Zuri Keilana Wesley adalah putri sulung dari keluarga Wesley.
Gadis naif yang selalu berharap ada yang mencintainya dan menerimanya.
Tepat beberapa hari setelah kekasihnya yang telah ia taksir selama 20 tahun melamarnya, pria itu justru melakukan perbuatan tercela yang tak bisa Zuri maafkan meski ia berlutut memohon ampun.
Ethan Aviel Leon, tunangan Zuri kedapatan telah berselingkuh dengan adik kandung Zuri yaitu Leona Agatha Wesley.
Marah dan sakit hati membawa Zuri pada situasi yang pelik serta rumit.
Dan disaat itulah ia memikirkan balas dendam pada kedua pengkhianat itu dengan membuat perjanjian nikah bersama pria yang paling ia benci yaitu Davian Maverick Junior yang juga sedang diincar oleh Leona adiknya.
Davian dan Zuri sama-sama memiliki kepentingan dalam pernikahan ini.
Akankah pernikahan kontrak itu berubah jadi pernikahan manis atau sebaliknya?
yuk simak...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Davian sakit?
"Turunlah dan langsung naik!" ucap Davian tanpa menoleh kearah Zuri yang ia diturunkan di lobi.
Tanpa banyak bantahan dan kata-kata, Zuri turun dan langsung menuju depan lift yang akan membawanya ke penthouses milik Davian.
Sementara Davian langsung melajukan mobilnya.
Pikiran pria itu sedang kacau-balau.
Pasalnya ia kembali teringat akan peristiwa kelam beberapa tahun lalu.
Peristiwa yang hingga kini masih sangat membekas di ingatannya hingga ia sangat membenci Zuri padahal pihak berwajib mengatakan jika perempuan itu tidak terlibat sama sekali.
Mobil Davian berhenti di depan taman yang sunyi karena sudah malam ditambah suasana dingin sehabis hujan.
Pria itu tidak keluar dari mobil. Davian lalu mengeluarkan sebungkus r*kok yang terselip didalam dasbor mobilnya.
Asap mengepul membaur dengan udara dingin sisa hujan.
Davian menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi, menutup matanya sembari sebelah lengannya berada diluar masih dengan sisa puntung r*kok yang terselip diantara jarinya dan belum habis dihisapnya.
Ia mengerang seketika kala ucapan Zuri terngiang ditelinganya.
"Tidak mungkin Nia melakukannya. Dia perempuan setia dan manja... Tidak... Zuri pasti hanya ingin membela diri saja agar aku berhenti membencinya..."
"Nia ku hanyalah korban keegoisan dua kakak beradik itu..."
Davian terus bergumam dan menepis semua yang diungkapkan oleh Zuri tadi.
Cukup lama Davian menghabiskan waktu ditaman sembari berperang dengan dirinya sendiri.
Pria itu sampai di penthouses hampir pukul 2 dini hari.
Matanya menangkap Zuri yang sudah terbaring di sofa panjang dekat meja baca.
Tanpa menggubrisnya, Davian berlalu ke kamar mandi guna membersihkan diri.
Malam ini biarlah Zuri tidur dimana dia suka dan Davian juga demikian. Ia terlalu lelah berdebat dengan siapapun saat ini.
Zuri yang baru saja terlelap sayup-sayup mendengar gemercik air dari kran yang dibuka.
"Dia sudah pulang rupanya...? Aku pikir dia nggak mau pulang?" gumam Zuri yang langsung membalik badannya menghadap sandaran sofa.
Ia juga terlalu malas berdebat dengan pria itu.
Toh tak ada gunanya juga bagi Zuri untuk menjelaskan secara detail peristiwa tersebut. Yang jelas, Zuri telah menceritakan yang sebenarnya terjadi antara ia, Leona dan juga Nia. Terserah Davian mau percaya atau tidak, bukan lagi urusan Zuri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pukul 7 pagi...
Zuri terbangun saat alarm ponselnya berdering.
Sedikit merenggangkan otot-ototnya yang kaku karena tidur di sofa, ia lalu menoleh kearah ranjang dimana ada seseorang yang masih begitu lelap tertidur.
"Apa dia nggak kerja? Tumben jam segini belum bangun" bisik Zuri pelan.
Berjalan sepelan mungkin, Zuri lalu melangkah ke wardrobe dan langsung masuk kekamar mandi melalui pintu penghubung diantaranya.
Hari ini dia harus buru-buru karena sedang mengejar sesuatu.
Akan ada launching buku dari penulis favoritnya nanti di sebuah mall.
Hampir tiga puluh menit bersiap-siap, Zuri lantas keluar dari wardrobe. Matanya kembali menatap seonggok makhluk yang ditutupi selimut dan hanya menampakkan secuil rambutnya saja.
Ada erangan halus dan rintihan kecil terdengar meski sayup-sayup.
Zuri berusaha bersikap acuh. Ia masih marah kepada Davian karena pria itu telah membentaknya tadi malam.
Zuri terus saja melangkah keluar kamar menuju pantry.
Tak ada siapapun disana dan tak ada sarapan seperti biasanya.
"Aku lupa jika bu Sri sedang cuti... Lalu bagaimana dengan 'dia'" Zuri menoleh kearah pintu kamar.
"....."
Hening atau tepatnya Zuri dilanda keraguan antara pergi atau melihat kondisi Davian yang ia yakini pasti sedang demam.
"Masa bodo lah, toh dia kan punya asisten nanti yang akan mengurusnya... lagipula kami kan nggak ada perjanjian saling mengurusi...."
Lagi Zuri berargumen dengan dirinya sendiri antara melihat kondisi Davian atau tetap pergi keacara yang sudah lama ia nantikan.
Sebelah tangan Zuri baru saja akan menekan handle pintu keluar dikala hati nuraninya lebih memilih kembali kekamar untuk melihat kondisi Davian.
"Baiklah... Ini hanya balas budi karena dia juga pernah merawatku... Anggap saja aku menyelesaikan hutang budi.... ya... hanya itu..."
Zuri terus mengoceh seorang diri sembari tangannya sibuk menyiapkan sarapan dan mengambil obat untuk pria yang mungkin sedang menggigil di balik selimutnya.
Desah kecil keluar dari bibirnya saat ia kembali ke kamar.
"Davian...?? Kau, ayo bangun dulu... sarapan lalu minum obatnya" pinta Zuri yang mencolek-colek lengan Davian yang ditutupi selimut.
Davian membuka selimut yang menutupi kepalanya.
Mata sayunya menatap Zuri yang sedang membawa sebuah nampan berisi mangkok dan air putih.
"Kau mau kemana? Kenapa sudah rapi?" telisik Davian yang lebih tertarik dengan penampilan Zuri saat ini.
"Aku mau pergi tapi sesudah kau sarapan dan minum obat" jawab Zuri dingin.
"Ya sudah pergi saja... Tak perlu mengurus ku. Aku tidak apa-apa.. Lagipula aku bisa mengurus diri sendiri..."
Zuri yang masih kesal lantas meletakkan nampan diatas meja kecil disamping ranjang dengan kasar.
"Itu ada obat dan bubur. Aku tinggal dulu..." ucap Zuri yang sudah berada di ambang pintu.
Prang....
Baru saja Zuri beranjak dari kamar, suara gaduh benda jatuh terdengar begitu kuat.
Zuri menengadahkan kepala sambil memejam mata.
Ia lalu berbalik lagi kekamar dan mendapati Davian sudah berada di sisi ranjang dengan posisi hampir tersungkur.
Tanpa banyak bicara, Zuri dengan sabar membantu pria itu bangkit dan membereskan sisa-sisa kekacauan yang dibuat oleh Davian.
Pun demikian, Davian juga tak mengeluarkan sepatah kata dari bibirnya yang biasa selalu mengeluarkan kalimat-kalimat pedas menusuk.
Tak lama, Zuri telah kembali lagi dengan mangkok bubur yang baru. Ia lalu duduk di tepi ranjang.
"Buka mulutmu..." pinta Zuri sembari menyodorkan sendok kearah mulut Davian.
Pria egois bin narsis itu hanya diam menurut ketika diurusi oleh Zuri.
Keduanya hanya melakukan apa yang harus dilakukan, tanpa percakapan, tanpa basa-basi berlebihan.
Hingga bubur dimangkok habis ludes tak bersisa. Dan Davian harus akui, bubur buatan Zuri sangat enak meski lidahnya tidak terlalu suka bubur.
"Nih... " Zuri lalu menyerahkan sebutir tablet parasetamol keatas telapak tangan Davian.
Setelahnya Zuri keluar dari kamar dan membiarkan Davian beristirahat kembali.
Mata Davian belum terpejam sepenuhnya dan ia masih bisa melihat punggung Zuri yang merunduk kedepan. Sepertinya perempuan itu sedang berkeluh kesah sendirian.
Dan benar adanya. Zuri melirik jam di ponselnya yang kini sedang menunjuk pukul 12 siang yang artinya, acara yang akan ia hadiri telah lewat satu jam lalu.
"Tak apalah... masih ada kesempatan lain..." gumamannya.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Zuri mengarahkan kakinya ke balkon.
Ia sangat suka berada disana karena baginya, berada diketinggian dan kesunyian adalah salah satu caranya untuk menyiapkan energi agar bisa mengahadapi berisiknya dunia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Davian membuka matanya.
Nafas yang tadinya terasa panas kini sudah berangsur normal.
Matanya berkeliling mencari perempuan yang tadi merawatnya.
Tak ada siapapun dikamar itu kecuali dirinya.
"Kemana dia? apa dia jadi pergi?" desah Davian sedikit kecewa.
Davian meraih ponsel yang semula ia letakkan di laci nakas.
Begitu banyak pesan masuk dari Gama yang menanyakan keberadaannya dan kenapa tidak masuk kekantor hari ini.
Davian hanya membalas jika ia sedang demam dan hanya itu saja meski ia mendapat banyak balasan dari Gama yang tak percaya jika seorang workaholic bisa juga sakit.
"Dasar asisten durjana..." gumam Davian yang membanting ponselnya di atas ranjang.
Kaki Davian melangkah ke arah pantry karena tenggorokannya sedikit kering.
"Sudah malam ternyata... Dimana dia?"
Davian memicing saat menyadari pintu penghubung balkon sedikit terbuka.
"Sedang apa kau disini? Bukankah kau akan pergi?" sapa Davian berhasil membuat Zuri terlonjak kaget.
Zuri menoleh dan memberikan tatapan maut kepada pria yang sedang memasang wajah tanpa dosa setelah mengejutkannya.
"Gara-gara seseorang makanya aku gagal pergi keacara launching buku...." ketus Zuri.
Davian mencebikkan bibirnya bersikap acuh tak acuh akan kekesalan Zuri.
"Kau sudah sembuh? demammu sudah turun?" tanya Zuri meski ia sedang kesal.
Davian meraba keningnya. "Sudah... berkat perawat galak yang sedang merepet dihadapan ku..." jawabnya enteng yang dibalas oleh Zuri tatapan sinis.
"Apa kau masih marah karena perkara tadi malam...?" tanya Davian hati-hati.
"Untuk apa? Toh nggak ada untungnya aku marah atau membuatmu percaya akan semua hal yang terjadi.. Lagipula sejak awal kita sepakat menerima pernikahan ini hanya demi sebuah keuntungan semata tak ada tanggung jawabku untuk menjelaskan atau membuatmu tidak membenci ku lagi. Itu hak mu... Harusnya kita tidak boleh banyak interaksi satu sama lain agar tidak terjadi kesalahpahaman nantinya. Kau tetaplah seperti dulu, yang sangat membenciku dan akupun sama... Jangan melewati batas yang sudah kita sepakati karena semakin banyak kau tahu tentangku, maka akan semakin sulit bagiku nantinya dikemudian hari. Jadi, tetaplah pada posisimu saat ini..benci aku sesuai keinginan mu dan jangan berusaha menjadi pahlawan dalam hidupku karena aku tidak membutuhkannya... Selamat malam..."
Usai mengucapkan kalimat panjang lebar itu, Zuri meninggalkan Davian yang masih duduk di balkon.
Pria itu menggusar kasar rambutnya. Ekor matanya masih mengikuti kemana Zuri pergi.
Ya.. Zuri benar... Harusnya dia tidak ikut campur dan tetap pada ketetapan perjanjian mereka sebelumnya.
bersambung....