Selama lima tahun, Nur Halimah mengabdikan seluruh hidupnya untuk keluarga suaminya. Meski hanya menerima cacian, cemoohan, dan sikap dingin yang menyakitkan, dia tetap menyayangi mereka dengan tulus tanpa pamrih.
Namun ketulusan ternyata tidak selalu dihargai, saat Nur Halimah gagal menghadirkan buah cinta dalam pernikahan itu, suaminya tidak segan berpaling pada wanita lain.
Di titik terendah hidupnya, Halimah bertemu dengan Daffa Nugraha Surya. Pria kaya raya yang terlihat ambisius, tertutup, dan tak pernah merasakan hangatnya kasih sayang tulus.
Demi menjadi pewaris sah perusahaan keluarga serta membuktikan dirinya di mata ibunya, Daffa memilih menikahi Halimah.
Bukan karena cinta, melainkan demi kesepakatan yang saling menguntungkan.
Dua jiwa yang sama-sama terluka... kini terikat dalam pernikahan tanpa cinta.
Mampukah ketulusan Halimah perlahan meluluhkan hati yang sedingin es milik Daffa? Atau justru Daffa-lah yang akan menghancurkan sisa hati Halimah untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gelisah
Ruang tunggu ICU kembali hening setelah Amanda dan Wulan keluar dengan langkah gontai.
Ahmad meminta Wulan untuk membawa Amanda pulang, karena memang mereka berdua terlihat cukup lelah hari ini.
"Sayang, kamu ajak Mbak Manda pulang ya. Biar aku sama Daffa yang jaga Papa. Besok kita gantian."
Wulan sempat mau protes. Tapi matanya yang sembab kalah sama suara Ahmad yang terdengar lelah. Akhirnya ia mengangguk dan pergi, menggandeng lengan Amanda yang dari tadi hanya diam.
Kini hanya tersisa Ahmad, Daffa dan Halimah.
Jam di dinding menunjukkan pukul 9 malam. Halimah duduk bersandar di bahu Daffa. Matanya terpejam, tapi alisnya masih berkerut. Seharian ini terlalu banyak untuknya. Pernikahan, pertengkaran, lalu Kakek berakhir di ruang ICU.
Daffa baru sadar ketika merasakan napas Halimah yang berat. Wanita itu tertidur duduk. Wajahnya pucat.
"Halimah...." panggil Daffa pelan.
Halimah membuka matanya, menyadari ia sudah lancang merebahkan kepala di bahu Daffa, membuatnya cepat-cepat menarik kepalanya dari bahu itu. "Maaf Daffa, saya mengantuk," lirihnya sambil merapikan bagian depan jilbabnya.
Daffa tidak merespon, ia malah mengeluarkan ponsel dan menelepon.
"Pak Jamal. Antar Nyonya Halimah ke apartemen. Tolong minta Mbok Ayu ikut menemani, Nyonya!"
Halimah menoleh mendengar percakapan singkat itu. Saat bersamaan Daffa juga menoleh padanya.
"Kamu pulang dulu. Setidaknya ganti pakaianmu, pasti gerah memakai gamis tebal ini. Kamu juga harus istirahat."
Halimah mengangguk patuh. Namun, meski setuju untuk pulang duluan, hati Halimah terasa berat, meninggalkan rumah sakit, dimana Kakek sedang dalam keadaan kritis.
Dua puluh menit kemudian, Pak Jamal dan Mbok Ayu datang. Daffa mengantar hingga ke lobi rumah sakit.
Sebelum membiarkan Mbok Ayu membawa Halimah, Daffa kembali menelpon.
"Nyonya akan pulang bersama pak Jamal menuju Apartemen. Tolong antarkan dan jaga Nyonya dengan baik!"
Lagi, Halimah menoleh bingung mendengar pembicaraan Daffa dengan seseorang melalui sambungan teleponnya.
"Pak Jamal, nanti anak buah Gio akan mengawasi mobil kalian. Berhati-hatilah di perjalanan."
"Baik, Tuan Muda."
Setelah sedikit menunduk hormat, pak Jamal melangkah keluar dari lobi rumah sakit. Mbok Ayu juga ikut melangkah sambil menggandeng tangan Halimah.
Halimah melangkah mengikuti ritme langkah kaki Mbok Ayu. Ia ingin berbalik menengok ke belakang sebentar saja, tapi ia takut...takut jika itu malah akan membuat Daffa tidak nyaman.
Sementara Daffa sudah melangkah kembali menuju ruangan tunggu ICU.
Mobil pak Jamal melaju dengan kecepatan sedang, diiringi oleh mobil anak buah Gio.
"Nyonya, apa Nyonya merasa tidak enak badan?" tanya Mbok Ayu saat merasa tangan Halimah sangat dingin dalam genggamannya.
"Mbok, saya.... Semua ini terjadi karena saya, kan?" ucapnya pelan penuh rasa bersalah.
Mbok Ayu menggenggam erat kedua tangan Halimah yang dingin dan berair, "Nyonya, ini bukan salah Nyonya. Bapak Abimanyu memang punya riwayat penyakit jantung sejak dulu."
"Tapi, selama delapan tahun terakhir jantung Kakek sudah membaik, Kan? Dan kambuh lagi karena saya...."
"Nyonya, jangan menyalahkan diri Nyonya seperti ini. Tuan Muda pasti akan ikut merasa bersalah."
Air mata Halimah menetes dengan deras. Ia tahu, memang bukan seutuhnya karena dia. Tapi, pertengkaran Daffa dengan Amanda terjadi karena Daffa menikahinya.
"Nyonya, jangan menyalahkan diri Nyonya lagi ya," Mbok Ayu memeluknya erat.
Namun, Halimah tetap tidak bisa menghentikan air matanya. Ia merasa sangat sakit, "Sepertinya aku memang tidak menguntungkan untuk siapapun." batinnya.
Sekilas makian Bu Ramlah dua tahun lalu kembali terlintas di kepalanya.
"Kamu itu wanita pembawa sial, Halimah. Harusnya Rangga sudah menjabat sebagai supervisor sekarang andai dia tidak bertemu dengan kamu! Saya mungkin sekarang sudah punya cucu, kalau saja Rangga tidak menikahi wanita yang tidak beruntung seperti kamu!"
...>~~<...
Pukul 2 dini hari.
Daffa baru saja pulang. Wajahnya jelas tampak lelah dengan mata yang merah menahan rasa kantuk. Kemejanya tampak kusut, satu sisi keluar dari celana, sementara sisi lain masih rapi. Tiga kancing atas kemeja sudah tidak terpasang. Sementara jas dan dasinya ditinggalkan di mobil.
Daffa pulang karena Ahmad yang mendesaknya. "Daffa, sebaiknya kamu pulang. Kamu pasti lelah, kamu butuh istirahat. Selain itu, kamu juga harus menemani Halimah. Walau bagaimana pun, Halimah pasti masih akan terus merasa bersalah."
Sebelum mengangguk, Daffa sempat ingin protes. Namun, saat nama Halimah terucap, barulah ia menyadari sesuatu yang membuatnya mengangguk setuju.
Ruang tamu gelap. Hanya ada cahaya dari arah dapur. Pintu kamar Mbok Ayu dan pak Jamal di sudut dapur pun sudah tertutup rapat.
Daffa berjalan pelan masuk ke kamarnya. Matanya langsung menangkap tubuh Halimah yang berbaring di ranjang yang belum pernah ditempati orang lain selain dirinya.
Dulu Daffa akan sangat marah, saat ada tukang bersih-bersih selain Mbok Ayu yang memasuki kamarnya. Tapi, entah mengapa, kali ini melihat Halimah berbaring di sana, membuat kedua sudut bibirnya terangkat sempurna.
"Kamu masih belum tidur?" tanya Daffa sambil menyalakan lampu kamarnya.
Halimah langsung beringsut duduk. "Daffa, kamu sudah pulang?" Halimah tampak canggung.
Daffa melangkah, lalu duduk di pinggir ranjang di dekat Halimah. Mata Daffa menatap tepat kedua sorot mata Halimah yang berkedip cepat menoleh ke sembarang arah.
"Kenapa kamu belum tidur, Halimah?" tanya Daffa lembut.
Halimah akhirnya memberanikan diri membalas tatapan itu. Dengan suara sedikit serak dan gemetar, Halimah kembali bertanya, "Bagaimana keadaan Kakek?"
"Masih seperti sebelumnya. Om Ahmad yang menjaga Kakek. Kamu tidak usah khawatir."
Daffa beranjak, ia melangkah menuju kamar mandi.
Selama Daffa di kamar mandi, Halimah kembali berbaring mencoba untuk tidur. Namun, matanya masih tetap tidak bisa terpejam. Insiden penculikan kemarin malam masih membuatnya takut. Ditambah keadaan Kakek juga masih Kritis. Otaknya tidak bisa sebentar saja melupakan semua itu.
Daffa keluar dari kamar mandi dengan sudah berganti piyama yang sama dengan yang Halimah pakai. Melihat Halimah masih belum tidur, Daffa kembali menghampirinya, "Masih belum tidur?"
Halimah menggeleng. Suaranya kecil, "Maaf, apa saya mengganggu? Kalau begitu, saya akan tidur di luar...." Halimah beringsut duduk dan hendak turun dari ranjang.
Daffa tidak membiarkan Halimah pergi. Dengan sekali tarikan saja, tubuh Halimah kembali berbaring di ranjang. Lalu Daffa ikut berbaring di sebelahnya.
Jantung Halimah berdegup kencang. Ia tidak tahu harus bagaimana saat tubuh mereka sangat berdekatan. Detik kemudian, Daffa bahkan menyelipkan lengannya kebawah leher Halimah agar Halimah bisa menjadikan lengannya sebagai bantal.
"Tidurlah, Halimah. Besok kita ke rumah sakit lagi," bisik Daffa yang sudah lebih dulu memejamkan matanya.
Dengan susah payah, Halimah menahan agar suara tarikan dan hembusan napas yang memburu tidak terdengar di telinga Daffa. Lalu, ia pun memejamkan matanya.
Saat Halimah sudah memejamkan mata, Daffa menarik tubuh Halimah semakin mendekat masuk dalam pelukannya. Kini kepala Halimah tidak lagi ber bantal lengan Daffa, tapi wajahnya tepat berada di dada bidang Daffa.
Pukul 5 subuh, ponsel Daffa berdering. Panggilan masuk dari Om Ahmad. Dengan mata yang masih tertutup, Daffa meraih ponselnya, menekan tombol hijau, lalu membawa ponsel itu ke telinganya.
"Daffa, ke sini sekarang! Kakek...."
Bersambung....