Sarah Adelia menjalin kisah percintaan selama 7 tahun lebih dengan pacar pertamanya sewaktu kuliah bernama Reza Rahmawan.
Disela persiapan pernikahan yang mereka sudah rencanakan mendadak Reza dijodohkan oleh orang tuanya. Ditengan kegalauan menunggu Reza, datanglah seorang laki-laki yang ia ketahui berprofesi sebagai pengemudi taxi online.
Akhirnya ia memilih lelaki tersebut tanpa ia ketahui ternyata pengemudi itu merupakan bosnya di tempat kerja.
"Mbak mau gak jadi pacarku yang hanya seorang driver ini" tanya Ocep kepadaku
"Ehm aku gak pernah masalah dengan pekerjaan seseorang, harta kita bisa cari bersama tetapi kesetian dan komitmen untuk selalu bersama dalam suka dan duka itu yang utama" jawabku yakin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girang_Hari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Siang ini terjadi kehebohan dikantor. Aku tahu penyebabnya dan aku sudah menyiapkan hati. Reza sudah membagikan undangan pernikahan ke beberapa rekan kerja termasuk manager Finance ku Bu Mia. Awalnya Bu Mia langsung mengucapkan ku selamat.
"Akhirnya ya Sar kamu nikah juga sama Pak Reza" ucapnya polos aku yakin Ia belum membuka undangan yang diterimanya.
"Sarrrah selamat ya, coba aku lihat undangannya ya Bu pasti bagus" Vina lantas meminjam undangan dari tangan Bu Mia.
"Eh tunggu, ini Pak Reza kita kan tapi kenapa nama wanitanya beda, ini nama asli lu Sar, koq nama lu jadi Gabriela Anastasya, bukannya nama lu Sara Adelia"
Aku hanya tersenyum, harusnya hari ini aku tidak masuk saja pasti akan terjadi kehebohan-kehebohan selanjutnya.
"Mana lihat " Yeni langsung menyambar undangan tersebut dan Ia pun terlihat kebingungan.
"Loh iya koq namanya beda Sar, salah cetak undangan kali kamu, gimana sih koq gak dicek dulu sebelum dibagikan" Bu Mia menambahkan
"Gak salah koq Ibu sudah benar undangannya, kan yang bagiin undangan bukan saya Bu, tapi Pak Reza, yang nikah kan Pak Reza tapi bukan sama saya" nyesss hatiku rasanya, ingin menangis tapi ku tahan dan berusaha tersenyum menutupi kegugupannku dan berpura-pura fokus dengan layar komputerku.
"Gimana maksud lu Sar kan waktu cuti kemarin lu lamaran, tapi kenapa Pak Reza nikah sama yang lain" Yeni mengambil kursi dan duduk disebelahku meminta penjelasan.
"Batal Yen" aku hanya mampu menjawab seperti itu, rasanya kalau aku teruskan bisa menangis lagi dan aku tidak mau sampai itu terjadi karena aku mau ada meeting dengan divisi lain.
Yeni dan Vina tiba-tiba memelukku dan menguatkan ku. Bu Mia mengelus kepalaku dan berucap
" Kalau kamu butuh waktu ,cuti saja hari ini ya" bu Mia menawari ku cuti , aku masih bingung apa harus diambil ya
"Tapi saya ada meeting dengan orang project dan marketing Bu"
"Nanti diwakilin Vina aja, gak apa-apa kan Vin?" tanya nya memastikan
"Siap Bu saya bisa handle koq, iya Sar lebih baik hari ini lu cuti aja"
"Ya udah kalau Ibu boleh ijinkan kyaknya memang saya harus menyendiri dulu hari ini" aku merapikan pekerjaan ku diatas meja, mematikan komputer,kemudian mengambil tasku dan berjalan menuju lobby kantor.
Didepan lift ada duo nyinyir bagian marketing.
"Calon manten, eh calon mantan manten mau kemana jam segini udah pulang aja" ucap Fitri menyindir ku
Kudiamkan saja karena dari dulu memang Fitri tidak menyukaiku karna berpacaran dengan Reza, dan Ia selalu berusaha mendekati Reza tapi tidak pernah ditanggapi.
Aku malas 1 lift dengan mereka akhirnya kuputuskan untuk kekamar mandi saja dulu. Didepan kaca aku merapikan make up ku menambahkan sedikit lipstik ku dengan warna yang lebih terang agar terlihat lebih segar. Aku bingung harus kemana, malas kalau aku harus balik ke kosan, dan aku tidak punya saudara yang bisa kukunjungi, teman-temanku juga pasti masih kerja. Kulihat jam masih pukul 1/2 10 pagi kuputuskan untuk ke coffeshop langgananku saja,biasanya buka jam 11 , kalau aku naik Transjakarta pasti sampai disana jam 11 lebih.
Aku keluar dari kamar mandi dan berpapasan dengan Reza.
"Sar mau kemana?"
"Ke bank" jawabku
"Aku antar ya , aku juga mau keluar ketemu agent" kami sama-sama menunggu lift.
"Gak usah cuma didepan aja koq Pak" aku tidak mau melihat mukanya dan terus saja berpura-pura sibuk dengan ponselku.
"Okey hati-hati ya sayang" ia mengelus kepalaku didalam lift yang hanya terisi kami berdua
"Ehmm"
Saat kami keluar dari lift ,Reza menarik tanganku
"Nanti pulang bareng ya" ucapnya
"Iya" aku hanya menjawab singkat dan segera pergi.
Aku benar-benar harus melepaskan Reza tetapi ini sulit. Aku berjalan menuju halte Transjakarta, sampai di halte tidak banyak penumpang yang mengantri, mungkin karna masih di jam kantor. Bus transajakarta yang kutunggu datang kunaiki dan menduduki salah satu bangku yang kosong. Sampailah aku di coffeshop yang biasa aku datangi dengan Reza selain kopi nya yang menjadi kesukaan kami berdua ,cake tiramisu sungguh enak tidak bisa kutolak dan sangat aku butuhkan saat ini jika aku sedang banyak masalah. Kupesan Vanila Latte dan 2 slice Tiramisu Cake. Aku berada disana hingga selesai jam pulang kantor, banyak hal yang kupikirkan dan kuputuskan untuk melepas Reza segera mungkin dan juga aku akan mencari pekerjaan di tempat baru. Jujur aku tidak sanggup jika setiap hari masih bertemu dengan Reza.
Hari sudah menjelang malam, tanpa sadar sudah 8 jam aku di kafe ini. Saat perjalanan pulang aku kembali memutuskan untuk menaiki Transajakrta, rasanya lebih menyenangkan jika banyak orang disekitar aku tidak merasa sendiri. Sepertinya aku baru saja duduk dibangku bagian depan, tetapi petugas mengatakan bahwa sudah sampai dihalte tujuan akhir. "Hah ternyata aku kelewatan" daritadi aku melamun saja gumamku .Akhirnya kuputuskan menaiki ojek online , sekarang aku hanya ingin segera sampai dikosan ku dan segera mandi kemudian tidur, ternyata melamun juga membutuhkan energi. Sambil menunggu ojekku datang kulihat notifikasi di ponselku, Reza menghubungi ku berkali-kali dan beberapa pesan juga dari nya menanyai keberadaanku. Kudiamkan saja nanti kubalas saat sampai kosan.
Kumasuki ruang tamu kosan. Aku terkejut saat mendengar suara Reza.
"Kamu dari mana, dari tadi aku hubungi gak di jawab" kulihat Reza yang tadi duduk disofa ruang tamu menghampiri ku. Mukanya merah ,alisnya mengkerut tanda dia sedang marah.
"Aku habis dari bank terus aku ijin ke suatu tempat" aku tidak mau melihat muka Reza.
"Mau kekamar gak" aku tidak mau amarah Reza terdengar penghuni kosan lain dan mengajaknya kekamar,aku melanjutkan langkahku dan menaiki tangga menuju kamar kosan ku. Reza mengikuti ku dari belakang.
Saat memasuki kamar kosan ku, ku nyalakan lampur kamar, menaruh tas ku di meja, menyalakan kipas angin ku dan membuka jendela kamar. Aku mulai sadar ternyata selama ini aku berbeda dengan Reza, kosan ku cukup sempit tanpa AC, aku harus bekerja untuk membantu perekonomian keluarga sedangkan Reza hidup dengan berlebih dan bekerja ditempat sekarang hanya agar bisa bersamaku tiap hari .
"Kamu kemana tadi, saat meeting aku tanya Vina dibilang kamu cuti 1/2 hari. Tapi tadi ketemu aku , kamu gak bilang apapun, aku telpon Wa gak ada yang dijawab"
"Aku butuh menenangkan diri Za, aku perlu memikirkan hubungan kita kedepan kaya apa" aku tetap tidak mau memandang Reza.
"Gak akan berubah Sar, kamu cuma tunggu aku sampai waktunya kita akan nikah, aku sedang cari cara agar usaha Papa tetap maju tanpa merger dengan perusahaan keluarga Gaby, kalau aku udah bsia buktikan ke Papa aku pasti akan ceraikan Gaby dan nikah sama kamu" Reza duduk disampingku dan memegang tanganku kembali
"Gila kamu Za, kamu pikir nikah itu main-main, nikah aja belum kamu udah mikirin cerai" aku memandang mukanya kesal
"Ya lalu gimana, aku gak mungkin punya istri 2"
"Kamu batalin nikah Za, terus pergi berdua dengan ku kamu berani gak kita memulai hidup baru dengan usaha sendiri?" aku mengajaknya kawin lari terdengar gila juga ya.
"Sar, aku mikirin Mama juga, bukannya aku ngorbanin kamu, aku cuma minta waktu sama kamu"
"Sampai kapan aku harus nunggu ketidak jelasan ini"tanyaku ke Reza
"Mungkin 2-3 tahun Sar" Reza ragu menjawabnya
"Lama Za, umur ku juga mulai nambah, bulan depan aku udah 27, aku juga ingin berkeluarga, tapi aku harus nungguin kamu selama itu"
"Ya karna butuh proses Sar gak semudah itu" Ia coba menjelaskan
"Sama Za hati aku juga gak semudah itu, terus selama aku nungguin kamu , status aku apa? Simpenan, selingkuhan atau baby sugar kamu." Aku masih memandangnya.
"Apapun Sar kamu tetap orang yang kupilih sebagai Ibu dari anak-anakku, kamu orang yang paling kucinta, aku mohon Sar, sabar ya, tidak ada yang berubah tiap hari aku akan antar jemput kamu,kita masih ketemu sabtu minggu,kita akan terus seperti ini, kamu tetap jadi prioritas aku" Reza memelukku dan aku tidak membalasnya.
Hatiku masih belum terima, Reza begitu egois, sampai waktu yang tepat aku pasti akan pergi dari hidupnya, mana ada wanita yang tahan melihat kekasihnya menikah dengan orang lain dan diriku pastinya tidak mungkin menjadi yang utama.
Mohon like dan commentnya ya.
wkwkwkwk
jadi keinget kisah sendiri 😭😅🤣,,,
ingat karma itu ada, kamu rusak kebahagian org,. org lain jg akn merusak kebahagian mu kelak