Tyo Fuller, seorang detektif pembasmi kejahatan, tengah mencari siapa pembunuh orang tuanya. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan Raise Lee, vampir wanita yang tengah menghisap darah seorang manusia.
Tak disangka, setelah tak sengaja menyentuh tatto di pundak Tyo, justru membuat Raise Lee kehilangan sebagian kemampuannya untuk menghisap darah manusia.
Mengetahui kelemahan sang Vampir, akhirnya Tyo Fuller mengajukan perjanjian kerja sama memanfaatkan kemampuan indra penciuman dan penglihatan sang vampir untuk membantunya menangkap para penjahat, sedangkan Tyo akan menyiapkan darah sebagai makanan bagi Raise Lee.
"Penciumanmu berguna juga! bantu aku menangkapnya!"
"Itu mudah bagiku! pastikan kudapanku tersedia setelah ini selesai, minimal satu liter darah!" tegas Raise Lee memperjelas syaratnya.
Mampukah kerjasama dua makhluk berbeda itu akan berjalan semestinya?
Bisakah Tyo Fuller menemukan pembunuh orang tuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#14
Dengan alasan keamanan dan kebutuhan penyelidikan, serta pertimbangan kesehatan mereka selanjutnya, maka para petugas memutuskan untuk memberi tempat tinggal sementara bagi 16 korban itu, di sebuah klinik yang tepat berada di sisi kanan kantor polisi.
“Keluarga kalian boleh berkunjung, kami akan menghubunginya satu persatu,” terang Radh sang ketua tim Jatanras dua. “Jadi, bantulah kami mengidentifikasi wajah pelaku,” imbuhnya.
“Itu … kami tidak bisa mengingat dengan jelas. Mereka selalu memakai topeng dan masker.
“Iya, ciri khas mereka hanya satu, yaitu memiliki tubuh atletis bak binaragawan!” sahut yang lainnya lagi.
“Ah! Aku baru ingat!” seru seorang korban yang sejak awal hanya duduk di barisan belakang. “Salah satunya pernah memakai semacam baju club, dan karena itu teman yang lainnya memarahinya. Aku rasa namanya itu berakhiran dengan AST.”
“AST?”
“Iya, waktu itu aku hanya bisa mengintip dan yang terlihat olehku hanya itu EST club'.”
Satu petunjuk lagi, dengan sigap dan sat-set para petugas itu mencari tahu nama club' yang berakhiran dengan huruf-huruf seperti yang disampaikan oleh para korban.
“Baiklah terimakasih, kami rasa cukup untuk hari ini, jika ada hal-hal lainnya akan kami hubungi lagi. Untuk sekarang kalian beristirahatlah di penampungan sementara,” ucap sopan ketua Radh. “Petugas Yui, tolong antar mereka kembali.”
“Perlahan-lahan jika kalian mengingat sesuatu lagi, apapun itu, tolong sampaikan pada kami,” imbuh petugas Yui lalu mengantar para korban ke tempat istirahat mereka masing-masing.
.
.
.
Di tempat lain, tepatnya di sebuah ruang rawat inap rumah sakit, detektif Tyo berdiri menghadap jendela, dengan tiang infus di sisinya. Ia menatap jauh keluar jendela dari lantai 8 rumah sakit itu.
Tepat di belakangnya, duduk diujung brangkar, seorang pria berkemeja polos biru, seraya mengunyah permen karet. Kent, seorang dokter forensik mengunjungi petugas Tyo. “Tak ditemukan sidik jari asing disana. Hanya milik kalian berdua dan sidik jari para korban saja!” lapornya.
Petugas Tyo menghela napas berat, “Pasti ada disana, satu saja bukti atau sidik jari, atau jejak yang tertinggal dan kalian belum menemukannya,” ucap petugas Tyo terasa begitu menohok.
“Tempat seluas itu?!” balas Kents terkejut, “Apa kamu ingin membunuh timku perlahan-lahan dengan menyuruh mereka menyusuri dua hektar tempat itu?!”
“Mau bagaimana lagi, bukankah memang tugas forensik seperti itu?” petugas Atho yang sedari tadi beristirahat di brangkar lain di ruangan itu ikut menyahut dalam baringannya.
“Tapi itu pemerasan tenaga namanya!”
Petugas Atho bangun dari brangkarnya, memantapkan pandangnya, “Dokter, kami bahkan sering hampir kehilangan nyawa jika berhadapan langsung dengan penjahat, kami harus menghindari gergaji, pisau tajam, bahkan tak jarak tembakan hampir menembus perut kami, bagaimana dengan itu?”
“Sudahlah hentikan!” potong detektif Tyo dengan tegas. “Sepertinya memang kita harus bekerja sendiri.” Petugas Tyo melepas infusnya sendiri, tanpa rasa ngeri ataupun takut akan keliru dengan keputusannya. “Setidaknya aku ucapkan terimakasih karena infonya.”
Dokter Kent mencebikkan bibir menunjukkan ekspresi yang tak begitu berarti. “Hm, tenang saja, kita sudah berteman sejak lama!” ucap datarnya. “Ah! Kebiasaan mu yang terlalu berusaha keras masih sama ternyata.”
Tyok menegaskan tatapnya pada dokter Kent, sorot mata yang dipenuhi keheranan terlihat jelas dengan terangkatnya kedua alis petugas Tyo. “Aku rasa kamu juga perlu bekerja keras, di bidang ini … sepertinya koneksi saja tidak akan menjamin hari-harimu semakin baik.”
Petugas Tyo mengganti pakaiannya, dan berlalu meninggalkan rumah sakit, “Tolong bantu selesaikan kepulanganku, katakan aku sudah baik-baik saja!” ucap tegasnya pada kawan lamanya itu.
“Hmph! Aku juga! Sepertinya aku buru-buru harus mencari koneksi sepertimu agar karierku tetap aman walau kepalaku tak bisa digunakan.” Petugas Atho pun mengikuti langkah petugas Tyo.
Ekspresi tak senang di wajah dokter Kent mengikuti langkah lebar kedua detektif itu. Meski luka di wajah keduanya masih belum kering, tak mengurangi rasa tanggung jawab akan tugasnya.
“Selama kedua kaki dan tangan masih mampu menopang tubuh untuk bergerak, maka tak ada alasan untuk bermalas-malasan!” Begitulah motto hidup keduanya yang begitu kompak.
“Hmm! Pantang pulang sebelum tumbang!” imbuh tegas petugas Tyo dengan aksen lucunya.
Merasa cocok satu sama lain, dan selalu berhasil saling melengkapi dalam tugas, mereka selalu menutup setiap akhir pengucapan motto dengan melakukan high five atau tos dengan telapak tangan dimana kelima jari terbuka lebar.
Keduanya berjalan beriringan di lobi rumah sakit, bak sepasang pahlawan dengan gaya ikoniknya, berjalan dengan dada terbusung, langkah yang sengaja dibuat selebar mungkin dan mata yang dipaksa menatap setajam mungkin, serta senyum yang dipaksa se-smirk mungkin.
“Siapa mereka? Kamu tahu?” bisik seorang perawat pada rekannya saat melihat dua pria dengan wajah babak belur berjalan melewati mereka.
Tatapan aneh ditunjukkan para perawat sebagai respon betapa tak biasanya penampilan kedua petugas itu.
“Aku rasa mereka itu gengster, lihat saja wajahnya,” sahut perawat lainnya.
Mendengar bisik-bisik para perawat dan bahkan tatapan aneh mereka, kedua petugas menghentikan langkah tepat di kerumunan meja perawat.
“Jangan seperti itu menatap kami, kami ini polisi!” ucap petugas Atho berusaha meyakinkan para perawat cantik itu.
Namun respon yang mereka dapatkan bukan pujian, melainkan tawa kikih para perawat yang secara nyata tak bisa menerima fakta dari kondisi penampilan kedua petugas yang lebih terlihat bak preman kalah dalam pertarungan.
Di saat itulah, ponsel petugas Atho bergetar, seseorang memanggilnya dari seberang.
“Paman ….” ucap lirih seorang gadis.
“Hm? Ada apa Anne?” sahut petugas Atho.
“Bisa tolong jemput aku di sekolah? Kepalaku sangat pusing.”
“Hm! Baiklah, tunggu di sana, paman akan segera ke sana!”
Petugas Tyo menatap lurus pada rekannya, melihat perubahan mimik sang rekan, ia menyadari ada sesuatu yang mungkin saja terjadi. “Ada apa?” tanyanya.
“Anne bilang sakit kepala, aku rasa aku harus menjemputnya ke sekolah!” ucapnya seraya mempercepat langkah kaki menuju jalan utama untuk mencari taksi.
“Hm, utamakan saja dulu dia, periksakan juga!”
“Sekolahnya sudah ada klinik, tapi lihat saja nanti, aku pergi dulu ya!” ucapnya seraya melambaikan tangan untuk memanggil taksi. “Ah! Kamu akan baik-baik saja kan, ke tempat itu sendirian, berhati-hatilah … nanti setelah selesai dengan Anne, aku akan menyusul.”
Petugas Tyo memberikan anggukan mantap, berharap agar rekannya fokus mengurus ponakan semata wayangnya yang telah kehilangan kedua orangtuanya sejak kecil, dan kini mengandalkan hidup pada Atho, sang paman. “Jangan khawatir, kita sudah sering melalui ini.”
“Oke! Aku pergi!”
Petugas Tyo menghela napas, ia berjalan ke sebuah kedai tepat di seberang jalan rumah sakit itu, setelah membeli sebuah permen lolipop, ia kembali mendekat ke tepi jalan, untuk menunggu taksi.
“Baiklah! Kita lihat lagi tempat itu, apa yang akan aku temukan!” monolognya seraya melambaikan tangan saat ia menangkap ada sebuah taksi melaju ke arahnya.
...****************...
Bersambung ....
akhirnya tamat juga.
selamat ya Thor.
maaf baru bisa ngikutin.
beberapa hari pull terus.
tetap semangat, sukses juga di karya-karya berikutnya