Ketika seorang gadis yang hidupnya hanya untuk membalaskan dendam kematian keluarganya, tapi hati gadis itu ditakdirkan untuk mencintai pembunuh keluarganya. Akankah gadis itu memilih memaafkan pembunuh keluarganya atau terus pada tujuan utamanya yaitu balas dendam? Ikuti keseruannya yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
"Rakaaa, lihat dia rusakin mobil aku!" ucap Lucy mengadu kepada kekasihnya.
"Biarin aja, besok aku beliin yang baru. Ayo aku antar pulang." kata Raka.
"Tapi dia--"
"Ayo pulang." ucap Raka sambil tersenyum. Tetapi kalimatnya menekan membuat Lucy langsung menurut.
Setelah Lucy dan Raka pergi diikuti dua anggota inti Thunder Boys. Zylva menghampiri kedua sahabatnya dan melakukan tos ria bersama mereka.
"Gila keren banget njir!" puji Amel.
"Lo lihat nggak tadi dia hampir nangis?" tanya Jessy dengan sumringah.
Zylva hanya tersenyum. Matanya melihat ke sekelilingnya lagi mencari sepupunya. "Ngilang kemana sih tuh orang?" batin Zylva.
Sesampainya di mansion Zylva langsung teriak-teriak memanggil Gibran. Hal itu membuat Reygan, Varrel dan Matthew keluar dari kamarnya masing-masing.
"Ada apa baby?" tanya Matthew sembari menuruni tangga.
"Gibran mana kak?"
Matthew mengerutkan keningnya mendengar adiknya menanyakan Gibran. "Dia belum pulang." jawab Matthew.
"Tumben nyariin si jamet?" tanya Reygan yang baru turun bersama Varrel.
"Bukannya harusnya sama Lo?" tanya Varrel.
"Nggak, sejak jam istirahat gue gak lihat dia kak." ucap Zylva. Diwajahnya tergambar jelas bahwa gadis itu khawatir.
"Rey, Lo pasang GPS di motornya kan?" tanya Matthew.
"Hm, bentar gue lihat."
"Gak usah, gue udah balik." sahut seseorang yang baru masuk dari pintu utama.
Mereka berempat dibuat terkejut dengan penampilan Gibran yang acak-acakan. Cowok itu tidak memakai seragam, melainkan pakaian serba hitam dan juga wajahnya yang tertutup scarf masker. Tulang pipinya terlihat memar ketika dia menurunkan maskernya. Dan buku-buku jarinya pun juga sedikit memerah. Dapat dipastikan jika cowok itu baru saja berkelahi.
"Berantem sama siapa Lo?" tanya Reygan menginterogasi adiknya.
"Berantem sama Raka." jawab Gibran seraya mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tamu.
Lagi-lagi mereka dibuat terkejut dengan jawaban Gibran. Apa yang Raka lakukan hingga cowok yang jarang emosi ini bisa semarah itu sampai menghajarnya?
"Ngapain Lo berantem sama dia?" tanya Matthew.
"Lo gak pernah sampai berantem kalau gak terlalu emosi." ucap Reygan yang sudah sangat hapal watak adiknya.
"Lihat CCTV sekolah." kata Gibran.
Matthew langsung mengambil laptopnya dan mencari rekaman file CCTV SMA Cempaka Putih hari ini. Memang dia tadi tidak memantau kegiatan Zylva karena cowok itu disibukkan dengan masalah di perusahaan mendiang papanya yang sekarang dia handle.
"Fuckk!" umpat Matthew, dan Reygan bersamaan ketika melihat Raka yang menampar adik kesayangannya.
"Harusnya Lo mutilasi sekalian tuh orang!" ucap Matthew dengan geram.
"Jangan gegabah, rencana yang Lo susun selama ini bakal gagal kalau dia mati gitu aja." sahut Varrel.
"Benar kata kak Varrel, lagian dia udah gue bikin malu." ujar Zylva ketika rekaman sampai di bagian dia menendang perut Raka hingga tersungkur.
Mereka menonton rekaman CCTV tersebut dari pagi hingga waktu pulang sekolah.
"Good baby girl." puji Matthew melihat aksi yang dilakukan adiknya hari ini, kemudian cowok itu menutup laptopnya dan beralih menatap Gibran.
"Apaan?"
"Di keroyok?" tanya Matthew.
"Tiga lawan satu." jawab Gibran.
"Menang atau kalah?" tanya Reygan.
"Ya menang lah!"
Zylva tertawa kecil melihat ekspresi Gibran. "Ayo gue obati pipi Lo. Gantian tadi Lo yang obatin gue." ucap Zylva.
"Ehh nggak nggak! Lo kasar!" tolak Gibran mentah-mentah.
"Asu! Gue tambah juga memar Lo!" semprot Zylva emosi.
"Hehe, peace baby." ucap Gibran sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V disertai cengiran tengil.
"Buruan!"
"Iya iya, galak amat." cibir Gibran sambil bangkit dari duduknya.
"Mulut Lo perlu gue sobek." ancam Zylva yang sudah mulai kesal.
"Ampun kanjeng."
Mereka naik ke atas untuk mengobati luka Gibran. Sedangkan Matthew dan dua sepupunya yang lain masih diam di tempat.
"Gue ragu tuh bocah menang beneran." ucap Reygan.
"Lihat sendiri!" sahut Varrel sambil melemparkan handphonenya kepada Reygan.
Reygan dibuat melongo melihat rekaman di handphone Varrel yang menunjukkan Raka, Daffi, dan Gilang terkapar di jalanan sepi dengan kondisi babak belur.
"Gila.." gumam Reygan.
"Jangan remehin dia. Dia cuma selengan di luar. Jiwanya monster sama seperti kita." ujar Varrel seraya merebut handphonenya kembali.
"Tapi, darimana Lo dapat rekaman itu?" tanya Reygan penasaran.
"Dia pasang kamera di kendaraan kita semua." jawab Matthew dengan santai.
*
Di sisi lain, Raka, Daffi, dan Gilang duduk di pinggir jalan karena masih agak lemas setelah dipukuli Gibran. Mereka bertanya-tanya siapa cowok tadi?
"Lo kenal dia Ka?" tanya Gilang.
"Nggak." jawab Raka singkat.
"Lo ada masalah sama orang?" tanya Daffi. "Gue yakin dia bukan orang sembarangan. Kita yang sudah megang sabuk hitam taekwondo masih kalah sama dia." ujar Daffi.
"Gue kayaknya pernah ketemu dia disekolah." ucap Raka.
"Hah? Dia satu sekolah sama kita?" tanya Gilang.
"Bagaimana Lo tahu? Dia pakai masker." tanya Daffi.
"Gak tau, tapi dari sorot matanya kayaknya gue pernah ketemu dia di sekolah." tutur Raka. "Ayo balik, udah mau gelap." ucap Raka kemudian beranjak menghampiri motornya diikuti dua sahabatnya. Kemudian mereka pergi dari sana.
*
Malam harinya, Raka bertelanjang dada dan duduk di ranjangnya untuk mengobati luka-lukanya. Bukan hanya luka yang dia dapatkan saat berkelahi dengan Gibran tadi. Akan tetapi juga luka yang diberikan orang tuanya.
"Hahhh..." Raka menghela napas melihat pantulan tubuhnya yang penuh luka. Kemudian dia mengambil obat merah dan sebagainya untuk mengobati luka-lukanya.
Ini adalah peraturan keturunan Mafia Dark Wolf. Mafia yang dipimpin papanya Raka. Setiap keturunan Mafia Dark Wolf yang akan meneruskan menjadi pemimpin akan dilatih dengan keras. Begitupun Raka. Setiap terluka satu kali dia akan di hukum dengan ditambah lukanya dua kali lebih banyak. Makanya tubuh cowok itu penuh dengan luka.
"Heh... padahal gue gak pengen jadi king mafia." ucapnya.
Ditengah-tengah mengobati lukanya tiba-tiba terbesit kalimat yang diucapkan Zylva tadi pagi di sekolah. "Gue cuma ngelakuin apa yang Lo ajarin ke gue!" "Mau Lo larang berapa kalipun, gue bakal tetap siksa semua orang di sekitar Lo." dua kalimat Zylva tersebut terus berputar di kepala Raka.
"Apa yang gue ajarin ke dia?" batin Raka bertanya-tanya.
Cowok itu diam sejenak meresapi kalimat Zylva. "Tunggu! Kalau gue pernah ngajarin sesuatu ke dia, berarti gue pernah ketemu dia kan?" ucap Raka. Cowok itu mengingat-ingat bagaimana cara Zylva menatap dirinya. Benar-benar tatapan kebencian. Sekarang cowok itu paham, Zylva menaruh kebencian yang besar kepadanya karena sesuatu hingga gadis itu akan menyakiti semua orang yang didekatnya. Satu pertanyaannya.
"Apa yang membuatnya sebenci itu ke gue?"
...***...
...Bersambung......
...Mas Gibran versi garang...