Perkenalkan, author merupakan orang desa di pinggiran kota Trenggalek.
Makasih yang sudah mampir. Jika berkenan silahkan tinggalkan jejak.
Semoga terhibur. Happy reading.
Apa salahku, mengapa semua terasa tak adil bagiku?
Cahaya Senja adalah seorang gadis remaja yang berprestasi namun tak pandai bersosialisasi hingga membuatnya tak banyak memiliki teman. Tekanan dari keluarga yang membuatnya demikian. Pertemanannya sangat dibatasi, dan yang tak boleh ada di kamusnya adalah berteman dengan laki-laki. Tanpa Senja tahu, ini semua dilakukan karena adanya luka di masa lalu.
Bertahun-tahun Senja hidup dalam kekangan, hingga akhirnya dia masuk di bangku SMP. Dia mulai merasakan indahnya persahabatan, dan saat mulai timbul rasa penasaran terhadap lawan jenis, hadirlah sosok laki-laki yang membuatnya merasa nyaman. Hari-harinya mulai berwarna, semangat belajar yang kian membara, tidak hanya dalam prestasi juga dalam kehidupan.
Ada cinta, ada hasrat, ada rindu, ada asa, dan ada mimpi yang mulai dia pahami.
"Aku ingin dekat dengannya, tapi tak tahu harus berbuat apa jika bersamanya."
"Pacar? Pacaran itu bagaimana? Apakah untuk dekat aku harus belajar pacaran?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kakak 1
Seorang pria memberhentikan ojek yang ditumpanginya di depan sebuah rumah, dengan dalaman luas dan pekarangan yang nampak asri. Dia memandangi dengan seksama rumah sederhana di hadapannya. Dari kejauhan, nampak seorang wanita muda tengah mengangkat jemuran. Dia tersenyum simpul.
"Adikku. Dia pasti istri Atma," gumamnya seorang diri.
Setelah cukup lama hanya memandangi rumah yang membuatnya sangat rindu, akhirnya bulat sudah niatnya untuk kembali menginjakkan kaki di rumah itu. "Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam," jawab Arti dari dalam rumah.
Arti POV
Setelah pemeriksaan tadi pagi, bahagia sekali rasanya ketika ternyata akan ada kehidupan di rahimku. Yang awalnya kukira masuk angin biasa, tak tahunya adalah tanda awal kehamilan. Pantas saja ibu mertuaku bahkan nyaris tidur di kamarku semalam saat aku tak kunjung berhenti muntah-muntah dengan tubuh yang sangat lemas. Ternyata beliau sudah curiga kalau aku sebenarnya sedang mengandung cucunya.
"Assalamualaikum."
Aku menghentikan kegiatan melipat baju yang baru saja aku angkat dari jemuran. "Wa'alaikum salam," ku jawab salam itu dan segera bangkit menuju pintu depan. Ku perhatikan dengan seksama sosok di ambang pintu itu. Perawakannya lebih tinggi dari mas Atma, kulit lebih cerah, dengan tubuh yang agak kurus. Tapi wajah itu, mata itu, senyum itu, sepertinya sangat familiar. Tapi siapa? "Mohon maaf cari siapa?" tanyaku kemudian.
Dan yang membuat ku terkejut adalah bawaannya. Ransel besar, kardus besar? Seperti orang yang habis melakukan perjalanan jauh dan hendak singgah di suatu tempat.
"Kamu istrinya Atma ya?" bukannya menjawab dia malah balik bertanya.
"Iya, Masnya siapa ya?"
"Maaf, aku nggak bisa pulang pas hari pernikahan kalian. Apa aku boleh masuk?"
Aku gelagapan, di rumah tak ada orang, dan tak sopan rasanya aku mempersilahkan seorang laki-laki masuk ke dalam rumah. Saat aku bingung harus ngomong apa, tiba-tiba pria itu nyelonong begitu saja. "Eh, Mas, Mas. Maaf mau kemana, di rumah nggak ada siapa-siapa, nggak sopan rasanya kalau saya membiarkan laki-laki masuk ke dalam rumah," ucapku panik.
Bukannya berhenti, dia malah terus melangkah masuk menuju ruang tv. Dia meletakkan bawaannya, dan segera tengkurep di atas karpet.
"Eh Mas, jangan main tidur aja, nggak sopan!" ucapku dengan nada tak nyaman.
"Aku Kakakmu Dik, insyaallah nggak apa," ucapnya sambil memejamkan mata.
Aku tak mampu menjawab, aku panik. Aku segera berjalan mencari ibu ke belakang rumah. Beliau tadi pamit mau metik jantung pisang untuk di sayur.
Kakak? Dia tadi bilang kalau kakakku? Apa dia yang namanya Anton, kakaknya Mas Atma.
"IBU, BUU, IBBUUUU," teriakku sambil terus berjalan mencari ibu.
"Ada apa to, kok teriak-teriak manggil ibu."
Akhirnya ibu menjawab teriakan ku. Entahlah, aku nanti di cap mantu kurang sopan atau apa, yang jelas aku bingung.
"Anu Bu itu, ada tamu, bawa ransel gede, terus sekarang nyelonong tidur di depan tv."
"Orangnya gimana?" tanya ibu dengan memegang jantung pisang yang baru di petik di tangannya.
"Agak kurus, kulitnya putih, tingginya di atas Mas Atma, dan...."
"Dan apa?
"Dan dia bilang kalau dia kakakku," ucapku akhirnya.
Ibu segera menyerahkan jantung pisang yang semula di pegangnya kepadaku. "Loh Bu, Bu ibu berjalan cepat meninggalkan ku yang masih bingung sambil memegang jantung pisang.
"Apa benar dia anak tertua di keluarga ini?" gumam ku seorang diri. Aku segera berjongkok untuk sedikit mengurangi rasa lemas yang beberapa waktu lalu sempat aku lupakan. Setelah merasa enakan, perlahan aku berjalan pulang.
Sedikit cerita tentang Keluarga Pak Sam. Pak Sam adalah ayah mertuaku. Dalam keluarga ini, suamiku merupakan anak tengah, dan Senja merupakan anak bungsu.
Sebenarnya suamiku punya kakak yang sejak beberapa tahun sama sekali tak pulang ke rumah, semenjak tragedi yang aku sendiri tak paham betul bagaimana detail ceritanya. Seperti yang diungkap tadi, bahkan di hari pernikahanku pun dia tak pulang. Sebenarnya masih ada satu anak lagi, namun dia meninggal saat Senja masih kecil. Kata Ibu mertua, kakak pertama itu meninggal karena komplikasi kehamilan. Dia meninggal beserta anak yang dikandungnya.
Tak terasa aku melamun hingga kini aku sudah berada di dalam rumah. Dan pemandangan pertama yang aku lihat adalah pria yang tadi datang tengah bersimpuh di kaki ayah dan ibu yang duduk dan memeluknya. Mereka menangis. Tangis apa itu? Aku sama sekali tak tahu situasi macam apa ini yang tengah aku hadapi.
Aku memutar haluan dan melangkah kan kakiku ke teras rumah. Aku segera duduk atas kursi. Mungkin aku sebaiknya di sini dulu, membiarkan mereka meluapkan semua rasa yang sekian lama terpendam.
Atma POV
Saat pulang dari TPA, kulihat istriku duduk sendirian di teras rumah. Wajahnya tampak lelah. "Dik, assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam. Udah pulang Mas," jawabnya sambil mencium tanganku.
"Iya, aku duluan. Masih kepikiran sama kamu."
"Aku baik-baik aja Mas."
"Ibu sama Ayah kemana?"
"Di dalam."
"Yuk masuk," ucapku sambil membimbing Arti istriku.
"Mas," dia menahan tubuhku yang hendak masuk rumah.
"Ya."
"Di rumah ada tamu," lirihnya.
"Siapa?"
"Emm, katanya Kakak gitu tadi pas baru dateng," ucapnya sambil menatapku dengan pandangan penuh tanya.
"Kamu udah ketemu sama dia?"
"Tadi pas dia dateng cuma ada aku di rumah, Ayah ke luar Ibu ke kebun. Aku panik saat dia nyelonong begitu aja. Pas aku teriakin dia, dia malah bilang kalau dia kakakku. Aku bingung jadi aku langsung nyusul Ibu ke kebun."
"Terus?"
"Di kebun aku bilang sama Ibu kalau ada tamu, dan pas Ibu tanya tamuku siapa, aku bilang kalau tamunya ngomong kalau dia kakakku. Pas denger itu Ibu langsung lari pulang."
"Dia mas Anton, kakakku," lirihku.
"Aku dah ngira, cuma aku kaget aja karena baru kali ini bertemu," terang Arti.
"Ayo masuk."
"Jangan," cegahnya lagi.
"Kenapa, aku mau ngenalin kamu."
"Tadi pas balik dari kebun nyusulin ibu, aku lihat Ayah Ibu sama Mas mu lagi nangis. Nggak enak."
Aku hanya mengangguk sebagai tanda mengerti. Kami duduk lagi di kursi. Kami duduk dalam diam. Saat itu, aku merasakan istriku menyandarkan kepalanya di bahuku.
"Masih pusing?"
Dia menggeleng.
"Cuma lemes aja," ucapnya kemudian.
"Makasih ya," ucapku sambil menggenggam tangannya.
"Untuk apa?"
"Untuk kehidupan di rahim kamu."
"Aku juga seneng."
Arti dan aku terpaut usia 7 tahun, usiaku sekarang 27 tahun dan dia baru 20 tahun. Aku senang sekali ketika dia menerima pinangan ku di usianya yang masih begitu muda dan tanpa melalui proses pacaran. Bukan, kami bukan menikah dengan perjodohan, hanya saja aku berteman dengan omnya. Saat tak sengaja ketika omnya menggoda kami kalau kami cocok, aku merasa tertarik dan segera menyatakan ketertarikan ku padanya. Saat dia menunjukkan respon positif, aku langsung menyatakan keinginanku untuk menikahinya.
Tanpa banyak syarat, Arti memintaku untuk bertanya langsung pada ayahnya, sehingga aku langsung meminta restu pada orang tuanya. Qodarulloh, orang tuanya memberiku restu, begitu pula dengan orang tuaku.
"Ayo masuk," ajakku pada Arti.
"Sekarang Mas?" tanyanya ragu.
"Iya, tenang. Semua akan baik-baik saja." Aku membawanya masuk ke dalam rumah. Benar kata Arti, Ibu masih menangis sambil memeluk kakakku.
"Mas..."
"Atma..."
TBC
Alhamdulillah, done.
Kritik dan saran di tunggu banget ya.
Yang udah mampir jangan lupa komen, like, vote, rate, dan share ya.
Terimakasih, 🙏