Joshua Adrian Waldgrave patah hati mengetahui calon istrinya mencintai pria lain dan jatuh terpuruk dalam kesedihan. Ia lebih memilih menghilang selamanya dari kehidupan wanita yang dicintainya dan menutup pintu hatinya untuk wanita lain. Setelah bertahun-tahun tidak mendengar kabarnya, mantan tunangannya meninggal, karena kecelakaan.
Sementara itu ditempat lain seorang gadis bisu dan memiliki cacat di wajahnya menyimpan dendam selama bertahun-tahun terhadap orang-orang yang telah menghancurkan kehidupan keluarganya. Jalinan takdir mempertemukannya dengan Joshua yang mengharuskan pria itu terikat kepadanya, karena janjinya kepada seseorang di masa lalu yang tidak dapat ia tolak. Janji yang mengharuskannya menjaga gadis itu seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembicaraan di malam hari
Miya sedang memperhatikan suaminya, Fabian sedang serius menelepon dengan seseorang di ponselnya. Fabian memutuskan pembicaraannya dan tersenyum kepada istrinya yang tengah bersandar di tempat tidur, kemudian ia menyelinap masuk kedalam selimut.
"Ada apa?''tanya Miya melihat wajah Fabian yang nampak cemas.
"Tadi Joshua menelopon."
Miya mengerutkan dahinya."Apa ada yang terjadi dengannya?''
"Tidak ada hanya saja dia ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting dengan kita."
"Lalu?"
"Entalah. Saat dia bicara tadi sepertinya sangat serius. Aku yakin ada hal yng sangat penting yang ingin dia katakan."
"Kapan dia akan datang?"
"Sekarang. Joshua sedang dalam perjalanan ke sini."
Tak lama kemudian terdengar suara bunyi bel yang menggema keseluruh mansion. Fabian dan Miya cepat-cepat turun dari tempat tidur.
"Cepat sekali datangnya,"kata Fabian.
Joshua sedang duduk saat mereka tiba di ruang keluarga. Ia tersenyum kepada pasangan suami istri itu.
"Maaf datang pada malam-malam begini. Apa kabar kalian dan apa aku menganggu istirahat kalian?"
"Kami baik. Sebenarnya sangat menganggu, tapi itu tidak apa-apa. Ada apa?"
"Akhir –akhir ini aku sangat sibuk, jadi tidak bisa datang ke sini sesering mungkin."
"Aku tahu itu, tapi Raina terus menanyakanmu terus,"kata Fabian.
"Apa dia sudah tidur?"
"Dia sudah tidur,"jawab Miya.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi. Apa yang ingin kamu bicarakan dengan kami?"tanya Fabian kembali.
Joshua menatap pasangan suami istri itu dengan wajah sserius." Ini mengenai Raina."
"Raina? Ada apa dengannya?"tanya Fabian.
"Ternyata Raina adalah adikku."
Hening.
Tiba-tiba Fabian berdiri dan tertawa dengan keras."Lelucon apa lagi ini. Jadi kamu datang malam-malam hanya untuk memberitahu lelucon ini?"
Joshua hanya terdiam dan tetap memasang raut muka serius.
"Aku rasa paman Joshua tidak sedang bercanda,"kata Miya.
Fabian menoleh ke arah istrinya, lalu duduk kembali disamping istrinya.
"Aku sudah melakukan tes DNA dan hasilnya positif kalau Raina adalah anak ayahku." Joshua memberikan selembar kertas kepada Fabian dan ia langsung merebutnya dari tangan Joshua.
"Tapi bagaimana itu bisa terjadi?"tanya Miya tidak percaya.
"Waktu Fabian mengatakan aku sangat mirip dengan Raina seperti ayah dan anak, lalu aku teringat dengan ayahku yang pernah menyimpan spremanya di bank **. Ayah melakukannya untuk memiliki anak lagi setelah adik perempuanku meninggal. Aku kemudian menemui ayahku mengambil rambutnya dan aku juga mengambil rambut Raina untuk tes DNA."
Fabian terhenyak dan tidak percaya.
"Bagaimana Jeanette bisa mendapatkan sprema ayahmu untuk melakukan inseminasi?"
"Aku juga tidak tahu hanya dia yang tahu, tapi sekarang ia sudah meninggal, kita tidak bisa bertanya kepadanya."
"Jadi Raina benar-benar adikmu?"tanya Fabia sekali lagi, karena ia masih belum mempercayainya.
"Benar."
"Ya Tuhan. Ini sunggu sangat mengejutkan."
"Apa kamu akan membawa Raina ikut bersamamu dan tinggal di rumahmu?"tanya Miya.
"Raina akan tetap berada di sini bersama kalian. Kalian akn tahu aku tidak punya pengalaman mengurus anak, lagi pula di rumahku tidak ada yang menjaganya."
Miya dan Fabian menghembuskan napas lega.
"Aku tidak merebut Raina dari kalian. Aku hanya ingin mengatakan kebenaran tentang Raina." Joshua tersenyum.
"Apa ayahmu sudah tahu?"tanya Fabian.
"Belum tahu. Aku akan memberitahunya pelan-pelan, jika keadaannya sudah lebih baik. Dan mengenai Jeanette, bisakah kalian memeriksa kamarnya untuk menemukan informasi kenapa dia bisa memiliki sprema ayahku?"
"Memeriksa kamarnya?"tanya Fabian heran.
"Dia mantan pelayanmu, kan? Pasti barang-barang miliknya masih tersimpan di kamarnya."
"Baiklah. Kami akan memeriksa kamarnya."
Joshua berdiri dan jam sudah menujukkan jam 11 malam." Aku harus segera pulang. Tolong sampaikan salamku kepada Raina. Oh ya jangan memberitahu Raina dulu kalau aku adalah kakakknya."
"Baiklah,"kata Fabian.
"Selamat malam!"
"Selamat malam!"ucap mereka bersamaan.
Fabian tersenyum, lalu mengecup bibir Miya sekilas dan tangannya mengelus perut buncit Miya.''Sebaiknya kita tidur,''kata Fabian sambil menyelimuti Miya.''Aku mencintaimu,''bisik Fabian. Tiba-tiba Fabian terlihat cemas melihat Miya yang sedang seperti menahan sakit sambil memegangi perutnya.''Ada apa?''
"Se..sepertinya aku akan melahirkan sekarang."
"Apaaa?''
Fabian langsung menyibakkan selimutnya dan turun dari tempat tidur dengan panik melihat Miya mengerang kesakitan.
''Fabian."Suara Miya tercekat ditenggorokkan.
"Bertahanlah, sayang!''
Fabian yang masih panik cepat-cepat mengganti pakaiannya. Miya tersenyum geli sambil menahan rasa sakit melihat Fabian yang seperti itu. Sebelumnya Fabian tidak pernah terlihat panik seperti itu. Dua minggu sebelumnya, mereka berdua sudah melakukan latihan apa yang akan dilakukan jika Miya akan tiba melahirkan dan sekarang semua latihan yang mereka lakukan hancur berantakan gara-gara Fabian yang tidak bisa mengontrol rasa paniknya.Fabian langsung mengambil kunci mobil dan membangunkan beberapa pelayan untuk menolongnya yang sudah terlelap tidur. Fabian langsung mengendong Miya menuju mobilnya.
''Fabian cepatlah!''
"Bertahanlah!'' .
"Fabian tenanglah! Jangan panik!''
"Aku tahu sayang,''katanya dengan suara keras dan panik. [ ]