NO BOOM LIKE YA MAN TEMAN 🙏🙏🙏
Sekuel 'Dendam istri yang tak dianggap'
Jika berkenan Baca seasons 2 Dendam istri yang tak dianggap terlebih dulu ya agar paham dengan cerita ini. Terima kasih😘💕
Kejadian satu malam yang menyebabkan dirinya hamil diluar nikah, hingga ia dihadapkan diantara dua pilihan. Memilih ayah kandung anaknya, atau laki-laki yang telah menjadi suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BABY FARHAN
Di kediaman David, suasana begitu riuh setelah kedatangan Nathan. Pemuda yang tak kalah tampannya dengan Reyhan tiada hentinya berceloteh seperti anak kecil pada si baby boy. Dan yang membuat semua orang terkekeh karena si baby boy terus meliuk-liukan kepala serta badannya seolah mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Nathan.
"Jadi semuanya udah setuju ya kalau aku yang kasih nama untuk si baby boy ini." ucap Nathan, menatap satu persatu orang-orang yang ada diruangan itu.
Setelah mendapat anggukan, Nathan pun tersenyum sembari mengecup pelan kening keponakannya itu.
"Hai boy, karena kamu tampan seperti Om. Jadi, Om Nathan kasih kamu nama... Farhan, Farhan Adiguna." ucap Nathan kemudian mengecup kening keponakannya lagi.
"Yang benar itu, Farhan Richardo." seru David, yang membuatnya seketika mendapat tatapan tajam dari Kevin.
"Ya gak bisa gitu dong, dimana-mana anak itu menggunakan marga Bapaknya, bukan Ibunya." tukas Kevin dan membuat David terkekeh.
"Iya, iya aku cuma bercanda. Sensi banget sih jadi orang." ujar David masih terkekeh.
Sementara Nayla hanya menundukkan kepalanya mendengar perdebatan Papa dan Papa mertuanya perihal nama anaknya. Yang mana kedua nama marga itu tak seharusnya melekat pada putranya.
Pratama, itulah yang seharusnya menjadi nama lengkap putranya yang berasal dari marga Ayah kandung bayinya itu.
"Oh ya. Selama sembilan bulan ini Nayla dan Reyhan kan tinggal di sini. Jadi, hari ini aku akan memboyong cucu dan mantuku pulang ke rumahku." ucap Kevin, dan membuat David seketika berdiri dari tempat duduknya.
"Gak boleh, pokoknya Reyhan, Nayla dan bayinya harus tetap tinggal di sini." tegas David, dan Kevin pun berdiri dari tempat duduknya.
"Loh kenapa gak boleh?" Sejak awal seharusnya Nayla itu tinggal dirumah mertuanya, tapi aku diam aja karena memaklumi nya yang mungkin nantinya tidak akan merasa nyaman karena belum terbiasa. Tapi sekarang Nayla harus terbiasa tinggal dirumah mertuanya." tukas Kevin.
"Sudah, sudah..." Reyhan menengahi perdebatan dua laki-laki paruh baya itu, kemudian ia pun berdiri dari tempat duduknya.
"Mulai besok aku dan Nayla memang tidak akan tinggal dirumah ini lagi. Tapi kami juga gak akan tinggal dirumah Papa dan Mama." ucap Reyhan pada papanya.
Sejenak Kevin dan David saling pandang, kemudian serentak menatap Reyhan.
"Terus kalian mau tinggal dimana Reyhan?" tanya David.
"Sebenarnya, aku sudah lama membeli rumah untukku dan Nayla," jawab Reyhan yang membuat Nayla langsung menatapnya.
"Dan besok kami akan pindah dan tinggal dirumah kami sendiri." sambungnya. "Oh ya, sebelum itu kami ingin menikah lagi. Agar pernikahan kami benar-benar sah di hadapan Tuhan." ucapnya yang membuat semua orang yang ada diruangan itu terhenyak, namun beberapa saat kemudian mereka semua menggangguk setuju.
...******...
Aditya dan kedua orangtuanya yang baru saja sampai dirumah mereka. Rumah yang sudah mereka tinggalkan selama sembilan bulan.
Rumah itu nampak berdebu, dan rumput rumput-rumput di pekarangan mulai memanjang karena tak ada yang merawat rumah itu selama mereka pergi.
Setelah membersihkan kamar Adit, Lestari membawa putranya untuk beristirahat dikamar. Dan setelah itu ia membantu suaminya membersihkan bagian rumah yang lainnya.
Di kamarnya, Adit terus saja melamun memikirkan sang kekasih. Ingin sekali ia menelpon Nayla, namun sayangnya ponselnya sudah rusak saat ia mengalami kecelakaan. Dan sialnya ia lupa nomor kekasihnya itu, padahal seblumnya ia sangat menghafalnya.
Setiap kali ia berusaha untuk mengingat nomor Nayla, selalu berakhir dengan kepalanya yang sakit serasa ditusuk-tusuk. Ah mungkin ini efek dari kecelakaan itu, pikirnya.
Merasa sia-sia terus mengingat nomor kekasih namun tak juga ia mengingatnya. Adit pun mendekatkan kursi rodanya ke ranjangnya. Kemudian ia berusaha untuk berpindah ke ranjang, dan untungnya ia bisa memindahkan tubuhnya sendiri dari kursi roda ke atas ranjangnya.
Adit tidaklah lumpuh permanen, kedua kakinya hanya mengalami cedera yang akan bisa sembuh dan berjalan lagi dengan menjalani terapi dan pengobatan yang tepat dan teratur.
Adit meraih pigura kecil yang berada diatas nakas disamping ranjangnya. Didalam pigura itu terdapat fotonya bersama Nayla saat masih sama-sama mengenakan seragam putih abu.
Adit tersenyum mengingat masa-masa remajanya bersama Nayla. Ia mengingat semua tentangnya dan Nayla, dari awal pertemuannya hingga mereka menjalin sebuah hubungan.
Namun, beberapa saat kemudian senyum Adit memudar ketika ia mengingat saat Nayla mengatakan dirinya hamil. Adit teringat akan bayi yang dikandung kekasihnya itu. Apakah Nayla mempertahankan kandungannya atau malah menggugurkan nya karena ia yang tiba-tiba menghilang.
"Nay, besok aku datang. Bagaimana kabarmu?" lirih nya, dengan masih menatap fotonya bersama Nayla.
"Dan bagaimana dengan kandunganmu. Apakah kau mempertahankan bayi kita? Jika iya itu artinya saat ini aku sudah menjadi seorang ayah." Adit tersenyum membayangkan hal itu. Dalam hati ia berdoa semoga Nayla benar-benar mempertahankan kandungannya saat itu meskipun ia tidak ada.
"Besok kita akan bertemu, Nayla. Aku sangat merindukanmu, aku akan menjelaskan kenapa aku tidak datang hari itu." gumamnya, kemudian perlahan ia mengusap wajah kekasihnya di dalam foto itu.
Di luar rumah, setelah selesai membersihkan rumah. Lestari dan Reno duduk di pekarangan rumahnya bak dua remaja yang sedang berpacaran. Saat ini mereka berdua sedang membahas tentang putranya, juga perihal mengenai besok mereka akan datang ke rumah kekasih putranya.
Sejujurnya, Lestari dan Reno tidak tahu bagaimana harus berhadapan dengan kedua orangtua dari kekasih putranya. Mereka tidak tau harus mengatakan apa, tidak tahu harus memulainya dari mana.
Terlebih, mereka sama sekali tidak tahu siapa keluarga dari kekasih putranya itu.
"Jangan tegang. Anggap saja besok kita akan menyelesaikan masalah kita sendiri." ucap Reno pada akhirnya, ia menggenggam tangan Lestari, meyakinkan istrinya itu jika besok semuanya akan baik-baik saja.
"Yah, kau benar Reno. Anggap saja kita sedang menyelesaikan masalah kita sendiri." ujar Lestari, ia tersenyum menatap suaminya itu.
Tersenyum mengingat kisah kelam mereka berdua dimasa lalu. Yang mana saat itu Lestari juga hamil saat belum menikah dengan Reno.
Beberapa saat kemudian mereka berdua kembali hening mengingat hari esok. Sama seperti Lestari, Reno pun sejujurnya sedikit khawatir untuk bertemu kedua orangtua Nayla besok.
Mereka hanya khawatir jika terjadi keributan karena kesalahpahaman seperti yang dikatakan Adit. Nayla dan dan kedua orangtuanya berpikir jika Adit lari dari tangung jawab atas kehamilan Nayla saat itu.
ni lihat nayla berkali melakukan kesalahan pada reyhan, coba buat nayla mengaku salah, minta maaf, dan berjuang dapat kesempatan dari reyhan
ini apa kalian buat drama lagi untuk menutupi kesalahan nayla, kalian buat nayla salah paham yang ujung reyhan lagi seakan melakukan kesalahan, mengejar maaf, dan malah reyhan yang berjuang, jadi nayla bebas begitu saja
sekali saja kalian jadi wanita itu adil
jika pemeran utama salah, buat dia menyesal, mengaku salah, minta maaf, berjuang dan menenus kesalahan, jangan lagi buat drama2 pengalihan isu menutupi kesalahan pemeran utama wanita
sampai disini pahamkan
dan menjahui larangan NYA...cara y saja sudah salah mabook... kecuali d perkosa.. di jebak beda cerita.... menurutku loh yaaaa🙏🙏🙏🙏🙏