Allard Junior Anderson adalah satu-satunya pewaris perusahaan properti raksasa di Indonesia dan Amerika. Baginya Milly Lynelle Harrison, wanita cantik yang lahir tepat di hari ulang tahunnya adalah kado terindah dari Tuhan.
Milly hanya untuk Allard dan Allard hanya untuk Milly.
Namun yang terjadi, Milly harus merelakan hatinya hancur berkeping-keping melihat Allard tunangannya sedang bermesraan dengan wanita lain.
Bagaimana kelanjutan kisah cinta Allard dan Milly?
Akankan janji untuk saling menjaga di sepanjang usia akan berakhir hanya karena sebuah pengkhianatan yang tak berdasarkan cinta?
"Kuizinkan kau untuk hancurkan hatiku. Hancurkan saja berkali-kali, hingga tak tersisa sedikitpun cinta untukmu. Cintaku terlalu berharga untuk pengkhianatanmu yang murahan!" gumam Milly.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShasaVinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13. Aku percaya pada-Nya dan padamu
Rasanya diri ini sudah terlalu banyak meminta pada-Nya, Sang Pemilik kehidupan.
Merasa seperti manusia yang tak tahu diri, memiliki keberkahan yang melimpah tapi disetiap doaku masih meminta agar Ia meniadakan jarak yang sebentar lagi akan memisahkan kami.
Ku rasa kini saatnya untuk hati menerima kehendak-Nya dan berharap jarak sebagai penguat cinta dalam hubungan ini.
Berpasrah pada Sang pengatur kehidupan.
Semoga nantinya, tetas air mata yang jatuh karena menahan rindu kelak menjadi tetes air mata bahagia.
Semoga semua perjuangan melawan jarak yang memisahkan menjadi cerita yang kelak pantas untuk diceritakan.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Melalui salah satu sisi dinding kamar mandi yang terbuat dari kaca, Milly memandang jauh pada hamparan pegunungan yang di selimuti dengan tumpukan salju.
Betapa nyaman yang Milly rasakan kini, berendam dalam bathup dengan air yang memberi kehangatan pada tubuhnya dalam cuaca dingin yang cukup ekstrim.
“Kok aku tega sih, menikmati kehangatan sembari memuji keindahan pegunungan itu. Padahal bisa saja pegunungan itu kedinginan karena tertutupi salju.” Gumamnya.
Tanpa Milly sadari, ternyata Al ikut masuk ke dalam kamar mandi.
Milly menjadi panik ketika melihat Al melepas kancing kemeja yang Ia gunakan satu per satu.
“Kamu mau apa Beb? Mau berendam juga yah?” Tanyanya, tapi sayang Ia tak mendapat jawaban.
Langkah Al semakin mendekat, Milly semakin gusar. Bayangan kejadian malam itu, kini menari-nari dibenaknya.
Tubuh Al yang hampir polos, karena Ia masih menggunakan kain yang menutupi kebanggaannya, meringsuk ke dalam bathup yang sudah dipenuhi dengan busa.
Entah secara naluriah, Milly sedikit memajukan tubuhnya memberi ruang agar Al bisa duduk dibelakangnya.
“Kamu gak tega kok Baby, semuanya punya cara masing-masing untuk mendapatkan kehangatan.” Ujar Al yang ternyata tadi mendengar Milly bermonolog.
“Siapa yang tau, mungkin saja di dalam pegunungan itu Ia memiliki lava yang sangat panas sehingga walau salju menumpuk menutupinya Ia akan tetap merasa panas.” Lanjutnya.
Hembusan napas Al membuat Milly merinding. Rambut halus ditengkuknya merespon dengan cepat.
“Ini buktinya, katamu kamu hangat tapi tengkukmu mengatakan jika di dalam tubuhmu kini sedang kedinginan Baby.” Ucap Al mulai melancarkan rayuannya.
Sontak Milly membalik tubuhnya.
Gerakan Milly yang tiba-tiba membuat desisan keluar dari bibir Al.
Dengan kening yang mengernyit serta senyum jahil ala Milly, “Kamu berniat menggodaku, tapi dengan aku sedikit bergerak saja kamu sudah terbakar.” Ledeknya.
MIlly bisa merasakan bagaimana sesuatu yang Al coba tutupi kini memaksa untuk dibebaskan.
“Hati-hati dengan gerakanmu Baby, yang di bawah sana suka tiba-tiba amnesia kalau di cuaca dingin seperti ini.” Ujar Al membuat tawa Milly pecah.
Milly hanya mengedikkan bahunya, membuat Al menjadi sangat gemas dengan gadis kecilnya yang kini sudah tumbuh menjadi gadis cantik dan siap memporak-porandakan akal sehatnya.
Al memberikan kecupan pada ceruk leher Milly, sedang Milly dengan yakinnya malah memiringkan kelapanya ke sisi berlawanan. Memberi Al cukup ruang untuk melakukan aksinya.
Melodi indah dari bibir Milly tercipta tatkala Al menangkup dua bagian yang sering Ia puja sebagai salah satu sumber keindahan pada tubuh wanita yang Ia cintai.
“Saatnya kita periksa, apakah pegunungan yang ini juga punya cara untuk memberimu kehangatan.” Ucapan Al terdengar begitu memprovokasi Milly yang mulai terbuai dengan permainan yang diciptakan Al.
Sekuat tenaga, Al menahan perasaan yang bergejolak dalam tubuhnya.
Milly berharap otak cerdasnya kini menemukan solusi agar Ia bisa lebih mudah menahan lantunan melodi yang siap Ia perdengarkan pada Al.
Seandainya melodi itu adalah sebuah lagu penuh makna indah, makan Milly tak akan ragu untuk membuka mulutnya agar Al dan semua orang bisa mendengarnya.
Namun pada kenyataannya melodi yang Milly punya hanya akan membuatnya malu karena mengakui jika Ia sungguh telah kalah dari semua pesona Al, kekasihnya.
Milly lalu menoleh kesamping, wajahnya berusaha menggapai hal yang terlintas di pikirannya untuk membungkam bibirnya agar tak ada melodi lagi yang berhasil lolos.
Al tentunya paham keinginan gadisnya, usaha Milly bersambut. Namun rasanya bagai menang undian, Milly tidak hanya berhasil membungkam bibirnya sendiri, tapi dia juga merasakan tambahan sensasi lainnya.
Serangan intens yang Milly terima memaksa sesuatu dalam dirinya yang ingin keluar. Al mengerti dengan arti gerakan Milly.
Napas yang memburu, tubuh yang mulai menegang, bahkan saat Al membawa satu tangannya turun ke bawah, menyapa bagian yang masih berusaha Ia jaga.
Membelainya lembut, pelan, lalu semakin cepat.
Pagutan mereka terlepas karena Milly hanya bisa menyandarkan kepalanya ke pundak Al tatkala tubuhnya menggelinjang hebat melepaskan bukti dari kenikmatan yang tubuhnya terima.
Dengan napas yang masih memburu, mata terpejam dan kepala yang masih bersandar pada Al. Milly menikmati perasaan hebat yang baru saja Al ciptakan untuk kedua kalinya sejak mereka sepakat untuk menjalin kasih.
“Apakah kita benar-benar tidak bisa melanjutkannya?” tanya Milly dengan lirih.
“Baby keinginanku untuk itu sangat besar saat ini, tapi biarkan aku menjadi pria yang bisa memegang ucapanku. Janjiku untuk tidak membobol harta berhargamu sebelum kita bertunangan.” Jelas Al.
“Lalu kau sebut apa yang tadi sudah kau lakukan jika bukan membobol?” tanya Milly.
“Hemm, apa yah? Bagaimana dengan tahapan simulasi,” jawab Al asal membuat tawa Milly pecah lagi.
Milly kini berbalik menghadap Al, untung saja bathup cukup besar untuk menampung keduanya.
Dengan berani Ia mengecup bibir Al lebih dulu, kemudian mengikuti cara Al yang sudah pasti meninggalkan jejak padanya.
“Haruskah kita juga memulai simulasinya pada mu?” bisik Milly.
Al menahan tangan Milly yang hendak memulai tugasnya.
“Simulasi tidak berlaku untuk senjata Baby, biar aku sendiri yang menanganinya.” Tolak Al.
Dengan cemberut Milly mengikuti Al yang kini keluar dari bathup, berdiri di bawah shower yang kini bekerja meluruhkan semua busa sabun dari tubuh Milly.
Setelah memastikan semuanya bersih, dengan lembut Al memakaikan bathrobe dan menuntun Milly keluar.
Saat berdiri di depan pintu Milly tidak langsung menjauh. Dengan berkacak pinggang Ia menggerutu.
“Dasar egois, tidak adil. Apa dia meragukanku?” gerutunya.
Milly merasa jika kemampuannya di ragukan oleh Al hanya karena Ia tak punya pengalaman.
“Pengalaman bukan hanya bisa berasal dari sesuatu yang langsung kita lakukan sendiri, tapi bisa juga berasal dari mendengar cerita orang yang lebih berpengalaman.” Batin Milly meyakinkan dirinya.
Berdasarkan pengalaman Penny yang terus Ia ceritakan selama hampir 2 tahun mereka berteman, Milly kembali masuk kedalam kamar mandi dengan percaya diri.
Matanya membulat, menelan salivanya tatkala melihat secara langsung targetnya.
“Baby, kamu kenapa masuk lagi?” tanya Al.
Dengan langkah tegap, kini Milly ikut berdiri di hadapan Al.
“Akan ku buktikan jika aku juga bisa sukses dalam melakukan simulasinya.” Tekan Milly pada Al.
Tanpa menunggu persetujuan Al, Milly segera melancarkan aksinya.
Jika Milly selalu berusaha menahan melodi indah untuk mengalun, tapi tidak dengan AL.
Pria itu sepertinya lebih suka jika mengekspresikan semuanya lewat pujian terhadap Milly yang tak hentinya Ia gumamkan.
Hingga akhirnya simulasi mencapai tahapan akhir saat senjata benar-benar menembakkan amunisinya.
Keduanya kini bungkam, keheningan membuat suasana yang semua hangat kini terasa dingin.
Al masih memejamkan matanya, sembari memeluk Milly.
“Jangan pernah menghalangiku lagi. Lihatlah, bukan aku yang jadi korban dari simulasi ini, tapi kamu.” Ucap Milly lirih saat masih berada dalam dekapan Al.
“Baby, rasanya semakin berat jika aku harus pergi dan berjauhan denganmu.” Ucap Al masih dalam posisi memeluk Milly.
“Maka sering-seringlah pulang untuk menemuiku.” Jawab Milly.
Al melepas pelukan mereka, Ia menatap Milly tak percaya.
Ucapan gadisnya barusan, seperti sebuah pengakuan jika Ia telah mengizinkan Al untuk pergi.
“Kau memang tak pernanh mengecewakanku Baby,” ucap Al.
“Maka kau juga jangan pernah mengecewakanku. Aku mencintaimu, dan menaruh semua kepercayaan yang kupunya padamu.” Balas Milly.
Senja kala itu menjadi saksi bagi dua anak manusia yang akan memasrahkan takdir percintaan mereka pada apa yang telah di atur oleh Sang Pencipta.
Berlandaskan kepercayaan diantara keduanya, juga kepercayaan keduanya pada Sang Pencipta yang selalu memberi kebahagiaan setelah memberi ujian.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Semuanya tidak akan selalu sempurna, cukup dengan melakukan hal benar, syukuri, nikmati, lalu mulai lagi dengan pikiran positif untuk lakukan hal yang benar lagi, lagi, dan lagi.
♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡