Arya Wajra, seorang pendekar pilih tanding yang turun gunung setelah menempa diri dengan kedigdayaan kanuragan di bawah bimbingan Rsi Betara Sang Hyang Hawu.
Ia mendapat tugas dari sang guru untuk berkelana menebar dharma, membela yang lemah dan memberantas ketidak adilan.
Dalam perjalanan pengembaraannya ia bertemu dengan Nambi, kakak seperguruannya yang merupakan seorang senopati di kerajaan Singosari.
Dalam kisah pertama Novel ini dikisahkan tentang pemberontakan Mahesa Rangkah mantan rakryan rangga kerajaan Singosari dengan cara mengadu domba Singosari dan Galuh, melalui drama penculikan Pwah Kenanga putri ketiga raja Galuh, Prabu Darmaseksa.
Apakah Ronggolawe, Nambi dan Arya Wajra mampu mengurai benang kusut kejahatan Mahesa Rangkah? Apakah Arya Wajra dapat menyelamatkan Pwah Kenanga dan memenangkan hatinya tanpa menyakiti perasaan Sekartaji putri dari Retno Wilis dan cucu dari Adipati Tedjo Laksono dan Endang Patibroto?
Novel ini merupakan karya fiksi sejarah berlatar kerajaan Singosari dan Majapahit.
Bagaimana alur kisahnya silahkan simak dan berikan kritik serta saran kepada Author.
Happy Reading.
Terimakasih 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bangie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 14_PERTEMPURAN DI GOA PERTAPA II
Kalawisesa menghempaskan tenaga dalam besar yg keluar dari cakar-cakarnya, Arya Wajra merasakan hawa panas mengarah padanya ia menjejakan kakinya ke tanah dan tubuhnya melenting dan bersalto beberapa depa keatas sehingga serangan Kalawisesa hanya menghantam dinding goa dan "duarrrr" suara ledakan dahsyat bagai guntur menggema dari dalam goa hingga terdengar keluar goa.
"Rupanya terjadi perkelahian di dalam goa" Kebo Arema bergumam dalam hati. Perlahan-lahan ia mendekati mulut goa berusaha menghindari kecurigaan dari Wakuntara.
Saat Wakuntara lengah Kebo Arema menyerang dari belakang. "Hiyaattt..." Sebuah tendangan berhasil ia sarangkan ke tengkuk Wakuntara membuatnya jatuh terjerembab.
"********.. beraninya kau menyerang dari belakang, dasar pengecut". Teriak Wakuntara muntab sambil memegang tengkuknya yg sakit luar biasa.
"Cuihhh, buat apa harus menggunakan cara ksatria pada ********-******** seperti kalian!"
"*******, rasakan serangan ku ini! Hiaaatttt..." Wakuntara terbang menyerang tubuh bagian atas Kebo Arema, Kebo Arema melompat bersalto kebelakang tubuhnya berputar berkali-kali hingga tak satupun serangan tangan Wakuntara yg mengenai tubuhnya.
Saat keduanya berhadapan kedua telapak tangan pendekar pilih tanding ini saling bertemu, tenaga dalam tingkat tinggi saling berbenturan hingga menghempaskan bebatuan dan daun-daun kering di sekitar mereka bagai tersapu angin ****** beliung.
Tubuh keduanya bergetar terlebih di bagian lengan, keringat mengucur di tubuh mereka, tingkat tenaga dalam Wakuntara masih di bawah Kebo Arema hingga membuat darah segar perlahan mengalir dari hidung Wakuntara.
"Kurang ajar, tenagaku tak cukup kuat menahan tenaga dalamnya. Jika begini terus aku bisa luka dalam". Wakuntara bergumam dalam hati. Ia melepaskan serangan telapak tangannya dan melompat mundur hingga sepuluh depa.
"Kuakui, tingkat tenaga dalamku masih di bawahmu tapi aku tak akan menyerah begitu saja". Wakuntara bersiap-siap mengeluarkan ajian Segoro Geni.
Wakuntara memasang kuda-kuda setengah betis kemudian merentangkan kedua tangan kesamping tubuhnya dan memutar-mutar lengannya beberapa kali lalu memutar lengannya berlawanan lengan kanan keatas kepala dan lengan kiri kearah perut hingga keduanya bertemu di dada.
"Ajian Segoro Geni... Hiyaaaaat". telapak tangannya mengeluarkan api yg besar dan dahsyat membakar apapun yg berada di depannya.
Melihat hal itu Kebo Arema melompat mundur menghindari kepungan api dari telapak tangan Wakuntara dan berusaha membalas serangan tersebut. Tubuhnya melenting kebelakang dan bertengger pada batu besar di dinding luar goa. Dari atas dinding Kebo Arema duduk bersila dan mempersatukan telapak tangan di depan dada merapal mantra dengan cepat.
"YA HUU HAA... AKU TITISE RESI BAGASPATI, DOYOKU CONDRO BIROWO, DOYOKU NOGO SAPUTRO, IDUKU WISO SARPO KENCONO, PANGUCAPKU GELAP WASESO, HONG HYANG ING AMERTA AMERTANI, SAMA HUMA, HUMA NINGSUN, YAHUMA, WASESANING JATI YAA WASESANINGSUN, INGSUN AMETEK AJIKU "SEGORO BANYU".
Tangannya bergetar dengan cepat tenaga dalam yg telah terkumpul di antara perut dan ulu hati ia arahkan ke kedua telapak tangannya hingga memunculkan perubahan elemen air seperti air bah yg menghantam pukulan segoro geni dari Wakuntara.
Kedua elemen api dan air saling beradu hingga hitungan 50 hentakan kaki kuda yg berlari kencang, sebab perbedaan tingkat tenaga dalam Wakuntara jauh di bawah Kebo Arema membuatnya terhempas setelah pukulan Aji Segoro Banyu menghantam dadanya. Tubuh Wakuntara terpental kebelakang dan menghantam pohon besar hingga tak sadarkan diri.
***
Sementara di dalam goa pertarungan sengit antara Arya Wajra menghadapi Mahesa Suta dan Kalawisesa masih berlangsung alot. Kalawisesa dan Mahesa Suta terluka cukup parah sementara Arya Wajra hanya mengalami memar di lengan namun tenaga dalamnya banyak terkuras sebab meladeni 2 pendekar pilih tanding sekaligus.
Diam-diam Gagak Hayang merapal mantra menyiapkan ajian Gagak Sewu sebuah ajian pukulan jarak jauh jika mengenai sasaran maka tubuh korban akan terasa terkena pukulan seperti di patuk oleh ribuan burung.
"Koaakk" suara Gagak Hayang mengarahkan ajian Gagak Sewu ke tubuh Arya Wajra. Karena sedang di sibukan oleh 2 lawannya Arya Wajra tak dapat mengelak dari serangan Gagak Hayang yg mengenai dada Arya Wajra membuat tubuhnya terhempas beberapa depa. Arya Wajra kejang-kejang menahan sakit di tubuhnya.
"Huahahaa... nikmati rasa sakit di sekujur tubuhmu anak muda!". Gagak Hanyang tertawa lepas sebab berhasil melukai Arya Wajra hanya dengan 1 serangan meskipun dengan cara licik.
"Kakang...." Pwah Kenanga berlari ke arah Arya Wajra. Belum sempat ia sampai Gagak Hayang terbang dan menotok aliran darah Pwah Kenanga kemudian membopong tubuhnya.
"Ayo, segera tinggalkan tempat ini sebelum utusan Singoshari datang kemari!". Gagak Hayang memerintahkan kedua rekannya untuk segera meninggalkan goa.
Saat sampai di pintu goa ketiganya melihat Ksatria Singoshari berpakaian perang sedang memeriksa Wakuntara yg nampak tak bergerak, entah masih hidup atau sudah mati.
Gagak Hayang memberi tanda kepada 2 rekannya agar perlahan-lahan meninggalkan goa tanpa diketahui Ksatria Singoshari tersebut.
Kebo Arema menotok peredaran darah Wakuntara agar aliran darahnya kembali normal dan tidak mati, sebab banyak hal yg harus ia korek darinya. Setelah mengikat Wakuntara, Kebo Arema pelan-pelan memasuki pintu goa yg sudah nampak sepi.
Sesampainya di dalam goa Kebo Arema hanya menjumpai Arya Wajra yg sedang duduk bersila bersemedi menyelaraskan aliran darahnya yg kacau sebab pukulan Gagak Hayang.
"Anak muda, dimana Putri Pwah Kenanga?" Kebo Arema bertanya sambil menodongkan kerisnya.
Arya Wajra tidak menjawab dan meneruskan semedinya.
"Cepat jawab sebelum ujung kerisku menembus jantungmu!" Kebo Arema muntab tak mendapat jawaban dari Arya Wajra
Kebo Arema hendak memberikan pukulan kepada Arya Wajra, namun belum sempat pukulan itu mengenai wajah Arya Wajra tiba-tiba Arya Wajra terbatuk-batuk dan menyemburkan darah hitam membuat Kebo Arema menghentikan pukulannya.
Perlahan Arya Wajra membuka mata. "Tuan, maafkan saya yg tidak bisa menjaga Gusti Putri hingga Gusti Putri di culik oleh gerombolan pendekar dari aliran hitam". Arya Wajra menjawab sambil terbatuk-batuk.
Kebo Arema mengambil sebuah pil pemulih tubuh dari kantong yg ia selipkan di sabuknya.
"Minum ini anak muda bersemedilah kembali dan selaraskan aliran darahmu, setelah itu ceritakan semua padaku atau aku akan menghukummu dengan berat". Kebo Arema menyerahkan pil kepada Arya Wajra
Dengan sigap Arya Wajra menelan pil dan bersemedi kembali. Tak lama berselang wajah Arya Wajra nampak lebih segar, ia membuka mata lantas tersenyum dan mulai menceritakan kejadian yg menimpa Putri Pwah Kenanga hingga pelariannya bersama Pwah Kenanga.
"Baik, jika demikian yg terjadi sekarang kau ikut denganku ke Tumapel jelaskan semua di hadapan Prabu Kertanegara. Aku berhasil menangkap 1 kaki tangan Mahesa Rengkah darinya aku akan mengorek tempat persembunyian Mahesa Rengkah dan akan aku ratakan dengan tanah". Kebo Arema berkata sambil menahan amarah di dadanya.