpa emosi sambil menutup pintu.
Bukan Elgartara namanya kalau tidak egois dan keras kepala. Elgartara menghentikan pintu dan masuk kedalam rumahku. Aku menatap tajam penuh kebencianpun dirasa percuma 'tidak mempan'. " Cepatlah bersiap" Perintah Elgartara yang tidak akan aku gubris 'angap dia tidak ada saja'. Aku berjalan ke meja makan untuk melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda. Aku memakan nasi goreng dengan nikmat tanpa ada gangguan sampai suara Elgartara mengalun dalam keheningan.
“ Bi surti kemana?” Tanya Elgartara kepadaku. Aku diam seribu bahasa tanpa menyauti Elgartara. “ Kau sendirian?” tanya Elgartara kepadaku untuk kedua kalinya yang masih kuabaikan. Aku menikmati setiap kunyahan nasi gorengku yang terasa nikmat dengan rasa pedas yang dominan sampai tandas. " Apa aku berbicara dengan patung atau manusia?" kata Elgartara mengejek yang aku balas pelototan. Mulutku masih terkunci sempurna. Aku berjalan ke dapur untuk mencuci bekas makananku.
Akhirnya Elgartara tidak bertanya apapun dan menungguku duduk disofa dengan tenang. Aku tidak menganggapnya ada jadi melakukan aktivitasku sesuka hati dan yang terpenting aku melakukannya dengan waktu yang lama. Aku berada dikamar mengambil seragam kemudian berganti, memoles wajahku dengan make up yang membutuhkan waktu lama. Aku menyempatkan diri untuk bermain ponsel. Aku melakukan ini semua supaya Elgartara meninggalkanku. Aku turun dari kamar saat jarum jam menunjukan pukul 07.00 pagi ‘pasti Elgartara meninggalkanku’. Sayangnya Realita tidak sesuai ekspektasi dimana Elgartara duduk nyaman dengan bermain ponsel.
Elgartara menilai penampilanku “ Ayo” Aku terpaksa ikut dengan tarikan Elgartara yang membuat kami berangkat bersama. Elgartara mengendarai mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Sampai sekolah kami terlambat. Sehingga harus mendengarkan ceramah dari pak Kardi yang panjang kali lebar sama dengan persegi panjang. Pada jam istirahat pak Kardi baru berhenti.
“Hallo teman-teman semuanya. Aku mengundang kalian semua untuk datang ke pesta ulang tahunku jam 19.00. Jangan sampai tidak datang karena pestanya dijamin seru, meriah dan tidak terlupakan.” kata Cika memberi pengumuman di speaker. Suaranya membuat gendang telingaku sakit. Kalimat yang baru saja dilontarkan Cika sontak membuat semua murid heboh.
Drett satu pesan masuk yang berisi sebuah undangan pesta Cika. Aku menghelan nafas malas pasti aku pergi bareng Elgartara. Drett sebuah pesan masuk yang membuatku tersenyum. Sebuah pesan dari kak Rayhan yang berarti ponselnya telah diperbaiki. Beberapa waktu yang lalu ponselnya rusak jadi aku susah menghubunginya. Disela-sela obrolan kami ada tawaran kontrak dari perusahan pak Ramos yaitu perusahan SUN.
“ Aku menjemput jam 19.00” kata Elgartara sambil berjalan menjauhiku. Aku tidak menjawab perkataan Elgartara dengan masih sibuk membalas pesan.
Waktu berlalu dengan cepat bel pulang berbunyi dengan lantang. Aku tersenyum saat pak mamat menjemputku. Aku tidak pulang bersama Elgartara karena Elgartara ada urusan penting ‘pasti ada hubungannya dengan Olivia dan Alex’.
Aku sudah berada didalam perusahan SUN untuk mendapatkan kontrak. Sekarang aku sedang berbincang dengan pemilik perusahan SUN yang bernama Kim Taewon. Perusahan SUN tempat kak Elisa berkerja dan mereka tertarik dengan performaku dalam bidang modeling. Perusahan SUN bukan perusahan besar melainkan perusahan yang baru berdiri selain itu anak dari perusahan HJ.
Perusahan SUN bisa menjadi batu loncatanku untuk bergabung dengan perusahan HJ. Perusahan HJ merupakan perusahan terbesar dan terkuat yang katanya akan melindungi orang-orang dibawah naugannya. Aku harus mendapatkannya menginggat aku tidak punya banyak waktu. Harus ada perusahan besar untuk melawan Elgartara.
“ Melisa kita sudah sepakat. Silahkan tanda tangan” kata pak kim
Aku mengangguk “ Iya” kataku kepada pak kim. Aku memberikan tanda tanganku diatas matreai.
“ Selamat bergabung di perusahan SUN untuk jadwal pemotretanmu akan diatur Elisa” sambutan yang diberikan pak kim untukku.
Kami berjabat tangan sebagai tanda kerja sama. Selanjutnya aku pamit pulang kerumah. Aku melakukan aktivitas sesuai jadwal yang ada. Matahari sudah tengelam membawa sinarnya. Aku tengelam pada bacaan buku ditanganku. Bunyi bel pintu membuyarkan semua imajinasiku. Aku turun kebawah untuk mengetahui siapa tamunya. Sosok pria tampan dan gagah dengan taksedo lengkap berbalut jam hitam melekat dibadannya. Sayangnya dia maklus es aku memutar mataku bosan ' untuk apa malam-malam kemari?'.
Aku melihat Elgartara menghelan nafas " Apa kau tidak kepergi kepesta Cika?" tanya Elgartara yang terdengar lembut. Aku nampak berpikir sebentar ' Apa untungya aku kesana makan gratis dan shot foto hmm lumayan mengiyurkan'. Elgartara yang tidak tahan langsung menarikku kedalam kamarku. Dia mendudukkan ku didepan riasku mendadaniku dengan sangat lembut. Hasilnya luar biasa untuk ukuran laki-laki aku terlihat natural dan fresh.
Elgartara mencarikanku baju yang cocok denganku. Sebuah dress hitam berlengan panjang menjadi pilihannya. Aku masih diam kulirik serigai Elgartara yang membuatku merinding " Mau kugantikan sayang" katanya dengan suara serak dan berat. Aku merinding dibuatnya dengan cepat menyambar dress yang dipenganya. Aku langsung masuk kedalam kamar mandi yang dibalas kekehan Elgartara.
Aku sudah berada didalam mobil berkat tingkah laku Elgartara. Menurut alur novel Olivia terpeleset kemudian Elgartara akan menangkap Olivia. Mereka akan saling memandang satu sama lain. Menggagumi satu sama lain menumbuhkan benih-benih cinta yang bersemi diantara keduanya. Sampai Melisa mengacaukan adegan mesrah yang membuat pembaca mengutuk Melisa. Kemudian Alex datang untuk melerai dan menghentikan tindakan Melisa bersama Elgartara.
“ Sampai” kata Elgartara membuyarkan semua imajinasiku. Aku membuka pintu mobil Elgartara. Kami bergandeng tangan seperti pasangan pada umumnya. Kami masuk yang disambut tatapan memuja sekaligus iri. Kami disambut oleh Cika selaku tuan rumah dengan ramah. Kami mengucapkan selamat ulang tahun. Selanjutnya kami berjalan untuk menikmati pesta. Kami bertemu dengan Rio, Te, dan Jay. Kami mengobrol bersama mereka lebih tepatnya Elgartara sebab aku diam tidak menangapi obrolan mereka.
Semua orang sudah berkumpul sudah saatnya pemeran utama perempuan hadir untuk membius kita semua degan kecantikannya. Hadirlah Olivia yang memakai dress putih yang menawan dengan rambut panjang sedikit bergelombang. Olivia mengadeng Alex yang tampan dengan jas abu abu muda dengan senyum menghiasi wajahnya. Aku terpana oleh penampilan pemeran utama. Aku merasa tidak percaya diri berhadapan dengan para pemeran utama. Aku berjalan mencari sesuatu untuk membuat kepercayaan diriku naik.
Aku berjalan ketempat makanan untuk mengisi daya sekaligus untuk menumbuhkan kepercayaan diriku. Aku memakan berbagai jenis kue yang disajikan dimeja. Aku memakan semua kue yang tersaji di atas meja. Indra pengecapku terbuai dengan berbagai rasa. Setiap kue memiliki ciri khas dan cita rasa yang tinggi. Semuanya memiliki tekstur yang saling melengkapi. Satu kata yang mengambarkan ‘ Enak’.
Musik mulai dinyalakan berbagai lagu berputar sampai sebuah lagu pertanda pertunjukan berputar. Aku meletakan piring bekas makananku. Aku berjalan menuju panggung utama tempat terjadinya peristiwa mengemparkan. Tempat yang jauh dari tempatku berdiri. Lagu final kiss oleh band IZ iringan langkahku. Penampilan band IZ yang terdiri dari Elgartara sebagai gitaris, Terry sebagai bas, Rio sebagai dramer dan Jay sebagai vokalis. Lagu final kiss yang mereka bawakan tiba-tiba berhenti. Bersamaan denganku yang berada diarea kejadian menyaksikan adegan mesrah keduanya. Olivia berada dalam pelukan Elgartara. Semua mata memandang dengan tatapan beraneka ragam. Aku menatap mereka datar tidak seperti saat aku membaca dinovel.
Aku menghitung mundur dari lima menit. Katanya cinta pandangan pertama muncul pada waktu lima menit. Selanjutnya giliranku untuk menjadi pusat perhatian. “ KALIAN” teriakku membuat mereka saling melepaskan pelukan. “Apa-apan ini” kataku dengan menarik Elgartara menjauhi Olivia.
“Kau... kenapa kau memeluk tunanganku?!” bentakku kepada Olivia. Olivia tidak bisa berkata hanya membuka dan menutup mulutnya. Air matanya mengalir deras.
“ Melisa ini salah paham” kata Elgartara menenangkanku.
Aku menatap Elgartara dengan tatapan tidak percaya “ salah paham bagaimana?” tanyaku judes.
“ Dia terjatuh jadi aku menolongnya” jelas Elgartara secara singkat.
“ Menolong?” kataku meremehkan. Aku menatap mereka dengan tatapan kebencian “ Dulu aku membiarkanmu menolongnya... meskipun aku dipermalukan didepan semua orang!” bentaku sambil mengacungkan jari telunjukku kearah Elgartara. “ Sekarang kalian berpelukan didepan semua orang” tanyaku kepada mereka berdua. Semua orang diam membisu menikmati pertengkaran kami.
Elgartara ingin menyanggah ucapanku namun tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Aku menatap Olivia yang berlinang air mata sederas air terjun. Sekilas aku melihat Alex datang. “Sudah puas kalian mempermalukanku” kataku tanpa ekpresi dan tanpa emosi.
Aku meninggalkan mereka dengan wajah datar. Aku melewati Alex begitu saja. Aku tidak akan membiarkan Alex ikut mempermalukanku. Aku berjalan di pojok taman yang sepi. Aku mengambil minuman rasa strawberry untuk menikmati kesunyian taman. Aku mendengar langkah kaki mendekat. Aku tidak menoleh untuk melihat siapa yang datang.
“ Dia memang pengoda. Siapapun akan terjerat pada wajah polosnya termasuk Elgartara” kata seseorang dengan suara merdu.
“ Apa maksudmu?” tanyaku pura-pura bodoh didepan Cika. ‘ ternyata begini caranya bisa menghasut Melisa menggunakan Elgartara’ kataku meremehkan. Aku menyembunyikan aura membunuhku.
“ Elgartara sudah masuk kedalam perangkap gadis miskin itu” kata Cika menyakinkanku.
“ Perangkap?” kataku dengan ekspresi berpikir keras diwajahku. ‘bukankah kau yang meletakkan perangkap untukku?’ tanyaku mengejek dalam hati. Aku akan bersabar dalam mengikuti permainan katamu.
Cika mengangguk dengan tegas “ Perangkap untuk merebut Elgartara darimu” kata Cika membujukku. Aku diam untuk mendengarkan kelanjutannya “ kau harus memikirkan cara untuk menghalagi gadis miskin itu sebelum dia dapat meraih tujuannya” kata Cika yang terdengar memberikan solusi yang sebenarnya perangkap.
Aku diam ekpresi wajahku tidak berubah. Aku bisa menangkap senyum licik Cika yang disembunyikan. Aku tebak dia berpikir bahwa aku sudah masuk kedalam perangkapnya. ‘ Cika kita lihat siapa yang sudah masuk kedalam perangkap siapa?’ kataku dalam hati.
“ Aku pergi dulu masih banyak tamu yang harus aku sambut” pamit Cika kepadaku. Aku diam tidak menanggapi omongannya. Aku melirik melalui ekor mataku terlihat Cika sangat bahagia.
“ Besok senyumannya akan berubah tangisan” kata Rini dengan gelas yang dibalik menumpahkan seluruh isinya. Aku melihat Rini yang tersenyum menyeramkan. Sejak Rini mengetahui Cika memperalatku keinginan membunuh Rini meningkat. ‘Bagaimana bisa Melisa bersahabat dengannya?’ kataku tidak habis pikir.
“ Hari ini kau terlihat cantik” kataku mengalihkan pembicaraan. Aku melihat sudah ada beberapa pengunjung yang memperhatikan kami. Aku tidak mau ada orang yang curiga dengan tingkah kami. Bisa berisiko untuk menghambat rencanaku.
“ terimakasih Mel, kau terlihat sangat cantik memakai dress berwarna pastel. Dress itu memancarkan kecantikkanmu bagaikan rembulan yang menyinari kegelapan” puji Rini berlebihan. Aku membalas pujian Rini dengan senyuman.
“ Aku boleh tidak, pulang bareng denganmu?” tanyaku kepada Rini “ udaranya semakin dingin” kataku memberi kode untuk segera pergi sebelum hal yang tidak diinginkan datang.
“Ayo” kata Rini yang mengerti maksudku langsung membawaku pergi. Aku berjalan selangkah sebuah tangan besar menghalangi langkahku. Aku menoleh kearah Elgartara dengan wajah datar “ Lepaskan” kataku dengan dingin. Elgartara melebarkan matanya atas apa yang barusan didengarnya. Aku menyetak tangan Elgartara dengan kasar untuk lepas. Aku melanjutkan perjalananku bersama Rini.
Elgartara melangkahkan kakinya “Tunggu Melisa” kata Elgartara menghentikan langkahku.
Aku menoleh kearah Elgartara “ Jangan mengikutiku” kataku dengan dingin sambil melangkah pergi. Aku menyeringai ‘Elgartara sedikit demi sedikit aku akan mengembalikan apa yang telah kau lakukan padaku seperti epesode 2’. Rini mengantarkanku sampai rumah dengan selamat. Aku segera menelfon anak buahku “ Bagaimana tentang rahasia perusahaan Prodex?”
“ Sudah berada ditangan kami seperti nona Melisa perintahkan” ucap orang disebrang sana dengan patuh.
“ Kalau begitu dengarkan intruksiku” kataku menjelaskan rencana penghancuran perusahan Prodex ‘Sebentar lagi aku akan memiliki kacung baru’ kataku dalam hati sambil tertawa.
***
Haloo semuanya.......