Penuh dengan Misteri. 👺👺
Vivana Gadis desa berusia 21 tahun di paksa menikah dengan seorang pria kota yang baru saja bertemu dengan Ayahnya.
Hanya karena pria tersebut memberikan sebuah perkebunan yang cukup luas, Ayahnya rela menjadikan Vivana syarat pembayaran buat menikah.
Bukannya kebahagiaan di dapatkan Vivana setelah menikah. Pria yang menikahi Vivana adalah seorang Psikopat dan MAHAR MEWAH bernilai fantastis pemberian pria tersebut malah menjadi TEROR yang merenggut beberapa orang tercinta dan terdekat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Mimpi buruk yang terulang
Aku berdiri di samping mobil yang sudah siap jalan, bibir mengulas senyum manis melihat Pak tua berdiri di hadapanku, meski Pak tua tidak pernah membalas senyum manis 'ku. “Pak. Aku pergi dulu, rumah aku titip kepada Bapak, dan ada beberapa stok bahan makanan buat Bapak di dalam kulkas. Dan Bapak juga harus jaga kesehatan selama aku pergi.” Ucapku sopan berpamitan dengan Pak tua yang akan aku tinggal selama 1 atau 2 minggu sampai Barra kembali pulang.
“Lebih bagus seperti ini.” Sahut Pak tua singkat membuat diriku bingung.
“Maksud Bapak?”
“Tidak ada, hati-hati di jalan. Aku pamit pergi dulu, karena masih banyak pekerjaan.” Sahut Pak tua datar, Pak tua berbalik badan dengan terpincang-pincang dirinya meninggalkan diriku yang masih berdiri di samping mobil.
‘Apa maksud dari ucapan Pak tua? Dan kenapa dirinya selalu berbicara seperti penuh teka-teki menggantung kepadaku! Siapa Pak tua ini?’ Batinku. Kedua mata menatap kepergian Pak tua.
“Vivana, Ayo naik! entar ke buru sore.” Panggil Fanny memecah pikiranku.
“Oh. Iya.”
Aku segera naik ke kursi penumpang bagian belakang, memasang seatbelt.
“Sudah siap semuanya?” Tanya Baskara menatap diriku dari kaca spion tengah dalam mobil.
“Siap.” Sahutku.
Mobil mulai melaju perlahan meninggalkan halaman rumahku. Aku memutar kedua bola mataku menatap rumah mewah yang terlihat asri dan nyaman saat di lihat dari jauh Dari spion samping. Lagi dan lagi, kedua bola mataku membulat sempurna melihat sosok setan wanita berdiri di jendela kamarku.
“Wanita itu!”
“Wanita apa Vivana?” Tanya Fanny memutar arah duduknya menghadap 'ku.
Aku menggeleng. “Tidak ada.”
“Vivana.” Panggil Fanny menekan nada suaranya memanggil nama 'ku.
“Fanny.” Sahutku ikut menekan nada suaraku.
Aku menarik nafas lega setelah mobil yang aku tumpangi sudah melaju jauh dari lingkungan rumahku, aku menyandarkan tubuh di badan bangku. Kedua mata terpejam. “Kalau sudah sampai tolong bangunkan aku.”
“Baik.” Sahut Fanny dan Baskara serentak.
Aku memejamkan kedua mataku, mencoba istirahat yang tenang dan nyaman seperti aku masih gadis dulu. Aku pikir aku bisa terbebas dari semua teror buruk yang selalu menghantui diriku. Aku salah, saat aku memejamkan kedua mataku. Aku sudah duduk di dalam mobil sepasang kekasih yang pernah aku lihat di alam mimpi.
.
.
.
💤💤Alam Mimpi.💤💤
“Ha! Dimana ini?” Tanyaku sendiri, kedua mata menatap sekeliling dalam mobil seperti bukan milik Fanny dan Baskara. “Fanny, Baskara.” Panggilku.
Saat aku memanggil nama Fanny dan Baskara, aku mendengar suara tawa dan canda dari sepasang kekasih. Aku segera jongkok di bawah, memiliki tubuh kecil memudahkan aku untuk melakukan itu, mengintip dari balik bangku. Kedua mata menatap sepasang kekasih yang sedang beradu kasih.
Terlihat tangan pria sedang membelai lembut puncak kepala wanita yang duduk di atas pangkuannya. Wanita yang sama persis aku lihat di mimpi buruk pertamaku, wanita yang aku lihat hampir meregang nyawa akibat di paksa meminum butiran putih yang terlarang, tapi kini aku melihat dirinya tersenyum manis di atas pangkuan kekasihnya.
Apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa mimpinya berubah-ubah, tapi wanitanya tetap sama dan hanya wajah pria yang tidak jelas.
.
.
“Sayang. Apa kamu bersedia menukarkan rumah-mu kepadaku dengan apartemen yang sudah aku belikan kepada-mu yang berada di Jakarta?”
“Aku sangat bersedia.”Sahut wanita tersebut membelai lembut pipi yang sedikit di tumbuhi bulu. “Kamu adalah cinta mati 'ku, semua yang kamu inginkan akan aku berikan kepada kamu. Harta peninggalan suamiku tidak akan pernah habis untuk kita nikmati berdua.”
“Berarti rumah yang berada di desa Anggrek kini resmi menjadi milikku, dan kamu resmi menempati Apartemen mewah yang sudah aku berikan kepada kamu?”
Aku tercengang setelah mendengar penuturan sepasang kekasih tersebut, aku menggeleng pelan. Desa dan rumah sama persis seperti yang aku tempati. “Tidak mungkin.” Gumam 'ku pelan.
“Apanya yang tidak mungkin?” Terdengar suara wanita menyambung ucapan 'ku.
Aku melirik secara perlahan ke kursi kemudi, keringat jagung mengalir seketika dari sela-sela rambut dan bagian tubuh dalam 'ku.
“KEMBALIKAN.” Ucap wanita tersebut dingin, menunjukkan wajah aslinya langsung di hadapanku.
“Aa…Aa..Aa.”
Aku terus berteriak sekuat mungkin sebanyak 3 kali, kedua mata membesar, bibir terbuka lebar, tubuh terasa kaku seperti kayu yang tak bisa bergerak sama sekali. Aku melihat wajah wanita yang hancur sebelah kanan di penuhi belatung, darah dan nanah mengalir, bola mata sebelah kanan hampir terlepas dari tempatnya menatapku tanpa celah.
Aku mengayunkan kedua tanganku, kedua mata aku pejamkan. “Pergi! Pergi kamu….pergi.” Teriakku sekuat mungkin, kedua tangan terus mengayun ke depan, berharap menjauh dari wajah setan wanita. Wajah dan ucapannya yang selalu terngiang-ngiang di kedua telinga dan pikiranku.
.
.
.
🍃🍃Di alam nyata. 🍃🍃
“Vivana! Vivana.” Panggil Fanny menggoyang tubuhku.
“Pergi! Pergi, kamu dari hadapanku.” Ucapku, kedua tangan masih terus menghalau tubuh Fanny yang kini sedang duduk di sebelah kiriku.
“Vivana, ini aku Fanny! Kamu kenapa?”
Fanny terus berusaha menyadarkan diriku dari mimpi buruk yang aku lalui. Fanny terus menggoyang tubuhku, tangan kanan menghapus lembut dahi 'ku yang di penuhi keringat jagung.
“Vivana. Kamu harus sadar.” Ucap Fanny sedikit gemetar, air mata Fanny mengalir begitu saja membasahi kedua pipinya.
Aku membuka kedua kelopak mataku, tatapan panik dan bingung mengarah ke sekeliling dalam mobil, dan berakhir menatap Fanny yang masih menangis di sisi kiriku. Kedua tanganku memegang tubuh Fanny, memastikan jika dirinya beneran manusia bukan hantu atau setan.
“Apa ini benar Fanny?” Tanyaku untuk memastikan.
Fanny mengangguk. “Iya.”
“Mulai kapan kamu bermimpi buruk, Van?”
“Sejak aku tinggal di rumah baru.”
“Nah! Tuh, kan! Perasaanku selama ini tentang Vivana benar Bas, aku merasa tidak nyaman dan merasa cemas saat Vivana tinggal di rumah janda kembang yang sudah meninggal dunia. Aku juga yakin suami dia ini tidak beres.” Sambung Fanny menatap wajah Baskara yang terlihat serius memandang kami berdua.
Aku mengelus pelan bahu kanan Fanny. “Fan. Barra tidak seperti itu, dia adalah pria baik, cuman..”
“Cuman apa? Cepat katakan semuanya padaku Vivana.”
“Fanny. Kamu tidak boleh seperti itu sayang, biarkan Vivana menenangkan dirinya dan jangan tambahi beban pikiran atas pertanyaan-mu kepadanya untuk sementara waktu.” Sambung Baskara lembut segera memutus ucapan Fanny yang terdengar cemas.
“Tidak mau! aku harus mengetahui semuanya sekarang.” Tegas Fanny tak ingin menunda pertanyaannya kepadaku.
“Aku mengulas senyum tipis, menggaruk kepala bagian belakang yang tak gatal. “Tidak ada Fanny, semuanya baik-baik saja. Kamu jangan cemas terlalu berlebihan seperti ini.” Sahutku berbohong, tidak mungkin aku bilang kepada Fanny dan Baskara jika Barra memiliki sikap dan sifat seperti seorang psikopat, karena itu semua belum tentu terbukti jika Barra benar-benar seorang psikopat dan aku tak ingin menambah beban pikiran Fanny dan juga Baskara.
“Kalau begitu kita lanjut jalan lagi.” Ucap Baskara menghidupkan mesin mobilnya.
Cick!cick!cick.
Baskara terus menghidupkan mesin mobil miliknya yang tak mau menyala.
“Loh! Kenapa mobilnya tiba-tiba sulit di hidupkan.” Keluh Baskara, tangan kanan terus mencoba menghidupkan mesin mobil.
“Coba lagi Bas.” Ucap aku dan Fanny serentak dari belakang.
Cick!cik!cick!
“Iya.” Sahut Baskara berusaha menyalakan kembali mesin mobilnya.
Suasana mendadak seram, dan suram di dalam mobil. Aku dan Fanny berpelukkan di belakang, wajah di balut ketakutan.
Bam!
Burung gagak jatuh tepat di depan kaca mobil bagian depan, burung gagak yang di penuhi darah meluncur secara perlahan menuruni kaca mobil bagian depan, meninggalkan jejak darah di kaca mobil.
“AAAAA.”
Teriak aku dan Fanny serentak, kedua tangan saling berpelukan.
“Hanya burung gagak yang sudah mati.” Ucap Baskara pelan, tangan kiri menekan tombol wiper. Bercak darah dan bangkai burung gagak, perlahan bersih dari kaca mobil. Tangan kanan Baskara mengarah ke kaca mobil bagian depan yang sudah terlihat bersih tanpa noda. “Lihat! Sudah tidak ada apa-apa 'kan?”
“Hem.”
Sahut aku dan Fanny serentak, kepala mengangguk, wajah masih di balut ketakutan.
...Bersambung.......
makanya datang terus meneror
sereeeemmm