Sang kekasih yang dinanti Ternyata mengingkari janji. Kesetiaan Cempaka hanya berbuah duka berbunga nestapa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosa_Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bunga yang mendendam
Satu minggu sudah Cempaka menanti kedatangan Buana dengan segudang janjinya itu. Namun, yang dinanti sudah pergi lagi ke tempat tugasnya bersama ketiga orang itu, tanpa sepengetahuan Cempaka.
Cempaka dibiarkan begitu saja.
Buana tak datang untuk menemuinya, apalagi untuk melamarnya seperti yang pernah dia ucapkan beberapa bulan yang lalu.
Seribu janji yang di ucapkan Buana beberapa bulan yang lalu itu, hilang entah kemana. Raib bersama tercurahnya tetesan air matanya.
Buana pergi dengan membawa janji yang tak pernah dia tepati.
"Bu... Sepertinya Buana sudah melupakan aku. Sudah satu minggu sejak kedatangannya, dia tidak datang menemuiku. Bahkan, dia tidak pamitan padaku waktu dia mau berangkat lagi ke tempat tugasnya. Ini bagaimana bu?" Cempaka mengadukan kekhawatirannya.
Cempaka mengetahui bahwa Buana hanya empat hari berada di rumahnya itu dari bibi nya Buana yang tak sengaja bertemu di jalan, sa'at Cempaka hendak berangkat ke sekolah, dimana dia bertugas sebagai guru honorer.
Cuma sa'at itu Bibinya Buana tidak menjelaskan siapa mereka yang bertiga itu.
Bibinya Buana hanya berkata tidak tahu dengan pasti.
"Ibu juga belum tahu pasti tentang masalah ini. Dari kemarin sebenarnya ibu ingin menanyakannya kepada ibunya Buana. Tapi, kata bapakmu itu tidak perlu. Dia yang berjanji dia pula yang harus menepatinya, itu kata bapakmu" Ucap bu Sekar merasa bersalah.
"Apa takdirku seperti ini bu?... Menderita dan di khianati?... Kalau benar begitu, ini semua karena kak Bunga yang egois. Coba saja kalau waktu itu kak Bunga mau mengerti dan menuruti saran dari ibu dan bapak, mungkin hatiku tidak akan sesakit ini bu!..." Dengan mata yang berkaca-kaca Cempaka menumpahkan kekesalannya.
"Ma'afkan ibu ya nak ya... Waktu itu ibu tidak bisa tegas kepada kakakmu itu, karena dia mau berbuat nekad mau bunuh diri. Jadi ibu tidak berpikir panjang, ibu takut dan khawatir waktu itu. Ibu kira, tidak akan jadi begini akhirnya" Bu Sekar merasa bersalah.
"Tapi, kekhawatiran kita ini belum pasti nak!... Belum terlihat oleh mata kepala kita sendiri. Sebaiknya kita tunggu dulu barangkali nanti ada kabar gembira buat kita" Walau di dalam hatinya perasaan khawatir sudah memenuhi relung hatinya.
Di depan anaknya, bu Sekar mencoba berusaha untuk tenang.
"Iya bu... Semoga saja Tidak ada apa-apa dengan Buana" Cempaka mengusap airmata yang menyeruak memaksanya keluar dari pelupuk matanya.
Walau sekuat tenaga dia menahannya. Airmata itu tetap luruh membasahi pipinya.
Bu Sekar memeluk dan membelai anaknya dengan lembut. Diapun menangis dalam diam.
"Ada apa ini?... Kok!... Berpelukan di dapur?... Sambil nangis pula"
Tiba-tiba Bunga nongol dari pintu samping, dia baru saja pulang kerja.
"Enggak... Enggak ada apa-apa. Kamu baru pulang?" Bu Sekar segera melepaskan pelukannya. Segera di usapnya pula airmata di pipinya.
"Kamu kenapa lagi?... Jangan keseringan menangis, tidak baik"
Bunga mencolek bahunya Cempaka.
Cempaka tidak menyahutnya, dia menundukkan kepalanya sambil mengusap sisa airmata yang masih membekas di kelopak matanya.
"Laki-laki enggak usah di tangisi, biarkan saja. Dalam cinta memang suka ada yang tersakiti,
itu hal yang biasa. Tak mungkin suatu jalinan cinta berjalan mulus sampai jenjang pernikahan" Ucap Bunga dengan sangat enteng.
"Aku juga sama, pernah di khianati oleh makhluk yang namanya laki-laki. Tapi aku biasa saja, tidak menangis bombay gitu" Ujar Bunga sewot.
"Aku malu kak, seluruh warga di kampung kita ini sudah tahu bahwa aku akan bertunangan dengan Buana. Tapi, nyatanya... Dia sendiri yang begitu. Aku harus bagaimana kak?" Cempaka setengah merengek meminta pendapat kakaknya.
"Enggak usah malu, toh bukan kamu yang berbuat enggak baik. Kan dia yang ingkar janji. Jadi yang harus malu itu ya... Si Buana yang berkhianat. Kecuali... Kalau kamu yang berkhianat, baru kamu merasa malu" Susul Bunga lagi.
"Tapi tetap saja aku malu, apalagi bu Seroja kan begitu menggembor-gemborkan pertunangan aku dan Buana, teman-temannya juga atasannya dia, semua sudah pada tahu. Aku malu, malu kak" Ucap Cempaka.
"Kamu belum diapa-apain kan sama si Buana itu?" Pertanyaan Bunga membuat bu Sekar dan Cempaka terperanjat kaget.
"Kenapa kamu menanyakan hal itu pada adikmu?... Ibu rasa mereka tidak pernah pergi berduaan, apalagi berbuat yang tidak-tidak. Jangan asal kalau bicara, kalau di dengar orang lain, nanti bisa salah faham" Bu Sekar tidak suka dengan pertanyaannya Bunga.
"Hanya ingin tahu saja, kalau belum di apa-apain apalagi di tidurin, ya syukurlah. Jadi enggak usah terlalu bersedih hati, tidak perlu merana berlebihan, keenakan dia nantinya, merasa di butuhkan" Nasihat Bunga ada benarnya juga.
"Lalu?..." Cempaka meminta pendapatnya.
"Kalau menurut kakak, kalau bisa, temui si Buana itu! Dan tanyakan kenapa dia begitu?... Kau kan tidak salah apa-apa, sekalian tanyain apa maksud semua itu?
Siapa mereka yang bertiga itu? Jadi jangan diam saja, lalu tanyain juga tentang janjinya itu"
Bunga menyarankan.
"Bapak melarangnya" Sahut bu Sekar bingung.
"Ya jangan bilang sama bapak, kalau kamu tidak ketemu sama si Buana, kamu cari tahu sama saudaranya. Kalau di biarkan keenakan dia, dia tidak akan merasa bersalah nantinya" Ucap Bunga lagi.
Cempaka manggut-manggut seakan setuju dengan apa yang di katakan oleh Kakaknya.
"Emang benar si Buana itu sudah berpaling kepada perempuan lain?... Kakak dengar, waktu dia pulang dan tidak menemuimu itu. Kabarnya dia pulang dengan calon isteri dan juga calon mertuanya" Celetuk Bunga dengan ringan.
"Kata siapa kak?" Cempaka langsung bangun terperanjat, dia tak percaya dengan apa yang di katakan oleh kakaknya itu.
"Bunga!... Jangan gitu ah sama adikmu ini!... Dia itu lagi bingung dengan perubahan sikapnya Buana, ini malah di panas-panasin" Bu Sekar membentaknya.
"Bukan manas-manasin, tapi itu aku dengar dari keponakannya waktu ketemu di gang depan, waktu aku mau berangkat kerja kebetulan dia mau berangkat ke sekolah, ya... Kami berangkat bareng dan dia cerita tentang Buana yang ingkar janji itu" Lanjut Bunga.
"Apa ucapanmu itu benar?... Apa kamu tidak sedang membohongi adikmu?"Bu Sekar menatap mata anaknya itu, seperti tengah mencari kejujuran di sana.
"Iya kak!.. Kakak jangan membuat aku sedih kak!" Cempaka pun menghiba.
"Kalau tidak percaya, nanti kalau kamu ketemu sama keponakannya Buana mu itu, kamu tanya saja, biar gak penasaran dan menyangka kakakmu ini mengada-ada" Sahut Bunga.
Cempaka menatap kakaknya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Biar dia juga merasakan hal yang pernah aku rasakan dulu. Syukurlah kalau si Buana itu meninggalkannya dan menikah dengan perempuan lain... Hemm... Emang enak?" Bathin Bunga sambil tersenyum sinis.
Dia merasa kesal karena sebelum Sakti melamarnya, hampir seluruh warga Kampung memandang sebelah mata kepadanya.
Tak sedikit yang membanding- bandingkannya dengan Cempaka, yang waktu itu mau di lamar oleh Buana yang sudah lulus dari pendidikan polisinya.
Betapa sakit dan hancurnya hati seorang Bunga kala itu.
Dia bertekad dalam hati, supaya tidak di langkahi oleh Cempaka.
Dia merasa tidak ada yang menghargainya. Dan semua itu hanya karena Cempaka.
"Akhirnya... Aku punya teman juga yang sakit hati, adikku sayang... Cempaka... Cempaka..."
Bunga bergumam Perlahan.
"Apa kak?..." Cempaka mendengar samar-samar ucapannya Bunga.
"Enggak apa-apa... Kakak ke kamar dulu ya, mau mandi, gerah" Ucap nya sambil berlalu dari hadapan Cempaka, menuju ke kamarnya.
Cempaka menatap punggung kakaknya penuh tanda tanya.
Like n koment mendarat !
semamgatt yaa..