Kisah cinta rumit terjalin di antara empat bersaudara, seorang wanita hadir menjadi rebutan.
Dialah Art Tara Biancasandra, seorang wanita cantik yang memiliki nasib buruk semenjak memiliki ibu tiri. Nasibnya berubah setelah mengenal seorang pria kaya yang memanfaatkan dirinya. Dari sanalah ia mendapatkan kisah asmaranya yang rumit, segala keluh kesah kehidupan di dapatinya mulai dari hal baik hingga hal buruk.
Bagaimanakah kisah selanjutnya?
Apakah ia mampu menghadapi asmara jajar genjang itu?
Tidak ada permasalahan yang tidak mendapatkan jalan keluarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rha Setia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AJG 13
PT.ZhanaZ Group, ruang kebangsaan General Manager.
Keadaan ruangan itu harusnya rapi dan nyaman untuk dilihat, ya pemandangan itu memang terjadi beberapa waktu lalu, sebelum si penghuni ruangan membuat keadaan berantakan.
Seorang pria tengah duduk di atas kursi kerjanya, tepat dihadapannya terdapat setumpuk berkas yang mesti dikerjakan, tentu saja itu bukan tugasnya, melainkan tugas seseorang yang benar-benar lalai dalam pekerjaan, melakukan apa saja seenaknya, sehingga itu semua dilimpahkan padanya.
Hal semacam itulah yang membuat penampilan si pria terlihat berantakan, mulutnya mengeluarkan umpatan-umpatan kasar sejak beberapa waktu lalu.
Baru kali ini ia kewalahan mengurus pekerjaannya, ia mengutuk kakaknya yang selalu bersembunyi tanpa ia tahu pasti ke mana orang itu pergi.
Ia menggebrak meja kebangsaannya untuk meluapkan emosi yang sudah tak tertahankan, membuat seorang pria yang berdiri di hadapannya mengumpatnya penuh cibiran.
"Singkirin itu!" Sammuel memerintah dengan bentakan keras saat melihat asistennya menyerahkan lembaran berkas, berkas-berkas yang sudah membuatnya pusing dari hari kemarin.
Nicky sang asisten menggeleng menyikapi emosi itu. "Kalo lo ga cepet nyari jalan keluar, hasilnya bisa fatal, Sam!" tegurnya dengan nada pelan, teguran yang dibalas lenguhan sang atasan tatkala sang atasan membenarkan ucapannya.
"Gue angkat tangan." Sammuel menyerah, ia merasa sangat frustasi hingga tangannya berhasil memijat kasar pelipisnya. "Udah ga ada cara lain," imbuhnya melenguh kian kuat.
"Ada!" ucap Nicky yang menyangkal dengan penuh percaya diri. "Dia harus ngungkapin jati dirinya."
Sammuel menatap wajah asistennya, ia menyeringai dengan otak liciknya. "Kalo buat itu, gue tau caranya," ungkapnya, bayangannnya mengapung pada seorang wanita yang bekerja menjadi penghibur di tempat hiburan malam, tempat yang tiga hari lalu sempat ditemuinya.
"Kalo gitu, kenapa lo ga cepet bertindak?" tanya Nicky.
Hening, saat Sammuel berpikir keras untuk itu, hingga kini ia belum menemukan caranya untuk membawa wanita itu.
Terbersit pikiran buruknya tentang wanita itu, ia bertanya-tanya mengapa kakak keduanya sudi menepikan hatinya pada seorang wanita penghibur seperti itu.
Apa pun alasannya, yang jelas ia harus membawa wanita itu menjadi pekerja dalam perusahaannya, untuk memancing kakaknya agar kembali ke sana.
Dan lagi, ia bisa memanfaatkan keadaan itu untuk kakak ketiganya. Ia yakin jika kakak ketiganya akan sangat terhibur oleh kehadiran wanita itu. Terlihat dari terakhir kalinya mereka bertemu di dalam ruang karaoke malam itu, sang kakak mampu mengumbar tawanya atas apa yang dilakukan wanita itu.
Biarkanlah ia mengorbankan satu wanita yang tak lain wanita itu seseorang yang dianggap penting bagi kakak keduanya, selama itu menguntungkan bagi dirinya.
***
Rembulan malam memancarkan sinarnya, suara jangkrik berkumandang. Gelap membayang, keheningan malam yang selalu menjadi ciri khas suasana malam.
Tidak dengan satu tempat ini, suara degupan musik menggantikan suara jangkrik pengisi keheningan malam itu. Lampu kerlip pengganti cahaya bintang yang bertaburan menerangi setiap penjuru ruangan.
Tara sudah berganti identitas menjadi Vara, di dalam ruang bising dengan lantunan musik yang berdegup kencang itu, ia tengah mendaratkan bokongnya di atas kursi di tengah kerumunan orang yang sedang dimabuk dunia.
Sepuntung rokok yang menyala di sela jepitan jari tengah serta telunjuknya, menjadi teman kehampaannya dalam bayangannya tentang nasib hidupnya yang buruk.
Sebuah tangan yang berhasil merangkul pinggangnya membuatnya mendapat kejutan hebat, hingga ia mengarahkan pandangannya pada asal pemilik tangan itu.
"Kamu!" Tatapannya penuh kejut menuju wajah yang menyeringai di sampingnya.
"Berani banget megang pinggang aku." Ia protes dengan nada yang memekik, tak lantas mengempas tangan itu dari pinggangnya.
"Lo aja berani nyium gue," sahut Sammuel saat tangannya berhasil menyeret sebuah kursi agar bersebelahan dengan wanita itu, wanita yang masih menatapnya dengan tidak percaya, bahkan wanita itu menghisap rokoknya lantas mengembuskan asapnya mengenai wajah pria itu untuk melepas rasa kesalnya.
“Kamu masih mau bahas itu?" Vara bersungut tegas, ia benar-benar sebal dengan itu. Namun ucapannya hanya dibalas sang pria dengan menghindarkan wajahnya, dalam matanya yang terpejam menahan asap rokok itu menelusup masuk ke dalam matanya.
"Lo yang mulai cewe nakal, jadi lo yang harusnya tanggung jawab 'kan?" sahutnya ketika ia berhasil membuka matanya, lantas melentangkan tangannya memanggil waitres setempat.
"Emangnya aku hamilin kamu apa? Pake tanggung jawab segala," sahut Vara bergurau ringan yang terlontar dengan nada ketusnya, namun kalimatnya terbaikan ketika sang pelayan setempat menghampiri Sammuel.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya sang waitres dengan segan.
"Minta Rainbow 2." Sammuel melakukan pemesanan yang segera dibalas anggukan tegas oleh sang pelayan.
Dua gelas! Vara menyeringai mendapat makna jika ia berpikir mendapat bagiannya satu gelas. Kesempatan baginya untuk memeras pria yang masih asik berbincang dengan sang pelayan untuk mendapat penyenggal kegundahannya secara gratis.
"A-aku mau Tequilla boleh?" pinta Vara malu-malu hingga ia tidak mampu menatap wajah yang telah menyeringai penuh misteri itu.
Diam-diam Sammuel menerka niat wanita yang masih menyembunyikan wajahnya dari pandangannya, tidak mau kalah ia pun akan membuat perhitungan padanya.
"Oke Tequilla 1 botol, sp**te 2 botol, minta alas gelas 2, kasih irisan lemon dan juga garem," sahutnya, ia berhenti bicara saat pasang matanya mengedar menatap bungkusan rokok yang tergeletak di atas meja, tepat berada di hadapan wanita itu. "Mar***ro putih 2," imbuhnya.
Tangan sang pelayan pun sibuk mencatat apa yang dikatakan pelanggannya. "Baik saya ulang pesanannya." Lantas sang pelayan segera melangkahkan kakinya setelah mengucap ulang apa yang berada dalam tulisannya.
"Topingannya aneh juga." Vara berceloteh ringan hanya untuk berbasa-basi saja, mencari bahan obrolan tatkala pria itu dengan santainya meraih bungkusan rokok miliknya, mengambilnya sebatang dari sana tanpa meminta pamit pada pemiliknya.
Ia pun ingin mencari pelengkap perbincangannya dengan sepuntung rokok yang menyala itu. "Gue harus bikin cewe yang jago minum ini tepar malem ini," ujarnya penuh ancaman hingga telunjuk jenjangnnya melenting di hadapan dada wanita yang menatapnya penuh emosi itu.
"Kamu gila, mau ngapain aku kalo aku tepar?" terka Vara dengan pikitan buruk sangka, hingga ia merancu seolah tahu niat busuk dari pria yang masih menyeringai menatap lekat wajah cantiknya, hingga ia kesulitan mengendalikan wajahnya.
"Pede banget lo. Gue ga tertarik dikit juga sama lo." Sammuel membalas gemas hingga menepuk kening wanita di sampingnya untuk mencabik tatapan kikuk itu.
Benar adanya, sang wanita menatapnya hingga menyebar rasa malunya yang terpapar dari wajahnya yang merona tanpa bisa ia atasi.
"Sukur kalo gitu." Vara lega, dibalas sorotan tajam dari pasang mata pria tampan di sampingnya, ia memberanikan diri untuk kali ini membalas tatapan itu tak kalah lekatnya.
"Lagian, cewe barbar kaya lo emang bisa mabok cuma sama segelas Tequilla?" seru Sammuel mencabik suasana canggung seketika lantas mulai menyulut rokoknya, membuat pandangannya beralih yang di rasa wanita itu lega tiada terkira.
"Kamu bilang aku barbar?" desis Vara, jelas ia tidak terima dengan itu, hingga berucap melenting dalam seringai kejinya. "Mau nyobain aku cium pake ini?" imbuhnya mengangkat tangan, telapak itu sudah dikepalkan membuat sang pria kembali menatapnya.
"Sini!" seru Sammuel menyahut ucapan itu dengan menyodorkan pipinya. Ia menantang.
"Ga di sana kali," balasnya diakhiri seringai tak kalah kejinya dari sebelumnya, seringai membuat sang pria bergidik ngeri.
"Terus?" Sammuel makin menantang, lantas menarik kembali pipinya.
"Di sana." Vara menatap pangkal paha Sammuel seraya menaik turunkan alisnya dalam seringai iblisnya.
"Boleh juga," goda Sammuel membalai seringai itu, sesungguhnya ia menepis seringai itu yang dirasanya mengerikan baginya.
"Sinting," ucap lemah Vara seraya melepas pandangannya serta kepalan tangannya, itu membuat sang pria tersenyum penuh kemenangan.
Perbincangan terlerai dengan kehadiran pelayan yang membawakan seluruh pesanan Sammuel beberapa saat yang lalu.
Kedua tangan Sammuel sibuk meraih gelas-gelas yang tersedia lantas memulai aksinya untuk meracik minumannya. Ia mengoleskan garam pada bibir gelas itu membuat Vara hanya membisu seraya memperhatikan setiap gerakannya.
“Gue mau kasih tawaran kerja buat lo." Sammuel bersusah payah mengucap katanya, ketika sebatang rokok berbara bertengger di sela lipatan bibirnya, hal itu guna mempermudah aksi kedua tangan yang masih bersibuk diri dengan racikan andalannya.
"Kerja apaan?" tanya Vara singkat, namun tatapannya sulit dihindarkan pada wajah tampan yang kesulitan menatap wajah cantiknya itu.
"Jadi receptionist di ZhanaZ Group." Sammuel berseru tegas saat menjawab pertanyaan, namun mimik wajahnya yang memelas tatkala pasang matanya sulit terbuka, lantaran asap dari rokok yang masih bertengger pada sela bibirnya masih berusaha menelusup ke dalam matanya.
"Aku ga cocok jadi receptionist." Vara segera menolak dengan tegas, setegas gerakan tangannya yang telah berhasil meraih batang rokok dari bibir pria itu, setelah menilik situasi jika sang pria membutuhkan bantuannya.
"Belom di coba juga 'kan?" balas Sammuel memaksakan kehendak hati, jika wanita yang telah memberikan pelayanannya dengan menyodorkan rokok berbara pada mulutnya itu, harus menyetujui keinginannya tanpa ada alasan di baliknya.
"Pendidikan aku rendah ga akan bisa kerja di perusahaan gede kaya gitu." Vara menolak dengan lirih, mengingat tidak akan mampu menerima tawaran itu. "Bukan rendah sih, tapi emang ga ada ijazah," imbuhnya dengan ragu-ragu, bahkan terlihat malu-malu oleh pria yang masih sibuk dengan racikan minumannya.
Setelah lari dari kediaman ayahnya, Vara meninggalkan seluruh barang miliknya di sana. Hingga benda penting pun tidak turut di ambilnya, ia gengsi jika harus kembali menginjakkan kakinya ke dalam kediaman ayahnya itu. Lagupula, ia tidak memerlukan barang itu pikirnya.
Bungkamnya mulut Sammuel memberikan kesempatannya untuk menatap lekat wajah jelita itu, membuat batinnya tidak percaya jika keinginannya akan mudak mendapat penolakan dari wanita yang dianggapnya pemilik sifat baik hati. "Pengertian juga lo!" ujarnya ketika sang wanita kembali menyodorkan batang rokok berbara itu pada mulutnya, hingga ia tidak kesulitan memaparkan senyum menawannya yang membuat wanita itu mengunci tatapannya pada bibir yang terangkatnya.
"Udah kebiasaan ngelayanin cowo kali," tepis Vara yang berdalih ringan, menepis tingkah kikuknya akibat sang pikiran menyeringai kagum pada wajah yang dirasanya terlihat menawan itu.
Trak! Dengan alas gelas di atas dan bawah gelas itu, Sammuel mengentakan gelas itu di atas meja, itu membuat wanita di sampingnya terkejut tak lantas menolehkan pandangannya kembali padanya.
Sammuel segera menyerahkan gelas itu pada Vara, tak ayal mendapat sambutan dari wanita yang segera meraihnya tanpa banyak bertanya, seolah ia memang telah menunggu sejak tadi dengan tenggorokan yang kering, ia mengangkat gelas dan mengajak bersulang kepadanya.
"Cepet minum, kalo sodanya ilang jadi ga enak!" Sammuel memerintahkannya, ucapan itu segera disambut anggukan keras oleh sang wanita, Sammuel merebut rokok itu dari tangannya, bermaksud agar sang wanita tidak kesulitan memegang gelas itu. "Harus langsung ludes," imbuhnya yang sia-sia dan tak ada gunanya sama sekali, karena wanita itu meneguk minuman itu dalam sekali tegukan hingga habis tak bersisa.
Harusnya Sammuel sudah dapat memperkirakan hal itu, tak perlu sampai menyuruhnya, bukankah dalam ingatannya, wanita ini adalah peminum yang aktif? Tentu saja ia mampu melakukan hal semacam itu, meneguk satu gelas penuh sampai habis tak menyisakan setetes pun.
“Lumayan manis." Vara menjatuhkan gelas kosong ke atas meja, ia memuji dengan dua kata singkat itu, membuat sang pria tersenyum gemas melihat tingkahnya, apalagi saat ia menghapus sisa tetesan minuman pada bibirnya dengan menggunakan punggung tangan.
"Enak 'kan?" tanya Sammuel yang lagi-lagi terabaikan dan tak dipedulikan oleh wanita itu, ia segera merebut rokok dari tangannya tak lantas menghisapnya dengan rakusnya.
"Manis, tapi udahnya asem lemonnya ngerusak lidah," sahut Vara yang langsung disambut tawa gemas sang pria, ia memejamkan kedua matanya menahan rasa asam di lidahnya.
Sammuel terkekeh lantas kembali ia mengentakkan gelas kedua. Seusainya, sang wanita kembali merebutnya tanpa tahu malu, dengan tergesa ia kembali meneguk habis minuman itu, apa yang ia lakukan membuat sang pria mendengus dalam gelengan kepalanya.
"Sadis lo, bagian gue lo embat juga." Sammuel bersenda gurau.
"Bikin lagi gih!" Vara memaksa tatkala ia menyerahkan gelas kosong itu pada tangan Sammuel. Benar-benar seenaknya dan main perintah, pria itu segera melanjutkan tawaran.
"Asal lo mau sama tawaran gue tadi." Sammuel masih memaksakan sang hati untuk merajuk dengan cara paksanya. Namun tetap saja, ia meraih gelas itu menyambut perintah sang wanita.
"Udah aku bilang aku ga punya ijazah." Vara teguh seteguh keinginannya untuk kembali mendapat minuman, minuman yang kini telah diracik sang pria membuat sang pria menggeleng tidak percaya dengan tatapan harap itu.
Tanpa berbicara, Sammuel melakukan kegiatannya berawal dengan menyingkapkan kedua lengan panjang kemejanya hingga batas sikutnya, itu membuat sang wanita menatapnya penuh kagum.
"Ga usah pake ijazah, gue bisa masukin lo kok." Sammuel memecah pandangan sang wanita, ucapan itu membuat Vara merenung seketika mencari pertimbangannya.
"Berapa gajinya?" Vara menanyakan hal yang paling utama dari pekerjaan itu, kompensasinya, pertanyaan itu segera dibalas lirikan penuh kemenangan oleh sang pria. ua yang mengira jika ucapan itu adalah isyarat persetujuannya.
"5 juta sebulan buat awal." Ia segera menjawab.
"Sorry ga bisa kalo gitu, gajinya kecil." Vara menyahut secepat cahaya, mengingat hal buruk akan terjadi jika menyambar begitu saja tawaran itu.
Neraka menantinya jika ia bekerja menghasilkan upah seperti yang disebutkan Sammuel. Selain ibunya yang akan mengomel, lintah darat serta kebutuhan hidup anaknya telah menanti penghasilannya.
Sudah terduga oleh Sammuel sebelumnya, bahwa wanita itu akan menolak tawarannya. Namun tidak patah semangat ketika ia mengingat telah mempersiapkan siasat cadangannya.
"Kalo mau gaji gede lo bisa jadi sekretaris, tapi ada syaratnya," ujar Sammuel tegas membuat tangan yang kembali menyodorkan batang rokok berbara itu terempas begitu saja. Namun, “Eh siniin dodol," pintanya sambil meraih pergelangan tangan yang menggenggam batang rokok itu yang mengarahkannya pada mulutnya.
Jika saja ada yang melihat kegiatan itu dengan jeli, maka mereka terlihat seperti pasangan yang baru saja menikah hingga tidak malu meluapkan kegiatan romantisnya di hadapan orang lain.
"Apa syaratnya?" Tanya Vara menimang dalam lamunannya hingga tanpa di sadarinya ia menghisap rokok itu yang terdapat bekas jejak bibir sang pria di sana.
Sammuel belum yakin dengan tawaran yang akan diungkapnya, ia menghela napas dalam sebelum mengucap katanya. Gelagat itu membuat Vara jadi penasaran dan menunggu-nunggu apa yang akan ia utarakan.
Dan..
“Jadi cewe gue!" seru Sammuel tegas, enggan mendapat penolakannya.
Vara membisu, ia terperangah begitu hebatnya mendengar ucapan penawaran yang dirasanya tidak masuk akal itu. Apa ia tak salah dengar? Apa pria itu tak salah bicara? Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa semua tiba-tiba saja menjadi seperti ini?
Vara tak tahu dan tak dapat segera menangkap apa yang pria itu katakan, apa maksudnya semua ini?
•
•
•
Tbc
hmm...apakah jackson tahu bahwasanya dia telah jadi seorang ayah??
semoga segera dipertemukan oleh takdir.
dan perasaan mendalam antara kasihan sesal dan tumbuhnya cinta ...
mengapa pula sikap nya sungguh terlihat kejam ke tara,mungkinkah tara anak yg tdk di inginkan kelahirannya??
selamat berjuang tara,menata masa depan dengan peluh halalmu.
ujian terberat tara akan segera dimulai,kenapa kebablasan?kenapa tdk dengerin sahabat kamu tara
saya langsung cus ngingip visualnya mom😁