Rania sudah lama membuang jauh semua rasa, mengubur dalam-dalam perasaannya, untuk bang Fakhri, seorang ustad di kawasan tempat tinggalnya. Sampai pada saat adiknya mengingngatkan memorinya kembali. Mengingatkan kembali akan cinta pertamanya yang hanya dinikmatinya dalam diam. Mengingatkan cinta yang tidak pernah bisa terungkapkan.
Bagaimana kisah Rania mengejar cinta sang Ustad? Apakah dia masih bertahan pada perasaan cintanya. Yang bukan hanya di tengah sikap dingin sang Ustad, tapi juga diantara cinta sahabat kecilnya, yang sudah terobsesi pada sang Ustad. Keberadaan seorang gadis muslimah sejati yang di taarufkan keluarga Ustad. Dan juga di tengah cinta-cinta lain disamping Rania, yang nyatanya lebih mudah untuk di rengkuhnya.
Lalu bagaimana sesungguhnya hati sang Ustad. Seseorang yang sangat sulit diterka perasaannya, di takar hatinya, di tebak keinginannya. Maka lengkapnya rumitnya kisah cinta ini, saat masih ada cinta pertama yang terpendam di hati sang Ustad sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Utary Koleksi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Mobil
Setelah mobil Sisca dan Rara udah jalan, Raniapun berjalan menuju mobil Fakhri. Tampak sudut matanya menangkap sosok tampan Fakhri yang sudah duduk di belakang kemudi sambil menyandarkan satu tangannya di pintu mobil. Rania melihat beberapa kali Fakhri tampak memejamkan matanya. Rania menjadi tidak tega sekaligus tidak enak hati.
"Bang....," sapa Rania tiba-tiba menyentak kesadaran Fakhri dari rasa lelahnya. Kemudian tersenyum manis memandang Rania.
"Kalau bang Fakhri capek, sebaiknya istirahat saja dulu di masjid sambil menunggu magrib. Biar Nia naik taksi aja bang," pinta Rania.
Lagi-lagi Fakhri tersenyum manis memandang Rania. Membuat rasa gugup kembali menjalari gadis itu.
"Udah masuk mobil, biar abang antar," perintah Fakhri masih dengan senyuman lembutnya.
Rania tampak terpaku menatap sosok di depannya. Please, jangan semanis itu dong bang Fakhri. Abang tahu, senyum itu bukan hanya bisa bikin diabetes, bahkan bisa bikin jantung Nia jadi berhenti bernafas, keluh Rania dalam hati.
"Ayo naik, keburu mahgrib. Kok malah bengong di situ....Nia....," panggil Fakhri.
Panggilan Fakhri jadi menyadarkannya, membuatnya menghentukan segala ketertegunan dan gumamannya barusan.
"Iy...iyaa bang....," jawab Rania gugup lalu memutar langkah menuju pintu mobil bagian depan di samping Fakhri.
Rania tampak sangat gugup saat sudah duduk di kursi samping Fakhri. Dia tidak dapat menutupi perasaan yang berkecambuk di hatinya. Rania memilih menunduk dan terdiam.
Fakhri membunyikan klakson mobilnya, dan disambut lambaian tangan oleh Andi. Kemudian menutup kaca mobil di sisi kanan dan kiri, lalu mulai melajukan mobilnya pelan keluar dari halaman Masjid.
Mobil sudah membeĺah jalan kota perlahan. Tampak macet sepanjang jalan karena jam segini masih banyak kendaraan-kendaraan yang sedang pulang kantor. Fakhri tampak beristiqfar.
Rania mengalihkan pandangannya ke kaca mobil di sampingnya. Menikmati keriuhan jalan yang sudah penuh kemacetan. Tubuhnyapun tampak sudah sangat lelah dan lengket. Untung saja mereka punya banyak pemberhentian masjid untuk sholat saat memberikan bantuan donasi seharian tadi.
"Kalau capek, kamu tidur aja di mobil. Nanti begitu nyampe abang bangunin," ujar Fakhri menatap Rania.
Fakhri sudah melirik Rania sedari tadi. Gadis itu sudah tampak menguap berkali-kali.
Fakhri faham kalau Rania pasti merasa tidak nyaman ikut bareng dengan mobilnya. Bahkan sudah berkali-kali Rania menolaknya saat di masjid tadi. Fakhri bukannya tidak tahu niat Rania menghindarinya. Bahkan Fakhri sangat faham saat Andi dengan sengaja membuatnya mengajak Rania bersamanya ketimbang bersama Rara. Kalau mau jujur, Fakhri mau memgucapkan terimakasih pada Andi yang akhirnya bisa membuat keinginan Rara yang selalu saja hendak menempel padanya jadi tidak bisa pulang bersamanya. Fakhri tidak ingin sama sekali bersama gadis agresif itu. Berulang kali Fakhri melakukan penolakkan, walaupun hanya secara implisif, karena Fahkri paling tidak mungkin untuk menyakiti orang lain secara terang-terangan. Tapi gadis itu, Rara tidak ada kata lelah dan menyerahnya. Fakhri bahkan sampai kehabisan akal untuk memberi sebuah alasan. Didukung tempat kerja mereka yang sama, yang sangat memberi peluang bagi dirinya dan Rara untuk selalu bertemu dan bersama. Amat sangat bertolak belakang dengan sifat dan sikap Rania. Gadis itu begitu pemalu, jangankan terang-terangan menatap Fakhri, Rania bahkan selalu menundukkan kepalanya saat mereka bertemu. Mengucapkan cinta, mencari perhatian, atau melakukan hal-hal yang meminta perhatian Fakhri. Itu tidak akan pernah terjadi. Paling banter seulas senyum dengan tertunduk malu saat Fakhri menangkap tidak sengaja tatapan lekat Rania yang tengah memandanginya. Dan kemudian Fakhri tersenyum. Seorang gadis yang takut-takut memandang seorang laki-laki karena fitrahnya sebagai seorang wanita muslimah adalah satu hal yang lucu di mata Fakhri. Bukan dalam artian sebuah kelucuan yang sebenarnya. Tingkah malu itu yang seakan menggelitik hati Fakhri. Rania dan Rara dua sahabat karib, yang tampak seperti langit dan bumi. Keberanian kentara versus Kemalu-maluan yang sederhana.
Tingkiyuu bangetz yang udah setia baca Novel "Mengejar Cinta Ustad"
Mohon Dukungannya
👇
Vote
Like 👍
Favorit ❤
Coment 💬
Baca juga Novel Author Lainnya
☆ Love Or Be Loved
☆ Cinta 90
Mohon juga Dukungan
👇
Vote
Like 👍
Favorit ❤
Coment 💬