Berawal dari kecelakaan berujung di pelaminan. Kaylo Albert Lyman X Sayla Lovanda Maulvi.
Hari tersial bagi keduanya yang harus menikah karna sebuah kecelakaan. Mereka belum saling kenal bahkan bisa disebut tidak saling kenal, tetapi mereka harus menikah? Mengapa? Keduanya punya kehidupan masing-masing dan hanya dalam satu hari berubah begitu saja. Kalian berfikir tinggal membantah? Tidak semudah itu. Keluarga mereka keluarga terpandang sekali memutuskan tidak akan bisa di ganggu gugat. Sudah tertimpa kecelakaan harus terperangkap dalam pernikahan pula. Kebebasan keduanya berakhir saat ini? Tentu tidak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NngNr.Laela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cucu Untuk Mama
Pengantin baru itu keluar dari kamarnya hendak menuju dapur untuk makan malam bersama dengan orangtuanya. Kay berjalan terlebih dahulu diikuti Say di belakangnya. Sesampainya di dapur mereka berdua disuguhkan dengan tatapan dan senyuman mama papanya. Kay duduk di hadapan Albert sementara Say duduk di sebelahnya, tepat dihadapan mama mertuanya. Kay dan Say mulai melahap makanannya mengacuhkan kedua orangtuanya.
"Say apa suami mu bermain kasar?" tanya Elaine penasaran.
Sayla berfikir sebentar sembari mengunyah makanannya. "Iya mam, sakit banget malahan."
"Kau tidak boleh main kasar Kay! Ini baru pertama kalinya bagi istrimu!" kata Albert memberitahu.
Kay mendongak menatap papanya malas. "Ck!" Kay berdecih sebal jika sudah di nasihati. "Dianya aja yang lemah!" ejeknya sembari melirik Sayla.
Sayla melotot padanya. "Ya jelas gue kesakitan lah, kalo lo mijitnya kenceng banget. Gada hati lo!" kesal Sayla menaikan nada suaranya, ia memakan makanannya dengan cepat karna terbawa emosi.
"Mijit?" tanya Albert heran.
"Maksudnya? Kalian tadi lagi proses buat anakkan?" kata Elaine.
"HAH?!" Sayla terkejut dengan pertanyaan mertuanya itu, dirinya masih sekolah masa udah mau bikin anak. Sayla bisa malu jika nanti berangkat sekolah dan perutnya membuncit bisa-bisa menimbulkan gosip yang akan membuatnya stress.
"Tadi Mama denger sendiri desahan kamu, Say!"
Kay terkekeh lalu dia menceritakan yang sebenarnya kepada kedua orangtuanya. Waktu Kay ingin melakukan hubungan suami istri, Sayla malah menendang kejantanannya hingga Kay meringis kesakitan, lantas ia mengurungkan niatnya. Disaat itu Sayla tengah pegal-pegal, Kay pun menawarinya pijatan lembut, namun di akhir pijatannya Kay malah memijatnya dengan keras membuat Sayla meringis dan menjerit kesakitan.
Elaine tampak kecewa, dia sudah berharap mempunyai cucu karna teman-temannya selalu membawa cucu-cucu yang begitu lucu kalau mereka reunian. "Say kenapa kamu nendang juniornya Kay? Itukan masa depan kamu."
Sayla terdiam, apa-apaan mama mertuanya ini, dia berekspresi sedih seperti itu hanya untuk membujuknya. Maaf itu tidak mempan ha-ha-ha.
"Sudahlah berikan Sayla waktu, lagipula dia masih sekolah jadi ya wajar saja dia menolak," kata Albert sambil mengusap punggung Elaine.
"PAPA YANG TERBAIK!!! CUMAN PAPA YANG NGERTIIN! SAYLA SAYANG PAPA MERTUA!" batin Sayla.
Kay nampak berfikir, benar juga. Kalau mereka tinggal satu atap dengan orangtuanya, nanti Kay tidak akan bebas bertemu dengan Vera. "Malam ini kita akan pindah!" ucapnya tiba-tiba.
Sayla, Elaine dan Albert menatap Kay horor beberapa detik kemudian. "HAH!!" ucap mereka bertiga serentak. "Anakku satu-satunya sudah gila!" gumam Albert menggelengkan kepalanya tak habis pikir.
"Apa yang kau bicarakan, Kay? ini sudah malam. Mengapa terburu-buru seperti itu? Tidak, Mama tidak akan mengizinkannya!" tegas Elaine.
"Mam dengerin Kay dulu," Kay menggenggam tangan mamanya supaya mendapatkan izin darinya. "Mama kepingin cucu kan?" tanya Kay yang dibalas anggukan oleh Elaine. "Nah jadi kita mau proses buatnya dirumah kita sendiri, supaya Say gak malu dan bisa menjerit sepuasnya nanti." Kay beralih merangkul pundak istrinya sambil tersenyum palsu, sebenarnya mana mau dirinya meniduri Sayla, kalau yang tadi itu gairahnya tak bisa ditahan bisa dibilang khilaf. Satu-satunya wanita yang dicintainya hanyalah Vera seorang.
Sayla membelalakkan matanya, rencana apa lagi yang pria mesum ini pikirkan? Tapi itu juga akan menguntungkannya, Sayla tidak akan terbebani lagi dengan permintaan konyol mertuanya kan? Sayla bisa bebas lagi, dia bisa menjalani masa-masa terakhir sekolahnya dengan normal. Sayla balas tersenyum dia akan mengikuti permainan Kaylo. "Iya, kau benar, Sayang!" Sayla menahan rasa jijiknya saat mengatakan kata terakhir itu, jika bukan demi bisa bebas dari mertuanya ogah Sayla mengatakan kata tersebut.
dkit asal jngan, trllu vulagar kan bisa
hambar bnget jdinya
Masih ada aq disini
dulu dia memuja2 vera bilang vera lebih baik dari say, dan baru sekarang dia nyadar say lebih segalanya dari vera
digiliran kay dah nyadar, sekarang malah say yang mikir rey lebih segalanya dari kay
karma tuh kay, makanya jangan buka matanya lebar2, dapet bini yang segalanya eh milihnya yang kek batu apung gabisa ngapa2in.. nyesel kan sekarang dibutakan cinta palsu vera