Pernikahan akan terasa indah selagi masih ada cinta dari seorang suami.
Namun hal itu tidak berlaku pada seorang wanita muda. Pernikahannya hancur karena campur tangan keluarga suaminya. Apalagi sang suami tak lagi berpihak pada dirinya.
Nama wanita itu adalah Amara.
Di tengah-tengah keputusasaannya, ia bertemu dengan cinta pertamanya.
Apakah yang akan terjadi pada kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab tiga belas.
"Apa yang sedang terjadi di sini?" seorang pria muda yang mengenakan setelan jas lengkap tiba-tiba menghampiri mereka.
Semua tampak heran karena tidak merasa mengenal pria itu. Tetapi setelah melihat kehadiran Nina di sana, Amara tampak sedikit lega.
"Ada apa ini? Apa yang sudah kalian lakukan pada putriku?" tanya Nina kesal setelah melihat Amara sedang berjongkok di tanah sambil merangkul pundak Wahyu.
Wahyu sendiri tampak berantakan. Kemejanya tampak kotor akibat tanah yang menempel. Sementara pipinya lebam dengan sudut bibirnya yang berdarah.
"Mau apa kalian berdua datang ke sini?" tanyanya lagi pada mereka dengan menahan emosi.
"Saya ingin membawa istri saya pulang, Bu." jelas Randi sinis.
"Untuk apa lagi kau membawanya pulang? Bukankah kau berniat untuk menceraikannya? Aku sudah membawa seorang pengacara untuk mengurus perceraian kalian. Jadi silahkan pergi dari sini. Kita akan bertemu di pengadilan agama segera." ucapnya tegas.
"Apa!" Randi terdengar kaget.
"Tidak akan ada yang bercerai, Bu. Mungkin ibu hanya salah dengar. Amara hanya sedikit marah padaku dan lari dari rumah. Sekarang aku datang untuk menjemputnya." jelas Randi kemudian.
Ia tampak tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa diantara mereka.
Iya, Amara memang hanya mencuri dengar pembicaraan suaminya dan wanita itu. Ia belum bertanya langsung pada suaminya.
Yanti tampak diam mendengarkan pembicaraan putranya yang selalu berubah-ubah. Padahal sebelum datang ke sini, ia sudah setuju untuk menceraikan Amara. Kini ia malah berubah pikiran dan berencana untuk membawa Amara kembali ke rumah.
Sebenarnya dia jadi menceraikannya atau tidak?
"Aku sudah mengatakan jika aku tidak akan kembali ke rumah itu, mas. Jadi tolong pergilah sekarang dan urus saja wanita itu." pintanya.
"Kau masih istriku, Mara. Jadi aku masih mempunyai hak atas dirimu. Aku juga belum menjatuhkan talak kepadamu. Jadi jangan macam-macam denganku. Kau akan terima akibatnya nanti. " ancam Randi mendesaknya.
"Maaf jika saya lancang, tuan. Tetapi kalimat yang mengancam seperti itu bisa menjadi bumerang bagi anda. Itu bisa di jadikan bukti sebagai tindak kekerasan secara verbal di pengadilan. Kebetulan saya sudah merekamnya. Dan ada banyak saksi di sini. Bahkan ada korbannya." pria itu menunjukkan ponsel yang dipakainya untuk merekam pembicaraan Randi.
Randi terdiam sejenak.
"Sudahlah, Randi! Sebaiknya kita pulang dulu. Setelah keadaannya tenang, kita akan bicara lagi pada Amara." ucap Yanti tampak menenangkan putranya.
Randi tampak berpikir sejenak. Situasinya cukup merugikan baginya. Jadi dia memutuskan untuk pergi dari sana.
"Baiklah. Aku akan pergi. Tetapi aku akan kembali lagi untuk membawamu pulang, Amara." ucapnya lalu masuk ke dalam mobil.
Yanti juga menyusul putranya itu. Mobil mereka hilang dari pandangan dalam sekejap.
"Kau tidak apa-apa, nak?" tanya Nina cemas pada putrinya itu.
"Aku tidak apa-apa, Bu. Tapi siapa tuan ini, Bu? Apa benar jika ia adalah seorang pengacara?" tanyanya bingung sambil memperhatikan wajahnya dan juga penampilannya yang tampak meyakinkan.
"Sebaiknya kita bicarakan hal ini di dalam saja. Sekalian kita bisa obati Wahyu." ajak ibunya.
Mereka berempat masuk ke dalam rumah.
"Sebelumnya, perkenalkan. Nama saya Johan Setiawan. Saya adalah salah satu pengacara nyonya Laura yang di percaya untuk mengurus perceraian anda." ia juga melampirkan kartu namanya pada Amara.
"Nyonya Laura?" ia melirik ke arah ibunya karena merasa kebingungan.
"Nanti ibu akan menjelaskan tentang nyonya Laura padamu." ucap Nina sambil mengobati luka Wahyu.
Pria bernama Johan itu lalu melanjutkan pembicaraannya.
"Ibu anda sebelumnya sudah menceritakan secara garis besar tentang masalah yang sedang anda hadapi. Tetapi ada satu masalah di sini."
"Masalah apa?" Amara dengan cepat menyela pembicaraannya.
"Masalahnya kita tidak memiliki bukti apa-apa tentang perselingkuhan yang dilakukan oleh suami anda. Anda hanya mendengar ucapan itu secara sekilas. Dan hal itu tidak bisa di jadikan barang bukti di pengadilan." jelasnya.
"Lalu apa yang harus saya lakukan agar bisa bercerai?" tanya Amara.
"Paling tidak harus ada bukti nyata. Seperti foto atau video tentang perselingkuhan mereka. Bisa juga menggunakan bukti percakapan mereka di ponsel. Jika bisa mendapatkan salah satunya, maka hal itu bisa kita gunakan sebagai barang bukti di pengadilan. Dan itu akan mempermudah proses perceraian nantinya." jelasnya lagi lebih detail.
Amara terdiam sejenak. Dia tidak punya bukti apapun saat ini.
"Apa anda tidak punya bukti apa-apa?" tanya Johan.
Amara hanya menggeleng.
"Itu akan sedikit sulit untuk di buktikan."
Johan tampak berpikir. "Hmm... Sebenarnya ada satu cara yang bisa anda lakukan."
"Apa itu, tuan?" tanya Amara.
"Tetapi itu cukup beresiko."
"Katakan saja! Saya akan mencobanya jika bisa." Amara menyanggupinya.
"Anda bisa melihat riwayat percakapan di ponselnya. Mungkin di sana juga akan ada bukti foto atau sesuatu yang bisa di jadikan barang bukti. Tapi itu cukup beresiko." jelasnya.
"Ponsel, ya? Tapi mas Randi tidak pernah mengizinkan saya untuk menyentuh ponselnya. Ia juga selalu menguncinya dan saya sama sekali tidak tahu tentang kodenya." jelas Amara bingung.
"Aku bisa melakukannya, kak." ucap Wahyu tiba-tiba.
"Kau ingin melakukannya? Tetapi bukankah kau sudah di usir dari sana? Bagaimana kau bisa kembali ke sana dan mengambil ponsel mas Randi?" tanya wanita itu heran.
"Kakak tenang saja. Aku akan mengurusnya." ucap Wahyu yakin.
"Baiklah jika begitu."
Setelah menjelaskan apa yang perlu di jelaskan, Johan pamit untuk pergi. Ia masih harus mengurus kasus lainnya.
Johan mengemudikan mobilnya.
Ponselnya tiba-tiba berdering. Begitu melihat nama yang tertera di layar ponselnya, ia segera menjawab melalui earphone bluetooth di telinganya.
"Iya, tuan!" sapanya.
"Bagaimana hasilnya?" tanya pria di seberang.
"Iya, dia berencana untuk bercerai secepatnya." jelas Johan yakin.
"Itu terdengar bagus. Terus kabari aku tentang perkembangannya."
"Baik, tuan."
Sambungan telepon segera berakhir.
...****************...
Randi tampak kesal ketika tiba di rumahnya. Ia menghempaskan tubuhnya di atas sofa dengan kasar.
"Dasar wanita sialan! Dia sudah berani melawanku." gerutunya kesal.
"Randi! Ibu ingin bertanya padamu soal sikapmu yang tiba-tiba saja berubah. Apa kau serius tidak berniat untuk menceraikannya? Bukankah Dina sudah memberi batas waktu untukmu?" cecar Yanti.
"Diamlah ibu! Aku sedang pusing sekarang." keluh pria itu.
"Tapi bagaimana dengan Dina? Dia mungkin akan marah jika mendengar hal ini darimu."
Mendengar ibunya menyebut nama Dina, membuat kepalanya semakin terasa pusing. Di satu sisi ia sangat tertarik pada Dina, tetapi di sisi lain dia belum siap untuk menceraikan istrinya.
Haa.... Aku jadi pusing!
Drttt....
Drttt...
Ponselnya tiba-tiba bergetar dari dalam saku kemejanya. Ia mengambil ponselnya dan melihat nama yang tertera di layar ponselnya itu.
Dina
Haa ... Ia tampak menghela nafas berat sebelum menjawab panggilan itu.
"Halo sayang!" sapanya.
"Bagaimana? Apa kau sudah mengurus perceraiannya?"
"Ini sedang ku urus, sayang. Bersabarlah sebentar lagi. Ok?"
Kau serius dengan perkataan mu, 'kan? Jangan menundanya lagi. Kita harus segera menikah." Desaknya.
"Iya, sayang! Aku tidak mungkin berbohong padamu." Randi tampak berkilah.
"Baguslah kalau begitu. Aku senang sekali mendengarnya. Oh, iya! Aku juga ingin memberikan kabar baik padamu."
"Kabar baik apa?"
"Aku sedang mengandung saat ini."
...****************...