Miranda adalah seorang jurnalis wanita berusia 29 tahun di sebuah majalah sport di Toronto, Kanada. Impian sebagai seorang penulis buku dia hentikan setelah bertemu Jeff, kekasihnya. Selama dua tahun mereka tinggal bersama, Jeff dengan teganya berselingkuh dan membuat Miranda jatuh di titik terendah hidupnya.
Di saat kegalauan itu datang, Miranda diperintahkan atasannya untuk kembali menulis buku. Sebuah buku biografi dari mantan atlet nasional rugby yang kini menjadi seorang pelatih terkenal bernama Rick. Pria berusia 51 tahun yang baru kehilangan istri yang dicintainya karena kanker.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biran ASMR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Setelah sarapan, Miranda istirahat 20 menit sambil menonton TV. Kemudian dia mengganti pakaiannya dengan pakaian renang. Sudah lama dia ingin berenang di sini, tapi dia ragu jika harus meminta izin pada Rick.
BYURR
Berenang di musim panas seperti ini adalah hal yang sangat menyegarkan. Setelah satu jam berenang, Miranda mandi dan mengganti pakaiannya lalu kembali dengan laptopnya di sofa ruang TV. Hari ini dia benar-benar produktif berada seharian di rumah. Maksudnya, rumah Rick.
Setelah lehernya lelah, dia pun menyimpan laptopnya di meja dan tiduran di sofa untuk sejenak meregangkan tubuh dan memejamkan mata. Sejenak yang lama.
Sore hari Rick pulang sambil membawa sekotak pizza besar untuk makan malam. Sudah lama sekali dia tidak membeli pizza. Di perjalanan tadi, dia teringat Miranda.
Sesampainya di rumah, Rick melihat Miranda tertidur di sofa. Tidurnya tampak nyenyak dan tenang. Rick menyimpan pizzanya di meja makan lalu masuk ke dalam kamarnya dan membawakan selembar selimut hangat.
Rick menyelimuti Miranda sampai di dadanya. Melihat wajah cantik itu tertidur layaknya seorang putri tidur yang menunggu ciuman cinta sejati dari pangerannya. Seulas senyum menghias wajah Rick.
Miranda bergerak dan Rick seketika melompat dari sana dan berlari tanpa suara menuju meja makan. Miranda menguap dan mengucek matanya.
"Hoaaamm! Berapa lama aku tertidur?" ucapnya sendiri.
Miranda merasa aneh dengan selimut yang menyelimutinya. Seingatnya dia tidak pernah memakai selimut. Dia pun tersadar dengan Rick. Segera dia duduk di sofa dan menebarkab pandangannya ke seluruh ruangan dan melihat Rick di meja makan sedang menikmati pizza.
"Rick, sejak kapan kau pulang?" tanya Miranda.
"Beberapa menit lalu," jawabnya dengan ekspresi datar. "Kemari. Bantu aku menghabiskan pizza ini!"
Miranda bangkit dan duduk di meja makan berhadapan dengan Rick. Dia pun mengambil satu slice pizza, mencocolnya di saus ranch lalu melahapnya dengan lahapan besar layaknya para artis mukbang di YouTube.
"Mmm... enak sekali!!" seru Miranda dengan mulut penuh pizza.
"Bicaralah saat mulutmu sudah kosong," kata Rick lalu mengambil tisu dan mengusap dagu Miranda yang penuh saus dengan tisu.
Mereka saling pandang dan suasana berubah dingin. Rick sama sekali tidak menyadari tindakannya yang refleks. Miranda meraih tisu itu lalu mengusapnya sendiri.
"Malam ini kau harus mulai berkemas. Besok kita akan ke Amerika. Kita harus di sana dua hari sebelum pertandingan dimulai," kata Rick mengalihkan perhatian.
"Oke!" jawab Miranda.
***
Keesokan harinya Miranda dan Rick sudah meninggalkan rumah dengan kopernya masing-masing. Nat beserta tim dan para pemain sudah menunggu di bandara untuk penerbangan menuju Amerika.
Nat melambaikan tangan pada Rick dan Miranda. Mereka pun mendekati Nat dan rombongan. Nat menyodorkan tiket pesawatnya pada Rick dan Miranda.
"Ini tiket kalian," kata Nat.
Setelah menunggu selama dua puluh menit, mereka pun mulai memasuki pesawat. Semua pemain dan tim duduk di kursinya masing-masing. Rick sudah menemukan kursinya dan dia duduk bersama Ed, timnya.
"Mmm.. aku dimana?" gumam Miranda sambil mencocokan tiket dengan tempat duduk.
"Miranda!" Thony memanggil. "Kau duduk bersamaku di sini!" tambahnya.
Miranda terkekeh lalu menghampiri Thony. Kursi mereka terhalang dua barisan di belakang kursi Rick. Rick menatap Nat kesal.
Nat membalas dengan ekspresi seperti orang bodoh. "What?"
Rick menghela nafas kesal, lalu duduk bersama Ed. Perjalanan singkat ini akan terasa panjang baginya. Perasaannya tidak karuan mengetahui Miranda dan Thony duduk bersama.
Sesekali Rick menengok ke belakang, penasaran dengan apa yang mereka lakukan. Tapi ketika Rick sedang mengintip, kepala Nat menghalangi karena berada di antara mereka.
"Dasar bodoh!" maki Rick pada Nat dalam hatinya.
Dilihatnya Ed di sampingnya yang sudah tertidur. Rick mencoba mencari kesibukan dengan membaca koran. Tapi tawa Miranda dan Thony terdengar.
"Hahaha!" Miranda berusaha menahan tawanya tapi tidak bisa. "Thony, seharusnya kau menjadi stand up comedian bukan atlet rugby!"
"Ah.. hanya kau yang memahami bakatku!" balas Thony.
Miranda kembali tertawa. Thony baru saja menceritakan lelucon hari Natalnya tahun lalu. Lelaki itu selain penyerang yang handal, ternyata humoris dan periang.
Rick menyimpan korannya lalu berdiri. Dia berbalik dan berjalan melalui kursi Thony dan Miranda berharap mengetahui apa yang terjadi. Tapi setelah melewati mereka, Rick gugup lalu terus berjalan dan masuk ke dalam toilet. Nat tertawa tanpa suara di kursinya melihat itu.
Perjalanan selama dua jam tigapuluh menit itu bagaikan perjalanan seharian penuh bagi Rick. Mereka mendarat dengan mulus dan tiba di bandara saat jam makan siang. Setibanya di sana, rombongan timnas Kanada dijemput oleh bus yang akan mengantarkan mereka ke hotel.
"Miranda, ayo kita duduk bersama lagi!" kata Thony yang diiyakan Miranda.
Lagi-lagi Rick kesal melihatnya. Rick tak merespon Nat dan Miranda sama sekali. Sifat dinginnya yang dulu kini hadir kembali.
Sesampainya di hotel, mereka makan siang. Di sana Nat membagikan kunci pada setiap pemain, pelatih dan tim. Setiap kamar berisi dua orang. Dan Rick lagi-lagi penasaran dengan kunci yang diterima Miranda.
"Tenang, Miranda aman bersamaku!" bisik Nat saat memberikan kunci pada Rick.
Kau pun sama seperti Thony! Ancaman yang nyata! Gerutu Rick dalam hati.
***
Para pemain hari ini berlatih di lapangan tempat dimana pertandingan akan dilaksanakan besok siang. Miranda sama sekali tidak dapat mengobrol bersama Thony bahkan Rick. Mereka terlihat sibuk dan serius.
Miranda duduk di kursi penonton dengan kacamata hitam. Dia memandangi Rick yang terlihat berteriak pada para pemain.
"Huh! Kenapa dia kembali lagi menjadi seperti pertama kali? Aku merindukan Rick yang perhatian dan hangat!" ucap Miranda.
"Ternyata benar apa yang dikatakan Clara!" ucap seseorang yang tiba-tiba duduk di samping Miranda.
Miranda menoleh dan matanya terbelalak melihat Bryan di sana. "Bryan!" teriak Miranda lalu memeluknya.
Rick melihat dari kejauhan kedatangan laki-laki yang tak dikenalinya memeluk Miranda. Lagi, dia merasa sangat kesal. Dia mengambil bola berbentuk elips itu lalu melemparnya ke tengah lapang dan mengenai salah satu pemain.
"Jika kalian seperti ini, kalian tidak akan menang!" teriak Rick membuat semua pemain pucat.
"Ohh.. pelatih kita memang tempramental!" ucap Bryan di kursi penonton yang tidak akan terdengar oleh Rick.
"Hmm.. tapi sebenarnya dia tidak begitu. Dia orang yang hangat," kata Miranda sambil memandang Rick.
Bryan menoleh pada Miranda. "Kau yakin dengan ucapanmu?"
"Ya. Dia sama sekali tidak pernah kasar padaku selama tiga bulan aku tinggal bersamanya," jawab Miranda. Kata-kata tegas Rick diawal tidak dia hitung sebagai perlakuan kasar.
"So, you love him," simpul Bryan.
"You heard it from Clara, right?"
"Ya."
"Bagaimana menurutmu? Apa dia mencintaiku juga?" tanya Miranda.
"Tidak ada yang tidak mencintaimu Miranda. Yah, Rick lebih baik dari Jeff. Bagaikan langit dan bumi. Rick bagaikan dewa zeus sementara Jeff seperti dewa hades," kata Bryan.
Miranda terkekeh mendengarnya. "Bagaimana bisa kau membandingkan mereka seperti itu? Dewa Zeus adalah dewa langit penguasa Olympic dengan senjatanya petir dan Dewa Hades adalah dewa dunia bawah penguasa neraka? Mitologi Yunani?"
"Well.. make sense, isn't it?"
♤♤♤