Cinta Dan Misi Rahasia
Lanjutan Become An Agent.
Di sarankan membaca Become An Agent lebih dulu.
===
⚠️Tidak Update Harian⚠️
===
Misteri - Aksi - Fiksi Ilmiah - Roman
Chelsea Nathalie, seorang agen rahasia yang dengan segenap kelebihannya bisa terbang bebas seperti burung di angkasa, tanpa takut jatuh dan terluka, tanpa harus mendengar begitu banyak tuntutan gila.
Setidaknya, semua itu sampai seorang pria dengan seluruh pesonanya datang dan membuat hidup Chelsea berubah. Dirinya terjebak dalam cinta yang mengikat. Seorang Tuan Muda menggantikan sayapnya untuk terbang dan mulai membuat rantai yang tidak bisa ia lepas
Pada saat yang sama, Chelsea mulai menemukan jalan menuju masa kecilnya yang penuh rahasia. Segala teka-teki hidupnya yang selalu menjadi tanda tanya terjawab oleh sebuah fakta yang membuatnya putus asa setelah masuk ke dalam benteng teknologi milik keluarganya sendiri.
Namun, terlepas dari segala masalah dan rintangan yang dihadapinya, Chelsea tetap bisa merasakan kebahagiaan yang membuat tawa dan senyuman tak lekas hilang dari bibir indahnya.
Hanya saja, Tuhan ternyata sedang merencanakan sesuatu yang tidak pernah dia duga ... Bahkan dalam lamunan sekalipun.
Warning⚠️
•Ada banyak adegan kekerasan di beberapa Chapter!
•Harap tanggapi kisah ini dengan bijak!
•Hanya cerita fiksi dan tak bermaksud menyinggung pihak manapun!
•Dilarang menjiplak!
Note:
-Bukan novel terjemahan.
-Happy Reading-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EijEnEs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13: You Are Not Bad
Myra terdiam saat sebuah pertanyaan yang Chelsea lontarkan sulit ia jawab. Chelsea terlihat serius sebelum ia mengatakan sesuatu.
"Ketika aku berdebat dengan Reiyu sebelum dia mati, he talk to me bahwa membunuh bukanlah bentuk baik dari kesetiaan pada negara. I killed almost everyone who became my enemy. Itu fakta yang tak bisa ku sangkal." Chelsea terdiam dengan pandangan kosong. Myra masih diam.
*Aku membunuh hampir setiap orang yang menjadi musuhku.
"Faktanya sampai sekarang adalah, bahwa aku tak tahu yang selama ini ku lakukan baik atau tidak. Why do I stick around for something...something that." ucapan Chelsea tertahan dengan nada yang tercekat.
*Kenapa aku tetap bertahan untuk sesuatu....sesuatu yang
"Tell me." suara Myra membuat pandangan Chelsea tertuju padanya. Dia menarik nafas dalam.
"Kenapa aku bertahan untuk suatu yang bisa membuatku hilang kendali? Kau tidak tahu bagaimana aku harus menahan nafsu saat membunuh. Darah dengan segala teriakan kesakitan itu membuatku puas. H-how if.. i becoming bad? I-i don't want to be a monster." sebuah pengakuan keluar dari bibir kecilnya.
*Bagaimana jika aku menjadi jahat? Aku tidak mau menjadi seorang monster.
Myra tersenyum tipis, ia bukan tak sadar bahwa jika sikap Chelsea yang selama ini selalu membunuh bisa di bilang di luar batas namun, di sisi lain jika ia mengekangnya, justru Chelsea bisa memberontak dan berada di luar kendali.
"Aku tidak bisa memutuskan apa bentuk baik dari kesetiaan bisa di buktikan dengan cara membunuh atau bukan, namun, perlu kau tahu bahwa akan selalu ada alasan yang mendasari nya. Setiap orang yang kau bunuh adalah seseorang yang pantas mati."
"Not that, ini berbeda Myra, aku merasa seperti ada sisi lain dari diriku yang tidak ku ketahui dan sisi inilah yang selalu muncul saat aku mengambil nyawa orang lain. Sisi yang selalu ku takuti adalah diriku sendiri. Rasanya hidup ini terlalu lucu." Chelsea tersenyum miring sambil memejamkan matanya dengan posisi menyandar.
"So you regret it?" Myra bertanya sambil menatap Chelsea seksama.
*Jadi kau menyesalinya?
"Regret what?"
"When you kill someone."
Chelsea membuka mulutnya namun tak ada kata-kata yang keluar. Dia terlihat berpikir keras yang membuat Myra menggeleng pelan
"Hear this very carefuly, You're not bad Chelsea. Dunia tak terbagi dalam sisi hitam dan putih. Kau memiliki dua sisi itu dalam dirimu, namun, yang paling penting adalah sisi mana yang kau pilih. Tuhan selalu bisa menyeimbangkan setiap kehidupan. Kau tak bisa memilih untuk menjadi apa dan siapa. Cukup jalani apa yang kau yakini dan percayalah bahwa takdir yang mengikuti mu akan selalu menunjukkan jalan yang harus kau pilih." Myra menjelaskan panjang lebar meski dalam hati kecilnya berkata lain.
Ada sedikit rasa takut dalam dirinya mengingat Chelsea adalah anak keras kepala yang tak mau mendengarkan orang lain. Andai Chelsea berada di luar kendali mungkin anak 23 tahun itu bisa menjadi mesin pembunuh yang sangat berbahaya.
Tanpa di sadari, Chelsea tersenyum dalam diamnya. Myra selalu bisa menangkan pikirannya yang sedang berkecamuk.
Mata Chelsea tiba-tiba terbuka lebar saat mengingat kejadian yang menimpanya hingga ia bisa dalam kondisi kritis. Tangannya mencekal pergelangan tangan Myra yang hendak pergi.
Tatapan mata Chelsea bertemu dengan Chief nya. Dahi Myra mengernyit heran.
"What happened to me?" Chelsea mengulang pertanyaan yang ia ajukan.
"What do you mean?"
"Kau pasti tahu laporan rumah sakit yang mencatat riwayat kesehatanku." jawab Chelsea dengan mata yang menajam.
Myra kembali duduk, raut wajahnya berubah.
"Tell me please Myra. Aku merasa ada yang aneh dengan diriku sendiri, seolah semua yang kualami berputar di otakku. I feel angry every time."
"Aneh? Apa yang aneh?" Myra balik bertanya.
"Kau ingat kejadian yang menimpaku ketika aku terluka?"
Myra mengangguk pelan. Chelsea melanjutkan penjelasannya.
"Setiap kali tubuhku terluka, baik itu dari dalam ataupun luar, entah kenapa aku merasa bisa sembuh dengan cepat dari jangka normal. But, semenjak kejadian di Fine Bridge tubuhku seolah melemah. This doesn't make sense."
"Apa kau ingat yang terjadi saat kecelakaan itu? Aku butuh rinciannya."
"I don't really remember, tapi saat tembakan Reiyu tepat mengenai bahuku, rasanya seperti obat pembius yang membuat tubuhku lemas."
"Itu berarti peluru di dalamnya yang menyebabkanmu seperti ini."
"That's impossible, Reiyu menembakku dengan pistol milikku sendiri."
Myra menaikkan alisnya. Namun, tiba-tiba ia tersenyum tipis, tangannya terangkat, dia melirik ke arah jam tangannya. Myra menepuk pundak Chelsea pelan.
"Jangan pikirkan hal ini, aku akan mengurusnya. Kau fokus lah pada pemyembuhanmu. Dua hari lagi jadwalmu operasi plastik, kau harus terbang ke Korea." Myra pergi begitu saja tanpa mempedulikan reaksi Chelsea yang berkerut kening. Timbul rasa curiga dalam dirinya melihat sikap Chief nya yang tak biasa dan terlihat seperti menyembunyikan sesuatu.
"Korea?"
***
Dua hari kemudian, pesawat komersial yang di sewa CIA membawa Chelsea dari Amerika menuju Korea Selatan setelah tubuhnya di periksa dengan pemeriksaan lengkap. Ada dua kantung darah yang di berikan Dr. Arthur padanya untuk berjaga-jaga.
Chelsea yang baru sadar memiliki golongan darah paling langka di dunia makin mempertanyakan siapa dirinya yang sebenarnya.
Chelsea tiba di Ibu Kota Korea Selatan, Seoul pada siang hari. Tanpa di duga, Jill menunggunya sambil tersenyum saat Chelsea di bandara. Dahi Chelsea mengerut, namun segera dia menetralkan ekspresinya.
"Hai Jill." sapaan Chelsea di sambut oleh senyuman Jill yang semakin lebar.
"What are you doing here?"
"Hanya menemanimu."
"Really?"
Jill hanya meringis dan Chelsea mengangguk mengerti.
"Ehm, aku minta maaf padamu atas perlakuanku di rumah sakit. I can't control my emotions." kembali, ingatan Chelsea merujuk pada tingkahnya saat ia mengamuk.
"It's okay. I understand. Apa kau tak membawa barang apapun selain itu?" tanya Jill saat melihat Chelsea berdiri hanya dengan sebuah kotak yang berisi golongan darahnya.
"Aku sudah mengurus semuanya."
Jill mengangguk mengerti, mereka melangkah keluar dari bandara dan disuguhkan oleh sebuah mobil putih dengan seorang pria yang keluar membawa kunci mobil itu. Chelsea menerimanya lalu masuk ke dalam diikuti Jill setelah Chelsea memberinya kode untuk masuk.
Jill tertegun saat di kursi paling belakang mobil terdapat 3 kantung belanjaan yang sepertinya sudah di persiapkan. Chelsea terlihat tak peduli akan reaksi Jill, dia tetap fokus mengemudi dengan sebelah tangannya.
Perjalanan menuju tempat yang tidak diketahui Jill berlangsung selama 20 menit sampai mobil berhenti di sebuah rumah sakit kawasan Distrik Gangnam.
Chelsea turun dari mobil diikuti Jill. Tanpa berkata apapun ia masuk ke dalam dan berdiri persis di hadapan meja resepsionis.
"Chelsea Nathalie, I made a schedule with one of the doctors." Chelsea berucap dengan nada datar seperti biasa
*Chelsea Nathalie, aku membuat jadwal dengan salah satu Dokter.
Resepsionis itu mengecek pada layar komputer terlebih dahulu untuk menjawab perkataan gadis asing di hadapannya.
"room number 13A, you can wait for Doctor Wang there Miss." dengan sopan ia menjawab walau logat Korea nya tetap tak bisa hilang
*Ruangan nomor 13A, anda bisa menunggu Dokter Wang di sana Nona."
Chelsea mengangguk, badannya berbalik untuk melihat Jill yang duduk di kursi besi. Kakinya melangkah mendekat. Dia terlihat mengeluarkan kertas dari saku jaket yang membalut tubuhnya.
"Kau bisa menginap di sana."
Jill mengamati alamat hotel yang tertera untuk memahami maksud Chelsea. Terlihat agen baru itu mengangguk setelah berpikir sejenak.
"Usahakan jangan membuat onar, CIA hanya punya dua markas di Korea Selatan." bisikan Chelsea di telinga Jill membuatnya kembali mengangguk dengan lebih cepat. Entah dari mana Chelsea tahu kalau sebenarnya ia disini sedang menjalankan misi.
Seringai Chelsea saat dia pergi ke lorong depan membuat nafas Jill tertahan sejenak. Ia bangkit dari tempatnya duduk lalu pergi keluar.
Keterkejutan kembali menghampirinya saat sebuah taxi sudah menunggu di depan pintu lobi. Jill menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum miring.
***
Chelsea duduk di kursi depan meja sambil menyilangkan kakinya. Dia terlihat memperhatikan sebuah nama yang tertera dengan apiknya.
"Wang Feng?" ia bergumam dalam hati.
Ruangan yang ia tempati terlihat lebih mewah dari ruangan biasa, padahal dia tak memesan perawatan VIP, hanya membuat janji dengan Dokter bedah plastik yang termasuk salah satu Dokter terbaik di Korea Selatan.
CEKLEK
Pintu terbuka perlahan. Seorang pria berusia 25 tahun masuk sambil melipat tangan. Chelsea membalik kursi untuk melihat pemuda tampan dengan kulit bersih yang lembut. Mata tajam dan hidung sedang yang mempunyai bibir indah untuk ukuran pria. Rambut rapi berwarna hitam legam yang menutupi alis, membuat pria berpakaian Dokter di depannya terlihat seperti idol k-pop terkenal Korea Selatan.
Mata hijau Chelsea bertemu dengan manik mata hitam yang terlihat seperti langit malam tanpa bintang. Keheningan tercipta saat kedua insan itu saling memandang.
Keduanya, walau terlihat wajah datar dari mereka yang tak menampilkan senyum, namun, hanya Tuhan yang tahu bagaimana kesan masing-masing saat bertemu seseorang yang menurut mereka berbeda.
ILUSTRASI PICTURE FROM: PINTEREST
favorit
👍❤