Masa-masa SMA memang masa-masa yang tidak bisa dilupakan. Mulai dari percintaan, persahabatan, bahkan perseteruan diantara sesama teman.
Bagaimana jadinya jika para anak-anak sultan berkumpul menjadi satu? banyak suka duka, canda tawa, yang akan mereka rasakan.
Yuk, simak keseruan mereka dalam masa-masa remaja yang sangat menyenangkan dan dibalut dengan kisah komedi yang akan mengocok perut kalian semua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Dira Yang Malang
Semua anak tercengang dengan apa yang sudah Gabby lakukan, tapi mereka juga sangat bahagia karena berkat Gabby, mereka akhirnya bisa pulang.
"Astaga Gab, kamu hebat banget bisa melakukan semua itu," seru Alexa.
"Gue bukannya hebat, tapi gue pengen cepat-cepat pulang makannya gue samperin cowok gila itu," sahut Gabby dengan membereskan alat-alat tulisnya ke dalam tasnya.
"Gabby hebatlah, pokoknya," seru Aleena dengan mengacungkan jempol.
Gabby dan teman-temannya pun meninggalkan kelas, Dira berjalan paling belakang membuat Vira mempunyai kesempatan untuk mengganggu Dira.
Vira sengaja melipat kaki Dira sehingga Dira tersungkur ke lantai.
"Aw."
"Ya Allah Dira, kamu kenapa?" tanya Aleena dengan menghampiri Dira.
Dira mendongakkan kepalanya dan melihat ke arah Vira, tapi kemudian dengan cepat Dira menundukkan kepalanya.
"Aku tidak apa-apa kok, Aleena."
Aleena kemudian membantu Dira berdiri, dan Vira dengan senyuman sinisnya segera berjalan dengan angkuhnya meninggalkan Dira dan teman-temannya.
"Ih, ingin rasanya aku Jambak rambut si Vira, sombongnya naudzubillah," geram Vina.
"Istighfar Vin, ingat, kata Abi aku kalau ada orang yang sombong, jangan benci kepada orangnya tapi bencilah sama sifatnya dan tugas kita harus saling mengingatkan," seru Aleena.
"Orang kaya gitu mana bisa diingetin, Aleena. Yang ada dia tambah bar-bar dan semakin menjadi-jadi," seru Alexa.
"Ya kalau sudah gak bisa diingetin, berarti kita diamkan saja jangan urusin dia lagi. Yang penting, kita jangan kaya gitu sama orang lain," sahut Aleena.
Semuanya terdiam dan kembali melanjutkan jalan, seperti biasa semua anak sudah dijemput satu persatu oleh orangtuanya kecuali Dira yang harus pulang naik angkot karena Ayah Demir tidak bisa menjemputnya.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Dira sampai di rumahnya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, tumben pulangnya siang Nak?" tanya Bunda Safira.
"Iya Bunda, tadi di sekolah ada sedikit masalah," sahut Dira.
"Ya sudah, mau mandi dulu atau mau makan dulu?"
"Dira mandi dulu lah Bunda, soalnya sudah gerah."
Dira masuk ke dalam kamarnya, dan segera mengambil handuk lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah menunggu beberapa saat, Dira akhirnya selesai mandi dan berganti baju lalu menghampiri Bundanya yang saat ini sedang menunggu Dira di meja makan.
"Apa Bunda sudah makan?" tanya Dira.
"Sudah, Bunda sudah makan kok."
Bunda Safira mengambilkan nasi dan lauk pauk seadanya untuk putri kesayangannya itu.
"Makan yang banyak, Nak?"
"Iya, Bunda."
Bunda Safira memperhatikan Dira makan dengan tatapan sedih, entah kenapa Bunda Safira merasa sakit melihat kehidupan Dira yang sangat menyedihkan.
"Maafkan Bunda, sayang."
Dira menghentikan kunyahannya dan menatap Bundanya dengan mengerutkan kening.
"Kenapa Bunda minta maaf sama Dira?"
"Karena Bunda sama Ayah belum bisa membahagiakan kamu, sayang."
"Ya Allah Bunda, selama ini Dira sangat bahagia kok. Asalkan Bunda sama Ayah selalu ada di dekat Dira, Dira akan merasa sangat bahagia."
"Oh iya, bagaimana sekolahnya? kamu belum cerita sama Bunda karena waktu itu Bunda keburu masuk rumah sakit."
"Sekolahnya sangat menyenangkan Bunda, teman-teman baik sama Dira bahkan setiap hari mereka membelikan makanan untuk Dira."
"Ya Allah, beruntung sekali kamu, sayang. Kalau bukan karena kebaikan Tante Gilsya dan Om Arka, kamu tidak akan bisa sekolah di sekolahan mahal itu jadi Bunda harap, kamu sekolah yang rajin ya, jangan kecewakan Bunda sama Ayah supaya nantinya kamu bisa membalas budi kamu kepada Tante Gilsya dan Om Arka," seru Bunda Safira dengan mengusap kepala Dira.
"Iya Bunda."
"Apa di sekolah ada yang jahat sama kamu?"
Dira langsung tersedak mendengar pertanyaan Bundanya itu, Bunda Safira segera memberikan minum kepada Dira sembari menepuk-nepuk punggung Dira.
"Ya ampun Dira, makanya pelan-pelan."
"Iya Bunda, maaf. Tidak kok Bunda, semuanya baik sama Dira gak ada yang jahat," dusta Dira.
"Syukurlah."
Bunda Safira kembali memperhatikan wajah Putri kesayangannya itu.
"Mudah-mudahan, tidak ada yang tahu kalau Mas Demir pernah masuk penjara karena kasihan Dira, dia akan malu kalau sampai teman-temannya tahu," batin Bunda Safira.
Saat ini Ayah Demir bekerja sebagai OB di perusahaan Mommy Gilsya, bukan Mommy Gilsya tidak mau memberikan jabatan yang bagus untuk Ayah Demir tapi keadaanlah yang mengharuskan Mommy Gilsya melakukan semua itu.
Dulu Ayah Demir merupakan Pengusaha sukses, tapi akibat karyawannya yang jahat membuat Ayah Demir terkena imbasnya karena harus menanggung hutang yang menumpuk dengan jumlah yang fantastis.
Ayah Demir sudah menjual seluruh hartanya tapi tetap saja hutangnya tidak terbayarkan, bahkan Mommy Gilsya menawarkan bantuan kepada Ayah Demir tapi Ayah Demir menolak karena Ayah Demir takut tidak bisa membayarnya.
***
Sementara itu, sepulang sekolah Arsya menuju kantor Mommy dan Daddynya. Baru saja Arsya masuk ke dalam kantor, Arsya bertabrakan dengan Ayah Demir yang saat itu baru saja kembali setelah membelikan makanan untuk salah satu karyawan.
"Astaga, maaf Tuan, saya tidak sengaja," seru Ayah Demir dengan membungkukkan tubuhnya.
"Om Demir, anda Om Demir, kan?"
"Arsya."
"Om, tidak apa-apa, kan?" tanya Arsya dengan memperhatikan tubuh Ayah Demir.
"Tidak Arsya, Om tidak apa-apa kok. Oh iya Arsya, jangan panggil Om kalau di sini soalnya takut ketahuan sama karyawan orangtuamu. Kalau bertemu dengan Om, pura-pura saja tidak kenal."
"Tapi Om----"
"Demi kebaikan kita semua, Arsya."
"Baiklah Om, kalau begitu Arsya ke atas dulu ya."
Ayah Demir menganggukkan kepalanya, Ayah Demir memang menyamar bekerja di sana bahkan Ayah Demir juga memakai nama lain demi keamanan perusahaan Mommy Gilsya dan Daddy Arka.
Arsya seperti biasa kalau masuk ke ruangan kedua orangtuanya, dia tidak pernah mengetuk pintu dan langsung masuk saja.
"Astagfirullah!" teriak Arsya dengan menutup matanya.
Mommy Gilsya dan Daddy Arka yang sedang berbuat mesum sampai kaget dengan kedatangan putranya itu, untung belum sempat anu-anu.
Daddy Arka melempar bantal sofa ke wajah Arsya membuat Arsya terkekeh.
"Dasar anak tidak tahu diri, sudah berapa kali Daddy bilang, kalau masuk ruangan itu ketuk pintu dulu!" bentak Daddy Arka.
"Sudah berapa kali juga Arsya peringatkan sama Mommy dan Daddy, kunci pintunya kalau mau mesum," seru Arsya kesal.
"Sudah berani kamu memperingatkan Daddy," seru Daddy Arka dengan menjewer telinga Arsya.
"Sudah-sudah, kalian ya tidak pernah akur kalau bertemu," seru Mommy Gilsya.
Arsya dan Daddynya memang sering bertengkar kalau dekat, tapi di saat jauh mereka akan saling merindukan.